Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1316. Cabang Utama


__ADS_3

Setelah setengah jam menyusuri lubang gua, Jansen dan Preston pun tiba di sebuah lembah yang berukuran cukup luas. Ada banyak barisan pegunungan di tempat ini, sama sekali tidak terlihat seperti sedang berada di dalam tanah, melainkan serasa ada di atas tanah.


Terlihat megah dan tak terbatas.


Ini adalah kesan mendalam yang Jansen dan Preston Rasakan.


Aaargh! Aaargh!


Di saat menikmati deretan pegunungan yang indah itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara raungan tanpa henti, diiringi dengan munculnya banyak sosok manusia.


"Sekte Yuhua sudah membantai mayat hidup!"


Setibanya di tempat ini, Preston tak lagi merasakan takut. Itu karena dia bersama seorang master sekte yang bisa menyelamatkan nyawanya saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sebenarnya murid sekte manapun akan merasakan takut saat menginjakkan kaki di tempat ini, kecuali jika ditemani dengan seorang tetua atau master sekte.


"Tempat ini sangat luas, entah di mana Elena saat ini!"


Jansen menatap ke segala arah, barisan pegunungan pun nampak seperti sebuah hutan lebat yang di dalamnya penuh dengan lautan manusia. Sangat sulit menemukan Elena dalam waktu yang singkat.


"Aku akan bertanya! Biar aku yang bertanya pada mereka!"


Preston memimpin perjalanan terus ke arah depan. Tak berselang lama, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang memakai jubah panjang menyerupai seorang biksu. Mereka dipimpin oleh seorang pria paruh baya.


Dan kekuatannya tidak bisa diprediksi sampai sejauh mana.


"Salam hormat pada master sekalian, perkenalkan namaku Preston dari Gunung Salju Peri."


sapa Preston pada para master sembari membungkuk.


"Gunung salju peri?"


Pria paruh baya yang memimpin rombongan pun nampak acuh pada Preston. "Bukankah kamu sedang membunuh mayat hidup? Kenapa malah ada di sini? Apa mungkin Gunung salju peri tidak menginginkan hadiah itu!"


"Penatua Yohan!"


Preston mengenali salah satu sosok yang ada di antara mereka. "Aku baru saja tiba di tempat ini. Atas perintah Penatua Rain, aku datang untuk membantu!"

__ADS_1


"Omong kosong! Hanya mengandalkan kekuatanmu yang lemah, mustahil kamu bisa berada di tempat ini sendirian!"


Para master pun menatap dingin Preston. Kemudian mereka juga melirik ke arah Jansen, tepatnya melirik pakaian yang dikenakan Jansen karena tidak sesuai pada tempatnya.


"Tepat sekali, sebagai junior, aku tidak berani berkata bohong. Master lihat bukan, ini adalah kompas penunjuk arah."


Preston lantas mengeluarkan kompas sekte yang diberikan Penatua Rain padanya.


Kompas semacam itu sangatlah berharga, kecuali jika gerbang perunggu terbuka. Jika tidak, mana mungkin sekte akan rela memberikannya. Sehingga, orang lain pun tidak akan mencurigainya.


Namun, baik Jansen atau pun Preston, dengan keduanya bisa menemukan tempat ini, itu sudah mampu menunjukkan jika mereka berdua luar biasa.


Bagaimanapun, perjalanan mereka dari istana sampai ke tempat ini tidaklah mudah. Selain akses jalan yang susah, mereka juga akan berhadapan dengan marabahaya. Bahkan, para master saja memilih untuk menghindari pertempuran melawan para Zombie.


"Karena kalian berasal dari Gunung Salju Peri, maka pergilah ke wilayah tenggara!"


"Deliza, tunjukkan jalan pada mereka!" perintah pria paruh baya yang dipanggil Penatua Yohan itu.


"Baik, Penatua!"


Saat mereka berdua pergi cukup jauh, beberapa master sekte nampak mendengus dingin.


"Sudah banyak nama-nama yang muncul dari Gunung Salju Peri, seperti, Elena, Winston dan Jiro. Pastinya ... Penatua Rain merasa puas saat ini!"


"Gerbang Perunggu terbuka lebar saat ini. Pimpinan sekte juga sedang memperhatikan performa dari setiap cabang. Kita yang berasal dari cabang lain pun tidak boleh kalah!"


