Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1092. Pahitnya Cinta Pertama!


__ADS_3

Tubuh Roger gemetar bukan main, tanpa pikir panjang dia pun berteriak. "Biar kakek saja yang mati! Lagi pula, dia sudah lama hidup di dunia ini. Dia hidup pun akan sia-sia, hanya akan membuang-buang makanan!" ucap Roger


"Roger... kamu!"


Kakek Crush pun terbelalak saat mendengar ucapan cucunya itu. Rasa kesal di hatinya pun memuncak.


"Dasar tua bangka! Jika kamu hidup pun untuk apa? Dengan kematianmu, aku baru bisa melanjutkan hidup. Aku-lah harapan keluarga Crush di masa depan!"


ucap Roger menatap kakek Crush seolah sedang menantangnya.


Wajah kakek Crush makin terlihat tua. Ekspresi suram pun melekat di wajahnya saat ini.


Kakek Devon diam-diam menghela napas panjang melihat pemandangan ini. Sejak kecil, Roger selalu dimanjakan hidupnya, seolah keberadaannya disamakan dengan anak yang memiliki bakat luar biasa di keluarga Crush. Apa pun permintaannya selalu dituruti. Wajar jika hal itu membuatnya memiliki watak seperti ini!


"Pak Jansen, aku mohon jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!"


ucap Roger sembari kembali bersujud di hadapan Jansen.


"Oke, sesuai dengan apa yang kamu minta!" jawab Jansen sembari tersenyum mengangguk.


Telapak tangannya pun mendarat di kepala Kakek Crush diikuti dengan semburan api Yang.


Entah berapa pasang mata yang terkejut saat ini melihat pemandangan ini. Kakek Crush seperti sedang dikremasi dan perlahan berubah menjadi abu.


Meski semua yang dilakukan kakek Crush adalah untuk keluarga Crush, tapi tetap saja, pria tua itu juga ingin membunuh Jansen sebelumnya. Itu sebabnya Jansen tidak akan bersikap lunak padanya.


"Haisss!"


Melihat pemandangan mengerikan ini, Kakek Devon pun dibuat menghela napas panjang.


Kota Alerka benar-benar dalam perubahan besar!


Hanya karena satu orang saja!


Melihat kakeknya tewas hanya dalam sekejap, mata Roger pun terbelalak. Apa-apaan ini? Teknologi tinggi? Sihir? Bagaimana caranya dia sampai bisa mengeluarkan api seperti itu!


"Pak Jansen, hentikan... aku mohon jangan bunuh dia!"


Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara teriakan Widya. Wanita itu pun dengan cepat berlari menghampiri Roger sembari menatapnya dengan dingin.


"Widya... bantu aku, aku masih ingin hidup, Widya. Aku tahu aku memang salah!"


Roger menatap Widya dengan penuh harap.


"Jangan khawatir, Pak Jansen selalu memegang teguh apa yang sudah diucapkannya. Kalau Pak Jansen mengatakan tidak akan membunuhmu, itu artinya dia tidak akan membunuhmu! Tidak sepertimu, dasar pria pengecut!"


cibir Widya dengan kesedihan dan kerumitan yang tampak di wajahnya.


Bagaimanapun pria ini adalah kekasihnya semenjak usia dini. Tidak hanya itu, pria ini juga-lah yang akan menjadi suaminya kelak.


"Kak Roger, sebenarnya kamu adalah cinta pertamaku! Aku benar-benar mencintaimu, kak!"


"Semua orang mengatakan jika cinta pertama itu menyakitkan. Sebelumnya, aku tidak memercayai hal itu, bahkan aku terus berpikir suatu saat nanti akan memakan gaun pengantin berwarna putih dan menikah denganmu!"

__ADS_1


"Tapi sekarang, aku percaya, inilah harga yang harus dibayar dari sebuah kedewasaan!"


Widya mengatakannya dengan berlinang air mata. Tiba-tiba, tangan mungilnya menampar wajah Roger dengan keras sebanyak 3 kali.


Plak! Plak! Plak!


Suaranya begitu nyaring memenuhi seluruh aula yang sedari tadi tampak hening.


"Tiga tamparan barusan sebagai tanda putusnya hubungan di antara kita! Anggap saja kita tak saling mengenal!"


