
Jansen mengisap rokoknya dan berjalan menuju Esther selangkah demi selangkah, "Aku tahu siapa itu Jonathan, dia adalah salah satu dari Dua Raja Surgawi di Ibu Kota dan memiliki pendukung yaitu Sekte Tai Chi dari Empat Aliansi Seni Bela Diri. Tapi, lalu memangnya kenapa?"
"Dasar anjing bernyali besar!"
Esther berseru marah dan menuding Jansen.
Jansen sudah tiba di depannya. Dia meraih jari Esther dan 'Krak!', jari lentik wanita itu pun patah.
Esther pun terkejut, meski dia cukup pandai bela diri, tapi jelas dia bukan lawan yang sepadan untuk Jansen. Dia bahkan tidak bisa membaca gerakan Jansen.
"Sudah kubilang, kamu kurang menyeluruh mencari tahu tentangku. Aku, Jansen, tidak takut dengan Empat Aliansi Seni Bela Diri!" kata Jansen dengan dingin, "Aku juga paling tidak suka dengan orang yang menuduhku, apalagi
mengancamku dengan kerabat dan teman-temanku!"
"Jangan kira aku tidak akan berani membunuhmu hanya karena kamu seorang wanita!"
"Kuberi kamu satu kesempatan terakhir! Suruh anak kecil itu meminta maaf kepada Cindy dan aku akan mengampuni nyawamu!"
Raut wajah Esther menjadi makin marah, "Kamu saja yang buat Tuan Muda Leo meminta maaf!"
Belum sempat Esther menyelesaikan omelannya, telapak tangan Jansen sudah bergerak dan mematahkan jarinya lagi!
"Jansen, dasar gila! Kamu tahu tidak siapa yang telah kamu sakiti?!"
Bos Leonardo yang berada di samping segera meraung.
Krak!
Telapak tangan Jansen kembali bergerak!
Jari ketiga Esther pun patah!
Sepuluh jari manusia memiliki saraf yang terhubung ke jantung. Rasa sakit akibat tiga jari yang berturut-turut patah membuat Esther hampir mati lemas
Pikirannya juga menjadi kosong. Dia tidak menyangka ternyata Jansen sekejam ini. Bukan hanya tidak takut pada Jonathan, dia bahkan berani menantangnya secara langsung
Jika dia tahu bahwa Jansen begitu sulit, dia tidak akan membela Bos Leonardo.
"Jansen, kamu!"
Bos Leonardo meraung marah.
Krak!
Jari keempat langsung patah
Aduh!
Esther mengumpat marah dalam hati! Bos Leonardo ini bisa apa lagi selain menimbulkan masalah! Apa dia tidak bisa melihat betapa kejamnya Jansen?! Pria itu mematahkan satu jari
untuk setiap kalimat yang dilontarkan balik kepadanya! Lihat saja siapa yang lebih kejam!
"Kak Esther, kamu..."
Bos Leonardo akhirnya menjadi sedikit takut.
"Tutup mulutmu! Cepat, suruh Tuan Muda Leo!"
Esther menyahut dengan marah, tapi hatinya terasa dingin saat membayangkan Tuan Muda Leo berlutut dan meminta maaf
Leo adalah putra kesayangan Jonathan. Jika Jonathan sampai tahu bahwa putranya berlutut untuk meminta maaf kepada seseorang, pria itu pasti akan membunuh Esther.
Krak!
__ADS_1
Suara tulang yang patah kembali bergema dengan nyaring lagi.
"Suruh Tuan Muda Leo meminta maaf!"
Esther sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit akibat kelima jarinya yang patah.
Tepat pada saat itu, beberapa kendaraan militer pun tiba dan mengepung bangunan yang belum selesai dibangun itu. Beberapa orang yang mengenakan seragam tentara pun turun
sambil menggenggam senapan mesin. Sepertinya mereka berasal dari kemiliteran.
Esther dan Bos Leonardo sama-sama merasa senang melihat kedatangan mereka.
"Jansen, harus kuakui kamu memang hebat, tapi orang-orang kami sudah datang! Kalau kamu memang mampu, coba lawan mereka yang berasal dari kemiliteran!"
Rasa percaya diri Esther tiba-tiba tumbuh dan dia berkata dengan dingin, "Kusarankan kamu segera menyembuhkan Tuan Muda Leo dan apa yang terjadi sebelumnya akan dianggap sudah selesai!"
Meskipun Jansen adalah kandidat Raja Prajurit, tapi status orang yang datang lebih tinggi. Menghancurkan Jansen adalah persoalan mudah.
"Menarik, aku jadi ingin melihat siapa yang membuat kepercayaan dirimu tiba-tiba menjadi lebih kuat!" Jansen melepaskan Esther dan tersenyum ringan.
Tangan kanan Esther terasa sakit sekali. Kelima jarinya yang lentik remuk dan tulang-tulangnya hancur. Dia merasa marah dan kesakitan, lalu berkata dengan dingin, "Bukan siapa,
mungkin saja atasanmu!"
Tentu saja Esther tahu siapa yang datang. Dia adalah Raja Prajurit dari enam komando daerah militer!
Status Raja Prajurit tentu lebih tinggi dari sekedar kandidat. Kalau Raja Prajurit menetapkan Jansen bersalah, maka dia
mau tidak mau harus menerimanya!
"Siapa yang berani-beraninya menyakiti orang lain dengan sengaja?! Tangkap dia!"
Sebuah suara yang berwibawa pun terdengar dan seorang pria dengan pakaian tentara melangkah maju. Sepertinya dia adalah pemimpinnya. Begitu perintahnya keluar, semua orang mengangkat senjata mereka dan berjalan menuju Jansen.
