Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 524. Kelumpuhan Wajah!


__ADS_3

"Oh begitu, kalau begitu coba saja!"


Pria paruh baya yang dipanggil Baldwin itu mengangguk, tapi wajahnya penuh keraguan, sepertinya karena dia sungkan jadi dia menerimanya.


Jansen tahu kalau dia adalah bos dari Biro Kebudayaan dan memiliki hubungan yang baik dengan Arthur. Karena alasan inilah Arthur mengundang Jansen untuk membantu memeriksa pasien.


Terlalu malas untuk meladeni Baldwin, Jansen memikirkan Elena dan langsung bertanya, "Kak Adam, apakah istriku Elena berlatih di bawah pimpinanmu?"


"Ya benar dan aku sendiri yang mengajarinya!" kata Adam sambil tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih, Kak Adam, tapi Elena tetaplah seorang gadis, aku takut!"


Jansen sangat takut latihan Elena akan terlalu sulit!


"Sebelumnya aku sudah pernah mendengar kalau kamu orang yang sangat memanjakan istrimu. Melihatmu hari ini, ternyata benar!"


Adam tidak bisa berkata-kata, hanya menggelengkan kepalanya, "Jansen, aku bisa menjanjikan hal-hal lain, tapi dalam hal pelatihan, aku tidak akan bisa bermurah hati. Seperti bunga di rumah kaca, tidak tahan angin dan hujan, hanya ada seribu cobaan dan kesengsaraan, barulah dia bisa menjadi raja prajurit yang sebenarnya!"


Mendengar ini, Jansen diam-diam merasa malu. Dia terlalu mengkhawatirkan Elena. Dia benar-benar lupa akan gaya kemiliteran, yang mengutamakan kekuatan!


"Jangan khawatir, Elena tidak selemah yang kamu pikirkan, dia sangat kuat!"Kata Adam menghiburnya, perkataanya membuat pikiran


Jansen menjadi terbuka.


Jansen ingat kalau Adam sepertinya adalah dewa perang di Huaxia Utara, yang memimpin Distrik Militer Huaxia Utara. Tidak mungkin jika dia bisa masuk ke militer hanya karena latar belakangnya.


"Jansen, maaf merepotkan mu kali ini. Alasan utamanya adalah teman dekatku Harvey agak keras kepala. Dia adalah teman baik ayahku, dia adalah pelukis kaligrafi sepuluh terbaik di Huaxia. Karya-karyanya sangat berharga dan telah dijual di lelang seharga ratusan juta!" kata Adam sambil menarik Jansen ke arah sebuah tirai.


Jansen sedikit terkejut. "Pasiennya kali ini adalah seorang pelukis kaligrafi, seorang pelukis zaman modern yang terkenal?"


Dia bisa menjual lukisannya dengan harga ratusan juta, pasti dia adalah pelukis terkenal!


Jansen bertanya, "Aku belum tahu, Master Harvey punya penyakit apa?"


"Adam, sudah kubilang, penyakitku ini tidak perlu diobati. Aku sudah terbiasa, suruh saja pemuda ini pergi!"


Terdengar suara dingin dari belakang tirai.


"Tuan Harvey, kenapa kamu menyusahkan dirimu seperti ini!" kata Adam membujuknya.


Dia mengerti kalau Harvey sejak kecil memang berbeda, dia tidak suka bergaul dengan orang asing. Di tambah dengan penyakit itu, membuatnya semakin tidak percaya diri. Dia biasanya bersembunyi di balik tirai saat menjamu tamu.


"Adam, aku tahu niat baikmu, tapi aku yang tahu masalahku sendiri!"


Suaranya masih terdengar dingin, dia berkata kepada Jansen, "Anak muda, pergilah dari sini, aku tidak punya waktu untuk meladenimu!"


Pergi?


Bicaranya sangat tidak sopan!


Adam segera menghibur Jansen.

__ADS_1


Jansen mengerti kebanyakan pelukis itu sifatnya agak berbeda. Dia tersenyum dan berkata, "Master Harvey, jika itu adalah penyakit biasa, aku tidak tertarik untuk mengobatinya. Jika itu penyakit yang sulit dan rumit, aku tertarik!"


"Kamu sangat berpura-pura ?"


Harvey mencibir dan memerintahkannya pergi, "Adam, jika dia tidak pergi, maka kalian semua pergi!"


Dia bahkan tidak menghargai Adam.


Adam tersenyum pahit lagi, dia sudah terbiasa dengan Sifat Harvey. Dengan rasa Putus asa, dia memandang Jansen.


Jansen melambaikan tangannya dan lanjut berbicara, "Aku lihat lukisan Master Harvey sangat bagus, tetapi ada satu kekurangannya!"


"Hah?"


Terdengar seruan dari belakang tirai.


Adam dan yang lainnya menatap bingung.


Master Harvey adalah salah satu dari sepuluh master terkenal di Huaxia. Beraninya Jansen menilai lukisannya?


"Adam, orang macam apa yang kau bawa ini, sangat tidak sopan dan sombong!" kata Master Harvey merasa tidak senang.


Adam memandang Jansen dengan senyum pahit. Jansen hebat dalam keterampilan medis, tapi dia biasa-biasa saja di bidang seni.