Selesai mengatakannya, dia pun berbalik dan meninggalkan lokasi.


Bayangan wanita itu terlihat begitu tegar dan kuat. Namun, tetap saja membawa sebuah perasaan kesepian di dalamnya!


Jansen menggelengkan kepalanya melihat sikap Widya. Widya memiliki watak yang polos, tanpa ragu wanita itu memberikan seluruh cintanya pada seorang pria yang memang dia cintai. Tapi hal inilah yang membuatnya terluka lebih mendalam. Setelah melewati kejadian ini, seharusnya Widya makin bertambah dewasa.


Tanpa sadar Jansen teringat pada sosok Elena. Widya memiliki kemiripan dengan Elena, sama-sama terobsesi pada cinta.


Sebelumnya, Jansen dan Elena sering ribut dan memutuskan untuk bercerai. Meski di permukaan Elena tampak tak peduli, tapi sebenarnya dia menyimpan semua kesedihannya di lubuk hatinya yang terdalam.


Dan saat malam tiba ketika tak lagi ada orang bersamanya, barulah dia menangis dalam diam.


"Urus semua masalah yang ada di sini!"


teriak Kakek Devon pada orang yang ada di sampingnya. Dengan cepat, orang tersebut menghandle semua masalah yang ada di aula saat ini.


Mereka semua adalah orang-orang dari dunia jianghu, sudah pasti terbiasa dengan hal-hal yang berbau dengan kematian.


Bagaimanapun, perseteruan dunia jianghu di tempat ini sudah berakhir.


perintah Kakek Devon pada Roger dan yang lainnya.


"Terima kasih, Kek!"


Roger membawa seluruh keluarga Crush yang tersisa keluar dari aula. Mereka semua terlihat seolah sedang melarikan diri, berlari sekuat tenaga sebisa mereka.


Tapi Kakek Devon tahu, dengan tidak adanya ujung tombak dan hanya mengandalkan orang seperti Roger, Keluarga Crush bisa dipastikan akan runtuh tergerus jaman.


Sebenarnya dirinya bisa memimpin Keluarga Devon hingga sejauh ini berkat penglihatan visinya yang jauh ke depan. Jika orang seperti Roger benar-benar memiliki kemampuan, seharusnya dia tidak akan takut melepas seekor harimau kembali ke habitatnya.


"Para tamu yang hadir di tempat ini, sebelum meninggalkan aula ini, diharap segera menyerahkan ponsel masing-masing kepada pihak penyelenggara acara. Tidak perlu khawatir, kita hanya akan menghapus video dan foto yang berkaitan dengan masalah ini. Sisanya, kita tidak akan menyentuh apa yang menjadi privasi para tamu sekalian!"


ucap Kakek Devon pada para tamu yang hadir.


Semua orang pun mengangguk. Dengan runtuhnya keluarga Crush, itu artinya menjadikan Keluarga Devon sebagai keluarga elite no 1 di Kota Alerka. Jadi, siapa pun yang merasa keberatan, maka sama saja akan berhadapan langsung dengan Keluarga Devon.


Yang terpenting, tujuan Keluarga Devon melakukan itu hanyalah untuk menutupi berita. Pihak mereka pun tidak tertarik pada rahasia yang tamu miliki. Jadi, tidak masalah jika harus menyerahkan ponsel.


"Pak Jansen, silakan ikut bersamaku!"


sahut Kakek Devon dengan hormat setelah menyelesaikan semua masalah hari ini.


Jansen pun mengangguk dan mengikuti Kakek Devon menuju sebuah ruangan di lantai 4. Terlihat Widya sedang menangis di sana. Begitu melihat kehadiran Jansen, dia lantas menyeka air matanya dan menyambut pria itu dengan senyuman.

__ADS_1


Sekilas melihat, Jansen merasa jika wanita yang ada di hadapannya ini lebih tegar dari dugaannya!


"Pak Jansen!"


sapa Widya sembari mendekat dan menatap Jansen dalam-dalam.


Meski sebelumnya Jansen telah mengungkap identitasnya, tapi tetap saja Widya merasa penasaran dan ingin tahu siapa sebenarnya orang yang dia panggil dengan sebutan Pak Jansen ini.


