Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1479. Rasi Tujuh Bintang


__ADS_3

"Aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi, dia sepertinya sedang membantu kita." Elena menggelengkan kepalanya dan lanjut berkata, "Mengenai Rasi Tujuh Bintang dan kembalinya penguasa, itu adalah ucapan dari pria paruh baya itu. Dia sepertinya telah membantu kita meramalkan sesuatu!"


"Apa maksud ramalan ini?"


Danial dan Kakek Herman sama-sama bertanya dengan bingung.


Elena pun merenung lalu berkata, "Rasi Tujuh Bintang berkaitan dengan bintang utara. Ketika bintang utara muncul di malam hari, rasi bintang menjadi kacau dan membentuk satu garis horizontal!"


"Kalau begitu, ketika itu terjadi, apakah penguasa akan kembali?"


Natasha ikut menimpali.


"Penguasa? Kalau begitu..."


Tiba-tiba, semua orang terkejut dan langsung teringat dengan seseorang yang menghilang.


Mata Natasha dan Elena mulai terlihat basah.


"Siapa pria paruh baya itu dan kenapa dia berani berkata seperti itu?"


Danial pun bertanya dengan antusias.


"Aku tidak tahu, tetapi aku merasa dia adalah orang hebat. Dia bahkan bisa keluar masuk formasi yang dibuat oleh Jansen tanpa kesulitan berarti. Apalagi, kita juga berhasil memukul mundur orang-orang Keluarga Vindes!" Elena menebak dan berkata, "Yang membuatku heran, pria hebat seperti dia ini malah membantu Jansen!"


"Dia membantu kita memukul mundur orang-orang keluarga Vindes?"


Semua orang terkejut. Pria itu sangatlah hebat. Lantas, kenapa dia malah membantu Jansen?


"Kak Natasha, bagaimana kondisi Grup Aliansi Senlena?" Elena kembali bertanya.


"Saat ini, dampaknya tidak besar. Perusahaan masih beroperasi dan terus berkembang. Tapi, dana perusahaan dan juga saham perusahaan terdampak. Harga saham perusahaan telah turun tajam!" Natasha berkata.


"Apakah para taipan yang tergabung dalam aliansi bisnis sudah mundur dan tidak ingin bekerja sama lagi?" Elena kembali bertanya.


"Selain Keluarga Lankester dan Grup Weil, Grup Aliansi Bintang, Keluarga Fang dan Keluarga Yiwon, sebagian taipan masih belum mengambil keputusan. Ada juga yang sedang menghitung jumlah aset dan ingin keluar dari aliansi bisnis!"


Natasha berkata dengan wajah serius, "Aku rasa ada orang yang membocorkan rahasia ke luar dan membuat perusahaan kita mendapatkan dampak buruk!"


"Sepertinya, ini adalah ulah Keluarga Williams. Keluarga Williams memang merupakan keluarga yang punya kekuasaan luas dan mampu memperluas pengaruhnya hingga ke Huaxia. Mereka ingin menguasai bisnis di seantero Huaxia!" Elena berkata demikian sambil mengerutkan kening.


"Lebih anehnya lagi, Keluarga Wilbert, Keluarga Fang dan Keluarga Yiwon yang belum menentukan sikap dan terus menanti!" Natasha berkata demikian.


"Ini semua terjadi hanya karena satu alasan. Keluarga Williams sepertinya menekan mereka agar mereka tidak gegabah dalam mengambil keputusan!"


Danial dulunya adalah pemimpin Keluarga Miller. Danial sendiri pun sadar bahwa posisi pemimpin keluarga seperti dirinya ini memang kelihatan sangat berwibawa, tetapi juga sangat sulit dijalankan.


Mendengar ucapan ini, semua orang pun mulai merasa gelisah.


Saat ini, Jansen masih belum kembali, sedangkan mereka pun sama sekali tidak boleh meninggalkan vila itu.


Namun, kalaupun Jansen sudah kembali, tanpa bantuan Keluarga Wilbert dan keluarga Fang, Jansen seorang tidak mungkin sanggup melawan Keluarga Williams.


"Mari kita tunggu sebentar lagi. Mungkin saja, keadaan akan berubah lebih baik!"

__ADS_1


Danial pun mencoba menghibur semua orang yang terlihat sangat panik.


"Ayah, kalau Jansen tidak kembali, apakah kita akan mati?"


Naomi tiba-tiba berbisik. Tekanan yang dia hadapi sekarang bahkan jauh lebih besar dibandingkan saat menghadapi kejatuhan Keluarga Miller dulu.


Lagi pula, para ******* menggunakan roket di depan pintu rumah. Jika para ******* itu menerobos formasi kuno, mereka pasti akan mati.


Danial hanya menggelengkan kepala tanpa bicara sedikit pun.


Pihak musuh benar-benar gila karena berani menggunakan senjata api di tengah wilayah perkotaan.


"Jangan khawatir, Jansen bisa menyelesaikannya!"


Elena mencoba menghibur mereka semua yang tampak kurang bersemangat.


Renata yang tampak kesal pun berkata dengan suara pelan, "Ini semua terjadi akibat ulah Jansen. Sekarang, kita malah harus menanggung akibat perbuatannya. Kita bahkan harus ikut mati bersamanya!"


"Kamu diam! Kenapa kamu tidak berbicara saat Jansen banyak membantu kita?" Danial memarahinya.


"Jansen telah membantu keluarga kita melewati kesulitan. Kalaupun tanpa bantuan Jansen, Keluarga Miller hanyalah sebuah keluarga miskin dan jauh lebih baik dibandingkan sekarang di mana kita semua harus mati!" Renata berkata dengan wajah berlinang air mata.


