
Jansen kembali ke kamar mereka berdua dan melihat semuanya telah kosong. Suasana hatinya sangat kehilangan. Jansen tidak bisa menahan diri untuk mengingat momen-momen indah bersama Elena, dan rasa kehilangan itu semakin bertambah kuat.
"Elena, maafkan aku, aku tidak berguna!"
Jansen benci dengan dirinya sendiri yang lemah, saat ini fokusnya ada pada peningkatan kemampuan diri, tiba-tiba hasratnya untuk itu semakin besar.
Apa yang akan terjadi jika teknik kaisar manusia yang dia kuasai sudah mencapai tingkatan keempat atau kelima?
Tak peduli berapa banyak master Keluarga Miller datang menyerang dengan senjata dan peluru, dia masih akan bisa membawa Elena pergi jauh dan hidup bebas bersamanya.
Sangat disayangkan bahwa Jansen tidak memiliki kekuatan seperti itu sekarang, dan tidak ada cukup waktu baginya untuk menguasai kemampuan itu, karena banyak hal yang terjadi terlalu cepat, sehingga dia tidak sempat untuk memikirkannya.
Dengan berpikir seperti ini, Jansen menatap ke atas meja, dia melihat seuntai kalung mutiara tergeletak di sana, kalung itu adalah Mutiara Merlot yang pernah dia hadiahkan kepada Elena, dan di bawah kalung itu disisipkan selembar kertas catatan. Isi kertas catatan itu hanya tiga kata singkat, "Aku akan menunggumu!"
Melihat ketiga kata ini, hati Jansen muram. Jansen tidak tahu apakah Elena sendiri tahu alasan di balik keputusannya itu, tetapi Jansen tahu Elena pasti akan menunggu dirinya.
Hanya saja, apa gunanya Elena menunggu Jansen? Apakah agar Jansen bisa melawan Keluarga Miller?
Apakah Jansen bisa menang menghadapi Keluarga Miller?
"Kakak Ipar, aku mempercayaimu!"
Saat ini, pintu kamar dibuka dan Diana masuk ke dalam kamar.
"Terima kasih!"
"Jangan menyerah, tahukah kamu mengapa kakakku setuju untuk pergi? Dia ingin menjadi lebih kuat, jadi dia juga ingin tumbuh lebih dewasa di Keluarga Miller, demi bisa bertemu lagi denganmu kelak!" ujar Diana menyemangati Jansen.
Mata Jansen berubah cerah, dia mengalungkan Mutiara Merlot ke leher dengan perlahan.
Setelah melewati satu malam tanpa bersuara, keesokan harinya Jansen mandi lalu pergi meninggalkan vila.
Jansen tidak tidur semalaman, memikirkan rencana selanjutnya, tetapi kemampuannya terbatas, sampai sekarang dia masih belum terpikirkan modal perlawanan terhadap Keluarga Miller.
Dan jika dia tidak membiarkan Elena pergi, maka Elena juga akan terbunuh, semua serba salah.
"Jansen!"
Tak lama berjalan di tengah jalan, mobil Natasha datang, "Naiklah ke mobil!"
__ADS_1
Natasha juga tahu mengenai kepergian Elena, sehingga dia datang untuk menemani Jansen.
"Kakak Natasha, apakah aku tidak berguna? Apakah aku ini pecundang? Bahkan aku tidak bisa melindungi istriku sendiri!"
Setelah naik ke mobil, Jansen tiba-tiba bertanya, di hadapan Natasha, dia tidak menyembunyikan suasana hatinya.
"Bodoh, kamu telah melakukan tugasmu dengan baik, pria mana yang bisa seperti kamu? Aku percaya, Elena akan mengerti, kamu akan bersamanya lagi suatu hari nanti!" ucap Natasha menghibur Jansen. Natasha baru pertama kali melihat Jansen begitu tidak percaya diri, karena biasanya dia selalu percaya diri!
Keduanya turun dari mobil dan berjalan santai di taman. Natasha sungguh perhatian, dia tahu Jansen butuh ketenangan sehingga dia hanya menemani Jansen dan tidak banyak berbicara menghiburnya.
Saat ini, seorang pria yang menggendong anak sedang berjalan ke arahnya. Pria itu mengenakan pakaian olahraga dan kepalanya penuh minyak rambut. Pria itu berjalan melewati Jansen dengan cepat.
Jansen awalnya sedang berpikir, tetapi tiba-tiba matanya berkedip, menghentikan pria itu dan berkata dengan tertawa, "Hei, Bro, ini anakmu, lucu sekali anakmu, sudah berapa bulan?"
Pria itu sedikit kesal dan berkata dengan tidak puas, "Sudah tiga bulan!"
Setelah berkata demikian, pria itu segera pergi meninggalkan Jansen, tetapi Natasha masih heran kenapa Jansen tiba-tiba penasaran dengan anak dari pria itu.
Jansen tak berhenti tertawa sambil mencegah pergi pria itu dan berkata, "Sudah tiga bulan, sudah besar ya, bolehkah aku gendongnya?"
"Dasar bodoh, anak ini bukan anak kamu, kenapa aku harus izinkan kamu menggendongnya!"
Natasha mengira hati Jansen sangat terpukul dan kejiwaan sedikit terganggu, dia lantas segera pergi menjelaskan, "Maaf, temanku suasana hatinya sedang tidak nyaman, maaf mengganggu!"