Kakek Devon mengikuti Jansen di belakang, dia tampak begitu bersemangat.


Pak Jansen terlihat begitu menyayangi cucunya ini. Jika mereka bisa hidup bersama, Keluarga Devon tidak hanya akan menjadi kuat seperti baja, tapi juga bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengeksplore jauh keluar kota Alerka.


Tapi Pak Jansen begitu luar biasa, apa mungkin dia akan menyukai Widya?


Bisa jadi Pak Jansen hanya menganggap Widya sebagai murid.


"Selamat ulang tahun!"


Pada saat ini, Jansen mengeluarkan sebuah batu giok dari dalam saku dadanya kepada Widya.


"Pak Jansen, ini ...?"


Widya tampak mengamati batu giok dengan penuh penasaran. "Apa batu ini anda beli di kios yang ada di pinggir jalan? Pengerjaannya begitu kasar, aku rasa sih memang benar anda membelinya di sana!"


"Widya, ini adalah pemberian dari Pak Jansen. Kamu simpan saja baik-baik, tidak perlu bicara omong kosong seperti itu!"


Kakek Devon pun menghardik cucu kesayangannya itu. Meski tak tahu apa fungsi dari batu itu, tapi tetap saja batu itu adalah pemberian dari Jansen. Sekalipun Jansen memberi mereka sebuah kotoran, mereka harus tetap menerimanya.


"Ini adalah Birthstone, sesuai dengan zodiak kelahiranmu. Kamu memiliki kehidupan sembilan Foniks, itu artinya kamu juga memiliki sembilan nirwana dalam hidupmu. Kalau ditotal dengan yang ada di gunung saat itu, kamu sudah mengalami enam kali. Dan setiap kali marabahaya akan datang, Birthstone ini akan bisa melindungimu tiga kali lagi!"


ucap Jansen sambil tersenyum menjelaskan semuanya pada Widya.


Kakek Devon pun tersentak. Saat Widya dilahirkan, dia sempat mencari seseorang untuk meramal cucunya ini. Ada salah seorang biksu yang pernah berkata persis seperti apa yang Jansen ucapkan barusan. Widya memiliki kehidupan sembilan Foniks, delapan keberuntungan dan lima elemen api.


Ada sembilan bencana besar dalam hidup. Jika mampu melewati itu semua, maka akan terlahir kembali seperti Foniks nirwarna.


Awalnya dia tidak memercayainya dan merasa jika master Fisiognomi telah membodohinya dan hanya mengharapkan imbalan. Tapi banyak hal yang terjadi kemudian, seperti jatuh sakitnya Widya setelah bulan purnama. Kemudian, mereka pergi ke Gunung Atlas untuk meminta sebuah jimat. Pada akhirnya, penyakit Widya pun sembuh.


Orang tua Widya meninggal karena kecelakaan mobil saat Widya masih berusia tiga tahun. Anehnya Widya berhasil selamat dari kecelakaan maut itu.


Di usianya yang menginjak lima tahun, Widya kembali menderita penyakit serius.


Di usia yang ketujuh tahun, bencana api melanda.


Setelah dipikir-pikir, memang ada banyak hal yang terjadi. Sampai beberapa tahun lalu dia mencari seorang master untuk membantunya menyelesaikan masalah ini. Tapi, master tersebut telah meninggal. Dan di Huaxia sendiri, hanya ada segelintir master saja yang bisa menghilangkan kehidupan sembilan Foniks.


"Pak Jansen, apa ini benar?"


Widya tentu saja tidak memercayai hal-hal semacam itu. Sebuah batu biasa mampu menyelamatkan nyawa seseorang? Dia pikir senjata api apa!


"Widya, Pak Jansen sudah memberikannya padamu, simpan saja!"


Kakek Devon langsung merebut batu giok itu dan memegangnya dengan sangat hati-hati seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai harganya. Dia tahu orang yang memiliki kekuatan seperti Jansen pasti terampil dalam teknik Xuan. Meski terlihat biasa saja, tapi jika diperjualbelikan dalam pasar, harga batu itu setidaknya mencapai jutaan.

__ADS_1


"Apa yang kakek lakukan!"


Widya tampak tercengang saat melihat reaksi berlebihan dari kakeknya.


__ADS_2