Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 513. Menghancurkan Tempat!


__ADS_3

"Aku dengar, Aula Xinglin adalah klinik lama. Hanya saja, kalian membuka klinik pengobatan tradisonal di Ibu kota tanpa bersilahturami kepada kami. Sepertinya sikap kalian sedikit tidak sesuai dengan aturan."


Sebuah ucapan hina terdengar. Ternyata Abian Colev yang berbicara.


Seketika, orang-orang langsung membicarakannya. Membuka klinik saja harus bersilahturami. Sepertinya mereka telah meremehkan sebuah masalah besar.


Namun, hal ini juga menunjukkan kapasitas Aula Xinglin. Kalau Aula Xinglin memang sebuah klinik kecil, mana mungkin Aula Qinsi akan menghiraukannya?


Jansen lanjut memeriksa pasien. Dia bahkan tidak melirik mereka sedikit pun.


Abian Colev merasa seperti sedang memukul kapas. Dia pun berkata dengan marah, "Jansen, aku dengar keterampilan medismu cukup bagus. Kalau kamu hebat, bagaimana kalau bertanding keterampilan medis dengan Aula Qinsi?"


Jansen tetap mengabaikannya.


Jansen curiga, Aula Xinglin baru dibuka, tapi Jasper sudah membuat masalah. Setelah itu, Aula Qinsi juga datang. Mereka seperti sudah janjian.


"Hari ini, kami, Aula Qinsi akan memberikan pengobatan gratis di sini!"


Seorang pak tua berteriak, dia sengaja ingin menjatuhkan Aula Xinglin.


"Aula Qinsi juga memberikan pengobatan gratis?"


Orang-orang terus berseru. Ada orang yang mulai berjalan ke arah Aula Qinsi.


Aula Qinsi mewakili empat sekte pengobatan tradisional terbesar di Huaxia. Meskipun harganya mahal, reputasi mereka terpampang nyata. Bagaimanapun, Aula Xinglin baru dibuka. Mereka tidak bisa dibandingkan dengan Aula Qinsi.


Melihat orang-orang yang memercayai ucapannya, Abian Colev merasa puas, lalu berkata dengan angkuh, "Jansen, apakah kamu mau bertanding keterampilan medis? Kalau kamu tidak mau, pelangganmu akan habis direbut."


Akhirnya, Jansen mendongak dan berkata perlahan, "Keterampilan medis tidak digunakan untuk bertanding, tapi digunakan untuk membantu orang sakit."


"Benar! Pokoknya, aku akan memilih Aula Xinglin!"


"Keterampilan medis Aula Qinsi memang bagus, tapi etika sebagai dokter tradisional kurang bagus. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak. Mempermalukan nama dokter tradisional saja."


Pasien yang sebelumnya diperiksa oleh Jansen membantunya berbicara.


Diam-diam, dokter tradisional di Aula Qinsi marah. Aula Xinglin ini baru dibuka, tapi sudah ada begitu banyak orang yang mendukungnya.


Harus diketahui, demi menekan Aula Xinglin, mereka bahkan telah mengundang orang dari stasiun televisi untuk datang.


"Jansen, kalau kamu tidak berani bertanding, kami akan memberikan pengobatan gratis selama 3 hari di sini. Aku ingin lihat bagaimana klinikmu bisa beroperasi."


Abian Colev menambahkan, "Sebagai seorang dokter, membantu dan menyembuhkan pasien adalah tugas utama. Kalau tidak berani menerima undangan untuk bertanding, mungkin kamu tidak percaya diri dengan keterampilan medismu."


"Sudah selesai bicaranya?"


Jansen memandang Abian Colev dengan jijik, "Aku pribadi tidak suka bertanding keterampilan medis, aku merasa hal itu bertentangan dengan etika dokter tradisional Huaxia. Itu adalah alasan pertama. Alasan kedua, kalian, Aula Qinsi, sudah memiliki sejarah ratusan tahun di Ibu kota. Aku tidak mau menghancurkan nama kalian di sini."


