Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 420. Tidak Berguna!


__ADS_3

"Terimakasih, Bibi keempat!"


Fernando merasa sangat senang, setelah Melihat sekilas ternyata Jansen dan Elena masuk. Fernando dengan sengaja berteriak, "Kami Keluarga Miller semakin hari semakin besar dan kuat, tidak sulit bagi kami untuk Memelihara menantu laki-laki yang hanya bisa numpang hidup dengan istrinya!"


Teriakan Fernando ini membuat semua orang menoleh ke arah Jansen dan memandangnya dengan penuh rasa jijik dan hina.


"Ada orang merasa nyaman numpang hidup tanpa melakukan apa pun. Apakah orang ini tidak tahu malu?"


"Kenapa dia harus malu? dia saja bisa berlutut ke Elena, sungguh tidak tahu malu!"


"Sebagai seorang pria, dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia itu tidak berguna, beda dengan Fernando yang sudah banyak membantu Keluarga Miller!"


Semua kerabat Keluarga Miller menyindir dengan ucapan yang sangat kasar dan sangat menghina Jansen.


Wajah Lucky, Paman Ketiga, tampak sangat malu mendengar perkataan mereka itu, dia lalu berkata dengan nada datar kepada Jansen, "Jansen, Grup Aliansi Bintang datang untuk penandatanganan kontrak, sehingga mereka semua ini sangat senang seperti sedang merayakan tahun baru!"


"Group Aliansi Bintang?"


Jansen sedikit terkejut karena kemarin Gracia sepertinya mengatakan bahwa dia akan menyuruh orang datang menandatangani kontrak. Apakah orang tua itu yang disuruh Gracia kemari?


"Paman Ketiga, tidak ada salahnya kami begitu senang, penandatanganan kontrak ini hanyalah tahap awal. Jika kontrak berjalan lancar, kelak mungkin akan ada lebih banyak lagi kontrak baru lainnya!"


Renata Melirik ke arah Jansen dengan penuh rasa jijik dan benci lalu berkata kepada Fernando, "Fernando menantuku ini luar biasa, kami Keluarga Miller mengakui kemampuannya. Untuk orang yang hanya menjadi parasit bagi Keluarga Miller, cepat atau lambat kami pasti akan mengusirnya keluar dari Keluarga Miller!"


Perkataan Renata ini jelas sedang menyindir Jansen.


"Minggir, minggir!"


Pada saat ini, Rowen, Paman Keempat akhirnya kembali. Rowen mendorong Jansen dari kerumunan dan menatapnya dengan sinis sambil berkata, "Pemalas, kamu kira ini tempat bermain? Kalau kamu tidak bisa membantu Keluarga Miller, lebih baik kamu pergi cari pekerjaan, dasar tidak berguna!"


Rowen masih sakit hati dengan insiden kemarin, sehingga dia jelas sedang mencari kesempatan untuk membalas Jansen.


Tentu saja, hari ini adalah hari berbahagia bagi Rowen, karena itu dia pun tidak ingin berdebat dengan Jansen.


"Rowen sudah pulang!"


"Paman keempat!"


Semua orang menyapa Rowen dengan sopan karena Rowen kini telah memberikan kontribusi besar dan patut untuk dihormati mereka.


"Rowen, kamu pergi ke mana saja, bagaimana pembicaraan bisnis dengan Grup Aliansi Bintang? Coba ceritakan ke semua orang, kalau bukan karena orang mereka yang duluan datang kemari, maka kami semua juga tidak tahu tentang hal ini!" Renata berdiri dan berkata.


"Haha, aku juga tidak menyangka!"


Rowen merasa sangat bangga.


Anggota Keluarga Miller lebih banyak terjun ke dunia politik, sedangkan Rowen adalah pengusaha dan sering tak mendapatkan penghargaan di dalam keluarga ini. Hari ini adalah pertama kalinya Rowen mendapatkan pujian yang tinggi dari semua orang.


Hanya saja, Rowen merasa agak aneh karena saat melakukan negosiasi dengan Grup Aliansi Bintang, tampaknya negosiasi itu sudah gagal. Lalu kenapa sekarang malah tiba-tiba setuju dengan kontrak itu?

__ADS_1


Apakah kontrak ini bukanlah kontrak tambang batu bara?


Rowen masih bingung karena semua bisnis Keluarga Miller dipegang langsung oleh Rowen, sehingga Grup Aliansi Bintang pasti akan mencarinya langsung dan bukan orang lain.


Rowen baru merasa yakin setelah berpikir demikian, dan segera membalas ucapan selamat dari semua orang.


Pria tua perwakilan Grup Aliansi Bintang itu tidak berani menertawakan orang-orang Keluarga Miller, dia hanya berkata sambil tersenyum, "Apakah orangnya sudah datang? Sekarang mari kita mulai penandatanganan kontrak supaya aku bisa selesaikan tugasku!"


"Aku sudah datang, aku sudah datang!"


Semua orang Melihat Rowen.


Rowen merapikan jasnya dan mengeluarkan penanya untuk menandatangani kontrak.


Melihat Rowen siap menandatangani kontrak, pria tua itu juga dengan sopan berkata, "Tuan Jansen, Anda hanya perlu menandatangani di sini karena Nona Gracia sudah berpesan kalau mengenai harga, itu semua terserah Tuan Jansen saja!"


"Baik!"


Rowen mengangguk tanpa sadar, tetapi segera merasa ada yang tidak beres, "Tunggu, Anda panggil saya Tuan Jansen?"


