
Semua orang lainnya kebingungan dan mengayunkan senjata mereka ke sekitar.
Namun, zombie ulat parasit itu sangat cepat. Mereka lincah seperti monyet dan sulit sekali untuk memukul mereka. Apalagi, mereka juga sepertinya tidak bisa merasa sakit meski dipukul.
Angin berbau busuk pun berembus dan seorang asing lagi lenyap. Semenit kemudian, tubuhnya jatuh tersungkur dengan bagian belakang kepalanya sudah terbuka.
"Sialan, kenapa ini?!"
"Tidak, tidak, tidak!"
Adegan itu membuat semua orang menjadi sangat panik. Bahkan sekelompok tentara bayaran yang terlatih tidak punya pilihan saat ini.
Beberapa orang yang bermental lemah bahkan bunuh diri dengan menembakkan senapan mereka sendiri.
"Jangan! Selamatkan aku!"
Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar. Zombie ulat parasit itu telah menangkapnya, tapi jaket bulu yang dia kenakan berukuran lebar sehingga si zombie hanya menangkap lengan bajunya.
"Tembak!"
Ada tentara bayaran yang berteriak.
"Jangan tembak! Itu Nona Alice!"
Seorang pria tua yang nampak seperti kepala pelayan menghentikan semua orang dengan tergesa-gesa.
"Nona Alice sudah tidak bisa ditolong lagi! Lebih baik memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh monster itu dan membalaskan dendamnya!"
Seorang pria dari Negara Matahari menyahut dengan dingin dan mengangkat senjatanya.
Sepertinya dia adalah seseorang dengan status yang sangat tinggi. Mendengar kata-katanya, semua orang juga mengangkat senapan mesin mereka.
Menurut mereka, siapa pun yang tertangkap oleh monster itu pasti akan mati. Kalau begitu, lebih baik membunuh monster sebanyak yang mereka bisa selagi monster-monster itu menangkap orang.
Pong!
Pria itu menembak, tapi senapannya ternyata kosong. Dia kemudian menjerit.
Sebuah jarum perak menancap di pergelangan tangannya yang memegang senapan.
"Ada orang lain di sini!"
Dia tiba-tiba menoleh ke belakang dan melihat sosok Jansen serta Preston.
Jansen-lah yang menyela tembakannya tadi.
Jansen mengabaikan pria itu dan mencengkeram si wanita yang ada di kejauhan sambil mengayunkan jarum perak.
shut!
__ADS_1
Jarum perak mendarat telak di tubuh monster itu, tapi sepertinya tidak berpengaruh. Monster-monster ini telah terkubur di bawah tanah selama bertahun-tahun, jadi kulit mereka tangguh dan sulit ditembus seperti mayat kering.
Saat berlari, pedang bayangan pun muncul di tangan Jansen.
Saat ini, jaket wanita itu telah robek dan wajahnya pucat karena ketakutan.
Saat melihat bahwa dia hanya menarik jaket bulu, monster itu langsung menerkam lagi dan mengacungkan cakarnya yang tajam hendak mengoyakkan tengkorak si wanita.
Tepat pada saat itu, cahaya pedang berkedip.
Sebuah lengan yang sudah kering pun terjatuh ke tanah. Pedang itu mengayun lagi dan kali ini kepala si monster yang terpotong.
Monster itu juga tidak bergerak dan jatuh ambruk ke tanah. Seekor serangga hijau merangkak keluar dari lehernya yang buntung, bentuknya mirip kelabang tapi bersayap.
Ia mengepakkan sayapnya hendak terbang menjauh.
Sebuah ayunan pedang datang lagi.
Tubuh kelabang itu terbelah menjadi dua bagian dan mengejang liar sebelum akhirnya perlahan-lahan berhenti bergerak.
Suasana di istana tiba-tiba menjadi sunyi dan semua orang asing tampak terkejut.
Mereka menggunakan senapan mesin yang paling canggih dan bahkan granat, tapi tidak ada yang berhasil membunuh satu monster pun.
Namun, pria misterius itu berhasil membunuh si monster dengan pedangnya!
"Sialan! Siapa mereka ini!"
"Bagaimana bisa pedang lebih kuat daripada senapan!"
Mata semua orang terbelalak lebar.
"Eh? Ternyata kamu?"