"Kakak Natasha, jangan biarkan orang ini pergi!"
Jansen tiba-tiba menyela Natasha dan menatap pria itu dengan datar lalu berkata, "Kamu benar, anak ini bukan milikku, tetapi juga bukan milikmu!"
"Apa maksudmu!"
Raut wajah pria itu berubah seketika.
"Bayi yang baru lahir memiliki leher dan otot perut yang belum tumbuh sempurna, sehingga sulit menopang berat di kepala bayi. Caramu menggendongnya seperti ini akan mudah mencederai bagian leher bayi ini, dan kelihatan pula kamu masih asing dengan bayi ini!" ujar Jansen dengan nada bicara yang berubah sinis.
"Orang macam apa kamu ini, sembarangan kamu bicara!"
Pria itu mundur selangkah.
"Aku seorang dokter, apakah ucapanku itu masuk akal atau tidak, tentu aku sendiri yang paling tahu!"
__ADS_1
Jansen berkata dengan dingin, "Lagi pula, untuk anak berusia tiga bulan tidak boleh lagi memakai bedong bayi. Selain itu, kamu membawa bayi keluar tanpa membawa botol susu dan popok bayi, ini semua sudah jelas menunjukkan kalau bayi ini bukan bayimu!"
Di samping, Natasha terus menutup mulutnya sendiri dan pikiran muncul di benaknya kalau Jansen akan menculik anak itu.
Pria itu tersenyum lepas sambil berkata, "Itu karena aku masih belum cukup pengalaman!"
"Cukup sudah pura-puramu itu, tadi aku sengaja berbicara dengan suara keras, tetapi anak ini sama sekali tidak terbangun, kamu pasti sudah memberi anak ini obat tertentu!" ucap Jansen sambil melangkah ke depan dan membuat pria itu gugup lalu membawa bayi itu pergi.
Jansen tidak mungkin membiarkan pria itu lari, dia langsung pergi mengejar pria itu. Kebetulan di samping pria itu ada orang yang lewat, Jansen lantas berteriak keras, "Hentikan dia, dia penculik anak!"
Akibatnya, Jansen tidak bisa berkata-kata. Alih-alih bantu mengejar, orang yang lewat malah lebih takut mendapat masalah dan menjauh.
"Sialan!"
Jansen tidak bisa lagi menahan kemarahan, dia tak peduli lagi bila tindakannya akan mengejutkan banyak oang. Jansen menggunakan teknik ringannya dan melemparkan jarum perak untuk mengejar pria itu. Kedua kaki pria itu langsung tidak berkutik, dan saat bayi yang digendongnya jatuh, Jansen menangkap bayi itu dengan tepat waktu.
Saat ini, Natasha akhirnya datang berlari dan memanggil polisi.
Dan Jansen segera membuka bedong bayi yang membungkus bayi itu dan menggunakan jarum perak untuk memaksa bayi itu memuntahkan obat yang telah ditelan sebelumnya.
Pada saat ini juga, seorang pria bersama seorang wanita datang berlari, mereka berkata dengan cemas, "Ini anak aku, ini anak aku!"
Ironisnya, pria ini adalah orang yang sebelumnya diminta Jansen untuk membantunya mengejar pria itu, tetapi dia malah melarikan diri. Setelah dia melihat Jansen, dia langsung merasa malu.
"Istriku memiliki gula darah rendah dan baru saja pingsan di jalan. Ketika dia bangun, dia baru sadar anaknya telah diculik. Ini anak aku!" Pria itu sangat cemas.
"Kamu ini orang yang aku minta bantuan tadi, kamu bukannya membantu malah berlari sendiri, kalau bukan temanku yang membantu, anakmu ini sudah pasti hilang!"
Natasha sangat kesal dengan orang itu, dan memarahinya hingga kepalanya tertunduk malu mengakui kesalahan.
Jansen berkata dengan santai, "Lupakan saja, ini hanya masalah kecil, ingat, terkadang membantu orang lain sama dengan membantu diri sendiri!"
Perkataan Jansen ini membuat pria itu menyesal dan tertunduk malu.
"Apa kamu dengar itu? Masih saja tidak cepat berterima kasih, kamu ini sungguh pengecut!"
Istri pria itu juga memarahi suaminya dan berterima kasih kepada Jansen setelah itu.
Jansen memandang wanita itu dan melihat bahwa dia tidak terlihat sehat lalu berkata kepadanya dengan tersenyum, "Kalau gula darah rendah, kamu boleh coba makan kulit udang dan kembang tahu batang. Rendam kulit udang ke dalam arak, setelah itu masak hingga mendidih, tambahkan bawang putih ke kembang tahu batang sebagai penambah citarasa. Jika kamu sering memakan sup ini, maka itu dapat membantumu mencegah gula darah rendah. Selain itu, setiap malam sebelum tidur kamu minum segelas kecil arak merah untuk memperkaya asupan darah, kurangi makan berlebih, atur jumlah aktivitas olahragamu, jalan kaki juga jangan sampai terlalu lelah. Kamu atur saja sesuai dengan kemampuan fisikmu!"
__ADS_1
Wanita itu merasa terkejut dan bertanya, "Apakah kamu seorang dokter?"