Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 560. Racun Efek Kronis!


__ADS_3

Jansen merasa lucu dan bertanya, "Bagaimana bisa aku menumpang makan di rumah Keluarga Miller?"


Itu benar-benar sebuah lelucon karena setelah Jansen datang ke Ibu kota, dia tidak pernah menggunakan sepeser pun uang Keluarga Miller.


"Aku tidak menyuruhmu bicara, jangan menyela!"


Renata menegur, "Ingat, kamu adalah menantu keluarga kami, aku adalah ibu dari istrimu. Kamu harus menghormatiku!"


Orang-orang di sekitar merasa kasihan dengan menantu yang tidak punya harga diri ini karena terus dimarahi dan tak berani bersuara.


Namun, ini juga hal yang wajar. Tidak mudah mencari istri saat ini, apalagi istri dari keluarga kaya raya. Sebagai suami, tentu akan mengalami penghinaan.


Pria seperti menantu ini tidak punya kemampuan apa pun, juga tidak mau bekerja keras. Dengan mendapatkan istri dari


keluarga kaya raya, dia bisa hidup nyaman puluhan tahun sehingga tetap harus sabar menerima penghinaan seperti ini.


"Aku sudah atur pekerjaan untukmu di Kota Liansan Perusahaan itu bergerak di bidang pengeboran minyak. Kamu pergi kerja di sana saja!" Renata melanjutkan, "Meskipun lokasinya jauh, tapi gajinya 50 ribu yuan sebulan, lebih Bagus daripada menjadi dokter di klinik kamu itu. Nanti aku akan menyuruh Naomi mengirimkan alamat lokasi kerja kamu.


Beberapa hari lagi, kamu langsung berangkat bekerja ke sana!"


"Apa ini yang kamu maksud mengatur pekerjaan untuk aku?"


Jansen langsung menebak maksud Renata.


"Kenapa? Kamu masih mau bermalas-malasan? Aku ini orang tuamu. Apa tidak boleh mengatur pekerjaan untukmu? Begitu banyak orang menginginkan gaji 50 ribu yuan sebulan. Kamu harus bersyukur!" Renata berkata dengan kesal, "Jangan kira kamu punya dukungan nenek, kamu bisa berbuat sesuka hati. Kamu harus pergi bekerja di sana!"


"Aku paham!"


Jansen juga malas bertengkar dengan Renata. Dia pun langsung pergi. Melawan Orang gila sama saja menjadi gila.


"Dasar tidak tahu sopan santun!"


Renata sangat kesal.


Faktanya, Renata memang ingin mengusir Jansen keluar dari Ibu kota. Renata hanya perlu bersabar tiga bulan lagi karena setelah Elena menikah dengan Aidan Woodley, Jansen bukan siapa-siapa lagi.


"Bu, kenapa kamu menyuruh kakak ipar keluar Ibu kota. Bagaimana dengan Kak Elena saat dia pulang nanti?" Naomi berkata dengan kesal.


"Aku ini ibunya Elena. Apa aku tidak boleh mengatur pekerjaan untuk suaminya?"


Renata langsung memarahi Naomi.


Naomi hanya bisa cemberut dan tak berani bersuara.


Jansen pergi melewati jalan raya. Jansen tidak melawan keinginan Renata. Dia hanya perlu bersabar tiga bulan lagi.


Tiba-tiba beberapa mobil MPV berhenti di pinggir jalan. Beberapa orang berpakaian jas hitam datang menghampiri.


Seluruh jalan diblokir dan pengguna jalan pun protes.


Jansen juga kesal melihat orang-orang yang arogan ini.


"Dokter Jansen, tuan kami ingin mengundang Anda!"

__ADS_1


Seorang pria berpakaian jas dengan kacamata hitam datang dan berpesan kepada Jansen.


Jansen bertanya, "Siapa tuanmu itu?"


"Kakek Palmer!"


Pria berpakaian jas itu menjawab.


Jansen sontak tertawa. Ternyata, dia adalah Kakek Palmer. Hanya saja, dia terlalu berlebihan sampai harus memblokir jalan demi mengejar Jansen.


"Tuan bilang bagaimanapun caranya kami harus


mengundang Dokter Jansen. Mohon maaf karena sudah merepotkan Dokter Jansen!" Pria berpakaian jas itu berkata dengan sangat sopan.


"Baiklah!"


Jansen naik ke mobil mereka bersama belasan mobil mewah lain yang ikut mengawal. Di tengah perjalanan, Jansen melihat banyak sekali pengguna jalan lain yang memandang


mereka dengan wajah ketakutan.


Sebenarnya, Kakek Palmer tidak perlu berbuat hal semacam ini karena dia juga bisa menghubungi Jansen lewat panggilan telepon.


Tak lama kemudian, mobil tiba di Vila Safari. Pria berpakaian jas mengantar Jansen masuk ke dalam vila menuju sebuah taman.


Kakek Palmer dan istrinya sedang menyiram tanaman. Melihat Jansen datang, mereka langsung menyambut dengan gembira, "Dokter Jansen sudah datang!"


Jansen menyapa mereka dan membantu Kakek Palmer memeriksa kesehatannya. Jansen berkata sambil tersenyum, "Kesehatan Kakek sudah pulih dengan baik. Kalau terus begini, Kakek pasti akan panjang umur!"


"Haha, ini semua berkat arak yang kamu kirimkan, aku minum segelas setiap hari. Tidurku nyenyak, makan pun tenang. Setiap hari aku selalu bersemangat!" Kakek Palmer


"Dokter Jansen, apa kamu masih punya arak itu?" Nenek Palmer bertanya.


