
Wajah semua orang di Keluarga Miller sedikit berubah. Kenapa Aidan datang? Tanpa sadar, mereka semua mengarahkan pandangan kepada Renata.
Renata menjelaskan dengan terbata-bata, "Tuan Muda Aidan berkata dia datang hari ini untuk membahas tentang perusahaan. Aku melihat bahwa itu adalah urusan penting. jadi aku setuju!"
"Renata, kamu gila. Kamu tidak tahu apa niat Aidan?" Leimin memarahinya.
Renata mendadak emosi dan keras, "Aku melakukannya demi Keluarga Miller. Paman Kedua, jangan kira karena suamiku pergi, Keluarga Miller harus menurutimu. Dari segi senioritas, aku yang paling besar. Keluarga Miller harus mendengarkanku!"
"Kamu berani?"
Leimin marah
"Keluarga Miller harus mendengarkan Bibi Renata. Aku yang mengatakannya!"
Terdengar suara dingin dari arah pintu. Aidan masuk. Gayanya sangat tidak sopan, seolah-olah dia adalah tuan rumah.
Faktanya, sejak kematian Kakek Miller, Aidan sudah tidak menghormati Keluarga Miller lagi.
"Aidan, kamu tidak diterima di Keluarga Miller!"
Leimin berjalan keluar. Sebenarnya, Keluarga Miller tidak memiliki banyak masalah dengan Aidan. Alasan utamanya adalah ia tidak ingin Jansen marah.
"Paman Kedua, untuk apa marah-marah begitu!" Aidan tertawa tipis, "Mungkin saja aku datang untuk membantu Keluarga Miller!"
"Paman Kedua, untuk apa terburu buru marah? Dengarkan apa yang Aidan katakan!" Renata menarik Leimin.
"Hei, Jansen, kamu juga di sini?"
Aidan menyapu pandangan dan akhirnya menyadari keberadaan Jansen. Ekspresinya langsung berubah.
Ia sangat membenci Jansen. Hanya dalam waktu setengah tahun, Jansen merebut Elena dan memukulinya di depan semua orang.
Dia juga menginjaknya seperti anjing saat di pusat perbelanjaan. Ini adalah aib sepanjang hidupnya.
Aidan berteriak, "Jansen, mengapa kamu datang ke Keluarga Miller?"
"Pukulanku kurang ya?"
Jansen mencibir.
Aidan bergidik tanpa sadar. Dari segi bela diri, ia memang bukan tandingan Jansen. Dia tiba-tiba menatap Keluarga Miller dan berkata, "Keluarga Miller masih menganggapnya sebagai harta karun? Dia segera bangkrut!"
"Aidan, apa maksudmu?"
Wajah Renata berubah seketika.
Aidan tahu, Keluarga Miller memberi muka pada Jansen karena ia punya uang. Tapi, bagaimana jika Jansen jatuh miskin?
Aidan sangat menantikannya!
Nantinya, apa yang diberikan Keluarga Miller pada Jansen tetap saja sarkasme dan ejekan. Dia akan dicap sebagai pengecut selamanya!
__ADS_1
"Kamu tidak baca koran? Grup Dream Internasional sedang berperang dengan perusahaan keluarga Bermoth. Sudah bakar
uang lima miliar lebih!"
"Jansen angkuh dan sombong. Dia telah menyinggung Direktur Grup Aliansi Bintang. Dia bukan lagi wakil presdir Grup Aliansi Bintang. Grup Aliansi Bintang juga sedang berusaha menjatuhkannya!"
"Selain itu, Keluarga Bermoth, Keluarga Woodley, dan perusahaan besar dan kecil lain juga memblokirnya. Grup Dream Internasional-nya bisa bangkrut kapan saja!"
kata Aidan, berbahagia di atas penderitaan orang lain.
Semua orang di Keluarga Miller menatap Jansen tak percaya.
"Itu palsu!"
Paman Keempat, Rowen, tidak percaya dengan kata-kata Aidan, jadi dia segera mengecek laporan ekonomi di ponsel, lalu mengangguk. "Dalam berita dikatakan, Grup Dream
Internasional memang sedang berperang bakar uang dengan grup milik Keluarga Bermoth!"
Wajah Leimin berubah drastis, "Keluarga Bermoth adalah keluarga elit sekarang. Bisakah Grup Dream Internasional menang?"
Rowen menggelengkan kepala. "Tanpa dukungan dari Grup Aliansi Bintang, sepertinya... sepertinya...
"
Dia tidak melanjutkan, tetapi semua orang sudah tahu bagaimana situasinya.
