
"Anak Muda, kamu jangan terlalu yakin. Kalau terus begini, pertarungan kita akan berakhir seri. Kamu pasti tak akan bisa mengalahkan Jurus Bangau Leluhur ini!" Master Korka menegur, "Aku sebagai Master Korka, dan kamu mengatakan seni bela dirimu berakhir seri, lupakan jika kamu tidak merasa terhormat, dan kamu masih ingin bertarung?"
Master Korka tertawa namun sedikit cemas.
Dengan kedudukan yang tinggi di dunia jianghu, begitu banyak orang menghormati dan menjunjung tinggi Master Korka. Akan tetapi, jarang ada anak muda yang dipuji
kehebatannya oleh Master Korka apalagi sampai mengimbanginya dalam pertarungan.
Pujian seperti ini malah tidak dianggap penting oleh Jansen.
Sebaliknya, Jansen tetap ngotot dan tidak mau kalah dengan Master Korka.
"Kamu kira kamu sangat hebat, kan? Kita sama-sama menggunakan teknik lembut taklukkan keras. Kekuatan kita berdua imbang!" Master Korka kembali memarahi Jansen.
Veronica dan mereka semua yang pernah belajar bela diri tentu tahu jika menggunakan teknik lembut taklukkan keras dalam pertarungan tidak akan memunculkan pemenang, kecuali
saling adu kesabaran dan ketahanan fisik.
"Siapa bilang kita seimbang?"
Jansen tiba-tiba tertawa dan mengerahkan Profound Qi yang dahsyat.
"Tadi aku hanya menemanimu bermain, sekarang coba rasakan kekuatan dari aku yang sebenarnya!"
Satu terjangan dengan telapak tangan yang memiliki kekuatan energi Qi dahsyat langsung mengacaukan pertahanan telapak tangan Master Korka
Jansen berhasil menggunakan satu kekuatan untuk menaklukkan tiga kelebihan Master Korka energi Qi mereka awalnya berdua jelas-jelas berimbang.
Namun, Jansen sudah merasakan bahwa Profound Qi yang dia miliki kini jauh lebih kuat daripada Master Korka.
Ternyata, teknik lembut taklukkan keras serta kemampuan refleks dan energi Qi dahsyat yang dimiliki oleh Master Korka tidak ada gunanya. Jansen mampu menaklukkan
Master Korka dengan satu sentuhan.
Jurus yang dipakai Master Korka akhirnya gagal juga. Jansen langsung meninju dada Master Korka dengan sangat keras.
Bang!
Master Korka terpelanting ke belakang dan muntah darah sampai tidak bisa bangun lagi.
Pikiran Master Korka diliputi rasa tidak rela dan tidak terima dengan kekalahan ini. Namun, dia akhirnya juga takut dengan Jansen.
Kekuatan Jansen bukan lagi Master Bumi Peringkat menengah, tetapi sudah setara Master Bumi Peringkat Atas.
Bang!
Baru saja berpikir seperti ini, Master Korka langsung mati di tempat.
Semua orang yang melihat pun terkejut.
Dengan satu pukulan saja, Jansen berhasil membunuh Master Korka. Dia benar-benar bukan manusia biasa!
Veronica dan Amanda serius menatap Jansen. Mereka akhirnya sadar betapa menakutkannya ilmu bela diri yang dikuasai Jansen.
Mereka terkejut dengan menantu laki-laki yang mereka anggap pecundang ini.
"Ayo, selanjutnya giliran kalian!"
Jansen menatap kedua pria berkacamata itu.
__ADS_1
Wajah pria berkacamata itu pucat seketika. Mereka lantas menatap seorang wanita misterius yang berada di samping
"Kamu memang punya ilmu bela diri yang hebat, tapi kalau kamu mau mengalahkan kami, belum tentu bisa!"
Setelah berkata demikian, wanita yang memakai mantel itu dan membacakan mantra sambil memegang tiga buah dupa. Tiba-tiba muncul kepulan asap.
"Gawat, mereka mau kabur. Jangan biarkan mereka kabur!" Tuan Hilton berteriak dan bergegas menyerang mereka.
"Jangan kejar lagi, mereka sudah pergi. Itu tadi Teknik Xuan, bukan sembarang orang bisa menghentikannya!"
Jansen menggelengkan kepalanya dan mencegah semua orang yang hendak mengejar mereka. Tak lama berselang, sebuah helikopter datang menjemput pria berkacamata dan
wanita yang kabur itu.
Jansen tidak menghiraukan mereka dan segera menghampiri Tuan Hilton dan semua orang untuk mengobati luka mereka.
Robinson menderita cedera yang paling parah karena tulang dadanya retak akibat ditendang.
Jansen memberi Salep Giok Sambung Tulang kepada Robinson lalu Amanda dan Veronica.
"Kakiku patah! Ini sudah patah! Salep itu tidak ada gunanya!"
Veronica menangis sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Cepat bawa aku ke rumah sakit, ini masih sempat Jaraknya agak jauh kalau tunggu lagi sudah tidak akan
sempat!"
Veronica kelihatan trauma dengan cedera kaki karena saat kecil dia juga pernah patah kaki.
Sret!
Jansen hanya diam dan langsung merobek celana pendek Veronica lalu melakukan terapi akupunktur di kakinya yang cedera untuk melancarkan sirkulasi darah di titik memar.
