
"Iya!"
Jansen tersenyum dan mengangguk.
Natasha tanpa sadar menatap Jansen dengan sedikit terpana. Natasha mengira suasana hati Jansen akan sangat buruk, tetapi tak disangka Jansen dengan sangat cepat mampu mengendalikan suasana hati menjadi tenang kembali. Bukan hanya itu, melihat pasien dia masih bisa dengan sabar memberikan arahan.
Saat menolong orang, Jansen memang benar-benar tampan.
"Teman ku ini namanya Jansen, dan dia juga dokter di Aula Xinglin!" Natasha ikut menjelaskan.
"Jansen? Dokter Jansen dari Aula Xinglin? Hebat sekali, terima kasih Dokter Jansen!"
Awalnya wanita itu masih sedikit skeptis melihat Jansen, tetapi setelah mengetahui nama Jansen, dia terus berterima kasih padanya dan terlihat lebih menaruh hormat.
"Bantuanku tidak seberapa!"
Jansen mengangguk dan kemudian pergi bersama Natasha. Saat ini, mobil polisi juga datang. Setelah menanyakan kejadian tersebut, polisi langsung membawa pria yang menculik anak tersebut.
"Terima kasih, Pak Jansen, atas bantuan Anda!"
Polisi yang bertugas menangani kasus ini juga memberi hormat kepada Jansen dan berkata, " Penatua Jack ada di dalam mobil polisi, sedang menunggumu!"
" Penatua Jack?"
Mata Jansen menatap tajam lalu buru-buru berjalan ke mobil polisi.
Jansen melihat Penatua Jack sedang duduk di dalam mobil sambil minum. Setelah melihat Jansen, Penatua Jack tertawa keras dan berkata, "Jansen, apakah itu kamu, haha, aku pikir kamu akan sangat sedih dan berwajah murung, ternyata kamu malah pulih secepat ini, baguslah, anak muda seperti kamu memang punya kepercayaan diri, ditambah lagi kemampuan pengamatan yang kamu miliki sangat hebat, kamu adalah penembak jitu alami!"
"Kalau tidak begini, apa lagi yang bisa aku lakukan setiap hari?"
Jansen tampak sedang menertawakan diri sendiri.
"Melihat kamu sudah bisa membantu pasien, aku pun tahu kondisi kamu sudah pulih, naiklah ke mobil!" Penatua Jack memanggil Jansen masuk ke dalam mobil.
Jansen tahu bahwa Penatua Jack pasti ingin mengatakan sesuatu, dan segera menyuruh Natasha pergi dulu, setelah itu Jansen mengikuti Penatua Jack pergi.
Di dalam mobil, Penatua Jack menyesap arak, lalu menyerahkan botolnya kepada Jansen. Ini arak putih tradisional. Jansen merasa enggan meminumnya, tetapi dia meneguknya juga sampai habis. Arak itu terasa panas membakar tenggorokan, tetapi setelah arak itu melewati tenggorokan, mulai terasa pula sensasi segar yang menyenangkan.
"Arak ini awalnya sangat sulit diminum karena membuat tenggorokan terasa panas, setelah proses ini berlalu baru terasa segar di tenggorokan!"
__ADS_1
Melihat wajah Jansen, Penatua Jack pun tersenyum.
" Penatua Jack, katakan saja apa yang ingin kamu katakan!"
"Hidup ini seperti minum arak, pedas dulu dan kemudian dingin segar. Sebenarnya, kamu telah melakukan tugasmu dengan sangat baik, sendirian melawan Jessica , dan kamu mampu membuat dia terpaksa menundukkan kepalanya. Namun, kamu sudah meremehkan kelihaiannya dan ambisi yang dimilikinya. Awalnya, Jessica menggunakan kamu sebagai tawanan, sehingga Elena harus menyerah. Karena gagal, Jessica mencoba lagi dengan menggunakan Elena sebagai tawanan, dan giliran kamu yang harus menyerah. Kalian berdua suami-istri ini sudah dipermainkan habis-habisan oleh Jessica!" kata Penatua Jack sambil tertawa.