"Dasar anjing bernyali besar!"
Dia penasaran, siapa yang begitu cuek dan bahkan berani memprovokasi Jonathan!
"Justru anjing yang bernyali besar itu kamu!"
Jansen tiba-tiba mencibir karena dia mengenali pria itu.
Pria itu menatap Jansen dengan saksama dan sontak berseru, "Do... Dokter?!"
Begitu dia berteriak, orang-orang di sekitarnya tidak berani bergerak. Bagaimana mungkin mereka berani menangkap Jansen? Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengenali Jansen.
"Naga Hijau, kamu!"
Esther sontak merasa ada yang tidak beres dan memarahi, "Kenapa malah termangu bodoh?! Dia meminta anak bos untuk berlutut dan meminta maaf, Kalian berani menyinggung bos?! Cepat tangkap dia!"
Ternyata orang berwibawa yang datang itu adalah Naga Hijau.
Ekspresinya langsung berubah menjadi gelisah dan kebingungan.
Menangkap?
Bagaimana dia bisa menangkap Jansen?!
Jansen saat ini sudah menjadi orang yang populer di wilayah Militer Huaxia Utara. Dia adalah raja yang belum dimahkotai, Raja Prajurit nomor satu!
Memang benar Naga Hijau adalah seorang Raja Prajurit, tapi dalam hal reputasi militer, bagaimana mungkin dia sebanding dengan Jansen?
"Naga Hijau, apa maksudmu!"
__ADS_1
Esther menjadi makin cemas saat melihat Naga Hijau yang tetap bergeming.
Naga Hijau menggertakkan giginya dan berujar tidak berdaya, "Dia adalah dokter yang menjadi Raja Prajurit nomor satu di enam komando daerah militer!"
"Apa!"
Pupil mata Esther sontak bergetar
Dia pikir dia sudah mengetahui segalanya tentang Jansen setelah mengutus orang untuk mencari tahu latar belakangnya, tapi tidak disangka informasi itu hanyalah puncak gunung es!
Ternyata Jansen adalah Raja Prajurit nomor satu!
Pantas saja pria itu bilang hasil Penyelidikannya tidak menyeluruh!
"Posisiku tidak... tidak setingginya!"
Naga Hijau kembali berteriak.
Esther, Bos Leonardo, dan yang lainnya hanya bisa terduduk di atas tanah dengan lemas.
"Kalian sudah membuatku menunggu lama, tapi ternyata yang datang malah si pecundang ini!"
Jansen memicingkan mata ke arah Naga Hijau, dia sebenarnya cukup terkejut mengetahui Naga Hijau ternyata memiliki hubungan dengan Jonathan. Jansen pun berkata dengan dingin, "Hentikan omong kosong dan suruh anak itu meminta
maaf. Dia tidak harus berlutut, tapi permintaan maafnya harus tulus!"
Naga Hijau sontak menatap anak kecil itu, pupil matanya mengerut dan dia menjadi lebih ketakutan, "Dokter, apa kamu
yakin kamu ingin dia meminta maaf?"
"Orang yang melakukan kesalahan harus meminta maaf Kalau orang tuanya tidak mengajarinya tentang itu, biar aku yang mengajarnya hari ini!" sahut Jansen dengan dingin, "Anak kecil itu masih polos, mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Aku ini sedang mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepadanya!"
Naga Hijau menggertakkan giginya dengan marah. Dia tahu siapa ayah anak itu. Jika anak itu sampai meminta maaf, ayahnya bisa-bisa menjadi kesetanan!
Nyawa mereka semua juga bisa dihabisi!
"Jansen, kamu melawan Judge lebih sepuluh pukulan dan aku juga tepat pukulan kesepuluh. Aku tidak percaya kamu lebih kuat daripada aku! Kalau kamu memang mampu, ayo buktikan padaku!"
Naga Hijau tiba-tiba berteriak.
Jansen menatapnya penuh minat dan menggelengkan kepalanya. "Kamu pikir kamu layak?"
"Jansen!"
Naga Hijau berteriak histeris. Dia adalah seorang Raja Prajurit yang bermartabat, tapi Jansen menganggapnya rendahan.
"Aku tahu kamu ingin mengatakan bahwa anak itu tidak perlu meminta maaf hari ini kalau aku kalah, 'kan?" Jansen tiba-tiba berkata, "Baiklah! Kalau kamu berhasil melalui kesepuluh pukulanku, aku anggap masalah hari ini selesai!"
"Apa kamu serius?"
Naga Hijau menyipitkan matanya. Dia sebenarnya dilema karena sebenarnya tidak boleh sampai memprovokasi ayah anak kecil itu maupun Jansen. Mereka berdua sama-sama memiliki latar belakang yang kuat!
Satu-satunya cara adalah dengan bertahan dari kesepuluh pukulan!
Naga Hijau merasa percaya diri dalam hal ini.
Bagaimanapun juga, dia sekuat Judge. Dia sendiri sudah tepat jurus kesepuluh sedangkan Jansen tidak usah ditanya lagi.
Selain itu, Naga Hijau juga sangat penasaran sebenarnya kekuatan Jansen sekuat apa.
"Naga Hijau, kamu harus berhasil menahan sepuluh pukulannya!"
Melihat ini, Esther buru-buru berteriak.
__ADS_1
Kemampuan bela diri Jansen terlalu kuat dan situasi sudah berada di bawah kendalinya. Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan adalah dengan mengandalkan Naga Hijau.