Wanita itu menatap ke arah samping dan berseru kaget setelah mengenali Jansen.
"Alice!"
sapa Jansen sembari tersenyum.
Kali pertama Jansen bertemu wanita ini saat berada di rumah sakit Scott. Di mana, ayah dari wanita cantik berambut pirang ini dia selamatkan nyawanya. Dan kemudian, dia juga pernah bertemu lagi dengan wanita ini saat berada di stasiun. Usut punya usut, orang yang menemani wanita ini saat itu adalah Owen Williams.
"OMG... mimpi apa aku semalam bisa bertemu denganmu di sini?"
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan ayahku waktu itu, pangeranku!"
Alice nampak bersemangat, dia buru-buru memeluk Jansen dan menciumnya.
Dalam sekejap, Jansen dibuat terpaku dan terdiam di tempat. Sikap Alice yang terlalu antusias dan ramah membuatnya loading tak bereaksi.
__ADS_1
Preston yang berada di kejauhan pun juga dibuat tercengang.
Bukankah Kak Jansen sudah menikah?
Apa-apaan ini?
Jansen pun merasa sedikit canggung saat ini, apa boleh buat, dia lantas mendorong Alice sedikit menjauh. Dalam hati pun dia bergumam, "Gila! orang luar benar-benar sangat ramah ya. Tidak ada angin tidak ada hujan langsung main cium saja!"
"Seni bela diri Tuan Jansen sangat mumpuni, apa tertarik untuk bekerja sama?"
Pada saat ini, suara Bahasa Huaxia yang fasih menyela Jansen.
Terlihat seorang pria dari Negara Matahari menatapnya dengan santai. "Asalkan bisa melindungi kami masuk lebih jauh lagi, aku akan memberimu satu miliar!"
Dia juga bisa melihat, jika dibandingkan dengan tentara bayaran Flying Wolf, kemampuan seni bela diri orang Huaxia jauh lebih tinggi.
"satu miliar?"
cibir Jansen.
"Kenapa? Masih kurang? Mengenai harga masih bisa kita bicarakan lagi!"
Pria dari Negara Matahari tampaknya terbiasa menjadi seorang atasan, nada bicaranya pun terdengar begitu angkuh. "Bagaimana aku tambah menjadi dua miliar dalam bentuk dollar!"
"dua miliar? Mr. Tokugawa benar-benar rela mengeluarkan uang sebanyak itu? Kita satu tim saja hanya dibayar dua miliar, tapi dia satu orang dengan bayaran dua miliar!"
"Kemampuan seni bela dirinya sangat kuat, dia pantas mendapatkan harga seperti itu!"
"Aku tidak menyangka jika masih ada master sekuat itu di Huaxia!"
Orang asing yang ada di sekitar pun merasa iri. Tapi mereka merasa hal tersebut memang sudah sepatutnya seperti itu.
Satu persatu dari mereka terlihat menatap ke arah Jansen. Dua miliar dollar jika yuan kan mungkin akan setara dengan 14 miliar!
Hanya orang bodoh dan tolol yang menolak nominal itu!
"Bagaimana jika aku memberi kalian lima miliar dollar untuk menyerahkan hidup kalian di Huaxia."
Tepat pada saat ini, Jansen pun mulai angkat bicara.
Seseorang yang memiliki kantong lebih tebal akan berbicara lebih nyaring daripada orang lain. Tentu saja, lima miliar mampu membungkam penawaran dua miliar!
Suasana pun mendadak menjadi hening!
Entah berapa banyak pasang mata yang melotot pada saat ini, termasuk mereka-mereka sang tentara bayaran.
Ekspresi wajah beberapa orang Negara Matahari pun terlihat suram. Mereka merasa ini adalah sebuah penghinaan besar terhadap kepribadian mereka.
Hanya Preston yang memasang ekspresi menghina saat ini. Berdasarkan watak yang dimiliki Jansen, dia tahu Jansen tidak akan tergoda dengan uang!
__ADS_1
Sekalipun Jansen benar-benar kekurangan uang, sebagai orang Huaxia, dia akan menyimpan rahasia kuno Huaxia untuk tetap berada di Huaxia selamanya! Dia tidak akan membiarkan orang asing mengambil atau bahkan merampasnya.