Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 505. Lakukan Sesuka mu!


__ADS_3

"Kenapa masih belum pergi? Mau toko ini? Boleh, 100 juta yuan!"


Pria paruh baya ingin menakut-nakuti Jansen dengan harga tinggi, tapi nyatanya, membeli toko ini dengan harga 100 juta yuan tidaklah mahal.


"Setuju."


Jansen mengangguk setuju.


Si pria paruh baya tertegun sejenak, lalu berkata dengan tidak senang, "Aku hanya bercanda. Aku sudah bilang, toko ini tidak dijual. Terutama, karena tanah ini adalah warisan dari keluargaku. Awalnya, ini adalah toko peti mati yang terkenal di Ibu kota. Aku tidak ingin kalian merusak reputasinya."


Memangnya toko peti mati mempunyai reputasi?


Jansen benar-benar tidak bisa berkata-kata, dia tertawa sambil berkata, "Kebetulan, aku ingin menggunakannya untuk buka klinik. Yang satu membantu orang mati, dan yang satu lagi membantu orang hidup. Keduanya tidak saling bentrok. Kalau Bos setuju, aku bersedia membelinya dengan harga 200 juta yuan."


Pria paruh baya itu tidak menyangka bahwa Jansen begitu keras kepala, nadanya pun melambat, "Hah, anak muda, aku dibesarkan di sini. Aku memiliki perasaan yang mendalam terhadap tempat ini, aku tidak mau menguburnya, jadi ini bukanlah masalah uang."


"Jansen, lebih baik kamu cari tempat lain."


Pemilik toko sudah berkata seperti itu, sebaiknya jangan memaksa lagi. Elena pun membujuk Jansen.


Jansen menggelengkan kepalanya. Sebelumnya, dia sudah mengecek Feng shui, tempat ini paling cocok. Ditambah, dia juga mendengar bahwa pria paruh baya ini bukannya sepenuhnya tidak mau menjual, dia hanya punya alasan lain.


"Hai, Jansen! Kamu juga di sini?"


Pada saat ini, dua sosok berjalan memasuki pintu utama. Mereka adalah Silvia dan pacarnya yang bernama Fernando.


Jansen langsung mengerutkan keningnya, kenapa dua orang ini berada di sini?


"Bos, apakah toko ini masih dijual?"


Silvia menertawakan Jansen sambil berjalan mendekati pria paruh baya itu.


"Kalian lagi, kalian lagi. Aku sudah bilang, toko ini tidak dijual. 300 juta yuan pun tidak akan dijual!"


Pria paruh baya terlihat tidak sabar. Tampaknya, ini bukanlah pertama kalinya Silvia datang.


Tiba-tiba, Fernando menolehkan kepalanya ke arah Jansen, lalu berkata sambil tersenyum, "Kalian juga mau membeli toko ini? Maaf, kami duluan. Letak toko ini cukup bagus, sangat cocok untuk membuka klinik. Aku berencana membuka klinik di sini."


Ucapan ini jelas menyatakan bahwa dia ingin merusak rencana Jansen.


Jansen menyipitkan matanya. Jansen tidak pernah memberi tahu siapa pun mengenai rencananya membuka klinik. Bagaimana Silvia bisa tahu?


"Jangan keterlaluan! Sepanjang jalan ini banyak toko lain, tapi kalian sengaja memilih toko ini." Elena sudah tidak tahan Melihat mereka.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, kami yang duluan datang. Yang sengaja adalah kalian."


Silvia terlihat puas.


Elena menghentakkan kakinya, tapi Jansen mencegatnya, lalu menggelengkan kepala.


"Usaha yang kalian lakukan terlalu sedikit. Apakah kalian pikir uang saja cukup untuk membeli toko ini?"


Fernando terus menertawakannya, "Bukan begini caranya berbisnis."


"Lebih dari itu."


Jansen berkata pelan.


Fernando tersenyum misterius, "Tempat ini adalah Toko Batu Antik, bosnya juga adalah penduduk lama Ibu kota. Apakah dia akan kekurangan uang? Kalau ingin membeli toko ini, maka harus cari tahu lebih detail apa yang dia suka."


Setelah berbicara, dia mengeluarkan dua batu hitam di genggamannya, lalu berkata kepada pria paruh baya, "Bos, tadi pagi aku Melihatmu jalan-jalan di pasar loak. Aku lihat, kamu menyukai sebuah patung kucing besi, tapi karena takut ditipu, akhirnya kamu tidak jadi membelinya. Kucing besi itu seharga 500 ribu. Katanya, barang itu adalah barang antik peninggalan Dinasti Tang, benar?"


Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya, "Kamu memata-mataiku?"


"Bos, ini tidak bisa disebut mematai-matai. Hanya saja, kami mempersiapkan dengan baik dan tulus."


Fernando tersenyum percaya diri, lalu meletakkan kedua batu hitam itu ke atas meja, "Bos, kedua bola mata kucing besi ini adalah batu opal. Aku membelinya dengan harga 400 ribu yuan. Batu opal ini adalah batu asli, ditambah, warna hitam ini adalah satu-satunya. Lihat warnanya yang begitu pekat dan murni!"


Saat mengucapkan kalimat terakhir, dia mengucapkannya sambil Melihat Jansen. Wajahnya terlihat sangat puas.


