
Begitu ada musuh mendekat lagi, Jansen langsung bergerak dengan kilat untuk mematahkan serangan. Dengan satu tangan, dia menahan pergelangan tangan orang itu yang sedang memegang senjata. Dengan tangan lainnya, dia menekan titik akupunktur di leher orang itu, si pembunuh pun perlahan jatuh.
Jansen mengangkatnya menuju kursi batu yang berada di pinggir jalan.
Elena juga telah menyelesaikan dua pembunuh di sisi lain. Ia pernah mempelajari teknik judo dan caranya mirip dengan Jansen. Setelah melumpuhkan si pembunuh, dia juga meletakkan orang-orang itu di kursi batu di pinggir jalan seolah-olah tidak terjadi ара-ара.
Setelah Jansen berjalan mendekat, dia diam-diam menuai nyawa keduanya dengan jarum perak, dan kemudian pergi bersama Elena seolah tidak terjadi ара-ара.
"Jansen, kamu pernah menyinggung siapa? Kenapa sampai ada pembunuh yang datang satu demi satu?"
Elena mengerutkan kening.
Diam-diam Jansen merasa malu. Ternyata memang paling aman bagi Elena untuk tinggal di Gunung Salju Peri. Dialah yang membawa Elena kembali ke dunia sekuler, tapi malah harus mengalami hal semacam ini.
"Sayang, maafkan aku. Aku telah melibatkan kamu." Jansen meminta maaf.
"Bodoh, kita ini suami istri, jadi tidak ada yang namanya terlibat. Sekarang kamu dalam kesulitan, aku juga ingin membantumu." Elena tersenyum tak berdaya. Suaminya ini masih bertanggung jawab seperti biasanya, tampaknya dia akan menjadi ayah yang baik di masa depan.
"Jangan khawatir, aku bisa menyelesaikan masalah kecil ini. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menjaga janin dengan baik."
Jansen juga merasa hangat di hatinya. Dia meraih tangan Elena dan masuk melalui kerumunan untuk pergi.
Di persimpangan, sebuah mobil van berhenti di sana. Setelah Jansen mendekat, seorang pria berkacamata hitam membuka pintu. Mereka pun masuk ke mobil dan perlahan pergi.
Van ini tampak biasa dari luar, tetapi sebenarnya itu adalah kendaraan berlapis baja anti peluru yang kuat serta lapisan besi yang sangat tebal.
"Tuan Jansen!"
Di dalam mobil, tampak ada dua pria terlatih yang mengangguk memberikan salam pada Jansen.
"Pergi ke Keluarga Wilbert!"
Jansen berseru ringan. Mobil ini dikirim oleh Keluarga Wilbert, jadi pasti benar-benar aman.
Dia kemudian mencoba menelepon ke Dragon Hall lagi.
Dia samar-samar merasakan bahwa sesuatu benar-benar terjadi pada Dragon Hall, seluruh sistem komunikasi ke sana seakan-akan telah rusak.
Benar saja, ponsel itu masih tidak bisa dihubungi. Sebaliknya, pada saat itu, tiba-tiba ledakan keras datang dari atap mobil, seolah-olah dipukul oleh sesuatu yang berat.
"Tuan Jansen, kamu tetap di dalam mobil!"
Salah satu pengawal membuka pintu dan keluar dari mobil, menurunkan barang yang barusan terjatuh di atap. Jansen juga ikut keluar dari mobil.
"Tuan Jansen, pada saat seperti ini, tidak aman bagimu untuk keluar!"
Pria itu terlatih dan tahu bahwa waktu seperti ini adalah yang paling berbahaya.
"Tidak apa-apa. Pihak lain belum berpikir untuk membunuhku. Kalau tidak, serangannya bukan hanya sekecil ini."
__ADS_1
Jansen menjawab dengan santai. Dipandanginya benda yang jatuh di atap mobil sebelumnya. Ternyata benda itu adalah mayat orang asing.
Ia ingat bahwa orang itu adalah Hercules di Dragon Hall.
Tapi sekarang dia sudah mati.
Tanpa sadar, Jansen menatap ke atas dan melihat banyak bangunan tinggi di kedua sisinya. Tubuhnya mungkin terlempar jatuh dari atas, bidikannya sangat bagus, pas sekali hanya mengenai atap mobil.
Ini pasti adalah pengingat juga.
"Tuan Jansen, wajah pria ini diukir dengan pisau!"
Saat itu, pengawal di sampingnya berbisik.
Jansen langsung menatap mayat itu dan melihat kata-kata besar berdarah terukir di wajah bule itu.
'Aku telah kembali lagi!'
Kata-kata ini seolah sedang memvonis sesuatu, penuh dingin dan kedzaliman.
Raut wajah Jansen tiba-tiba mengeras, matanya berkedip dan menunjukkan tatapan yang tajam.
Jika ini terjadi di masa lalu, dia akan membunuh pelakunya dengan cepat. Dia mau melihat siapa seberani itu mau menyerang dan mengancamnya.
Tapi sekarang, bayinya lebih penting!
"Ayo pergi!"
Saat kembali lagi ke mobil, Jansen melihat Elena mengelus perutnya. Perempuan ini biasanya selalu santai dan tidak pernah takut. Namun, pada saat ini dia tampak memiliki banyak kekhawatiran.
