
"Apa asal-usul orang ini? Dia benar-benar gila!"
"Aku sama sekali tak peduli dengan asal-usulnya. Di sini adalah Kota Sion. Asalkan dia bukan orang lokal, aku dapat membuatnya tersiksa hingga mati. Bukankah dia punya banyak uang? Kita lihat seberapa banyak uang yang dia punya untuk mengganti kerugianku!"
Amarah Alvin mendidih. Kota Sion adalah wilayah kekuasaannya. Apakah Jansen berani melawan dirinya?
Tiba-tiba, Alvin menatap mobil Ferrari yang berada jauh di depan gerbang. Dia lalu bertanya, "Itu mobil siapa?"
"Itu sepertinya mobil Jansen. Kemungkinan besar, itu adalah mobil sewaan!" Reno menebak.
"Dia mengendarai mobil mewah?"
Alvin menggerutu lalu melihat ke sekeliling dan langsung mengambil sebuah batu bata kemudian menghantamkannya ke mobil Ferrari itu.
"Tuan Alvin!"
Reno dan Nelly sama-sama terkejut.
Mereka memang menduga bahwa mobil itu adalah mobil sewaan. Kalau tidak, mereka tentu akan menganggap Jansen adalah orang kaya sedari awal.
Namun, mobil itu memang sebagian adalah milik Jansen. Jika mobil itu dihancurkan, biaya ganti rugi yang harus dikeluarkan pasti sangat banyak jumlahnya.
"Aku sama sekali tidak takut. Di Kota Sion, aku adalah orang yang paling berkuasa. Aku akan menghancurkan mobilnya. Aku ingin melihat apakah dia sanggup membunuhku atau tidak!"
Alvin sama sekali tidak merasa takut. Dia menghancurkan mobil itu dengan batu bata lalu tertawa dengan perasaan senang.
Pada saat ini di ruang utama, Jansen dan yang lainnya mendengar suara alarm mobil.
"Sepertinya, ada orang yang menghancurkan mobil di luar. Siapa pemilik mobil yang parkir di samping pintu gerbang?"
Monica tiba-tiba merasa ada yang tidak beres.
"Jansen, sepertinya itu mobil kita!" Raut wajah Elena pun berubah.
"Ah, ayo cepat pergi lihat!"
Paman Randy dan yang lainnya pun merasa cemas. Mereka menduga bahwa itu adalah ulah Alvin dan komplotannya.
Jansen terlihat acuh tak acuh, "Mobil itu bukan milikku. Terserah dia mau menghancurkan mobil itu atau tidak!"
Mobil itu adalah mobil Bos Mikel. Jansen tentu saja tidak merasa keberatan bila mobil itu dihancurkan.
"Ayo kita pergi lihat!"
Paman Randy buru-buru menarik Jansen lalu berlari menuju pintu gerbang.
Di samping pintu gerbang, Alvin sedang menghancurkan mobil itu dengan batu bata dan menggores cat mobil. Saat melihat Jansen berjalan keluar, Alvin berkata sambil tertawa, "Jansen, mobil ini adalah milikmu, bukan? Aku sudah menghancurkannya dengan puas!"
Jansen menatap Alvin dengan wajah sumringah lalu berkata dengan santai, "Kamu bebas menghancurkannya. Kalau kamu memang hebat, hancurkan saja sampai rusak total!"
"Haha, apa kamu sudah ketakutan?"
Alvin melihat Jansen sama sekali tidak bergerak. Dia pun mengira bahwa Jansen ketakutan, "Biar aku beritahu kamu, jangan beranggapan bahwa dengan uangmu yang tidak seberapa itu, kamu bisa bertindak sesuka hatimu. Aku adalah penguasa di Kota Sion!"
Saat dia berbicara, sejumlah preman yang memegang pipa besi datang berlari ke arahnya. Mereka adalah para suruhan Alvin.
Alvin menatap Jansen dengan rasa jijik dan berteriak, "Hancurkan mobil ini hingga rusak total!"
"Hancurkan!"