"Ada, tapi sisa sedikit saja, Nenek boleh suruh orang pergi ke Aula Xinglin untuk mengambilnya. Bilang saja ini perintah


Jansen!"


"Terima kasih, Dokter Jansen!"


Kakek Palmer punya kekuasaan dan kedudukan tinggi, dia sudah kenyang akan pengalaman hidup. Namun, dia sendiri


tahu bahwa arak yang diberikan Jansen ini memang sangat langka dan sulit didapatkan bahkan dengan uang sebanyak apa pun.


"Hari ini Kakek panggil aku datang kemari pasti bukan karena masalah arak saja!"


Jansen menyampaikan maksud tertentu sambil tertawa.


Wajah Kakek Palmer terlihat serius. Dia mengangguk, "Dokter Jansen, aku tahu kamu adalah menantu Keluarga Miller. Kamu juga dianggap keluarga mereka sebagai pecundang. Namun, aku tidak percaya tentang kabar itu. Aku selalu menganggap Dokter Jansen sebagai seorang pemuda yang hebat, bukan seorang pecundang!"


Kakek Palmer telah memeriksa latar belakang Jansen. Dia bahkan mendengar kabar bahwa Jansen berlutut di depan istrinya dan ditampar, tapi tetap tidak melawan.


Saat pertama kali mendengar kabar ini, Kakek Palmer juga merasa Jansen tidak punya harga diri dan memalukan.


Namun, setelah berhubungan dengan Jansen, dia sadar bahwa Jansen berbeda sama sekali dengan kabar yang beredar.

__ADS_1


Keluarga Miller benar-benar akan kehilangan aset yang berharga.


"Aku cari Dokter Jansen hari ini karena aku ingin Dokter Jansen membantu aku menemukan dalang di balik kejadian yang menimpa Keluarga Palmer!" Kakek Palmer berkata sambil menghela napas.


Kakek Palmer hampir mati terkena racun. Untung saja, Jansen memberitahu Kakek Palmer bahwa dirinya telah keracunan dan ternyata, orang yang meracuni Kakek Palmer adalah orang dekat.


"Kakek, sebenarnya Kakek sendiri sudah jelas siapa dalang di balik upaya pembunuhan ini!" Jansen berkata dengan datar.


Kakek Palmer dan istrinya saling memandang. Mereka berdua terlihat sangat marah.


Jansen melihat wajah mereka berdua dan tahu bahwa mereka berdua telah menebak sesuatu.


Meskipun mereka sudah menebaknya, mereka tetap tidak berani menghadapi kenyataan.


Mungkin saja, mereka masih ingin memberikan kesempatan terakhir kepada orang itu.


Jansen sebenarnya juga menebak bahwa orang yang dimaksud adalah Darius.


Darius adalah putra sulung Kakek Palmer. Dia punya reputasi sebagai orang hebat di Ibu kota. Namun, karena Kakek Palmer masih hidup, Darius belum punya kekuasaan penuh di Keluarga Palmer.


Karena itu, Darius ingin Kakek Palmer mati!


"Begini saja, Kakek ingin aku membantu seperti apa?" Jansen bertanya.


Nenek buru-buru mengeluarkan sebotol obat dan bertanya, "Dokter Jansen, bisakah tolong periksakan obat ini untukku?"


Sebelumnya, Kakek Palmer diracuni melalui makanan. Akan tetapi, setelah Nenek Palmer yang langsung mengurus makanan Kakek Palmer, Darius sudah tidak bisa meracuninya melalui makanan. Setelah itu, dia mencoba


untuk mencari cara meracuni Kakek Palmer melalui obat-obatan.


"Aku sudah menyuruh istriku pergi memeriksa obat ini ke laboratorium. Tapi, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan. adanya racun dalam obat ini!" Kakek Palmer menambahkan.


Jansen mengambil botol obat itu dan melihat bahwa obat itu berfungsi menurunkan kolesterol. Sesuai petunjuk penggunaan obat, harusnya tidak ada masalah apa pun.


Jansen menuangkan pil itu dan menciumnya, kemudian menusuknya dengan jarum perak. Setelah itu, Jansen menjilat jarum perak tersebut.


"Aneh, obat ini tidak beracun!"


Jansen merasa heran.


Kakek Palmer dan istrinya sontak merasa senang. Mereka merasa sudah berpikiran negatif.


"Namun, obat untuk menurunkan kolesterol ini sudah ditambah dengan ramuan obat tradisional yang tidak dibutuhkan!" Jansen melanjutkan, "Kakek, kamu setiap hari meminum arak kesehatan yang aku kasih. Ramuan obat


tradisional yang ditambahkan ke dalam obat ini akan bereaksi saat bertemu dengan unsur alkohol sehingga menimbulkan racun efek kronis!"


"Racun efek kronis?"


Kakek Palmer sangat terkejut.


"Dokter yang membuat obat ini memiliki keterampilan medis yang sangat baik. Setelah mengetahui kebiasaan hidupku, dia secara khusus menyiapkan obat ini untuk aku!"


Jansen berkata dengan serius, "Setelah obat ini masuk ke dalam tubuh, tidak boleh minum minuman beralkohol selama tiga hari. Sedangkan Kakek sendiri malah meminumnya setiap hari. Racun akan terkumpul secara perlahan. Setelah satu bulan, nyawa Kakek akan terancam. Tak hanya itu, yang paling mengerikan adalah jika setelah meninggal, hasil pemeriksaan juga tidak akan bisa mendeteksi racun dalam tubuh sehingga hasil pemeriksaan hanya akan menyatakan bahwa telah terjadi kegagalan fungsi organ tubuh!"

__ADS_1


Wajah Kakek Palmer murung seketika.


Bajingan itu benar-benar tega!


__ADS_2