"Apa maksudmu?"


Seorang dokter tradisional tua mengerutkan keningnya.


"Dokter Edwin, maksud dia adalah kita pasti akan kalah dan nama kita akan hancur," kata Abian Colev.


"Lancang sekali!"

__ADS_1


Semua dokter tradisional sangat marah.


"Baik, seperti yang kalian inginkan."


Saat ini, Jansen bangkit berdiri. Yang membuatnya tidak tahan adalah pihak mereka ingin memberikan pengobatan gratis selama 3 hari di sini.


Karena mereka ingin menghancurkan nama sendiri, Jansen akan mengabulkannya.


"Dokter Jansen, hati-hati!"


Dokter Alfred hanya bisa mengingatkan. Di saat seperti ini, dia tidak bisa ikut campur. Meskipun dia adalah dokter negara, ilmu yang dimilikinya adalah percampuran pengetahuan barat dan timur, jadi dia bukanlah murni seorang dokter tradisional.


Jansen menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar.


Semua dokter tradisional Aula Qinsi memandang Jansen dengan jijik. Apakah pemuda seperti ini pantas membuat Sekte Lembah Hantu turun tangan?


Kalau bukan karena ada orang yang membayar mereka dalam jumlah besar, mereka tidak akan repot-repot mau datang.


"Aku sedang buru-buru. Aku akan memberikan kalian waktu 1 jam. Katakan, mau bertanding seperti apa?" tanya Jansen.


"Besar juga nyalimu!"


Semua dokter tradisional semakin kesal. Keterampilan medis tidak seberapa, tapi sikapnya sangat arogan.


"Tentu saja bertanding memeriksa pasien."


Abian Colev berteriak.


"Kamu bertanding denganku? Apakah kamu merasa dirimu pantas?"


Abian Colev langsung tidak berani bicara, dia sudah kalah dua kali dari Jansen. Menyadari kemampuan Jansen yang tidak lebih lemah dibandingkan dirinya, mungkin dia akan kalah kalau bertanding.


"Aku yang maju. Karena kita semua adalah dokter tradisional, maka kita akan bertanding keterampilan medis."


Seorang dokter tradisional dengan kedua alis putih berjalan keluar. Orang ini bernama Edwin. Leluhurnya adalah seorang Kepala Dokter tradisional Nasional pada Dinasti Qing. Semua ilmu yang dipelajari berhubungan dengan Sekte Lembah Hantu dan milik Sekte Lembah Hantu.


Di dalam Sekte Lembah Hantu, dia adalah orang yang sangat dihormati.


"Namaku Edwin. Anak muda, berapa banyak buku medis yang sudah kamu baca? Berapa banyak pasien yang pernah kamu periksa? Beraninya kamu membuka klinik," kata Edwin menegur.


"Aku tidak tertarik mengetahui namamu."


Sesaat Jansen menjawab, dokter Edwin marah sampai menggertakkan giginya.


"Dokter, apakah kamu bisa memeriksaku?"


Pada saat ini, seorang wanita berwajah pucat yang mengenakan pakaian petani keluar sambil membelai perutnya. Namun, dia berbicara kepada Dokter Edwin. Secara tidak sadar, dia berpikir bahwa dokter tradisional tua lebih bisa diandalkan.


"Aku akan memeriksamu."


Dokter Edwin menganggukkan kepalanya, lalu memeriksa denyut nadi wanita itu, Melihat lapisan lidahnya dan Melihat warna matanya.


"Apakah kamu sudah lama diare?"


"Benar, Dok. Aku sudah minum bermacam obat, tapi tidak ada efeknya."

__ADS_1


"Berapa umurmu tahun ini? Berapa lama siklus menstruasimu?"


"Tahun ini aku berumur 45 tahun. Masalah menstruasi, kadang terlambat seminggu, tapi terkadang tepat waktu."


"Kalau begitu bukan disebabkan oleh menopause."


