Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 858. Gua Ember Besi!


__ADS_3

Semua orang itu langsung menggigil. Jika apa yang dikatakan Penatua Yiwon itu benar, berarti kehebatan metafisika Jansen mencengangkan sekali! Dia bahkan bisa menghitung situasi


keluarga orang lain hanya dengan melihat metafisika kuburan.


Pupil mata pria tua yang dipanggil Master itu juga bergetar. Dia tidak menyangka ternyata Jansen sehebat ini.


Raut wajah Jansen terlihat tenang dan dia melangkah ke depan lagi.


Setengah jam kemudian, mereka semua tiba di sisi sungai yang terletak di kaki gunung, Bunyi gemericik air yang mengalir terdengar seperti lonceng.


"Alasan kenapa tanah yang semula milik kaisar berubah menjadi tanah tujuh roh jahat adalah karena adanya pelanggaran terhadap prinsip Feng shui. Angin di sini tidak bermasalah karena memang berhembus dan angin inilah yang mengendalikan bagaimana orang-orang mengatur keuangan mereka. Kalau anginnya tidak berhembus masuk ke dalam rumah, keluarga yang berdiam di dalam sana tidak


akan menjadi makmur dan air juga tidak akan mengalir ke sana!" kata Jansen sambil memperhatikan aliran sungai.


Master itu tertawa sinis, lalu menunjuk ke depan dan berkata seolah-olah dia sedang mencari pujian, "Pola air di sini sangat bagus, istilahnya adalah 'gua muntahan mutiara


naga. Setelah terus-menerus diterjang air sungai, bebatuan di sini memerangkap aliran air dan pola ini dikenal juga dengan istilah 'naga emas mengejar mutiara'. Pola ini berada di atas


urat naga dengan mutiara yang bulat dan cantik. Gua sebagus jarang sekali ditemukan ini dan justru membuat keluarga yang tinggal di sini menjadi makmur! Kamu malah mengatakan ini adalah tanah dari tujuh roh jahat!"


"Sudah dengar, 'kan!"


Rasa percaya diri Harry langsung meningkat.


Siapa di antara Jansen dan Master-nya yang lebih hebat? Master-nya mengatakan ini adalah lokasi yang bagus sedangkan Jansen


mengatakan tempat ini adalah tanah tujuh


roh jahat.


Jansen balas mencibir, "Menilai bagus tidaknya gua ini cukup berdasarkan 'mutiara naga'nya!"


"Eh?! Mutiara naga?!"


Levana dan yang lainnya berseru kaget.


Jansen mengangguk, "Itu adalah batu bundar yang menjadi inti Feng shui dan terbentuk dari batu yang diterjang aliran air selama bertahun-tahun!"


Dia melirik kompasnya. "Kalau perkiraanku benar, maka mutiara naga seharusnya ada di sebelah sana!"


Jansen menunjuk ke arah aliran sungai dimulai dan ada sebuah batu sebesar gerinda yang menekan bagian itu.


"Coba buka batu itu dan lihatlah!"


Penatua Yiwon segera memanggil pengawalnya.


Pengawal itu segera membuka batunya dan memang ada batu seukuran bola basket yang tergeletak di bawahnya dan aliran sungai mengalir melewatinya!


Batu itu berwarna putih mulus vang sangat cantik!


"Apa!"


Master itu tiba-tiba berseru, "Mutiara naga itu retak!"


Semua orang pun memerhatikan dari dekat dan baru menyadari bahwa permukaan batu itu memang retak.


Hal itu menandakan sesuatu yang tidak bagus!


"Dokter Jansen, ini."

__ADS_1


Ekspresi Penatua Yiwon berubah drastis. Apakah gua ini menjadi tidak bagus karena mutiara naganya retak?


Jansen berkata dengan ringan, "Yang disebut mutiara itu harus bulat mulus. Karena mutiaranya retak, jadi manfaat baiknya pun hilang!"


Satu kalimat Jansen itu mematahkan kata-kata si Master yang sebelumnya!


Bahwa mutiara yang bulat mulus akan mendatangkan kekayaan bagi keluarga yang memilikinya!


Jansen melanjutkan, "Tanah yang semula milik kaisar itu kini berubah menjadi tanah tujuh roh jahat karena ada masalah dengan airnya. Kalau kamu membangun makammu di sini, keturunanmu pasti akan sengsara!"


Penatua Yiwon langsung bergidik ngeri.


Harry tidak suka dengan apa yang Jansen katakan, tapi dia juga terlalu takut untuk berbicara.


"Lalu, bagaimana menurut Dokter Jansen?"


Penatua Yiwon segera bertanya dan kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih hormat.


Amarah si Master pun tersulut saat melihat kejadian ini, tapi dia tidak bisa membantah Jansen.


Keluarga Yiwon pasti akan membangun makam di sini kalau bukan karena Jansen yang mengingatkan tidak boleh! Kalau itu sampai terjadi, suatu saat nanti mereka pasti akan


membuat perhitungan dengannya!


"Ayo kita pergi dari sini dan cari tempat lain!"


Jansen berbalik pergi dan menjelaskan sambil berjalan, "Air di sini sudah tercemar. Kurasa ada beberapa pabrik yang di dirikan di dekat sini, 'kan? Sebenarnya, Feng shui juga merupakan bentuk evaluasi dari geografis sekitar. Bagaimana orang bisa tinggal di tempat yang tercemar? Tanah yang terkontaminasi bahkan tidak bagus untuk dijadikan kuburan!"


"Jujur, aku pribadi menyarankan bahwa kremasi adalah pilihan yang lebih baik!"


Jansen tidak suka melakukan semuanya berdasarkan Feng shui.


"Kremasi?"


