Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 950. Pemutus Tendon


__ADS_3

"Dasar gila!"


Jansen terlalu malas untuk memperhatikannya, dia membuka pintu dan hendak masuk.


"Dasar nyali anjing!"


Giovani mengepalkan tinjunya dan menghantamkannya dengan keras ke arah Jansen. Giovani begitu menyukai Angelina, melihat pria ini berani merayu pacarnya, tampaknya dia meremehkan Giovani si pengganggu kecil.


"Giovani, apakah kamu sudah gila!"


Teriak Angelina.


Namun sebelum tinjunya mengenai Jansen, Jansen lebih dulu melesat dengan serangan telapak tangan.


Bugg!


Telapak tangan Jansen menempel di dada Giovani, membuat tulang rusuknya terasa patah. Dia terbang mundur seperti layang-layang dan terpental lebih dari sepuluh meter jauhnya. Ketika dia menabrak dinding, dinding itu retak.


Suasana koridor seketika sunyi.


Semua perawat menghentikan langkah.


Giovani setinggi 180 sentimeter, dengan badan yang cukup kekar. Dia benar-benar terpental sangat jauh ke belakang seolah-olah baru saja ditabrak mobil.


Angelina menutup mulutnya. Dia tahu bahwa kemampuan Giovani sangatlah kuat, tak hanya menjadi juara tinju, dia juga mendapat gelar raja petarung. Bisa dikatakan bahwa saat ini Giovani hanya bermain-main dan belum benar-benar bertindak.


Bermain-main untuk mencapai tingkatan ini sepenuhnya menunjukkan seberapa kuat Giovani.


Sayangnya, dia dibombardir oleh Dokter Jansen.


"Bersikaplah tenang dan berhenti bertingkah seperti anjing gila!"


Jansen mendengus dingin, mendorong pintu dan masuk.


Giovani terduduk di lantai, wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.


Dia bahkan tidak menyadari datangnya sabetan telapak tangan Jansen, waktunya terlalu cepat.


Selain itu, kekuatannya terlalu ganas, sampai-sampai dia tidak bisa menghentikannya sama sekali.


"Berani memukulku, kamu pasti akan mati."


Setelah Jansen memasuki bangsal, Giovani mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Dia tentu saja tidak bisa terima akan hal ini.


Di bangsal, Jansen menatap pria tua yang berbaring di atas tempat tidur, ekspresinya berangsur tampak serius.


Wajah lelaki tua itu pucat pasi, seperti orang mati, seolah-olah sudah berumur belasan tahun lebih tua dalam sekejap.


Apakah ini benar-benar Penatua Jack, yang dulu ceria dan suka minum?


"Dokter bilang Paman terkena stroke."


Angelina berkata dengan cemas di sampingnya.


Jansen mengangguk, lalu berjalan mendekat untuk merasakan denyut nadinya. Setelah itu, dia memeriksa pupil mata dan merasakan napasnya.


"Aneh."


Wajah Jansen berubah.


"Dokter Jansen, ada apa?"

__ADS_1


Angelina berkata dengan cemas.


"Penatua Jack tidak seperti terkena stroke. Meskipun tekanan darahnya berada di sisi yang tinggi, semua aspek tubuhnya sangat kacau!"


"Aku akan memeriksanya lagi."


Jansen menyentuh seluruh tubuh Penatua Jack, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Teknik Pemutus Tendon!"


"Apa itu Teknik Pemutus Tendon?"


"Sebuah seni bela diri dunia Jianghu, semacam teknik bergulat, tetapi pelatihannya sangat intens sehingga dapat mengejutkan meridian dan tulang seseorang, yang mana pemindai CT pun tidak dapat mendeteksinya jika tidak teliti."


"Paman belum melakukan pemindai CT."


ujar Angelina seraya menggelengkan kepalanya.


Karena Penatua Jack memiliki tekanan darah tinggi, maka tidak bisa menghubungkannya tulang dan meridiannya.


"Orang itu menyerangnya dengan kuat, pemutus tendon juga cukup sulit untuk dideteksi, itulah mengapa Penatua Jack tidak bisa bergerak."


Jansen menggunakan akupunktur, namun banyak teknik akupunktur yang tidak efektif.


"Penatua Jack tidak hanya menderita karena tendonnya terputus, dia juga telah diracuni."


Jansen makin menegaskan.


"Keracunan, itu tidak mungkin. Dokter sudah mengetes isi perut Paman dan mengatakan tidak ada tanda-tanda keracunan makanan." Angelina mengerutkan kening.


"Racun ini bukan racun biasa."


Jansen menggelengkan kepalanya. "Racun ini sangat aneh. Aku belum menemukan alasannya, tapi aku bisa yakin bahwa racun ini bergerak!"


"Bergerak?"


Racun itu bergerak?


Mungkinkah racun itu merupakan bakteri? Berenang di area yang luas?


"Aku akan mencari racun ini. Awasi keadaan sekitar, jangan biarkan siapa pun menggangguku."


Jansen duduk di samping Penatua Jack, telapak tangannya mendarat di pergelangan tangan Penatua Jack, secara perlahan Profound Qi-nya mengalir masuk.


Profound Qi-nya seperti endoskop, bergerak melalui meridian dan tulang guna merasakan sesuatu yang janggal.