__ADS_1
Atas perintah Alvin, para preman itu menghancurkan mobil Ferrari itu sambil meluapkan amarah mereka.
"Alvin, kalau kamu masih berani macam-macam, aku akan lapor polisi!"
Mata Monica pun memerah diliputi kemarahan. Dia tidak menyangka bahwa Alvin ternyata begitu beringas.
"Silakan lapor polisi! Ketika polisi datang nanti, siapa yang bisa membuktikan bahwa aku adalah pelaku penghancuran mobil ini?"
Alvin memandang Reno lalu berkata, "Tuan Reno, apa kamu melihat aku menghancurkan mobil ini?"
"Tidak, aku melihatmu sedang merokok di sini!"
Reno mengeluarkan sebungkus rokok lalu memberikan sebatang rokok kepada Alvin.
Alvin menyalakan rokok dan mengisapnya dengan hati gembira. Amarah Alvin kini telah mereda. Dia kembali berkata kepada Jansen, "Bagaimana? Kamu tentu tahu bahwa aku dapat membunuhmu dengan mudah di Kota Sion!"
Paman Randy benar-benar tidak sanggup melihatnya lagi. Jantung Paman Randy terasa sakit. Dia pun berteriak, "Mobil ini bukanlah mobil murah, Tuan Alvin. Cepat suruh anak buahmu berhenti menghancurkannya!"
"Hehe, kamu bisa saja menghentikan perbuatanku jika kamu mau. Pertama, kamu jual pabrik gula milikmu. Kedua, suruh anak muda itu minta maaf kepadaku!"
Alvin menunjuk Jansen sambil mengancam agar Jansen segera minta maaf kepada dirinya. Kalau tidak, Jansen pasti tidak akan bisa keluar dari Kota Sion.
"Bukankah kamu bilang kamu akan menghancurkan mobil ini hingga rusak total? Aku sudah menunggu seharian, tetapi kalian masih belum selesai juga. Apakah kalian tidak makan nasi?"
Jansen berkata dengan wajah acuh tak acuh.
Alvin dan Reno sontak tercengang. Mobil mewah itu hancur hingga tak bisa dikenali lagi, tetapi Jansen malah sama sekali tidak merasa sayang dengan mobil itu.
Mereka tiba-tiba paham. Jansen sepertinya ingin
membiarkan mereka menghancurkan mobil itu dan kemudian meminta ganti rugi kepada mereka.
"Kalau begitu kamu harus menghancurkannya dengan sekuat tenaga. Untuk apa kamu mengoceh terus?"
Jansen menggelengkan kepalanya.
Semua orang kembali tercengang
Apa yang sebenarnya terjadi? Mobil itu telah hancur total. Jansen bukan hanya tidak merasa sakit hati, Jansen juga menyuruh mereka terus menghancurkan mobil itu dengan sekuat tenaga.
Apakah Jansen benar-benar tidak peduli karena merasa bahwa uang yang dimilikinya sudah sangat banyak?
Uang tentu adalah masalah kecil bagi dirinya. Namun, jika ada orang yang datang menindasnya, itu adalah masalah besar.
Alvin tak bisa memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Jansen. Alvin pun makin geram. Dia tiba-tiba mengambil pisau dari seorang preman lalu menusuknya ke ban mobil hingga kempes.
Paman Randy dan Monica merasa sakit hati saat melihat perbuatan mereka. Meskipun mereka berdua tidak tahu berapa harga mobil ini, mereka berdua menduga bahwa mobil ini sangatlah mahal.
Namun, mobil yang sangat indah seperti karya seni ini malah dihancurkan hingga rusak total.
"Kalau kamu memang hebat, paksa aku membayar ganti rugi. Aku mau lihat jika polisi datang nanti, siapa yang bisa membuktikannya!"
Alvin kembali menggores jok kulit dengan pisau.
"Lebih kuat lagi, bagus! Copot juga setir mobil!"
Jansen malah berdiri di samping sambil mengarahkan mereka menghancurkan mobil itu.