"Ya betul, kami datang mencari Tuan Jansen untuk menandatangani kontrak, dan Nona Gracia langsung yang menyuruhnya!" ucap pria tua itu dengan wajah heran.


"Namun, saya bukan Jansen, saya ini anggota Keluarga Miller dan ini juga rumah Keluarga Miller!" Wajah Rowen tampak keheranan.


Pria tua itu pun kaget, "Tapi, Nona Gracia menyuruhku datang ke rumah Keluarga Miller untuk mencari Tuan Jansen!"


Jansen menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa lucu, dan perlahan berjalan keluar lalu duduk di depan pria tua itu.


"Jansen, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak punya hak untuk duduk di sini!"


Renata tidak bisa menahan diri dan memarahinya,"Orang ini adalah perwakilan Grup Aliansi Bintang, kamu jangan buat kacau di sini, cepat pergi!"


Jansen mengabaikan kerabat Keluarga Miller yang sombong itu. Jansen mengeluarkan KTP-nya dan menyerahkannya kepada pria tua itu. Pria tua itu terkejut, dan setelah Melihat wajah Jansen lebih dekat, dia akhirnya tersenyum, "Kamu adalah Tuan Jansen yang aku cari!"


Semua orang pun terdiam.


Semua anggota Keluarga Miller yang bersuka cita tadi, tiba-tiba seperti dipermalukan langsung.


Terutama Rowen yang berdiri di samping Jansen. Rowen merasa paling malu karena orang yang dicari ternyata bukan dirinya, jadi dia merasa sangat gelisah.


"Tuan, dia bukan orang Keluarga Miller, dia hanya seorang pecundang yang ingin menumpang hidup dengan Keluarga Miller. Apa kamu salah mengenali orang?" tanya Renata yang tak tahan lagi ingin mengingatkan pria tua itu.


"Benar, yang aku cari adalah Tuan Jansen. Nona Gracia sudah bilang bahwa tak peduli anggota Keluarga Miller atau bukan, aku hanya perlu mencari Tuan Jansen untuk menandatangani kontrak!"


Pria tua itu tersenyum sopan, "Dan ini adalah kontrak perjanjian pengalihan hak atas tanah Panti Asuhan Cahaya Harapan di Distrik utara!"


"Panti Asuhan Cahaya Harapan!"


Orang-orang Keluarga Miller lagi-lagi tercengang.

__ADS_1


Jansen benar-benar berhasil menyelesaikan masalah yang sudah lama tak bisa terselesaikan ini?


Mereka semua sangat terkejut.


"Jansen, berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk membeli tanah panti asuhan? Hebat, kamu bahkan berani mencuri uang Keluarga Miller!"


Renata sama sekali tidak mengira Jansen bisa menyelesaikan masalah panti asuhan, dan bahkan menduga bahwa Jansen telah membeli tanah itu dengan uang yang diberikan oleh Elena. Renata juga menduga kalau uang Elena mungkin saja diberikan oleh nenek secara diam-diam.


Akan tetapi, uang ini merupakan uang Keluarga Miller, lantas Jansen pun tak punya hak untuk mengambil uang tersebut.


Untuk membeli tanah panti asuhan pasti membutuhkan uang yang sangat banyak karena harganya yang selangit.


"Nyonya Renata, jangan salah paham, Nona Gracia sudah bilang kalau ini di berikan dengan harga terserah Tuan Jansen!"


Perkataan pria itu kembali membuat Renata kebingungan.


Terserah?


Benarkah ada hal yang menguntungkan seperti ini?


Kalau pun ada hal yang menguntungkan seperti ini, kenapa malah jatuh ke tangan Jansen yang katanya pecundang ini dan bukan langsung ke Keluarga Miller?


"Aku berencana membayar dengan harga satu sen, boleh?"


Saat ini, Jansen pun tersenyum.


"Boleh, terserah Tuan Jansen saja!"


Pria tua itu langsung mengangguk setuju dan mempersilakan Jansen menandatangani kontrak itu.


Orang-orang Keluarga Miller yang menyaksikan keberhasilan Jansen menguasai tanah Panti Asuhan Cahaya Harapan dengan hanya mengeluarkan uang satu sen, merasa sangat malu.


Jansen telah menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan selama bertahun-tahun.


Jadi, kalau begitu siapa orang yang tidak berguna itu?


Siapakah orang yang tidak berkontribusi sedikit pun untuk Keluarga Miller?


Siapa parasit itu?


Fernando yang sebelumnya arogan dengan suara lantang kini hanya bisa terdiam malu. Orang yang dimaksud sebagai pecundang yang numpang hidup dengan keluarga istrinya harusnya adalah dirinya sendiri.


Setelah Jansen menandatangani kontrak, dia berdiri dan hendak pergi, tetapi dia tiba-tiba menatap Rowen, Paman Keempat, dan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Dasar tidak berguna!"


Kalimat ini diucapkan oleh Rowen kepada Jansen tadinya, dan sekarang Jansen dengan kalimat yang sama. pun membalasnya


Semua orang di sana terdiam, bahkan wajah Renata pun berubah menjadi masam. Awalnya, Renata ingin memarahi Jansen, tetapi kini Jansen telah berhasil menunaikan tugas yang diberikan oleh nenek, sehingga Renata hanya bisa terdiam saja.


Maia, istri Rowen, juga sangat marah karena suaminya dipermalukan oleh seorang dokter kecil. Maia beranggapan bahwa meski suaminya tidak memiliki kedudukan tinggi dalam Keluarga Miller tetapi bagaimanapun juga, suaminya adalah seorang direktur perusahaan beraset puluhan miliar yuan.

__ADS_1


__ADS_2