
"Jansen, jangan terlalu keras kepala!"
Nelly malah sudah tidak merasa khawatir lagi saat ini. Nelly bahkan merasa kesal terhadap Jansen yang masih tidak bisa merelakan uang yang jumlahnya tak seberapa itu meskipun
Jansen sudah memiliki harta senilai miliaran.
"Anak Muda, karena sikap keras kepalamu ini, aku terpaksa berubah pikiran. Jika kamu tidak memberiku uang 20 ribu yuan, jangan harap kalian semua bisa pergi dari sini!"
Jack Pirang memanggil beberapa anak buahnya yang kemudian datang dengan membawa pisau.
Jansen melirik Elena, menggelengkan kepala dengan pasrah lalu berdiri perlahan.
Jack Pirang pun mengira bahwa Jansen sangatlah tolol. Lagi pula, pria bertubuh kekar sebelumnya yang awalnya bersikukuh tidak bersedia memberikan uang pada akhirnya
juga terpaksa memberikan uang.
Siu! Siu!
Namun, tanpa menunggu Jack Pirang bergerak, Jansen tiba-tiba menancapkan pisau dengan keras ke paha Jack Pirang.
"Ah! Kamu!"
Jack Pirang merasakan sakit hebat di kaki kanannya, darah terus mengucur dengan deras.
Seorang pemuda di belakangnya langsung datang menerjang sambil berteriak dan mengayunkan pisaunya ke arah Jansen.
Namun, pemuda itu sontak berhenti bergerak. Elena tiba-tiba datang membantu dan langsung merebut pisau itu lalu menodongkannya ke leher pemuda tersebut.
"Apakah kamu masih menginginkan uang?"
Elena berkata dengan sinis. Elena pun tampak kesal karena dimintai uang keamanan.
Elena kemudian saling bahu-membahu bersama dengan Jansen mengusir para berandalan ini. Selain itu, Elena juga
memerintahkan Jack Pirang untuk segera memindahkan batu besar yang menghalangi jalan.
"Jika kamu memang punya nyali, jangan pergi! Aku sudah memanggil bosku datang kemari!"
Jack Pirang tertatih-tatih memindahkan bebatuan itu, tetapi Jack Pirang sebenarnya merasa sangat kesal.
"Anak Muda, mereka semua adalah para berandalan. Kamu sebenarnya akan aman-aman saja jika bersedia memberi mereka uang
500 yuan. Namun, karena tingkahmu sekarang, 20 ribu yuan pun sepertinya tidak cukup lagi!"
Pasangan suami-istri paruh baya menggerutu terhadap Jansen di dalam bus.
Sopir bus juga berteriak, "Benar, kalau sampai bos mereka datang, kami semua akan terlibat. Aku rasa lebih baik kalian cepat turun dari bus ini!"
Nelly pun ragu sejenak lalu ikut menasihati, "Kalian lebih baik turun dari bus ini. Jangan membuat kami semua terlibat, para berandalan ini tidaklah bercanda!"
Meskipun Nelly ingin menikahi Jansen yang merupakan orang kaya dan berkuasa, Nelly tidak tahan lagi dengan kepelitan Jansen yang bahkan tidak rela mengorbankan uang ratusan yuan hingga akhirnya menyebabkan mereka semua mendapatkan kesulitan.
Nelly merasa konyol bila harus kehilangan kesempatan untuk menikahi Jansen dan malah mati terbunuh di tempat.
"Kalian ini sungguh keterlaluan!"
Elena memandang kerumunan, menghela napas lalu turun dari bus.
Elena sebenarnya tidak takut sedikit pun kepada orang-orang ini. Elena bahkan bisa mendapatkan kembali uang yang telah dirampok dari mereka semua. Hanya saja,
Elena tidak menyangka bahwa orang-orang ini akan mengusir dirinya dan Jansen dari bus demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Jansen pun merasa sudah terbiasa dengan hal ini dan mengikuti Elena turun dari bus.
__ADS_1
Begitu mereka berdua turun dari bus, pintu bus langsung tertutup. Bus itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua melewati jalan pegunungan dengan kecepatan tinggi.
Jansen dan Elena sontak terperanjat dan menggelengkan kepala dengan perasaan pasrah
"Kalian pasti akan mati! Berani-beraninya kalian
menghalangi kami meminta uang keamanan. Bos besar kami. adalah menengah di Kota Sion. Kalian bukan lawan sepadan bos besar kami!"
Sopir bus menjulurkan kepala ke luar jendela bus dengan perasaan lega setelah mereka berdua turun dari bus.
Nelly juga menjulurkan kepalanya, tetapi wajahnya tampak kecewa karena telah keliru menganggap Jansen sebagai seorang anak konglomerat.
Lagi pula, hanya orang miskin yang rela berjuang mati-matian demi menghemat uang ribuan Yuan.
Setelah bus itu menghilang, komplotan Jack Pirang masih belum pergi. Mereka juga belum bertindak dan hanya tertawa sinis sambil menatap Jansen dan Elena.
Di tempat yang tidak berpenghuni ini, Jansen dan Elena tidak bisa berharap bantuan dari siapa pun. Akankah mereka berdua mati?
"Anak Muda, nyalimu besar juga. Sayang sekali, kamu tidak hanya membuat dirimu terbunuh, kamu juga membuat pacarmu ikut terbunuh!"
Jack Pirang menyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya sambil berkata, "Bos besarku paling suka wanita cantik. Pacarmu yang sangat cantik ini sepertinya bakal tertimpa sial!"
"Omong kosongmu terlalu banyak!"
Jansen berjalan mendekat dan menampar Jack Pirang hingga membuat sebuah gigi Jack Pirang copot.
