
"Awalnya aku ingin memanggilmu untuk jalan-jalan tapi untuk menghindari kesalahpahaman, jadi lupakan saja!"
Gracia tidak ingin mengganggu Jansen. Dia tersenyum dan berkata, "Pada hari ketiga di awal tahun, ada kegiatan lelang di Ibu kota dan aku ingin tahu apakah kamu punya waktu luang atau tidak untuk pergi melihat-lihat dan menganalisis disana."
Terakhir kali saat di pergi ke acara pertemuan Terbuka Dunia Jianghu bersama dengan Jansen, Jansen menunjukkan bakatnya dalam bidang ini.
Jansen langsung menyetujuinya. Tubuh Gracia sedikit berbeda, untuk sebuah pil pemurnian ginseng Angelica tentu saja dia akan pergi
"Oh iya, apakah aku bisa meminjam beberapa uang darimu?"tanya Jansen dengan ragu-ragu.
"Kamu adalah bos dari Grup Dream Internasional, kamu masih kekurangan uang?" Gracia menatapnya dengan heran.
"Grup Dream Internasional adalah hasil dari kerja keras Kak Natasha, aku tidak bisa memakai uang perusahaan sesukaku, dan juga uang yang aku butuhkan tidak sedikit," jelas Jansen dengan canggung.
"Katakan berapa banyak yang kamu butuhkan!"
"Dua miliar Yuan."
Mata Gracia terbelalak saat mendengar perkataan Jansen, benar-benar bukan jumlah yang sedikit.
Melihat responnya, Jansen dengan cepat berkata, "Tenang saja, aku akan mengembalikannya dengan cepat!"
"Bukannya aku takut kamu tidak mengembalikannya, bahkan lebih baik jika kamu tidak mengembalikannya."
"Bagaimana jika begini, aku akan meminjamkan mu uang itu tapi kamu harus berjanji untuk melakukan dua hal untukku?"Gracia tersenyum licik.
Jansen menatapnya dengan marah, dia merasa sedang dibodohi.
Tanpa menunggu Jansen membuka mulutnya, Gracia mengeluarkan cek dan menulis dua miliar Yuan lalu memberikannya kepada Jansen, "Jangan khawatir. Aku mengetahui kemampuanmu, jadi menyuruhmu untuk melakukan dua hal bukanlah sesuatu yang berlebihan. Saat ini aku masih belum memikirkannya, jadi pinjamlah dulu!"
Jansen hanya bisa mengangguk.
Gracia tidak berhenti dan pergi dengan secepat kilat.
Jansen melanjutkan kesibukannya. Saat malam tiba, dia menelepon Panah dan menyuruhnya untuk mengatur pertemuan dengan Paman Bonnie.
Saat ini, Ibu kota sedang penuh dengan kegembiraan karena tahun baru semakin dekat. Semua pasar besar maupun kecil penuh oleh orang-orang yang ingin membeli makanan. Bukan hanya keluarga kaya dan bangsawan, tapi keluarga dari orang biasa pun juga dipenuhi dengan keriuhan.
Meskipun keluarga Miller tidak sama seperti dulu tapi tahun baru adalah hari yang besar, jadi seluruh keluarga di Keluarga Miller sangat ramai.
Meskipun Keluarga Miller tidak memiliki penjaga, masih banyak kerabat yang sedang sibuk untuk menggantung lentera dan menempelkan tulisan kaligrafi.
"Paman Bonnie, tempel satu di sana dan juga jangan lupakan penghormatan untuk kakek di depan pintu!"
Renata menjelaskan sambil menggerakkan tangannya.
"Baik!"
Paman Bonnie adalah satu-satunya pelayan yang sejauh ini tidak pergi dan sangat setia dengan Keluarga Miller.
__ADS_1
Semua orang di Keluarga Miller melihat Paman Bonnie sebagai orang tua dan tentu saja mereka sangat menghormatinya.
Pada saat ini, Paman Bonnie merasakan sebuah pesan datang. Dia dengan pelan mengeluarkan telepon lalu melihat bahwa tidak ada pesan satupun dan hanya ada serangkaian angka nol.
Raut wajahnya menegang.
"Ada apa, Paman?"
Renata berteriak sambil sibuk mengerjakan sesuatu.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak enak badan. Haah... tidak bisa menolak umur. Menanjak sedikit saja sudah kehabisan napas," ucap Paman Bonnie sambil menghela napas.
"Paman pergi istirahat saja, kami akan baik-baik saja kok!"
Ricky dan mereka semua berteriak.
Paman Bonnie mengangguk dan berjalan kembali ke ruang dalam. Menunggu saat tidak ada orang, badannya yang kurus seperti monyet berbalik menuju pagar dan pergi mengikuti jalan setapak.
Tidak lama kemudian dia sampai di sebuah gym. Dia datang seorang diri ke lemari yang ia telah sewa. Saat membuka lemari itu, dia melihat sebuah surat tergeletak di dalam. Dia membukanya dan hanya melihat beberapa kata, "Barang itu sudah ditemukan, temui aku di tempat biasa."
Seluruh tubuh Paman Bonnie bergetar. Dia merobek surat itu, memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya. Setelah itu dia pergi.
Ini adalah cara dia dan organisasinya berkomunikasi. Setelah pesan datang, pergi ke gym lalu mengambil barang yang ada di dalam lemari. Tidak banyak orang yang mengetahui sinyal rahasia ini.
"Apakah sudah menemukan Harta Karun Kultivasi? Apakah barang itu ditemukan di dalam mayat Danial?"
Raut wajah Paman Bonnie terlihat bersemangat. Jika dia mendapatkan barang itu, dia juga bisa pergi dari Keluarga Miller.