"Ah, apa yang kamu lakukan? Kakiku sudah patah, kamu masih saja membuatku sakit!"
"Aku tahu, kamu sengaja membuat sakitku makin parah karena aku orang Keluarga Woodley. Jangan salah, yang mau nikahi istrimu itu kakak aku, bukan aku!"
Veronica hanya bisa menjerit kesakitan karena tidak punya tenaga lagi untuk melawan Jansen.
Saat terus menjerit, rasa sakit itu perlahan hilang. Pangkal paha Veronica terasa dingin.
"Hah, apa yang terjadi?"
Veronica melihat ke bawah dan ternyata tulang kakinya yang patah sudah disambung kembali. Dia hanya merasakan sedikit sakit.
Yang paling mengejutkannya adalah bekas luka pangkal pahanya juga menghilang.
Veronica tiba-tiba teringat dengan perkataan Jansen terakhir kali bahwa bekas luka di pangkal pahanya bisa disembuhkan tanpa perlu operasi.
Saat itu Veronica tidak percaya.
Namun, apa yang terjadi sekarang?
"Kamu terus mengomel saja, ribut sekali kamu ini!" Jansen berdiri dan berkata dengan kesal.
Veronica menatap Jansen dengan heran. Dia merasa pecundang ini ternyata bukan orang jahat.
Selain itu, Jansen juga jago dalam keterampilan medis, Teknik metafisika dan seni bela diri. Apakah orang seperti Jansen ini tidak pantas untuk Elena, putri ketiga Keluarga Miller?
Apakah kakaknya Veronica, bisa dibandingkan dengan Jansen?
__ADS_1
"Saudari Veronica, kenapa kamu menatapnya begitu? Apa kamu menyukai bosku?" Amanda yang ada di sampingnya berkata dengan sedikit kesal.
"Tidak ada, kamu jangan sembarangan omong kosong!"
Veronica langsung membantah, wajahnya pun merah.
"Kamu tidak usah pura-pura, aku sangat kenal kamu. Kalau kamu tidak menyukai bosku, kamu tidak mungkin terus membantah. Karena sekarang kamu membantahnya, itu tandanya kamu benar-benar suka dengan dia!" ucap Amanda sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
Veronica merasa galau dan tidak lagi membantahnya.
Lantas apakah Veronica benar-benar menyukai Jansen?
Mustahil!
Pandangan Veronica terhadap Jansen telah berubah sama. sekali setelah Jansen menolongnya.
Akan tetapi, mereka berdua baru beberapa kali saling bertemu sehingga tidak mungkin Veronica bisa menyukai Jansen.
Namun, saat mencoba untuk menyangkal rasa suka terhadap Jansen, di dalam benak Veronica muncul bayangan tentang Jansen.
Veronica membayangkan adegan saat Jansen menghabisi Master Korka dengan gaya yang santai dan keren, penuh dengan pesona seorang pria sejati.
Jansen tidak sempat mendengar pembicaraan mereka berdua karena saat itu dia sudah naik ke lantai dua bersama Tuan Hilton. Tak lama berselang, Jansen dan Tuan Hilton turun membawa dua buah kotak.
"Barang itu milik Keluarga Woodley!"
Veronica buru-buru memberitahu Jansen sambil mencoba berdiri dengan bantuan Amanda.
"Terima kasih!"
Veronica kembali menatap Jansen dan mengucapkan kata terima kasih yang langka.
"Kotak ini milik Keluarga Woodley?"
Jansen mengamati kotak itu dengan serius dan mencium aroma ramuan yang tidak asing baginya. Setelah membuka kotak itu, dia menemukan beberapa beberapa ramuan, sedangkan satu kotak lainnya tidak berisi apa-apa.
"Kamu tahu apa ini semua? Ini adalah barang-barang terlarang yang dicuri oleh ilmuwan. Barang ini semua akan disita oleh pemerintah Huaxia!"
Jansen berkata demikian dan merasa kesal telah membantu Veronica.
Di luar dugaan Jansen, barang yang terus diperebutkan hampir seharian tadi ini ternyata merupakan ramuan yang diperdagangkan dengan Felicia di Lop Nur
Ramuan semacam ini dapat merangsang potensi tubuh manusia hingga batas maksimum, tetapi efek sampingnya juga sangat besar dan tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat.
Sepertinya, makhluk aneh di lantai satu tadi juga mengonsumsi ramuan semacam ini.
"Kalau tahu begini, aku lebih baik membiarkanmu mati di sini saja!"
Jansen berkata dengan marah.
"Apa maksudmu?"
Veronica merasa tidak sepantasnya Jansen memarahi dirinya, apalagi Veronica telah berterima kasih kepada Jansen atas pertolongan tadi meskipun Jansen tidak menggubrisnya.
"Maksud aku? Kamu peringatkan Keluarga Woodley semua agar jangan pernah berbuat sesuatu yang membahayakan negara kita. Kalau kalian berani berbuat begitu, aku pasti tidak akan melepaskan mereka!" Jansen membuang kotak itu dan pergi.
"Kamu!"
Veronica sangat marah dengan sikap Jansen. Dia terus menatap kotak itu. Sebenarnya, Veronica sendiri juga tidak tahu bahwa ternyata kotak itu berisi ramuan.
__ADS_1
Dia juga terkejut dengan reaksi Jansen yang begitu marah.