
Semua anggota Keluarga Miller juga dikejutkan dengan koneksi yang dimiliki Jessica. Di sisi lain, mereka juga sangat bangga.
Paman Ketiga, lucky Miller, adalah anggota tentara juga berpangkat tinggi. Berdasarkan dugaannya, Jessica tidak memiliki kemampuan seperti ini. Dia pun bertanya dengan datar, "Benarkah Jessica yang menyelesaikan masalah ini?"
"Paman Ketiga, kamu terlalu meremehkan Jessica. Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Renata mengangguk dengan percaya diri, lalu berkata sambil tertawa, "Jangan bilang, kamu merasa bahwa pecundang itu yang menyelesaikannya. Lelucon macam apa itu?"
"Gila! Kalau dia yang menyelesaikannya, aku akan makan kotoran!"
Wajah Stenly penuh dengan penghinaan. Dia bukan orang bodoh. Jansen hanyalah orang luar. Apakah dia bisa dibandingkan dengan Keluarga Miller yang adalah keluarga elit?
Ironisnya, keluarga Elena tidak malu untuk mengambil bocah ini ini, sungguh tidak tahu malu!
"Elena, bukannya kami ingin menyerangmu sekeluarga, tapi suamimu memang pecundang. Apakah kamu benar percaya bahwa suamimu bisa menyelesaikan masalah rekrutmen tim operasi khusus Tiger hanya dengan sebuah telepon? Dia hanya acting saja!"
"Iya, kalau dia memang memiliki kemampuan itu, coba suruh dia telepon dan keluarkan Stenly dari tim!"
"Hahaha, kalau pecundang yang tidak guna ini bisa melakukannya, aku akan makan kotoran di tempat."
Semua anggota Keluarga Miller mengejek dan menegur mereka.
Banyak orang yang memarahi dan menunjuk Elena. Elena marah sampai menggertakkan giginya. Dibandingkan dengan menertawakan dirinya, dia lebih sakit hati melihat orang-orang yang menertawakan Jansen. Dia membalikkan badan dan menatap ke arah Jansen, dia ingin menghibur Jansen, tapi dia malah melihat Jansen sedang menelepon.
"Kak Krilin, masalah sebelumnya adalah salah paham. Tendang anak baru itu keluar!"
Suaranya tidaklah kecil. Aula yang awalnya sepi, berangsur-angsur terdengar suara tawa yang keras.
Kring, kring, kring.
Namun, pada saat ini, tiba-tiba ponsel Stenly berdering.
Semua orang terdiam.
Terlihat Stenly mengangkat teleponnya. Semakin lama, wajahnya terlihat semakin pucat.
Setelah menutup telepon, dia terdiam cukup lama.
Melihat wajah Stenly yang tidak beres, stefi segera bertanya, "Stenly, ada apa?"
"Baru saja, Tim Operasi Khusus Tiger meneleponku. Katanya, namaku salah, aku tidak lulus." Stenly berbicara hingga hampir menangis.
Suasana di dalam aula terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Tidak hanya itu, suasana juga terasa aneh.
Wajah Stenly berubah drastis, dia berkata dengan tergesa-gesa, "Bagaimana bisa seperti ini?"
Tiba-tiba, dia menatap Jessica seolah meminta penjelasan.
Wajah Jessica terlihat canggung, dia berusaha membuang pandangannya.
__ADS_1
Sebenarnya, dia juga tidak yakin bahwa semua ini adalah hasil usahanya. Namun, dia yakin, yang pasti semua ini bukanlah usaha Jansen.
Jansen adalah orang Kota Asmenia. Baru berapa lama dia datang ke ibukota? Bagaimana mungkin Keluarga Carson memberinya muka?
Selain itu, Carson bersaudara adalah orang yang tegas. Mereka tidak bisa digoyahkan hanya dengan menggunakan uang atau kecantikan. Jansen tidak berhasil melakukannya.
Namun, sekarang, setelah Jansen menelepon, Stenly benar-benar ditendang.
Melihat Jessica yang tidak bicara, tiba-tiba, stefi menatap Jansen. Wajahnya tampak sangat canggung.
Para konglomerat dan pejabat di tempat menatap ke arah Jansen. Tatapan mata mereka seolah sedang melihat hantu.
Apakah ini kebetulan atau memang perbuatan Jansen?
Bagaimana Jansen bisa meyakinkan Keluarga Carson?
Stefi terbata-bata, dia ingin bertanya kepada Jansen, tapi dia tidak bisa membuka mulut.
Bagaimanapun, dia tahu Jansen adalah pecundang. Kalau memohon kepada Jansen, bukankah dia menampar wajahnya sendiri?
"Kak, Kak Jansen, apakah benar kamu yang melakukannya?"
Stenly tidak berpikir panjang, dia langsung memohon, "Bantu aku berbicara kepada mereka. Biarkan aku masuk dalam Tim Operasi Khusus Tiger!"
Stenly yang memohon juga menjelaskan satu hal. Saat ada masalah, dia tidak mencari Jessica. Sebaliknya, dia malah mencari Jansen, menantu pecundang di Keluarga Miller. Hal ini juga membuat Keluarga Miller malu.