Apalagi keberadaan Danial tidak diketahui. Jika suatu hari Danial tidak mati, dia pasti akan merasa sangat tidak nyaman karena kapanpun Danial dapat membongkar semuanya.
Saat malam, Paman Bonnie makan lebih awal. Setelah itu dia berkata kepada semua orang di Keluarga Miller bahwa dia sedang tidak enak badan dan kembali ke kamar. Setelah itu meminjam senter dan pergi ke Gunung Kuning.
Gunung Kuning adalah puncak yang terisolasi, liar dan jarang ditemukan jejak manusia. Tempat ini adalah tempat mereka bertemu.
Sepanjang jalan, Paman Bonnie sangat berhati-hati jikalau ada seseorang yang mengikutinya di belakang tapi semua berjalan dengan lancar. Tidak lama kemudian, dia sampai di sebuah kuil rusak yang terbengkalai.
Kuil itu adalah Kuil Kuning Abadi yang telah didirikan sejak lama. Pada saat kekaisaran pada tahun itu, kuil ini menjadi terbengkalai. Ditambah dengan bencana yang tidak biasa, tidak banyak orang yang datang
Paman Bonnie melihat sekeliling sejenak dan tidak menemukan sesuatu yang aneh. Akhirnya, dia masuk dengan tenang.
Di dalam juga sangat berantakan. Sarang laba-laba dan kotoran tikus berada di mana-mana. Paman Bonnie berteriak pelan, "Aku datang!"
Kuil yang hacur itu masih sunyi.
Paman Bonnie mengerutkan dahi dan berteriak lagi, "Aku datang!"
Pada saat yang bersamaan, muncul sebuah cahaya dari dalam kegelapan. Awalnya cahaya itu sedikit menyilaukan mata dan membuat Paman Bonnie tidak bisa merespon dengan baik. Setelah menunggu beradaptasi dia menyadari bahwa orang itu sedang menyalakan rokok. Penampilan orang itu terlihat masih muda.
Tubuh Paham Bonnie bergetar. "Itu kamu, Jansen, "seru Paman Bonnie.
__ADS_1
Dia sangat ketakutan!
Dari dugaannya, orang yang datang malam ini harusnya adalah ketua. Bagaimana bisa Jansen yang datang?
Sangat membingungkan!
"Paman Bonnie bersembunyi dengan sangat dalam."
Jansen menghirup rokoknya dalam-dalam dan terlihat seperti berbicara sendiri. Paman Bonnie adalah salah satu dari 15 daftar nama yang sangat ingin dia bunuh karena dia sangat membenci seseorang sampah yang mengkhianati Tuannya. Hanya untuk dirinya sendiri dan masa depannya.
"Apa maksudmu, Jansen?"
Paman Bonnie mundur selangkah dan menyadari bahwa pintu kuil di belakangnya tertutup. Sepertinya orang yang menipunya untuk datang sudah dipastikan adalah Jansen.
"Cukup sampai disitu, tidak ada gunanya lagi berpura-pura!"
Jansen berjalan mendekat perlahan, "Aku sudah menemukan lima belas orang yang berada dalam daftar nama dan mereka semua sudah mati. Maverick, Darwin, Orvel dan kamulah yang terakhir!"
Raut wajah Paham Bonnie berubah drastis saat mendengar perkataan Jansen. Dia dengan cepat berkata, "Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, Jansen. Kamu mau membunuh untuk menjaga rahasia? Baiklah, kamu pasti ingin menghancurkan sebuah bukti!"
Dia sangat terkejut di dalam hatinya, tapi saat ini dia membantahnya dengan alami.
"Kamu seperti ini, sangat sia-sia jika tidak melakukan syuting film."
Jansen tidak terkejut dengan bantahan Paman Bonnie.
"Kamu bilang aku yang membunuh Kakek, mana buktinya? Jangan menuduhku jika tidak punya bukti. Meskipun menghubungi Keluarga Miller pun sepertinya mereka tidak akan mempercayai mu!"
Paman Bonnie mendengus dingin dan berkata, "Kamu tunggu saja sampai kamu menanggung julukan pembunuh seumur hidupmu. Cepat atau lambat Keluarga Miller akan membunuhmu."
"Aku adalah Jansen, kenapa aku membutuhkan bukti untuk melakukan sesuatu!"
Jansen menggelengkan kepala dengan jijik, "Aku membunuh pembunuh bukan karena untuk memberikan bukti kepada Keluarga Miller. Akan tetapi karena untuk memberikan kejelasan kepada Kakek. Meskipun Keluarga Miller salah paham, mereka tidak pantas mendapatkan penjelasan dariku!"
Jansen mengatakan kalimat itu tanpa merasa ragu akan dirinya sendiri.
Apalagi dia juga sangat mengenal Keluarga Miller. Bahkan jika dia memiliki bukti, apakah Keluarga Miller akan percaya?
Jika Keluarga Miller memercayainya, maka sejak awal Jansen akan diakui oleh Keluarga Miller.
"Kamu!"
Paman Bonnie tidak menduga bahwa Jansen sama sekali tidak memiliki rencana untuk membuat dirinya bersih. Dia dengan marah berkata, "Aku akan memberitahu Keluarga Miller dan Elena bahwa kamu adalah pembunuh!"
Setelah selesai berbicara, dia ingin bergegas untuk keluar dari kuil yang rusak itu.
Namun, bagaimana bisa Jansen membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan. Sosoknya tiba-tiba sampai di depan Paman Bonnie seperti hantu dan dia menepukkan telapak tangannya.
Paman Bonnie mencibir di dalam hatinya. Sebenarnya dia juga dengan sengaja membuat Jansen panik dan memulai pertarungan. Saat ini, dia menemukan peluang untuk melukai Jansen.
__ADS_1
Dia juga menepukkan telapak tangannya.