
Bahkan Charlie merasa sedikit gelisah. Kalau orang ini adalah orang kaya biasa dia masih bisa maju, tetapi di belakang mereka semua adalah keluarga elit di dunia Jianghu!
Sambil menggertakkan gigi, Charlie tetap maju, "Tuan Rodri, tolong hargai Keluarga Lankester!"
"Keluarga Lankester kalian bukan apa-apa. Enyahlah atau aku akan memberimu pelajaran juga!"
Rodri tidak mau menghargai Keluarga Lankester. Keluarga Lankester hanya orang terkaya Huaxia, dia hanya melakukannya apa yang disuruh oleh keluarga Fang. Terus terang, dia bukan anjing Keluarga Fang.
Bahkan seekor anjing yang tidak terlalu dipedulikan oleh Keluarga Fang. Kalau tidak dari awal dia akan dihargai.
Tatapannya melintasi Charlie dan akhirnya tertuju pada Jansen.
"Ka... kamu!"
Tiba-tiba suara Rodri berubah, dia merasa sedikit lebih gelisah.
Lalu berubah menjadi ketakutan!
Dia perlahan mundur selangkah.
Dia kenal pria ini, dia sudah lama membencinya!
Bukankah ini Dokter Jansen yang membunuh Raja kelalawar?
Yang harus diketahui, dia awalnya didukung oleh Raja Kelelawar. Setelah Raja Kelelawar jatuh, secara kebetulan dia hanya bekerja untuk orang lain.
Meskipun latar belakang orang ini sangat besar, tapi dia tidak mengetahui detailnya dan itu tidak menghalanginya untuk takut pada Jansen!
Raja Kelelawar yang ada di peringkat ke-30 dalam Daftar Peringkat Dunia Jianghu, dibunuh oleh pemuda ini. Ini lebih dari menakutkan, itu singkatnya dia adalah Iblis.
Jika dia tidak direkrut oleh orang itu, dia pasti sudah lama melarikan diri ke luar negeri karena dia takut pada Iblis ini.
Lagipula, siapa yang tidak melarikan diri jauh saat bertemu dengan orang yang membunuh Raja Kelelawar?
Rumornya ada beberapa orang yang mengambil Grup Fuser, tetapi seluruh grup itu tidak tidak ada yang tahu asal usulnya.
Untuk beberapa saat, dia berdiri diam dan punggungnya berkeringat dingin.
Sesaat Charlie dan Natasha sama-sama membeku. Apa yang terjadi dengan Tuan Rodri?
Sebaliknya Jansen meneguk anggur dan memandangnya remeh. Dia tidak mengenal orang ini, tapi dia penasaran bagaimana orang ini akan memberinya pelajaran.
Tatapannya yang santainya membuat Rodri lebih takut, bahkan dahinya penuh dengan keringat dingin.
Menakutkan!
Itu terlalu menakutkan!
"Paman Rodri, bantu aku membunuhnya!"
Saat ini Timmy tidak bisa menahan diri dan berlari mendekat.
Rodri berbalik dan menamparnya, pikiran Timmy pun menjadi kosong.
"Paman Rodri, kamu, kenapa kamu memukulku?"
"Yang harus dipukul memang kau. Beraninya kamu memprovokasi Tuan Jansen!"
Rodri berteriak marah dan berbalik menatap Jansen, "Dokter Jansen aku tidak menyangka kamu akan datang ke sini, maaf atas pelayananku yang buruk!"
"Eh?"
__ADS_1
Suara bisik-bisik terdengar di aula.
Kenapa Tuan Rodri meminta maaf kepada pria ini?
Bukankah Tuan Rodri pembawa acara lelang ini? Bukankah dia juru bicara dari pemilik hotel? Kapan dia pernah begitu rendah hati?
Semua orang mengira mereka salah lihat.
Mata Riana melebar, dipenuhi dengan ketidakpercayaan, keterkejutan dan ketakutan.
Dia juga tidak mengerti sama sekali.
"Itu dia!"
Hakim Denis menatap Jansen dengan mata menyipit, namun dia tidak terkejut dengan sikap Rodri.
Nyonya Susan juga bereaksi dan tersenyum sinis. Ternyata itu adalah Dokter Jansen dari Aula Xinglin. Tak heran Rodri menghormatinya seperti itu.
Dia pernah mendengar kalau Dokter Jansen pernah menyinggung Luna. Kalau Luna turun tangan secara langsung, hari ini Jansen tidak akan hidup.
Jansen ini sudah hampir mati, tak disangka dia berani sombong di mana-mana.
"Timmy, masih tidak mau kemari dan minta maaf kepada Dokter Jansen!"
Tanpa menunggu semua orang bereaksi, Rodri menarik Timmy mendekat.
"Paman Rodri, ini!"
Timmy benar-benar tercengang. Dia ingat kalau Paman Rodri sangat sopan ketika dia pergi ke rumahnya, tapi ketika dia melihat wajah serius Rodri, dengan cepat dia berlutut.
