
Jansen dapat melihat bahwa mata Dion penuh dengan penghinaan ketika dia beranjak pergi . Jansen tentu saja tidak peduli , bagaimanapun Dion bukan berasal dari Kota Asmenia , kali ini dia bertemu dan mungkin lain kali dia tidak akan bertemu dengannya lagi .
Pukul 15.30 , Winnie akhirnya kembali sembari membawakan roti kukus untuk Jansen .
" Jansen , terima kasih ! " Winnie berkata dengan penuh rasa syukur .
" Tidak perlu sungkan , dulu ketika kita masih kuliah kamu sering meminta izin untukku ! "
Jansen tersenyum , " Oh iya , ngomong - ngomong baru saja aku melihat Dion ! "
" Dion ? Akhirnya datang juga dia ! "
Winnie sama sekali tidak terkejut , " Kemarin di grup whatsapp alumni dia berkata dia akan datang ke Kota Asmenia dan bertanya siapa yang masih ada di Kota Asmenia . Nanti ketika dia tiba , dia ingin kumpul - kumpul , lalu ketika aku mengatakan ibuku membuka restoran kecil dia langsung berkata dia akan datang untuk berkumpul di sini besok ! "
Berkata sampai di sini , Winnie baru teringat kalau dia belum menambahkan Jansen ke grup teman kuliah , dalam sekejap dia langsung menambahkan nomor Jansen ke dalam grup .
Sebenarnya Jansen tidak begitu memiliki perasaan yang mendalam dengan teman - teman kuliahnya dan dia juga tidak berencana untuk bergabung ke dalam grup . Hanya saja Jansen tidak bisa berbuat apa - apa , karena antusiasme Winnie dan hanya bisa pasrah bergabung dengan grup .
Seketika grup Setelah ditambahkan ke dalam grup kuliah pun menjadi lebih hidup , banyak teman kuliah yang bertanya siapa yang bergabung itu . Begitu Winnie mengatakan itu adalah nomor Jansen , semua siswa langsung bingung yang membuat Jansen malu , tampaknya dia sangat anti sosial semasa di universitas .
Kemudian , setelah Winnie menjelaskan kepada mereka , barulah semua orang mulai bereaksi . Mereka langsung bertanya ini itu , Jansen sudah menikah atau belum, sekarang bekerja di mana !
Jansen pernah bertemu seorang teman SMP - nya di Kota Seleton , saat itu reuni tersebut penuh dengan perbandingan , yang membuat Jansen sangat tidak menyukainya . Sekarang begitu Jansen melihat bahwa semua teman sekelasnya bertanya tentang pekerjaan , dia hanya bisa menghadapinya dengan santai .
Setelah membagikan amplop online senilai 200 yuan kepada teman kuliahnya untuk diperebutkan , Jansen lebih memilih untuk tidak sering muncul di grup , kemudian menatap Winnie dan bertanya , " Ngomong - ngomong , penyakit apa yang diderita oleh ibumu?"
" Ibuku mengidap Uremia , tadi itu dia mengalami serangan mendadak maka daripada itu aku langsung bergegas pulang , nanti setelah aku selesai kerja aku harus membawanya ke rumah sakit untuk cuci darah ! " Berbicara tentang ibunya , raut wajah Winnie menjadi suram .
Jansen tahu bahwa cuci darah membutuhkan biaya yang tidak sedikit , apalagi bagi keluarga seperti keluarga Winnie . Sepertinya akan membuat tekanan hidupnya akan menjadi lebih besar !
Perlu diketahui bahwa saat Winnie masih belajar di perkuliahan , keluarganya sangat sederhana , ayahnya telah meninggal sejak lama jadi dia hanya mengandalkan ibunya untuk hidup . Dan sekarang dia hanya bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran sushi , kondisi keluarganya mana mungkin bisa begitu baik .
" Baiklah , besok aku akan mengunjungi ibumu , " ujar Jansen .
__ADS_1
" Jansen , ini , tidak perlu ! "
Winnie tahu dulu semasa di perkuliahan Jansen telah belajar beberapa tentang Pengobatan tradisional , tetapi ini adalah uremia yang rumah sakit besar saja tidak bisa menyembuhkannya !
"Kita adalah teman"
Jansen sama sekali tidak peduli dengan ketidakpercayaan Winnie , sebaliknya Winnie adalah teman sekolahnya maka daripada itu dia benar - benar ingin membantu Winnie !
" Baiklah , besok aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan ibuku , besok restoran kami sudah dibuka jadi kamu harus datang anggap saja sebagai ucapan terima kasihku , aku akan mentraktirmu makan ! " Winnie tersenyum .
Meskipun Jansen tidak mau pergi , tetapi dia masih mengangguk . Setelah selesai mengurusi masalah tokonya di Mall Emeral , Jansen sedang berpikir tentang bisnis apa yang akan dia buka di toko itu . Setelah memikirkannya , dia berencana memasuki industri katering , tentu saja , ini bukan urusan yang tergesa-gesa jadi dia hanya memikirkannya untuk sementara saja . Jika dia tidak menemukan proyek yang lebih cocok lantas dia akan menyewakannya saja !
Keesokan harinya , Jansen tiba di alamat restoran yang dibuka oleh keluarga Winnie . Nama restoran nya adalah Wyn restoran. Sekilas sudah dapat melihat dekorasi yang familiar , itu adalah restoran kecil yang murah , tetapi memiliki banyak keunikan .
