Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 237. Membantu Elena Mengobati Luka


__ADS_3

Tidak lama kemudian , keduanya kembali ke Vila Puncak Bukit Mercury , Panah sudah tahu bahwa Jansen akan kembali . Liam juga sudah cukup lama menunggunya di sana !


" Tuan Jansen ! "


Melihat dua orang yang datang dari arah jalanan pegunungan , keduanya sangat bersemangat , terutama Liam . Dia tahu bahwa Jansen pergi ke Lop Nur sendirian untuk menyelamatkan adik perempuan Panah .


Tampaknya , selain keterampilan medisnya yang tak tertandingi , keterampilan fisik tuan Jansen juga sangat hebat !


" Terima kasih , tuan Jansen ! "


Panah mengatakannya dengan tulus kepada Jansen . Suatu kali , dia hampir dibunuh oleh Organisasi Malam . Jansen menyelamatkannya dan menyembunyikannya dari kejaran mereka . Sekarang , Jansen bahkan telah menyelamatkan adik perempuannya . Kebaikan yang luar biasa ini , sampai kapan pun dia tidak akan mampu untuk membalasnya !


" Tidak apa - apa ! "


Jansen menggelengkan kepalanya dan bertanya , " Adikmu berniat membantu kita , bagaimana menurutmu ? "


" Baiklah kalau begitu ! "


Panah mengangguk , tentu saja dia ingin Ellisa membantu Jansen , hal ini dapat membuat Ellisa tetap di sisinya , bahkan bisa mengurusnya .


" Karena kamu menyetujuinya , maka urusannya sudah beres ! "


Jansen tersenyum sembari mengangguk , lalu menatap Ellisa dan berkata , " Apa yang tidak kamu mengerti , langsung tanyakan saja pada Panah . Gajimu juga akan diatur olehnya . Kamu mengobrol saja dengannya , aku pulang duluan , ya ! "


Dia tahu bahwa dua saudara perempuan itu sudah tidak bertemu selama bertahun - tahun , tentunya ada banyak hal yang mau dibicarakan !


Tentu saja , dengan karakter Panah yang pendiam , sepertinya mereka juga tidak akan berbicara terlalu banyak !


Setelah meninggalkan Puncak Bukit Mercury , Jansen segera bergegas pulang dan tidak kembali selama beberapa hari . Dia sangat merindukan istrinya !


Baru saja sampai di pintu vila , dia malah bertemu dengan Diana . Bukannya memasuki vila , Diana justru menendang batu di luar halaman . Dia berlari dengan gembira setelah melihat Jansen .


" Kakak Ipar , kamu sudah kembali ! "


Diana dengan penuh semangat meraih tangan Jansen , jauh lebih ramah dari pada sebelumnya !


Jansen sungguh kewalahan . Gadis kecil ini sering menggodanya , tidak tahu apakah itu disengaja atau tidak , kemudian dia tertawa , " Apakah kamu takut tidak bisa menjawab jika ayah dan ibu bertanya ? "

__ADS_1


Diana jarang meninggalkan rumah untuk waktu yang lama . Jika dikatakan dia diculik , orang tua Diana pasti akan ketakutan setengah mati !


Faktanya , bahkan jika Diana teringat kembali akan adegan di Lop Nur itu sekarang , dia masih sangat merasa ketakutan !


Mungkin dia terlahir dalam lingkungan yang damai , sama sekali tidak terpikirkan sisi lingkungan yang seperti itu .


" Gunakan saja aku sebagai alasannya , katakan saja aku mengajakmu jalan - jalan selama beberapa hari ! " kata Jansen .


" Alasan ini cukup bagus , terima kasih , Kakak Ipar ! " Diana berjinjit dan tiba - tiba mencium pipi Jansen .


Ini sungguh mengejutkannya . Anak gadis ini semakin lama menjadi semakin berani saja !


" Kakak Ipar , tahukah kamu , setelah keluar pagi itu , aku tiba - tiba tidak sadarkan diri karena mereka . Saat aku bangun , aku sudah tiba di Lop Nur . Yang muncul di pikiranku pertama kali saat itu bukanlah orang tua ataupun kakakku , tetapi justru kamu . Aku selalu memiliki intuisi bahwa kamu pasti akan datang untuk menyelamatkanku ! "


Diana memandang Jansen dengan penuh perasaan dan berkata , " Kemudian , kamu benar - benar datang , sungguh ajaib ! "


Jansen ditatap olehnya hingga tercengang . Sebenarnya , gadis kecil ini sangat beraura , terutama ketika dia bersikap serius . Apa yang sebenarnya dia pikirkan ! Ini adalah adik istrinya !


" Masuk sana ! "


Jansen merasa malu , kemudian mengajak Diana memasuki vila !


" Ibu , Ayah , jangan berpikir berlebihan . Aku hanya mengikuti Kakak Ipar pergi jalan - jalan ke lautan sebentar . Kita juga pergi bersama beberapa teman sekelasku . Bukannya terakhir kali aku sudah memberitahu kalian bahwa pulau di lautan itu sangat indah . Kami semua pergi ke sana untuk liburan ! " Diana menjawab sembari tertawa .


