Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 558. Keberuntungan Tiga Kali Kehidupan!


__ADS_3

"Apa? Biasa-biasa saja? Guru, lukisan ini tidak ternilai harganya!"


Naomi cemberut dan berkata, "Lihat betapa Bagusnya teknik pedang, betapa tampannya pria yang memainkan pedang itu. Dia seperti tokoh utama dalam serial film kolosal!"


"Tampan? Kamu orang pertama yang mengatakan aku tampan!" Jansen menjawab dengan santai.


Naomi berkata dengan marah, "Guru, keterampilan medismu memang luar biasa, tapi kalau urusan ketampanan, kamu masih kalah jauh. Pemuda dalam lukisan ini adalah pangeran


berkuda putih, sama seperti pria yang memainkan piano di mall itu, dia juga pangeran berkuda putih. Sedangkan kamu hanya seorang dokter!"


Jansen menggelengkan kepalanya dan tak bersuara.


"Jansen, lukisan yang dihadiahkan Keluarga Palmer lumayan, kan? Apa hadiah yang kamu bawa?"


Jordie tiba-tiba datang menghampiri dan mencoba memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mempermalukan Jansen.


"Aku tidak membawa hadiah. Aku akan segera pergi setelah selesai makan!" Jansen berkata terus terang.


"Kamu sungguh tak tahu malu!"


Jordie terkejut mendengar jawaban Jansen. Dia menertawakan Jansen dengan keras, "Semuanya, lihat kemari! Orang ini datang tanpa membawa hadiah. Dia ingin makan gratis. Tenyata, masih ada orang seperti dia zaman sekarang ini!"


Jelas bahwa Jansen memang sengaja mempermalukan dirinya sendiri.


Banyak mata menatap Jansen dengan tatapan hina. Bagaimanapun juga, Leimin adalah Rektor Universitas Amerta yang sangat dihormati. Dia sungguh tidak tahu malu karena berani datang makan gratis tanpa membawa hadiah.


"Dasar sampah!"


Leimin juga kesal dengan Jansen.


"Bukankah dia ini pecundang Keluarga Miller yang masih tak mau pergi meskipun sudah diusir itu?"


Seseorang mengenali Jansen.


Perkataan Jansen menimbulkan reaksi yang begitu besar.


Semua tamu yang datang terus berkomentar.


Orang-orang Keluarga Miller terlihat tidak senang karena mereka merasa Jansen sengaja mempermalukan mereka.


Jordie mendapatkan kesempatan untuk menyerang Jansen. Dia menghinanya dengan berkata, "Dasar tidak tahu malu, sebagai orang yang lebih muda daripada Paman Leimin, kamu


harusnya tidak datang dengan tangan kosong. Dia itu Paman Kedua kamu!"


"Aku datang untuk makan saja. Aku sudah cukup memberi muka!"


Jansen lanjut berterus terang, "Apalagi, ini hanya sebuah lukisan biasa. Apa kamu pikir lukisan ini warisan budaya nasional? Kalian yang tidak tahu malu!"


"Jansen, apa yang kamu katakan? Dia adalah orang Keluarga Palmer!"


"Cepat minta maaf"


Orang-orang Keluarga Miller sangat marah. Jansen bahkan. berani sembarang berbicara sehingga membuat mereka semua merasa sangat malu.


Leimin bahkan hampir mengusir Jansen. Bukan hanya karena Jansen datang makan gratis, Jansen juga menganggap diri sendiri sudah cukup memberi muka. Apalagi, Jansen berani


mengkritik Karya lukisan Master Harvey. Jansen sudah terang-terangan melecehkan Karya lukisan budaya nasional.


"Jansen, cepat minta maaf"


Leimin berdiri dan berkata dengan marah.

__ADS_1


"Apa Keluarga Palmer berani menerima permintaan maaf dariku?" Jansen membalas dengan santai sambil menatap Darius.


Darius tampak marah, namun dia tak berani bereaksi.


Leimin dan yang lainnya merasa sangat terkejut karena Darius adalah orang yang punya kekuasaan di Keluarga Palmer. Jangankan Jansen pecundang ini, orang-orang Keluarga Miller sendiri pun harus memberi Darius muka.


"Apa kalian semua terkejut?"


Jansen sepertinya tahu apa yang dipikirkan semua orang dan melanjutkan, "Karena dia berhutang nyawa padaku!"


Jansen berkata dengan nada keras.


Banyak orang kembali memandang Darius dan menantikan reaksinya, apakah dia akan marah besar atau tidak?


Namun, Darius masih diam.


Orang-orang langsung merasa ada yang tidak beres. Darius sepertinya sangat takut melawan Jansen.


"Tak hanya itu, aku sendiri yang membantunya melukis lukisan di tangannya itu."


Perkataan Jansen yang santai itu terus mengejutkan orang-orang Naomi yang sedang minum di samping Jansen, juga memuncratkan minumannya.


Ucapan Jansen sudah semakin berlebihan. Apakah Jansen sedang mabuk? Dia bisa saja menguasai seluruh Ibu kota dengan omong kosongnya ini!


Semua orang terdiam.


Mereka merasa Jansen sudah keterlaluan karena dia bukan saja menghina Darius, tapi juga berani menghina Master Harvey.