Jansen menggelengkan kepalanya dan lanjut berbicara, "Aku hanya ingin bilang, ada daya tarik dalam lukisan Master Harvey, tetapi kurang terlihat hidup, seperti kekurangan semangat. Seorang pelukis sejati, hanya dengan beberapa goresan, saat dia melukiskan sebuah perahu di sungai. Dia bisa memberikan perasaan menantang angin dan memecah ombak. Lalu saat melukiskan bambu hijau, dia bisa memberikan perasaan kuat, tidak jatuh saat tertiup angin. Ini baru konsep seni!"


"Sudah, hanya itu yang bisa aku katakan. Jika kamu mengerti, kamu seorang pelukis sejati. Jika tidak, sepanjang hidupmu kamu hanya akan seperti ini. Selamat tinggal!"


Adam dan yang lainnya semuanya menganga kaget, berani sekali Jansen mengatakan hal seperti itu!


"Jangan konyol!"


Biro Kebudayaan Baldwin menghela napasnya dan berkata, "Kamu tidak tahu seberapa populernya karya Master Harvey di dunia internasional, bahkan karyanya diperebutkan di Huaxia. Dengan harga mahal pun kamu tidak bisa membeli karyanya. Berani sekali kamu mengomentari Master Harvey?"


Selesai berbicara, dia Melihat Adam dan berkata, "Tuan Adam, dari mana kamu menemukan orang ini? Tidak mengerti pura-pura mengerti. Apakah untuk menarik perhatianku? Tidak tahu malu!"


Adam hanya meminta maaf dengan senyuman pahit.


Baldwin memarahinya lagi, "Pergi kamu, jangan sampai aku Melihatmu lagi!"


"Tunggu!"


Tapi saat ini, sebuah suara serius datang dari dalam tirai, "Yang kamu katakan benar juga!"


Adam dan yang lainnya menatap kaget.


Tak disangka Harvey menerima perkataan Jansen?


Lelucon macam apa ini!


Seorang Jansen bahkan sepertinya tidak bisa membedakan antara kuas dan pena!

__ADS_1


Jansen juga tersenyum, dia berani mengucapkan perkataan itu karena dia yakin kalau Master Harvey bisa seni bela diri. Bahkan ilmunya sudah sangat dalam, jika dia memiliki ilmu seni bela diri sangat dalam, dia pasti akan mengerti.


"Tolong periksa aku!"


Setelah tirai itu dibuka, seorang pria dengan tinggi 170 sentimeter berjalan keluar, usianya kira-kira 60 tahun. Tubuhnya masih terlihat sehat, tapi wajahnya terlihat aneh. Semua bagian wajah terjepit menjadi satu, seolah-olah


terhimpit dalam kepalan tangan!


"Kelumpuhan wajah?"


Jansen melihat sesuatu.


Orang tua itu mengangguk, "Sejak 10 tahun yang lalu, karena alasan ini, aku tidak pernah tampil di depan umum. Aku merasa tidak percaya diri dan malu!"


Jansen menggelengkan kepalanya, lalu berkata sambil tersenyum, "Mungkin karena Master Harvey tidak pernah muncul di depan umum, membuatnya menjadi misterius jadi karyanya sangat berharga!"


Koleksi lukisan memang seperti ini. Semakin langka dan misterius, semakin tinggi juga harganya di pasaran. Sama seperti pelukis terkenal di zaman modern. Setelah pelukisnya meninggal, karyanya baru menjadi berharga.


Master Harvey mengangguk, dia setuju dengan pandangan Jansen itu dan bertanya, "Apa kelumpuhan wajahku ini bisa diobati?"


"Tidak sulit!"


Jansen mengeluarkan jarum peraknya.


Master Harvey menjadi bersemangat dan bertanya lagi, "Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, kamu hanya perlu duduk!"


Jansen mengangguk dan menghampiri Master Harvey untuk melakukan akupunktur.


Master Harvey merasa kehangatan di wajahnya dan dia semakin bersemangat. Wajahnya sudah mati rasa selama bertahun-tahun!


Melihat Jansen bisa mengobatinya, Adam merasa senang.


Baldwin tercengang kaget, lalu tersenyum pahit, "Aku salah sudah meremehkannya!"


"Hehe, sudah kubilang keterampilan medis Jansen sangat hebat, sekarang kamu percaya kan!" kata Arthur dengan bangga, seolah-olah dia yang menyembuhkan Master Harvey.


Tak lama kemudian, wajah Master Harvey bisa digerakkan. Pertama dia mengerutkan keningnya, lalu menggerakkan hidungnya. Dia sangat senang sampai tidak bisa menutup


mulutnya!


"Ini disebabkan oleh penyumbatan di pembuluh darahnya. Aku akan meresepkan beberapa obat lagi agar kamu bisa sembuh."Kata Jansen sambil merapihkan jarumnya dan tersenyum.


"Terima kasih Adik!"


Master Harvey tidak berani merendahkan Jansen lagi. Dia berdiri dan memberi hormat. Kemudian, matanya menatap Adam dan semua yang berada di sana. Saat itu, dia tidak bisa berkata-kata.


Adam mengerti maksudnya dan berkata, " Tuan Harvey, kami masih ada urusan, kami harus pergi dulu. Jansen, aku serahkan Master Harvey kepadamu."


Setelah mereka pergi, Arthur tetap menunggu Jansen keluar di gerbang rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2