Di gerbang restoran , begitu Winnie melihat Jansen dia langsung buru - buru menyapanya , " Jansen akhirnya kamu tiba juga , semua orang sudah sampai ! "
Temperamen Winnie masih ceria persis seperti di masa kuliah dulu . Meskipun dia ditertawakan oleh teman - teman sekelasnya atau saat tertekan dengan keadaan keluarga , setiap harinya dia masih bisa tersenyum . Senyuman ini juga menginfeksi Jansen , menurut Jansen , Winnie adalah gadis yang sangat kuat persis seperti Elena .
" Halo Bibi ! "
Jansen masih memiliki sedikit kesan dengan ibu Winnie dan langsung buru - buru menyapanya .
" Cepat duduk , apa kamu minum bir ? Aku juga memasak beberapa hidangan , sebentar lagi matang ! " Ujar Ibu dari Winnie sambil tersenyum kemudian dia memanggil Winnie ke dapur belakang untuk membantu .
Karena hari ini adalah hari pembukaan , Jansen juga menyiapkan amplop . Pada awalnya dia akan memberikannya kepada Winnie tetapi dia merasa Winnie tidak akan menerimanya dan Ibu Winnie sudah masuk ke dapur belakang lagi , jadi Jansen hanya bisa melihat - lihat dan hanya bisa meletakkan amplopnya di mesin kasir .
Sebelumnya , dia telah melihat dari raut wajah Ibu Winnie bahwa dia menderita uremia yang sangat serius , tetapi bagi Jansen masalah ini tidak begitu besar !
" Jansen sudah lama aku tidak melihatmu , tampaknya kamu tidak banyak berubah , masih sama mudanya ! "
Detik ini tiba - tiba seseorang menyapa Jansen , ternyata itu adalah ketua kelas mereka , Cedric .
" Jansen , di sini ! "
__ADS_1
Teman sekelas wanita lainnya juga memanggil Jansen . Wanita ini agak membuat Jansen merasa asing , karena dia mengenakan pakaian modis , seperti wanita kota yang menawan , terutama kakinya yang jenjang terbungkus stoking sutra , membuatnya sangat mencolok .
" Aku , Julia ! "
Melihat Jansen tertegun , wanita itu langsung tersenyum manis .
Jansen baru mengingat ternyata wanita ini adalah kembang kampus di kampusnya .
Ketika Jansen masih kuliah , dia jarang berkomunikasi dengan teman - teman sekelasnya . Dia tidak pernah bermain basket atau bermain game , oleh karena itu , dia tidak kompak dengan grup itu . Tetapi karena dia belajar dengan sangat baik , sebaliknya dia malah menjalin persahabatan dengan banyak teman wanita . Maka daripada itu kembang kelas dan Winnie berinisiatif untuk menyambut Jansen .
" Kenapa kamu berubah seperti ini ? Dulu kamu masih polos , sekarang kamu sudah berubah , aku hampir tidak mengenalimu lho ! " Ujar Jansen seraya duduk , matanya melihat sekeliling dan menemukan total tujuh atau delapan teman sekelasnya . Dia tidak dapat membayangkan bahwa ada begitu banyak teman sekelasnya yang berada di Kota Asmenia .
" Aku jadi lebih cantik kan ! " Julia mengedipkan sebelah matanya kepada Jansen .
Di sekeliling meja , semua siswa laki - laki mulai berbisik sambil sesekali menatap Jansen , seolah tengah menertawakan sesuatu !
Meskipun suara mereka rendah dan Jansen tidak dapat mendengar perbincangan mereka . Ternyata mereka sedang membicarakan bahwa Jansen sedang berpura - pura sukses , dia memberikan 200 Yuan amplop online di grup kelas , tapi dia hanya bekerja di sebuah restoran sushi saja .
Jansen diam - diam menggelengkan kepalanya . Sebenarnya dia juga pernah mendatangi reuni semacam ini . Memang sedari awal dia sudah tidak begitu ingat dengan kenangan semasa kuliah dulu , dan yang lebih sia - sia adalah mereka semua membandingkan yang mana yang lebih memiliki kehidupan yang lebih buruk daripada dirinya sendiri , untuk menemukan rasa pencapaian setelah lulus kuliah .
Jansen juga tidak mau repot - repot memperhatikannya dan mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan . Dengan kekayaannya saat ini , dia sudah tidak perlu menjelaskan apapun lagi .
" Jansen , sekarang kamu bekerja dimana ? "
Ketua kelas dan Julia terus berbincang dengan Jansen , terutama Julia , semasa di kampus dulu Julia sudah mengira kalau pria pendiam ini lumayan juga . Sekarang dia bertemu lagi dengannya jadi dia ingin membangunkan kenangan Jansen semasa kuliah dulu !
" Aku menjadi dokter di sebuah klinik ! " ujar Jansen .
" Halo , dokter ! " Julia tersenyum berseri - seri .
" Julia , kamu percaya dengan kehebatannya ? "
Pada saat ini , seorang pemuda kurus tertawa . Pria itu mewarnai rambutnya dengan warna ungu dan mengenakan jas . Penampilannya seperti masyarakat campuran , nama pemuda itu adalah Simon Graham . Semasa kuliah dulu dia dijuluki ' Si Monyet Kampus ' karena dulu dia suka bertengkar , setelah lulus pun dia tetap memiliki tabiat yang sama !
__ADS_1