"Maaf aku tidak mengenalimu, ampuni aku, ampuni aku!"
Setelah mengatakan itu, Timmy bersujud kepada Jansen dengan sangat sedih.
"Pergi kamu!"
Jansen masih duduk di sana dan berteriak.
Sebuah kata, seolah-olah seorang raja sedang berhadapan dengan makhluk hidupnya. Auranya terlihat santai, membuat orang-orang di sekitar merasa ketakutan.
Rodri buru-buru menyeret Timmy pergi, kakinya gemetar saat dia berjalan.
Aula berangsur-angsur menjadi sunyi. Tatapan yang tak terhitung jumlahnya menatap Jansen seakan pria ini adalah seorang kaisar di dalam aula itu.
Memang tidak ada yang berani mendekati Jansen kecuali Charlie dan Natasha.
Pemandangan seperti itu tidak diragukan lagi membuat Jansen sangat tidak berdaya. Dia tidak menyukai situasi ini di mana semua orang terkagum-kagum dan terfokus kepadanya.
Sayangnya semuanya sudah terjadi dan tidak ada jalan kembali.
Dia bukan lagi menantu yang dibenci orang-orang di Kota Asmenia.
"Tuan Jansen, ha... halo!"
Saat ini Riana memegang gelas anggur dan membungkuk kepada Jansen. Matanya terlihat melebar dan berair.
Meskipun dia tidak tahu siapa Jansen, tapi dia duga Jansen memiliki banyak koneksi.
Orang seperti itu adalah taipan terbaik. Jika dia bisa merayu pria ini, dia mungkin bisa menjadi orang yang berkuasa di Huaxia!
Pantas saja Natasha wanita murahan ini rela bersikap rendah hati.
__ADS_1
"Pergi kamu!"
Jansen bahkan tidak menatapnya.
Untuk sesaat Riana merasa malu, dia tidak pergi atau tetap tinggal di sana!
Dia adalah wanita yang cantik, tak disangka pria ini dingin dan tidak bereaksi sama sekali!
Apa mungkin dia tidak suka wanita cantik?
Tidak, Natasha juga seorang wanita cantik. Bukankah pria ini seharusnya juga menyukainya? Apa dirinya tidak layak?
"Tuan Jansen!"
Saat ini suara nyaring terdengar. Seorang gadis muda berpakaian gaun merah muda sederhana berjalan mendekat, itu adalah Widya.
Meskipun Widya tampaknya belum dewasa, dia memiliki tubuh yang indah dan wajah yang cantik.
Terlepas dari usia, penampilan dan sosoknya, semuanya lebih unggul daripada Riana.
Riana menatap Widya dan merasa sedikit rendah diri.
Tidak heran pria ini tidak menyukainya, ternyata wanitanya lebih baik daripada dirinya!
Pada titik ini bahkan jika dia berkulit tebal, dia terlalu malu untuk tetap di sana.
"Widya!"
Jansen juga menatap Widya, kemudian mengangguk kecil pada kakek Widya.
Natasha terkejut. Siapa gadis cantik ini?
Dia harus mengakui kalau gadis ini memang cantik. Di antara wanita yang dia kenal, tidak ada yang bisa dibandingkan dengannya kecuali Elena dan juga gadis ini lebih muda daripada Elena.
"Tuan Jansen, apakah kamu juga di sini untuk pelelangan? Barang-barang di sini sangat mahal, harga awalnya adalah 100 juta!"
Tidak diragukan lagi Widya sangat senang bisa melihat Jansen lagi.
"100 juta?"
Jansen sedikit terkejut. Bagaimanapun itu baru harga awalnya saja, itu pasti bisa lebih besar lagi.
"Ya!"
Widya mengangguk dan bertanya, "Apa Tuan Jansen tidak cukup kaya? Kami punya!"
Meskipun dia tahu kalau Jansen adalah dokter terkenal dan bahkan dia tahu kalau Jansen memiliki perusahaan, tapi beberapa ratus juta bukanlah uang yang bisa dikeluarkan dengan mudah.
Mau tidak mau Jansen menatap Natasha. Dia tidak tahu berapa banyak uang yang dimiliki rekeningnya, tetapi alasan utamanya adalah aliansi bisnisnya akan segera digabungkan. Uang ini mungkin akan digunakan untuk penggabungan bisnis.
Natasha sedikit mengernyit dan berkata, "Jansen, dana kegiatan kita sekitar dua miliar!"
Di mana pun dua miliar cukup untuk membeli apa pun!
Namun, ini adalah pelelangan kelas tinggi. dua miliar mungkin tidak bisa membeli tungku pil.
"Dokter Jansen, aku punya!"
Melihat Jansen salah tingkah, Charlie berinisiatif untuk memberikan usulan.
Jansen menggelengkan kepalanya, "Uang siapa pun tidak ada yang tidak didapatkan dengan mudah, apalagi Miliaran!"
__ADS_1
Dia memandang Widya dan bertanya, "Apakah di sini menerima benda berharga?"