Melihat Jansen yang tiba-tiba tidak bergerak, Angelina merasa cukup aneh. Apakah sedang meditasi?


Menggunakan meditasi untuk menyembuhkan penyakit merupakan hal yang sangat aneh.


Sebenarnya Angelina ingin bertanya, tapi takut mengganggu Jansen, jadi dia terpaksa harus menunggu.


Namun, kecurigaan di hatinya menjadi makin kuat. Alasan utamanya adalah Jansen masih terlalu muda, selain itu metode pengobatan ini sama sekali tidak seperti metode pengobatan ilmiah.


Saat ini Jansen, Profound Qi nya menjulur ke seluruh tubuh Penatua Jack dan secara tiba-tiba mendarat di area jantung. Hal yang janggal terasa, seolah ada sesuatu yang menekan jantungnya.


Merasakan lewat Profound Qi, benda ini seperti telapak tangan yang memiliki aura dingin, jelas jauh berbeda dari bakteri atau semacamnya.


Bugg!


Pada saat yang sama, raungan tajam menyela.


Profound Qi milik Jansen terpecah dan menyusut mundur. Dia baru berada di Teknik kaisar manusia Tingkat Enam, jadi dia masih belum mampu membuat Profound Qi mengalir dengan bebas.


"Angelina, kalian pria dan wanita ada di kamar yang sama, dasar tidak tahu malu!"

__ADS_1


Suara memuakkan datang bersamaan. Giovani sudah berdiri di luar pintu, diikuti oleh sejumlah besar orang dengan identitas yang tampaknya luar biasa.


"Itu dia, dokter palsu yang berani menyusup ke dalam cabang Wilayah militer. Cepat tangkap dia!"


Giovani menatap Jansen sembari mencibir.


"Siapa kamu?"


Setelah suaranya terhenti, seorang pria berkacamata dengan setelan seragam masuk. Pertama kali yang dia lakukan adalah mengeluarkan izin kerjanya, "Aku dari Militer Timur Laut, cabang Wilayah militer ini berada di bawah kewenangan kami. Karena kamu berani berpura-pura menjadi dokter, maka bersiaplah untuk menjalani hukuman."


Angelina langsung cemas. "Dia seorang dokter. Pamanku menyuruh dia untuk memeriksanya."


"Apa dia punya izin kerja sebagai dokter cabang? Jika tidak, berarti dia melakukan malpraktik secara ilegal."


Pria berkacamata itu berkata dengan acuh tak acuh.


"Angelina, aku melihatmu sedang merayu si banci itu. Kali ini aku akan membunuhnya. Dokter macam apa dia! Apakah menurutmu kita mudah ditipu?"


kata Giovani sembari membelai dadanya yang sampai detik ini masih sakit parah. Dia menunggu sampai orang ini dimasukkan ke dalam penjara, maka dia perlahan-lahan akan membunuhnya.


"Izin kerja dokter cabang?"


Angelina cemas, buru-buru menatap Jansen.


Saat ini, Jansen memasang wajah murung. Dia hampir menemukan penyebab penyakit Penatua Jack, tetapi orang-orang ini lebih dulu menginterupsinya.


Tanpa berbicara, dia berjalan ke arah pria paruh baya itu.


"Mau apa kamu?"


Cibir pria paruh baya itu, saat melihat Jansen mendekat dengan wajah murung.


Bugg!


Jansen menampar dengan sangat kuat, sehingga pria paruh baya tersebut terpental keluar seperti sampah.


Bugg bugg bugg!


Hantaman ini membuat beberapa orang terhempas berturut-turut, sehingga semuanya saling bertabrakan di luar bangsal.


"Kau Mundur!"


Seluruh wajah si pria paruh baya seketika bengkak, seperti orang yang sedang meniup balon. Dia duduk seraya memaki, "Kuberitahu, akan kupastikan kamu mati di cabang militer timur laut ini. Tangkap dan perlakukan dia layaknya preman. Jika dia berani melawan, kuizinkan kalian menggunakan kekerasan."


Semua orang tersebut bangkit dan berencana untuk menegakkan hukum dengan kekerasan. Bagaimanapun, mereka memegang posisi tinggi, lagi pula kejahatan apa pun sudah cukup untuk membunuh pemuda itu.


Giovani yang juga terpental, ikut bangkit dan mengeluarkan senjatanya, berniat menggunakan kesempatan untuk membunuh Jansen.


Bocah ini berani melukainya separah ini serta merebut wanitanya. Dia tidak akan tahu siapa Giovani sebelum diberi pelajaran.


"Tuan Giovani!"


Wajah si pria paruh baya di sebelahnya agak berubah. Dia hanya ingin melakukan hal-hal sesuai aturan tanpa ada niat untuk menggunakan senjata. Jika seseorang meninggal, masalah ini tidak bisa disepelekan.


Namun, Giovani yang sedang mengeluarkan pistolnya, memiliki latar belakang keluarga yang cukup berpengaruh. Dia langsung bersikap acuh tak acuh.


Dorr!


Giovani benar-benar menembak tanpa ragu sedikit pun.


Sayangnya, tembakan ini sama sekali tidak bisa mengenai Jansen.


Jansen memiringkan kepalanya sehingga peluru mendarat di dinding belakangnya. Jansen muncul di depan Giovani hanya dengan beberapa langkah, lalu menggoyangkan telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2