Jansen menenangkan Elena. Setelah memikirkannya dengan cermat, dia menyadari bahwa dia juga tanpa sadar memiliki lebih banyak kekhawatiran.
Mereka berdua khawatir akan anak yang belum lahir.
Tampaknya potensi bahaya harus ditahan dalam buaian untuk memastikan kelahiran anak dengan aman.
Dua puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah rumah bangsawan di pinggiran ibu kota.
Rumah bangsawan ini sangat besar dan tampak normal dari luar. Sebenarnya ada ahli bela diri dalam jumlah besar yang tersembunyi di dalamnya. Selain praktisi bela diri, ada juga banyak sistem keamanan berteknologi tinggi yang menjaga manor.
"Tuan Jansen, sudah sampai!"
Sopir memberi tahu Jansen dan terus melaju di manor. Setelah melewati keamanan yang berlapis-lapis, akhirnya mereka berhenti di depan sebuah bangunan mewah.
Di bawah bangunan itu, Tuan Besar Jacob dan penatua Jack sudah menunggu di sana. Setelah Jansen menggandeng tangan Elena dan turun dari mobil, keduanya menyambutnya.
"Jansen, ada masalah apa?"
Tuan Besar Jacob berjalan mendekat dan bertanya. Di sebelahnya ada Pak tua modi, serta banyak ahli bela diri yang tidak dia kenal.
__ADS_1
Para ahli bela diri itu semua menatap Jansen dengan penasaran. Beberapa saat sebelum itu, Keluarga Wilbert memanggil mereka semua kembali, seperti akan menyambut orang besar yang telah tiba.
Namun, setelah mereka semua menunggu, ternyata hanya sepasangan suami-istri muda.
"Aku sedang dibuntuti. Mari kita masuk ke dalam dulu!"
ucap Jansen sambil membawa Elena berjalan menuju bangunan.
Tuan Besar Jacob langsung mengangguk pada Pak tua modi dan mengikuti Jansen.
"Waspadai sekitar dengan seluruh kekuatanmu. Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam. Pastikan keamanan Tuan Muda!" perintah Pak tua modi sambil memandangi kerumunan.
Semua orang penasaran dan bertanya-tanya, bukankan pengamanan semacam itu terlalu megah untuk pasangan ini? Namun, mereka tetap melakukannya dengan segera.
Dipimpin oleh penatua Jack, mereka memasuki sebuah ruang tamu. Ruang tamunya didekorasi dengan mewah, tetapi tidak ada sudut mati apa pun dan semuanya diawasi.
Jansen melihat ke seluruh arah ruang tamu. Ketika dia sudah merasa aman, dia pun membimbing Elena untuk duduk.
"Tuan Muda, kami telah mengawasi Keluarga Gibson. Bisa dipastikan bahwa mereka tidak ikut campur!"
Tuan Jacob penasaran dengan apa yang terjadi.
Berdasarkan pemahamannya terhadap Jansen, dia jarang terlihat begitu berhati-hati. Kali ini, pasti ada musuh yang kuat.
"Aku tidak tahu siapa pelakunya, tapi anak buahku semuanya hilang!"
Jansen berkata dengan samar, "Alasan utamanya adalah Elena telah hamil."
"Elena sedang hamil?"
penatua Jack adalah orang pertama yang berseru. Dia dan Elena memiliki hubungan yang sangat baik, bahkan sudah dia anggap sebagai cucunya. Dia tertawa senang dan menatap Elena. "Bagus, bagus. Kalian berdua sudah menikah selama dua tahun. Sudah waktunya punya anak!"
penatua Jack tertawa senang dan menatap Elena.
Elena sedikit malu, tapi dia cukup senang melihat kelakuan penatua Jack yang bersemangat seperti itu.
Tuan Besar Jacob baru menyadari sesuatu, pantas saja Jansen gugup. Ternyata istrinya sedang mengandung.
Mereka semua adalah orang yang berpengalaman. Mereka tahu bahwa ketika seorang pria memiliki lebih banyak tanggung jawab, dia akan menjadi kurang bebas dan santai seperti dulu dan akan lebih berhati-hati dalam tindakannya.
Namun, juga akan muncul sebuah batasan yang tidak dapat dilewati. Bila seseorang berani menyentuh batasan ini, pria itu akan membunuh segalanya dengan segala cara.
Keluarga adalah batasan Jansen!
Jansen menatap Tuan Besar Jacob dan berkata, "Paman Jacob, Elena untuk sementara akan kutitipkan padamu. Aku akan kembali setelah aku menangani masalah ini."
"Jangan khawatir, bila Elena ada di sini, tidak akan ada yang bisa mendekatinya." ucap Tuan Besar Jacob, "Tapi siapa pelakunya? Apa kamu sudah tahu?"
Jansen menggelengkan kepalanya. "Belum ada kabar, tapi pihak lain mengincarku. Cepat atau lambat, mereka akan datang padaku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, dia menelepon Natasha dan yang lainnya, meminta mereka untuk melepaskan semua pekerjaan mereka dan datang ke Keluarga Wilbert untuk berlindung untuk sementara. Dia juga memberi tahu mereka bahwa Elena sudah kembali.