Semua orang mengutarakan pendapat mereka masing-masing.


"Hah, Jansen membahayakan semua orang. Kalau dia membawa masalah untuk kalian semua, aku juga sudah malas hidup lagi. Aku akan mati sebagai pertanggungjawaban kepada kalian!" Kakek Herman tiba-tiba berkata demikian sambil menghela napas.


"Kakek Herman, kami semua tidak menyalahkan Jansen. Lagi pula, masalah ini bukan tanggung jawab Jansen seorang. Kalau bukan karena dia ingin membantu Keluarga Miller, dia tidak mungkin memancing kemarahan para musuh kita ini!"


Elena pun menyadari bahwa mereka semua punya pendapat masing-masing. Hati Elena kini makin galau.


"Sudah cukup, kita semua satu keluarga. Kita harus maju dan mundur bersama pada saat seperti ini!"


Elena menegur, "Kalau ada yang takut mati, silakan tinggalkan vila ini lalu pergi bergabung ke pihak musuh. Aku tidak akan menghalangi kalian jika ada yang berkeinginan seperti itu!"


Suasana berubah hening.


Tak disangka, Elena akhirnya buka suara dan berbicara dengan tegas.


"Kenapa kalian semua diam?"


Elena menunggu sejenak kemudian lanjut berkata, "Karena tidak ada yang keberatan, tetaplah ikut denganku. Kalau saja aku mendengar ada yang saling menyalahkan lagi, aku akan mengusir orang itu keluar dari vila ini!"


Setelah berkata demikian, Elena pun kembali ke kamar.


Renata dan Danial yang melihat Elena berjalan pergi merasa bahwa Elena makin mirip dengan seorang nyonya rumah.


Natasha pun ikut tersenyum. Beginilah yang seharusnya dilakukan oleh Elena sebagai istri Jansen.


Setelah Elena kembali ke kamar, dia membelai perutnya sambil berbisik, "Nak, kita tidak tahu apakah kita bisa melewati badai ini. Kalau kita gagal dan ayahmu tiada, ibumu mungkin tidak akan bisa hidup lagi. Tapi, aku akan mempercayakan kepada seseorang untuk merawat mu hingga tumbuh dewasa!"


Setelah berkata demikian, Elena pun melihat ke luar jendela dan bertanya-tanya di mana suaminya berada sekarang.


Ramalan yang mengatakan bahwa penguasa akan kembali apakah bakal terbukti?

__ADS_1


Pukul enam pagi, di tepi laut, sebuah perahu nelayan perlahan mendekati pantai.


Pantai itu sangat sunyi. Anehnya, perahu nelayan yang biasanya diparkir di tepi pantai telah menghilang untuk beberapa waktu. Suasana pantai juga sedang gelap gulita.


Tak lama kemudian, perahu nelayan itu berlabuh. Ada dua orang yang turun dari perahu lalu berjalan menuju tepi pantai.


Mereka adalah Jansen dan seorang wanita berjubah hitam.


"Akhirnya kembali!"


Jansen menatap ke arah depan yang masih gelap gulita. Pandangan matanya sangat kabur.


Brum Brum Brum!


Pada saat bersamaan, pantai yang awalnya gelap tiba-tiba berubah terang. Dari dekat, ada banyak kendaraan yang sudah berhenti tak jauh dari sana.


Semua itu adalah mobil jip khusus medan perang yang berwarna hijau.


Tiba-tiba tentara dalam jumlah besar yang berpakaian kamuflase dan membawa berbagai senjata serta amunisi datang menyerang.


Mereka berdua dikepung oleh para tentara itu dengan sangat ketat, tiga lapis penjagaan di dalam dan dua lapis penjagaan di depan.


Suasana berubah tegang seperti hendak terjadi perang besar.


Saat ini, seorang pria berseragam militer berjalan keluar dari kerumunan lalu menghadap Jansen dan memberikan hormat dengan rapi.


"Komandan!"


Begitu dia memberi hormat, orang-orang di sekitarnya juga memberi hormat.


Pemandangan ini sungguh menakjubkan. Sikap hormat yang ditunjukkan mereka semua sangat rapi dan mirip seperti deru ombak di tengah lautan luas.


Semua orang berdiri dengan tegap sambil menatap Jansen dengan penuh hormat dan rasa kagum. Tepat di siang hari, mereka semua diperintahkan untuk menyambut kembalinya seorang tokoh penting.


Namun, karena hal ini bersifat rahasia, mereka semua tidak tahu siapa sebenarnya orang yang mereka sambut itu. Hingga akhirnya, mereka pun paham siapa orang yang dimaksud.


Orang ini adalah Dewa Perang Huaxia!


Dia berulang kali berhasil menaklukkan para tentara bayaran asing. Kisahnya mirip dengan kisah seorang pahlawan penegak kedaulatan bangsa.


Dia adalah seorang legenda!


Dia adalah seorang tokoh bersejarah!


"Atas perintah kesatuan militer negara Huaxia, kami menyambut kembalinya komandan di tempat ini!"


Pria berseragam militer itu kembali berkata.


Jansen mengangguk. Dia sudah mengabari Penatua Jack ketika dirinya kembali. Dia pun bertanya, "Bagaimana dengan kondisi Kota Yanba?"


"Sesuai perintah Penatua Jack, selama ini kami diam-diam melakukan penjagaan. Kalau dragon Hall kewalahan menjaga area vila, kami akan turun tangan membantu penjagaan sekaligus mensterilkan tempat itu dari serangan musuh!"


"Tadi malam, musuh satu kali menyerang vila kita. Tapi, mereka gagal menembus pertahanan kita. Situasi di dalam vila masih aman untuk saat ini!"

__ADS_1


__ADS_2