"Memang bukan hal yang hebat, tapi aku rasa, bos pasti menyukainya."


Fernando berbicara sambil menatap pria paruh baya.


Memang benar, pria paruh baya sangat menyukai batu. Batu opal adalah salah satunya. Apalagi, batu opal sehitam ini.


Saat ini, dia sedang Melihatnya dengan menggunakan kaca pembesar, dia terlihat sangat bersemangat.


"Sudah lihat? Saat berbisnis, kita harus bisa memenuhi kesenangan orang lain. Dengan begitu, tidak ada jual-beli yang mustahil. Asalkan bisa mengerti keinginan pelanggan, semua bisa dibeli."


Dilihat dari kondisi saat ini, Fernando menggunakan status senior untuk menegur Jansen.


"Apakah barang ini berharga?" tanya Jansen.


Fernando mencibir, "Jangan meremehkan kedua batu ini. Harganya paling tidak berada di kisaran 50 juta yuan. Aku membeli barang ini dengan harga 400 ribu yuan dari seorang penjual di pasar loak yang terletak di sebelah tenggara. Hebat, 'kan? Dengan modal 400 ribu, bisa dijual menjadi 50 juta. Ini yang disebut berpikir jauh ke depan."


"Kalau hanya berdasarkan ucapanmu saja, siapa yang tahu asli atau palsu?" Jansen tidak percaya.

__ADS_1


"Kebetulan, di sebelah ada sebuah toko pegadaian. Di sana ada seorang ahli penilai batu yang tersertifikasi. Kita akan tahu setelah meminta dia Melihatnya," kata Fernando.


"Benar, benar. Suruh saja dia memeriksanya."


Yang membuat Jansen terkejut, ternyata pria paruh baya ini tergerak.


Tampaknya yang dikatakan Fernando benar. Bos ini tidak Melihat uang, sebaliknya, dia menyukai batu antik.


Silvia seolah telah berhasil mempengaruhi bos toko. Dia tersenyum, "Jansen, toko ini akan menjadi milik kami. Anggap saja hari ini adalah pelajaran untukmu."


Begitu selesai bicara, dia membawa bos toko ke toko sebelah.


"Silvia pasti sengaja. Jansen, ayo, kita pergi. Lupakan saja toko ini," kata Elena dengan marah.


"Tidak apa-apa, kita ikut saja. Siapa tahu masih ada kesempatan."


Jansen menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu begitu bodoh? Silvia datang lebih dulu dibandingkan dengan kita. Sejak awal, mereka sudah mencari tahu apa yang disukai bos toko. Mereka cukup berusaha, sedangkan kita tidak punya apa-apa. Mengandalkan uang saja tidak cukup untuk membeli toko ini."


Jansen tidak peduli. Namun, saat ini Fernando kembali dan menarik Jansen ke toko sebelah.


Dia seolah sangat takut kalau Jansen pergi.


Hal ini sangat normal. Jarang-jarang bisa memberikan Jansen pelajaran. Bagaimana mungkin dia mau melewatkan kesempatan seperti ini.


Di toko pegadaian, ahli penilai batu tampak sedang mengidentifikasi keaslian batu opal. Setelah mengidentifikasi kepekatan warna dan kekerasan batu, ahli penilai batu mengangkat kepalanya dengan terkejut, "Batu opal ini asli! Ditambah, umurnya juga cukup tua. Harganya mungkin berada di kisaran 80 juta yuan."


Mendengar ini, pria paruh baya begitu bersemangat. Dia tidak rela melepaskannya.


"Haha!"


Fernando tertawa sambil menatap Jansen yang termenung, "Jansen, sudah belajar? Kamu ini tidak mengerti bisnis. Sedangkan aku, saat kuliah aku memang mempelajari jurusan ini. Aku lebih tahu banyak dibanding dirimu. Patung kucing besi seharga 500 ribu yuan. Aku mengambil mata nya dengan harga 400 ribu yuan. Untung besar senilai 79,6 juta yuan. Ini yang namanya cerdas!"


"Benar. Lihatlah, sepertinya bos sangat menyukai batu opal ini. Dengan menambahkan sedikit uang, toko itu akan menjadi milik kita. Maaf, kalian harus kembali dengan tangan kosong." Silvia berkata dengan wajah yang menyesal.


Namun, senyumannya terlihat seperti wanita jahat.


Sejak awal, wajah Elena sudah marah sampai merah. Dia ingin menarik Jansen pergi, tapi Jansen malah seperti kayu yang tidak bisa digerakkan.


Jansen menatap Fernando dan bertanya, "Katamu, harga patung kucing besi adalah 500 ribu yuan, sedangkan kamu menghabiskan 400 ribu yuan untuk membeli matanya?"


"Haha, apakah kamu terpukul? Sudah gila? Tidak apa-apa, yang kamu katakan benar," jawab Fernando.

__ADS_1


"Kalau begitu, patung kucing buta itu bisa dibeli dengan harga 100 ribu yuan?" tanya Jansen.


Fernando dan Silvia saling memandang. Mereka semakin yakin bahwa Jansen sudah gila. Mereka mengangguk, "Benar, kucing buta itu bisa dibeli dengan harga 100 ribu."


__ADS_2