Dokter Edwin membelai janggut dombanya dan memejamkan mata sambil berpikir.


Biasanya, rata-rata dokter tradisional yang berpengalaman akan menanyakan umur dan siklus menstruasi saat berhadapan dengan wanita yang lebih berumur. Dokter tradisional ingin memastikan apakah mereka sudah memasuki masa menopause.


Namun, jelas, wanita ini tidak menopause.


"Limpamu lemah, ada angin yang berkumpul di dalam perutmu. Kumpulan angin jahat yang menyebabkan diare terus menerus. Aku akan meresepkan ramuan ginseng untukmu dan segera minum. Obat ini bisa meredakan ketidaknyamanan perut, kamu akan sembuh dalam 3 hari."


Dokter Edwin menuliskan resepnya secara perlahan. Setelah selesai, dia menatap Jansen dan berkata, "Dokter Jansen, giliranmu."


"Aku sudah selesai menuliskan resep," ," kata Jansen.


"Sembarangan, tidak masuk akal! Anak ini terlalu sembrono!"


Dokter Edwin tidak tahan dan memarahi Jansen. Apakah tidak memeriksa denyut nadi dan tidak Melihat lapisan lidah bisa disebut memeriksa pasien?


Meskipun pada zaman kuno memang ada melakukannya, orang yang bisa melakukannya pun yang bisa adalah dokter tradisional tua. Jansen hanyalah seorang pemuda biasa.


"Aku ingin kamu mengakui kekalahanmu. Dasar, dokter palsu yang membahayakan orang! Segera rebus obatnya."


Dokter Edwin meminta bantuan asistennya untuk memasak obat.


Jansen juga meminta bantuan bibinya.


Namun, wanita itu memandang Jansen dengan tatapan aneh. Orang-orang di sekeliling juga sama.


Apakah ini yang dinamakan memeriksa pasien? Tidak bisa diandalkan!


Setelah kedua obat dimasak, obat yang diresepkan dokter Edwin berwarna kuning pucat dan memiliki aroma khas obat tradisional. Sedangkan obat yang diresepkan Jansen berbau menyengat dan berwarna hitam pekat.


Melihat obat tradisional Jansen, dokter Edwin tersenyum dingin, "Ramuan ginsengku berisi ginseng, poria, atractylodes, ubi dan lentil. Dengan meminum resepku ini, pasien akan sembuh dalam waktu kurang dari 3 hari. Sedangkan resepmu adalah ramuan enam herbal yang berisi codonopsis, poria dan atractylodes serta bahan lain sebagai bahan utama. Apakah menurutmu ada khasiatnya?"


"Kenapa tidak ada khasiatnya?"


Jansen bertanya balik.


"Lancang!"


Tiba-tiba, Pak Edwin marah, "Kamu tidak memeriksa denyut nadi pasien, resep yang kamu berikan adalah sembarangan. Resepmu ini mengandung 2 ramuan obat herbal yang tidak berguna. Yang pertama adalah gipsum yang mengandung hawa dingin. Perut wanita ini dipenuhi angin dan dingin di perutnya. Kamu malah memberikannya ramuan obat herbal yang mengandung hawa dingin. Apakah kamu mengerti pengobatan tradisional?"


Setelah beberapa saat, dia menambahkan, "Apalagi, ada sebuah ramuan obat herbal yang dilarang, yaitu croton. Aku rasa, kita semua tahu kegunaan croton. Apakah kamu merasa pasien belum cukup diare?"


Wajah orang-orang berubah drastis. Siapa yang tidak tahu efek croton?


"Masih berani membuka klinik? Kamu tidak hanya merugikan orang lain, tapi juga dirimu sendiri. Tutup klinik ini dan enyahlah dari Ibu kota!"


Suara dokter Edwin semakin keras.


Orang-orang Aula Qinsi menggelengkan kepalanya. Sepertinya mereka terlalu memandang tinggi Jansen.

__ADS_1


__ADS_2