Jansen bahkan mengambil rokok Jack Pirang lalu menyalakan rokok dan mengisapnya.
"Bang Jack!"
Anak buah Jack lainnya sangat marah dan ingin menyerang Jansen.
"Hentikan!"
Jack Pirang tidaklah bodoh. Jansen dan Elena memiliki kemampuan bela diri yang baik dan bukanlah tandingan bagi belasan orang anak buahnya. Jack Pirang lanjut berkata sambil tersenyum sinis, "Aku peringatkan kamu. Lebih baik kamu patahkan kedua kakimu sekarang lalu berlutut minta maaf. Aku masih bisa mengampunimu!"
Jansen dan Elena pun tersenyum sinis.
Mereka berdua bahkan baik-baik saja saat berhadapan dengan para tentara bayaran asing dan tidak mungkin takut terhadap bos besar Kota Sion.
"Dengar baik-baik, bos kami bernama Mikel Arteta. Orang-orang dunia Jianghu memanggilnya Bos Mikel. Seluruh tempat hiburan dan urusan logistik di Kota Sion
dikuasai oleh dia seorang. Pemimpin tertinggi Kota Sion pun sangat segan dengan dirinya!"
"Ada banyak orang biasa seperti kalian berdua yang akhirnya mati mengenaskan di tangannya beberapa tahun ini!"
"Kalian pun tidak mungkin bisa menuntutnya ke jalur hukum!"
Jack Pirang berkata dengan wajah serius, "Meskipun kalian berdua punya keahlian bela diri, itu tidak ada gunanya sama sekali. Bos kami punya senjata. Kalian berdua tidak mungkin
bisa melawan senjata dengan tangan kosong!"
Saat Jack Pirang berbicara, beberapa mobil tiba di depan mereka. Semuanya merupakan mobil mewah dan ada juga mobil Ferrari. Mobil-mobil itu langsung berhenti di depan Jansen dan yang lainnya.
Seorang pria paruh baya berpakaian mantel wol yang sedang mengisap cerutu berjalan turun dari mobil. Wajahnya gemuk dan terdapat bekas luka goresan panjang. Wajahnya
tampak benar-benar sangar.
"Hebat juga, kalian bahkan berani melukai adikku!"
Pria itu menyipitkan mata ke arah Jansen dengan tatapan kejam.
"Jadi kamu ini adalah bos dia?"
__ADS_1
Jansen merasa kecewa karena mengira bahwa bos mereka adalah seorang tokoh besar. Namun, bos mereka ternyata bukanlah orang yang menakutkan bagi Jansen.
"Benar, aku memang adalah bos mereka. Orang-orang memanggilku bos Mikel. Kalian berdua hebat juga! Berani-beraninya kalian berdua menyentuh anak buahku. Begini saja, aku akan memberi kalian berdua kesempatan.
Ikut saja denganku. Aku akan melupakan kejadian sebelumnya!"
Pria paruh baya itu mengamati Jansen dari atas ke bawah dan berulang kali melirik ke arah Elena.
"Kamu pikir kamu pantas menjadikan kami sebagai anak buahmu?"
Jansen pun tertawa.
"Hahaha!"
Bos mikel pun langsung tertawa dengan keras, "Aku, bos Mikel adalah orang berpengaruh di seluruh Kota Sion. Aku baru pertama kali mendengar orang mengataiku tidak pantas. Anak Muda, di sini adalah Kota Sion. Aku yang berkuasa
atas segalanya yang terjadi di kota ini. Selain itu, kami juga punya senjata!"
Saat pria itu berbicara, orang-orang di sampingnya langsung mengeluarkan senjata AK dan mengarahkannya ke Jansen.
"Apa kamu sudah lihat? Kamu bakal mati hanya dengan satu perintahku saja!"
Wajah bos Mikel yang awalnya tersenyum kini berubah galak.
"Kebetulan sekali, aku juga punya senjata!"
Jansen terlihat acuh tak acuh.
"Kamu punya senjata? Jangan bercanda!"
Bos Mikel sontak terkejut. 'Orang sipil biasa juga bisa punya senjata?
"Pemuda bodoh ini sedang mempermainkan diriku. Ya sudah, aku harus memberinya pelajaran. Dia masih belum tahu siapa
menengah di Kota Sion!"
"Habisi anak itu!"
Bos Mikel berteriak dengan marah.
Dor! Dor!
Kedua senjata ditembakkan ke arah Jansen, tetapi setelah peluru melesat, Jansen masih berdiri diam di tempat sambil merokok.
Dia dalam keadaan baik-baik saja.
Semua orang sontak terkejut seperti melihat hantu. 'Apa yang sedang terjadi?'
Jika mereka tidak menyaksikannya langsung, mereka akan mengira itu adalah hantu di siang bolong.
Apalagi, kedua senjata itu telah ditembakkan secara membabi-buta, tetapi targetnya masih belum mati.
Plak! Plak!
Pada saat bersamaan, terdengar suara nyaring. Elena akhirnya bertindak. Entah kapan datangnya, Elena tiba-tiba sudah berada di samping bos Mikel. Elena langsung
merampas senjata yang dipegang oleh bos Mikel.
"Apa kamu sudah lihat? Aku sudah bilang, aku juga punya senjata!"
Jansen berkata dengan datar.
"Apa yang sedang terjadi!"
__ADS_1
Bos Mikel sontak terkejut. 'Pemuda ini tidak mempan ditembak dengan senjata, sedangkan wanita ini malah bisa merampas senjata dengan cepat. Siapa sebenarnya mereka
berdua ini.' Bang Mikel akhirnya merasa panik, "Kalian...kalian jangan sembarangan. Aku kenal dengan pihak berwajib. Hati-hati, polisi akan datang menangkap kalian berdua!"