Saat ini, semua orang makin bingung. Mereka merasa bahwa Jansen sedang memerintahkan orang lain untuk menghancurkan mobilnya sendiri.
__ADS_1
"Apa dia sudah gila?"
Nelly terus menggelengkan kepalanya. Meskipun Jansen adalah orang kaya, otaknya sangat bodoh. Dia sama sekali tidak punya jiwa seorang pria. Mobilnya sendiri telah dihancurkan seperti itu, tetapi dia masih tidak berani melawan.
Ternyata memang benar, uang bukanlah segalanya. Selain punya uang, kita juga harus punya kenalan luas.
"Dokter Jansen! Itu mobilmu..."
Monica pun tidak tahan melihatnya lagi. Dia menarik Jansen dan berteriak.
"Tidak apa-apa, lagipula mobil ini bukan milikku!"
Jansen menaruh kedua tangan di dalam saku. Wajahnya masih terlihat acuh tak acuh.
"Hah, mobil ini bukan milikmu?"
Mulut Monica terbuka lebar.
Alvin yang masih sibuk menghancurkan mobil itu berhenti seketika lalu menatap ke arah Jansen, "Kamu bilang mobil ini bukan milikmu?"
"Apa aku pernah bilang bahwa mobil ini adalah milikku?"
Jansen menatap Alvin yang terlihat seperti orang bodoh.
Alvin langsung tertegun dan tiba-tiba menatap Reno. Lagi pula, Reno sendiri yang mengatakan bahwa mobil itu adalah milik Jansen.
"Aku... aku hanya menduga. Sebelumnya, saat Jansen datang mencari Randy, aku menduga bahwa mobil ini adalah milik Jansen!" Reno berkata dengan terbata-bata, "Coba kamu tanyakan kepada Jansen. Apakah dia datang dengan mengendarai mobil ini atau bukan?"
Alvin menatap Jansen dan hendak bertanya kepadanya. Namun, Jansen terlebih dahulu berkata sambil tersenyum, "Aku memang mengendarai mobil ini kemari, tetapi bukan berarti bahwa mobil ini adalah milikku!"
"Kalau mobil ini bukan milikmu lantas milik siapa?"
Firasat buruk mulai muncul di benak Alvin.
Jansen baru saja hendak berbicara, tetapi dari kejauhan beberapa mobil tiba-tiba datang. Seorang pria paruh baya berjalan ke arah mereka dengan menggunakan tongkat.
"Mobil itu miliknya!"
Jansen langsung menunjuk pria paruh baya itu.
Alvin langsung melihat ke arah pria paruh baya itu. Alvin menyipitkan mata sambil berkata, "Bos... Bos Mikel?"
Alvin yang merupakan bos besar di Kota Sion tentu kenal dengan Bos Mikel Apalagi, Alvin pernah menemani ayahnya pergi mengunjungi Bos Mikel.
Apakah mobil itu adalah milik Bos Mikel?
"Ini... Senior, aku... aku datang untuk mengundangmu makan!"
Setiba di sana, Bos Mikel mengangguk dan membungkuk hormat kepada Jansen lalu berkata demikian. Bos Mikel telah berulang kali mencari masalah dengan Jansen dan khawatir Jansen akan membunuh dirinya. Setelah berpikir dengan matang, Bos Mikel pun memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan Jansen.
"Aku tidak mau makan. Kamu bawa pulang saja mobil ini!"
Jansen berkata demikian sambil menggelengkan kepala lalu menunjuk ke mobil Ferrari itu.
Bos Mikel sontak terkejut saat melihat mobil Ferrari miliknya itu.
" Itu mobil kesayanganku!"
Mobil itu adalah mobil Ferrari antik edisi terbatas. Bos Mikel mengirimnya dari luar negeri melalui bantuan kenalannya. Dia telah menghabiskan puluhan juta untuk melakukan perombakan pada mobil itu. Saking merasa sayang dengan mobil itu, dia sendiri bahkan sangat jarang mengendarainya.
__ADS_1