Penatua Yiwon yang berasal dari generasi yang lebih tua tentu saja tidak suka dengan kremasi.


"Tempat ini bagus!"


Setelah berjalan selama setengah jam, Jansen akhirnya berhenti dan menunjuk sebuah lereng gunung.


"Feng shui di sini baik, Master?"


Penatua Yiwon secara refleks memanggil Jansen dengan sebutan Master


Hal itu membuat pria tua di sebelahnya yang dipanggil Master itu menjadi makin salah tingkah.


Jansen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Tempat ini biasa-biasa saja, tapi menghadap selatan dan utara. Matahari menyinari tempat ini sepanjang tahun, jadi


energinya cukup bagus!"


"Tempat yang biasa-biasa saja?"


Penatua Yiwon mengerutkan keningnya.


Jansen pun menjelaskan, "Bukannya biasa-biasa juga, bisa dibilang tempat ini adalah 'gua ember besi. Kalau tempat ini dijadikan makam, kehidupan keturunanmu akan serba


berkecukupan dan tidak akan menderita!"


"Sepertinya kamu punya masalah dengan Keluarga Yiwon, ya! Kamu pikir lokasi yang biasa-biasa saja itu layak untuk Keluarga Yiwon?!"

__ADS_1


Harry lagi-lagi menyela dengan sinis. Dia merasa menantu yang menumpang hidup satu ini sedang mempermainkan dan mau mempermalukan martabat Keluarga Yiwon.


Jansen melirik Harry dengan sorot menghina, dia terlalu malas untuk menjelaskan apa pun.


Penatua Yiwon merenungkan kata-kata Jansen dan bergumam, "Gua ember besi... Tidak akan menderita... Itu berarti akan sulit bagi Keluarga Yiwon untuk lebih berkembang lagi, ya!"


"Benar! Untuk apa menggunakan tempat yang jelek seperti ini! Kakek, jangan dengarkan dia!"


Harry buru-buru menyela, "Biarkan saja Master yang melihatnya. Dia pasti dapat menemukan tempat pemakaman yang akan membawa Keluarga Yiwon ke tingkat yang lebih tinggi!"


Raut wajah si Master di sebelahnya langsung berbinar penuh harap. Dia tidak ingin kalah dari Jansen seperti ini.


"Kamu ini tidak bisa berpikir jernih!"


Penatua Yiwon yang tiba-tiba mengerti maksud Jansen pun berseru, "Sudah lupa status apa yang Keluarga Yiwon pegang di Huaxia sekarang?! Kamu masih ingin menjadi lebih hebat lagi? Memangnya kamu berharap menjadi


kaisar?!"


"Ada istilah yang mengatakan bahwa kejayaan pemimpin dikalahkan oleh kehebatan bawahannya! Mana ada orang yang memilih jalan hidup seperti itu sejak zaman dahulu!"


"Gua ember besi, ya? Bagus! Bagus sekali!"


Makin Penatua Yiwon memikirkannya, dia makin setuju dengan Jansen. Dia segera memberikan hormat kecil pada Jansen.


Jansen hanya balas tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia terlihat penuh teka-teki.


Harry merasa sangat marah melihat ekspresi Jansen yang tetap tenang. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Cindy yang sepertinya juga sudah bisa menebak maksud Jansen pun berkata, "Kak, coba pikirkan status Keluarga Yiwon di Huaxia sekarang!"


Ketika Harry mendengar ini, dia mengerutkan kening dan berkata, "Status Keluarga Yiwon di Huaxia sekarang.... Bisa dibilang, status kita tidak tersaingi!"


"Benar, lalu apakah kamu masih ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi?" tanya Cindy kembali.


Harry akhirnya mengerti. Jika dia ingin menaikkan status keluarganya lebih tinggi lagi, berarti sama saja dia ingin melampaui kekuasaan pemerintah?!


Lelucon apa itu! Kalau itu sampai terjadi, berarti dia akan mengadakan pemberontakan!


Pantas saja kakeknya sangat menyukai lokasi ini!


"Catat lokasi ini, besok akan ku suruh orang untuk mengurusnya!"


Penatua Yiwon kembali menoleh ke arah pengawalnya, lalu menyerahkan sebuah amplop merah besar kepada Jansen, "Terima kasih atas bimbinganmu, Master Jansen!"


Jansen melirik amplop merah itu dan dia tahu di dalamnya pasti berisi banyak uang. Dia merasa tidak enak hati untuk menerimanya.


"Master Jansen, ini adalah sebuah kebiasaan. Dulu ketika aku masih kecil, penduduk desa pasti akan memberikan amplop merah kepada orang yang mereka undang untuk melihat Feng shui!" kata Penatua Yiwon.


Sebenarnya, melihat Feng shui milik orang lain bertentangan dengan takdir dan memiliki dampaknya tersendiri bagi para Master Feng shui. Oleh sebab itu, muncullah budaya untuk memberikan amplop merah yang tersegel demi menetralisir dampak yang akan menimpa Master Feng shui.


Jansen juga mengetahui tentang itu, jadi dia hanya bisa menerimanya meski diam-diam merasa tertekan. Dia ini hanya seorang dokter, tapi kenapa malah menjadi Master Feng shui?


"Silakan ke sebelah sini, Master Jansen!"


Penatua Yiwon secara pribadi mengantar Jansen pergi.


Levana dan yang lainnya tersenyum saat melihat kejadian ini. Mereka merasa bangga karena Penatua Yiwon menaruh kepercayaannya kepada Jansen yang mereka undang.


Sementara itu, ekspresi Harry dan Master-nya terlihat sangat marah. Mereka merasa kalah telak dari Jansen.

__ADS_1


__ADS_2