Jansen mengerutkan kening, "Hanya saja, jika aku tidak melepaskan Elena, Keluarga Miller akan membunuh Elena!"
Penatua Jack menggelengkan kepalanya, "Belum tentu juga, bagaimanapun Elena adalah putri dari tua bangka itu. Tidak peduli seberapa besar pengaruhnya pada bisnis yang dia jalani, dia tetap tidak akan berani menyentuh putrinya sendiri. Selain itu, aku mendapat kabar bahwa Elena dibawa pulang ke rumah Keluarga Miller, karena mereka ingin menikahkannya dengan putra sulung Keluarga Woodley dari Ibu Kota. Mereka melakukan pernikahan sesama anak keluarga elit demi memperkuat posisi kedua keluarga itu di Ibu Kota."
"Pernikahan sesama keluarga elit?"
Jansen marah besar.
"Jansen, jangan marah dulu, sekarang pernikahan ini hanya usulan sementara dari kedua tuan besar, belum juga pasti terlaksana. Waktu seperti ini adalah kesempatanmu. Satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan sekarang adalah segera pergi ke Ibu Kota!"
"Tantangan di Ibu Kota sangat banyak, terutama bagi orang luar daerah sepertimu. Jika kamu berhadapan langsung dengan Keluarga Miller, ingatlah untuk tidak sembrono atau menyinggung perasaan mereka. Bagaimanapun, kamu ini adalah suami Elena. Jika kamu membuat Elena malu, tentu itu tidak bagus juga bagi kamu dan Elena!"
Penatua Jack tahu bahwa kemampuan Jansen sangat hebat, tetapi ini akan menjadi pertama kalinya Jansen memasuki Ibu Kota. Fondasinya masih tidak stabil dan dia sama sekali tidak bisa melawan Keluarga Miller. Lebih baik dia melawan mereka dengan cara tidak langsung dari samping.
"Ngomong-ngomong, jika terjadi sesuatu, kamu bisa meminta bantuan Damian, dan setelah aku selesai menangani masalah Kota Asmenia, aku juga akan bergegas ke Ibu Kota untuk membantu Elena. Selain itu, kamu sekarang adalah penembak jitu dari Tim Operasi Khusus. Dengan identitasmu sekarang ini seharusnya juga bisa membantu kamu."
Jansen terlebih dahulu pergi mencari Garrick, dan dia sadar bahwa Garrick sangat ingin membantu dirinya kemarin tetapi mungkin saja terjadi kecelakaan pada Garrick di rumahnya.
Benar saja, ketika Jansen datang ke rumah Keluarga Moore, dia menemukan bahwa Kakek Moore sedang duduk di kursi dengan kaki kirinya terbungkus perban, tampak jelas sedang patah tulang. Selain itu, juga ada bekas benjolan di area dahi. Sepertinya terjadi musibah pada Kakek Moore.
"Dokter Jansen, untung kamu datang kemari!"
Setelah melihat Jansen datang, Garrick merasa sangat gembira sambil tersenyum pahit, "Setelah aku kembali kemarin, aku tersandung ambang pintu dan tulangku patah!"
Wajah Garrick tampak malu. Pemilik PT. Glory yang sangat dihormati dan juga merupakan seorang seniman bela diri. Karena itu, dia merasa malu bila orang-orang tahu kakinya patah akibat terjatuh saat berjalan.
Namun, dia juga tahu bahwa penyebab di balik semua musibah ini adalah aura bekas darah.
"Dokter Jansen!"
Orang-orang Keluarga Moore masing-masing memberi hormat kepada Jansen, tidak ada lagi kesombongan seperti sebelumnya. Ya, bahkan setiap melihat Jansen, mulut Garrick selalu gemetar, seakan melihat hantu.