Ibu Diana menegur dengan ekspresi masam , " Kamu memang sudah bilang , tapi setidaknya kamu harus memberi kita kabar , bukannya tiba - tiba menghilang selama beberapa hari , kamu ini membuat kami cemas setengah mati ! "


" Sudahlah , sepertinya mereka juga tampak lelah , biarkan anak - anak beristirahat dulu saja ! " Ayah Diana melihat mereka berdua baik - baik saja , jadi tidak terlalu banyak berpikir !


Diana diam - diam menjulurkan lidahnya ke Jansen , lalu berjalan ke kamarnya !


Jansen juga kembali ke kamarnya . Dia sedang memikirkan bagaimana cara menghadapi Elena . Kemudian , dia melihat Elena baru saja pulang kerja tidak lama dan sedang duduk di kursi , melepaskan stoking warna kulit miliknya dan mendisinfeksi luka di kakinya dengan alkohol .


" Elena , kamu kenapa ! " Jansen terkejut .


" Oh , aku terluka sedikit saat menyelesaikan urusan hari ini , bukan masalah besar . Aku tidak menyangka gangster itu memiliki granat ! " Elena tidak begitu peduli dan tersenyum.


Jansen merasa ketakutan saat melihat keadaannya , Elena juga terlihat lelah , dia pun ikut merasa sakit hati !

__ADS_1


Sebenarnya , dia sama sekali tidak paham dengan Elena yang bekerja keras seperti ini , apakah itu untuk cita - citanya ? Atau untuk mengabdi kepada tanah airnya ?


Dia tiba - tiba teringat akan Felicia . Felicia sudah menjadi anggota Tim Aksi Khusus . Demi tugas itu , dia bahkan rela mengorbankan nyawanya . Jika Elena nantinya akan bergabung dengan Tim Aksi Khusus , apakah dia akan melakukan hal yang sama juga ?


" Duduklah , aku akan membantumu ! " Memikirkan ini , Jansen pun merasa sedikit kesal .


Elena terkejut dengan kemunculan Jansen . Dia ingin mengatakan sesuatu , tapi saat melihat Jansen yang sepertinya sedang marah , dia tidak berani mengatakan sepatah kata pun !


" Bekerja memang bekerja , tetapi tubuhmu adalah asetmu , tahukah itu ? " Sembari mendisinfeksi luka Elena , Jansen berujar dengan nada kecewa .


Elena berkata seperti gadis kecil yang habis melakukan kesalahan , " Aku mengerti , hanya saja , ini memang pekerjaanku , aku juga tidak memiliki pilihan lain".


" Kalau bisa , aku benar - benar ingin kamu mengganti pekerjaanmu . Namun , aku juga tahu , bahwa kamu tidak suka dengan perkerjaan bersih - bersih perempuan semacam itu , lebih tertarik untuk memiliki karir dan mengejar cita - citamu . Sejak kecil , kamu mengidolakan tentara yang mempertahankan negara , sampai kamu ingin menjadi polisi setelah lulus . Oleh karena itu , aku tidak akan keberatan dengan cita - citamu itu . Namun , tolong jaga dirimu , jangan sampai suamimu ini khawatir !" Jansen sengaja bersikap serius.


" Aku tahu , aku sudah salah ! "


Elena cukup patuh dengan Jansen dalam hal ini , kemudian dengan patuh mengakui salah . Dia cantik , ketika dia menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya seperti ini , dia terlihat sungguh menawan , membuat Jansen tidak bisa marah dengannya . Dia hanya bisa mengakui istri yang begitu cantik . Siapa yang membiarkan dirinya menjadi laki - laki ? Jika seorang pria tidak melindunginya , siapa lagi yang akan melindunginya ?


" Ayo , lepaskan stokingmu ! " Jansen berkata lagi .


" Ah ! "


Elena terkejut , wajah cantiknya memerah , " Aku ini memakai pantyhose ! "


" Ya sudah , lepaskan saja . Apakah kamu ingin lukanya membekas ? " Jansen berpura - pura marah .


" Baiklah ! "


Elena tersipu malu , kemudian berdiri dan melepas pantyhose - nya . Meski dia melakukannya dengan acuh tak acuh , namun membuat Jansen tak bisa berkata - kata . Tingkah laku wanita cantik ini sungguh memanjakan mata !


Selanjutnya , dia berjongkok , mengeluarkan kotak obat , mengambil beberapa ramuan obat di dalamnya , memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya , lalu mengoleskannya di kaki Elena !


Untung saja tadi dia pergi ke hutan yang terdapat banyak bahan obat langka yang bisa dia kumpulkan dalam kotak medis , kalau tidak , dia mungkin dia sudah harus pergi ke Aula Xinglin !


" Sungguh menyegarkan ! "


Luka di kaki Elena sedikit terasa menyakitkan , tapi sekarang sudah tidak terasa . Tiba - tiba , dia berkata , " Jansen , punggungku masih ada luka . Bisakah kamu mengoleskannya untukku ? "

__ADS_1


" Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi ! " Jansen mengangguk , lalu memberinya isyarat untuk membuka pakaiannya !


Wajah cantik Elena langsung memerah . Meskipun dia dan Jansen sudah menikah lebih dari setahun , tetapi dia tidak pernah menunjukkan punggungnya di depan Jansen . Namun , sekarang dia sudah tidak merasa serisi itu lagi . Dia membuka ikatan bajunya dengan wajah yang memerah !


__ADS_2