"Untuk masalah ini, tanyakan kepada Kak Elena. Kalau dia setuju, aku akan setuju. Tapi, sebelum itu, kamu pasti harus makan kotoran. Oh iya, beberapa anggota Keluarga Miller yang lain juga harus makan kotoran. Kalian harus menepati janji."
Makan kotoran?
Memohon kepada Elena?
Wajah seluruh anggota Keluarga Elena langsung muram. Makan kotoran? Bagaimana mungkin?
Ditambah, mereka selalu merasa bahwa Elena adalah anak haram. Dia tidak punya kedudukan di Keluarga Miller. Meminta mereka memohon kepada Elena adalah hal yang sangat mustahil.
Dengan ditatap semua orang, Elena merasa bangga. Dia tidak berkata apa-apa dan hanya menatap Stenly.
"Stenly, sudahlah, lupakan saja hal ini!"
Stefi sudah menahannya sejak tadi. Akhirnya, dia memilih untuk tetap bersabar.
Memohon kepada Elena? Bukankah itu sama saja dengan menampar wajah Jessica? Dengan begitu, berarti juga memberitahu para hadirin bahwa Elena lebih berkuasa dibandingkan dengan Jessica?
Stefi tidak berani melakukan hal yang bisa menyinggung orang seperti ini.
"Hmm, entah cara apa yang digunakannya untuk membujuk Keluarga Carson. Tapi jika ingin kita memohon kepada Elena? Meskipun Keluarga Miller mati kelaparan, miskin, dan ditertawakan, kami tidak akan memohon kepada anak haram!"
Suasana hati Renata sangat buruk. Ucapan yang dilontarkan pun sangat tajam.
__ADS_1
Di saat bersamaan, tiba-tiba aula menjadi ramai. Tampak Nenek yang perlahan-lahan berjalan menuruni tangga dengan dibantu beberapa pelayan.
Kedatangan Nenek berhasil mengurangi rasa malu sebelumnya.
"Nenek!"
Semua orang menyapa dengan sopan dan hormat.
Nenek Miller adalah wanita legendaris. Di ibukota, Beliau sangat dihormati. Banyak orang-orang besar yang memberikannya muka.
"Semuanya sudah datang?"
Nenek duduk. Wajahnya terlihat cukup sehat dan tampak bahagia.
"Bu, tahu bahwa kamu akan datang, semua orang meletakkan pekerjaannya dan datang melihatmu."
Renata memberikan teh kepada Nenek sambil berbicara dengan sopan, dia terlihat sangat berbakti.
"Aku berterima kasih atas niat tulus semuanya."
Nenek tersenyum ramah, "Sebenarnya, aku mengundang kita semua makan bersama untuk membicarakan Panti Asuhan cahaya harapan. Panti Asuhan cahaya harapan adalah hasil kerja kerasku. Sekarang, Panti Asuhan cahaya harapan masih bisa dipertahankan, itu adalah kerja keras kita semua."
Pantas saja dia mengundang semua orang makan malam. Ternyata untuk berterima kasih kepada Keluarga Miller.
Melihat Nenek berbicara seperti itu, rasa bangga Keluarga Miller kembali, seolah mereka yang membereskan masalah Panti Asuhan cahaya harapan.
"Semua ini berkat bantuan pihak berwenang. Kami hanya berusaha sebaik mungkin."
Jessica buru-buru menjawab. Ucapannya seolah-olah mengatakan bahwa semua menjadi semakin maju setelah berada di bawah kepemimpinannya.
"Jessica, yang kamu lakukan sangat bagus. Kalau ada waktu, sampaikan salamku kepada ayahmu," kata Nenek sambil tersenyum, "Aku juga sudah menghubungi Grup aliansi Bintang . Mereka menyambut Keluarga Miller dengan hangat. Harusnya, bekerja sama dengan Keluarga Miller tidak akan menjadi masalah yang sulit. Yang harus kita lakukan adalah membuat Grup aliansi Bintang melihat ketulusan Keluarga Miller."
"Ketulusan."
Mata Jessica berbinar, dia sangat bersemangat!
Jika kerja sama di antara Keluarga Miller dan Grup aliansi Bintang terjalin selagi Jessica masih menguasai Keluarga Miller, ini akan menjadi keberhasilannya yang memungkinkan dia menjadi patriak keluarga.
Apalagi, kali ini nenek juga muncul. Sepertinya, Grup aliansi Bintang sudah setuju. Hanya tinggal ditambahkan sedikit ketulusan.
Mengenai ketulusan ini, Jessica pasti tahu apa yang harus dilakukan.
"Nenek saja sudah buka mulut, tampaknya kerja sama di antara Keluarga Miller dan Grup aliansi Bintang sudah 90% di depan mata."
"Di dalam urutan Delapan Keluarga Elit ibukota, Keluarga Miller mungkin akan naik satu tingkat."
Para tamu yang hadir mengendus sesuatu. Orang-orang yang hadir adalah Miller dan kaya raya. Sebuah perintah Nenek Miller yang santai, mampu menentukan masa depan mereka.
"Jarang-jarang Nenek mengundang kita makan malam. Sebagai junior, kita harus memberikan hadiah. Aku, mewakili Grup Nannsa, menyerahkan hadiah ini."
__ADS_1
Pada saat ini, terdengar suara tawa yang hangat, seorang pria paruh baya memberikan vas bunga yang dipegangnya.