"Di mana jimat yang aku tinggalkan hari itu?"
__ADS_1
Jansen duduk dan bertanya pelan.
"Di sini!"
Garrick buru-buru menyerahkan jimat itu, dan Jansen pun mengamati jimat tersebut lalu mengangguk sambil berkata, "Pantas saja, apakah jimat ini jatuh ke lantai?"
"Benar, Dokter Jansen!"
Hati Garrick terguncang melihat Jansen yang tampak seperti sesosok dewa, bahkan hal sekecil ini pun dia juga tahu.
"Ini adalah Jimat tiga pohon ilahi, dapat melindungi keselamatan, mengusir roh jahat, tetapi tidak boleh jatuh menyentuh tanah, karena kalau demikian maka kekuatannya otomatis berkurang. Untung saja jimat ini masih ada di sini, kalau tidak maka Keluarga Moore akan terkena musibah yang lebih dahsyat lagi!" kata Jansen.
Garrick ketakutan hingga hampir jatuh terduduk di atas lantai, dia berteriak, "Dokter Jansen, mohon tolong aku, budi baik kamu akan selalu kami ingat selamanya."
Pada awalnya Garrick memang masih menaruh curiga terhadap Jansen, tetapi setelah Keluarga Moore mengalami rentetan musibah, maka dia pun semakin percaya dengan Jansen.
"Di mana tombak itu? Cari tempat untuk menguburnya di bawah laut. Keganasan dan kebencian roh jahat terlalu kuat. Aku akan memberimu selembar Jimat pohon ilahi, kemudian tempelkan jimat di ruang utama, dan tiga bulan berikutnya pasti sudah tidak ada masalah lagi!" ucap Jansen.
"Terima kasih, Dokter Jansen!"
Garrick buru-buru berterima kasih dan menyuruh orang mengirimkan cek senilai seratus juta yuan kepada Jansen.
"Tidak perlu, aku punya urusan pergi ke Ibu Kota, saat aku tidak berada di Kota Asmenia, Keluarga Lawrence dan Aula Xinglin butuh bantuan kamu untuk menjaganya!" Jansen berkata sambil memberi isyarat dengan tangannya tanda tidak setuju menerima cek tersebut.
"Itu sudah pasti!"
Garrick tidak berani menolak permintaan Jansen, bahkan Garrick ingin berjanji membantu Jansen, karena setelah dia berjanji kepadanya, Garrick sudah punya dukungan kuat seperti Jansen.
Orang yang paham ilmu kedokteran dan metafisika sekaligus sangatlah langka. Garrick tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
Tak lama berselang, Jansen kembali ke Aula Xinglin, menyapa sebentar, kemudian berangkat ke Ibu Kota di malam hari.
Panah sudah memesan tiket pesawat untuk Jansen. Tak lama kemudian, sebuah pesawat ke Ibu Kota lepas landas dari Bandara Kota Asmenia. Jansen duduk di jendela dan memandang Kota Asmenia yang tampak semakin kecil dari jendela pesawat.
Ini adalah pertama kalinya Jansen pergi ke Ibu Kota dan kedua kalinya dia naik pesawat terbang.
Namun, Jansen punya firasat dia akan lama meninggalkan Kota Asmenia, karena masalah dengan Keluarga Miller juga butuh waktu yang sangat lama untuk diselesaikan.
Sementara itu, karena Keluarga Miller merupakan salah satu dari delapan keluarga elit di Ibu Kota yang memiliki sejarah panjang dan pengaruh kuat, maka perlakuan terhadap Elena yang seperti seorang anak pungut dari jalanan, diperkirakan juga tidak akan terlalu baik.
__ADS_1
Sekarang, yang bisa Jansen lakukan adalah segera menemukan Elena, dan memikirkan jalan keluar kemudian. (Arc Asmenia Selesai)