"Saat ini, pimpinan sekte lebih fokus pada Erika dan juga Elena. Kita harus menekan Gunung Salju Peri dengan membunuh lebih banyak lagi mayat hidup."


Sekte Yuhua adalah sekte tersembunyi kelima dengan keberadaan cabang-cabang yang sudah menyebar di seluruh Huaxia. Sedangkan Sekte Pusat merupakan sekte inti.


Setiap cabang pasti ingin menunjukkan performa terbaiknya sehingga bisa diapresiasi oleh sekte pusat.


Dan dalam misi pembunuh mayat hidup ini, nilai terbaik akan mendapatkan hadiah dari sekte pusat. Tidak hanya akan mengharumkan nama cabang, tapi pemenang juga akan mendapatkan kesempatan untuk berlatih di sekte pusat.


Itu sebabnya tidak ada yang mau kalah dalam misi kali ini.


Di sisi lain, di bawah panduan murid sekte yang bernama Deliza, Jansen dan Preston terus melangkah maju.

__ADS_1


Deliza memiliki rambut yang panjang dengan wajah yang sedikit tirus. Tatapannya begitu angkuh saat menatap Preston serta Jansen.


Dia adalah murid sekte Yuhua cabang Sungai Selatan. Tentu saja mereka adalah saingan cabang Gunung Salju Peri.


"Desas-desus yang beredar, kalian berdua menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini. Sebelumnya, juga ada Kak Erika dan juga Elena. Kekuatan mereka cukup lumayan, wajar jika sekte pusat melirik mereka berdua!"


ucap Deliza nampak acuh.


"Aaah... tidak juga!"


jawab Preston dengan sopan. Ada jejak kebanggaan dalam hatinya saat ini.


"Yaah... hanya sosok wanita saja yang hebat dari cabang Gunung Salju Peri. Nama-nama seperti Jiro, Winston, termasuk kalian, hanyalah sampah tak berguna!" imbuh Deliza penuh dengan penghinaan.


Preston baru menginjak tingkatan Ranah Celestial tingkat ketiga Baginya, Preston hanyalah anak bau kencur.


Raut muka Preston seketika berubah, namun dia tak mengatakan sepatah kata pun.


"Aku beri tahu ya, sekte pusat selalu mengawasi perjalanan ke Istana awan. Aku harap, setelah melalui uji kekuatan murid di masing-masing cabang, Kak Baron yang berasal dari cabangku, cabang Sungai Selatan, tidak akan membiarkan kalian melenggang bebas begitu saja!" lanjut Deliza.


"Selain itu, gelombang pertama pasukan mayat hidup keluar dari Gerbang Perunggu tiga hari lalu. Tiap-tiap cabang memperoleh hasil yang cukup lumayan. Tapi, hanya cabang Gunung Salju Peri milik kalian-lah yang menunjukkan performa biasa-biasa saja!"


"Selain Kak Baron, masih ada Kak Geofrey dari cabang Rizhao dan juga Kak Cassia dari cabang Hongland. Mereka semua pasti akan melampaui cabang Gunung Salju Peri."


"Dan untuk mayat hidup kali ini, kalian tunggu saja di bawah!"


Berbicara sampai di situ, Deliza nampak arogan dan penuh dengan rasa kemenangan di hatinya.


Raut wajah Preston terlihat lebih suram dari sebelumnya. Dia tahu betul bagaimana persaingan antar cabang kali ini. Hanya saja, dia tidak menyangka Deliza akan bersikap arogan seperti ini di depannya. Bukankah ini sama saja dengan menginjak-injak harga diri cabang Gunung Salju Peri!?


"Apa yang kamu tertawakan!"


Deliza nampak puas melihat wajah kesal Preston. Tapi kemudian, saat menoleh ke arah Jansen, Jansen malah terlihat menertawakannya. Hal itu tentu saja membuatnya kesal.


"Sudahlah, tunjukkan jalan saja, kurangi omong-kosongmu!"


Jansen masih tidak begitu familier dengan persaingan antar cabang seperti ini. Mungkin, lebih tepatnya dia sama sekali tak memedulikannya.

__ADS_1


__ADS_2