Master Harvey memiliki kepribadian unik. Selain itu, Master Harvey juga merupakan tokoh negara yang punya dukungan dari berbagai pihak. Tidak ada seorang pun yang berani mengkritik Master Harvey.


Selain itu, Master Harvey adalah maestro nasional yang sangat terkenal. Pecundang seperti Jansen tidak mungkin bisa menghasilkan lukisan sehebat Master Harvey.


Semua orang tidak percaya dengan ucapan Jansen.


Jordie sontak marah dan meminta Darius untuk memberi pelajaran kepada Jansen.


Mereka merasa dipermalukan karena hadiah yang mereka siapkan secara khusus malah dianggap barang biasa oleh Jansen.


Darius menatap Jansen, namun tidak menunjukkan ekspresi marah. Darius tahu Jansen bakal malu sendiri. Dia tersenyum dan berkata, "Aku masih punya hadiah kedua


untuk Tuan Leimin!"


Darius melihat jam tangan lalu mengangguk dan berkata, "Waktunya sudah tiba. Jordie, cepat pergi jemput tamu!"


"Baik!"


Jordie tertawa girang sambil menatap Jansen dengan sombongnya, "Kamu masih berani berpura-pura. Lihat saja nanti hasilnya!"


Jordie segera berlari keluar dan tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa seorang pria tua yang memakai sepatu kain.


Orang tua itu berjalan dengan tenang. Meskipun pakaiannya sederhana, dia terlihat seperti seorang terpelajar.


"Master... Master Harvey!"


Saat Leimin melihat pria itu datang, kakinya langsung lemas. Dia bahkan hampir berlutut di depannya saking bersemangat Leimin selalu mengagumi Master Harvey, bahkan sampai memujanya.


Ada orang mengatakan bahwa biasanya Master Harvey jarang menemui orang karena malu dengan kelumpuhan wajah yang dideritanya. Hal ini juga sangat disayangkan oleh banyak orang yang mengidolakannya.


Namun, Leimin akhirnya bisa berjumpa dengan idolanya.


"Leimin, bagaimana menurutmu hadiah ini?"

__ADS_1


Darius dengan bangga berkata.


"Bagus, sangat Bagus, luar biasa Bagus!"


Saking bersemangat, ucapan Leimin menjadi tidak karuan.


Seluruh tamu yang hadir juga ikut heboh.


"Master Harvey, seorang maestro nasional datang juga kemari!"


Dia adalah pelukis paling misterius di Huaxia. Karyanya banyak dijumpai, tapi belum ada orang yang pernah menjumpai dirinya.


Orang yang pernah berjumpa dengannya hanya para bos besar.


"Halo semuanya!"


Master Harvey menyapa orang banyak. Setelah pulih dari kelumpuhan wajah, Master Harvey sudah sedikit gemar bersosialisasi. tidak seperti dulu lagi.


Semua orang menyapa Master Harvey dengan sopan.


Beberapa ahli bela diri yang hadir di sana dapat merasakan kharisma seorang Master Besar di dalam diri Master Harvey. Mereka tahu bahwa alasan utama mengapa Karya Master Harvey sangat terkenal adalah karena dia melukis dengan seni bela diri.


"Master Harvey!"


Leimin ingin meminta tanda tangan Master Harvey, namun sungkan mengutarakannya.


"Master Harvey, ada orang yang mempertanyakan lukisan Anda. Dia mengatakan bahwa lukisan Anda biasa-biasa saja. Selain itu, dia bahkan bilang lukisan ini sebagian juga merupakan hasil Karyanya sendiri!"


Karakter Master Harvey yang kurang gemar bersosialisasi masih terasa. Dia masih sulit untuk bergaul, sama seperti dulu.


Apalagi, setelah hasil Karyanya itu dipertanyakan, dia langsung merasa tidak senang.


Untuk saat ini, hasil Karyanya itu tergolong yang paling memuaskan.


"Sembarang bicara!"


Master Harvey sontak marah.


Jordie, yang sudah tidak sabar melihat adegan selanjutnya, langsung menunjuk ke arah Jansen, "Itu dia, anak itu orangnya!"


Banyak orang yang hadir juga menertawakan Jansen.


Anak ini sudah tidak bisa melanjutkan bualan karena pelukis aslinya sudah datang.


"Gu... Guru, gawat!"


Naomi berada di samping Jansen dan mulutnya gemetar ketakutan.


"Mas... Master Jansen!"


Tiba-tiba, Master Harvey memandang Jansen dan bergegas menghampirinya dengan penuh perasaan sukacita, "Aku tidak menyangka aku masih punya kesempatan untuk berjumpa dengan Master Jansen. Ini adalah keberuntungan dari tiga kali kehidupan!"


Suasana di tempat acara berubah hening.


Mulut semua orang pun terbuka lebar saking terkejutnya.


Jordie sangat terkejut mendengar Master Harvey memanggil Jansen dengan sebutan Master Jansen.


Dia seakan tidak percaya.


"Haha!"

__ADS_1


Master Harvey begitu bersemangat. Dia menarik Jansen ke hadapan Leimin dan berkata sambil tersenyum, "Ini baru master yang sebenarnya!"


__ADS_2