Membakar uang untuk mendominasi pasar, itu tergantung pada siapa yang memiliki lebih banyak uang!
Grup Aliansi Bintang tidak membantu mengiklankan, malah bekerja sama dengan Keluarga Bermoth. Mengandalkan Jansen seorang saja, mana bisa menang?
Elena menatap Jansen dengan cemas.
"Itu benar!"
Diana bekerja di Grup Dream Internasional dan tahu bagaimana situasinya.
Setelah Diana berbicara, Keluarga Miller akhirnya tahu pasti bahwa Jansen dalam masalah ekonomi.
"Sudah kubilang, kebanggaan sesaat bukan berarti selamanya!"
Renata tiba-tiba berkata dengan suara rendah. Dia justru merasa bangga.
Jansen melirik Renata dan berkata tanpa rasa gugup, "Memangnya kenapa? Apakah itu ada hubungannya dengan kalian?"
"Tidak. Hanya saja, aku senang Elena tidak rujuk denganmu. Kalau tidak, dia akan menderita!" Renata melengkungkan bibirnya.
Mendengar ini, raut wajah Leimin berubah serius, dan berkata dengan marah, "Renata, jangan lupakan orang yang telah berjasa. Jangan lupa siapa yang memberi kita dua miliar dan membantu kita melewati kesulitan. Jangan tidak tahu berterima kasih!"
"Itu bukan untukmu. Itu milik Elena."
Suara Renata tiba-tiba merendah.
__ADS_1
"Sudah, aku tidak punya waktu untuk mencampuri urusan Keluarga Miller!"
Aidan tiba-tiba menyela, "Aku datang hanya untuk satu tujuan. Aku ingin melamar Elena. Tolong disetujui."
Dia sudah memberi cukup muka dengan permintaan ini. Bagaimanapun, Keluarga Miller bukan lagi keluarga elit seperti dulu!
Apalagi dia sudah menahan diri begitu lama sebelum mengatakannya karena merasa 100% akan berhasil.
Lagi pula, Jansen segera bangkrut. Keluarga Miller pasti kecewa padanya. Daripada memilih menantu, lebih baik memilih diri sendiri.
Setelah Elena mendengarnya, dia berkata dengan marah, "Aidan, jangan terlalu lancang. Menurutmu, aku akan menikahimu?"
"Bukan menurutmu, tapi menurutku!" Aidan sangat percaya diri, "Ada begitu banyak orang tua dan muda di Keluarga Miller. Tanpa seorang menantu yang memuaskan, bagaimana Keluarga Miller bisa bertahan? Di seluruh Ibu Kota, aku, Aidan, adalah kandidat terbaik!"
"Keluarga Miller, pertimbangkanlah baik-baik. Jika kami menikah, tidak ada seorang pun di Ibu Kota yang akan berani menindas kalian. Keluarga Woodley juga akan mendukung
grup keluarga kalian!"
"Katakanlah, berapa banyak uang hadiah pernikahan yang kalian inginkan?"
Dia sudah menunggu Keluarga Miller untuk berbicara.
Melihat hal itu, Jansen tersenyum dingin. Kesabarannya terhadap Aidan telah mencapai batas.
Sudah jelas dia kalah darinya, tapi tidak bertobat. Berulang kali ia memancingnya. Dia pikir, dirinya mudah diganggu?
Dia tidak punya waktu memedulikan pemikiran Keluarga Miller. Lagi pula, itu bukan urusannya!
"Tuan Muda Aidan, maaf. Anak-anak Keluarga Miller menikah sesuai dengan pilihan mereka sendiri."
Leimin menyela, "Meskipun sekarang Keluarga Miller sedang terpuruk, tapi masih belum sampai tahapan mengorbankan diri melalui pernikahan!"
"Leimin, kamu sudah gila!"
Pupil Aidan langsung melebar, sangat terkejut.
Yang dia tahu soal Keluarga Miller, mereka adalah sekelompok orang bodoh yang hanya mencari keuntungan. Tapi mereka malah menolaknya?
"Pendapatku sama dengan kakakku!"
Paman Ketiga, Lucky, juga berkata, "Singkirkan niatmu. Dalam hatiku, suami Elena selamanya adalah Jansen!"
"Benar, meskipun Keluarga Miller mementingkan kekuatan, tapi kami masih memiliki prinsip. Sudah salah sekali, tidak
akan salah lagi kedua kali!" Paman Keempat juga berkata dengan acuh tak acuh, "Jansen adalah menantu terbaik di Keluarga Miller!"
Melihat mereka satu per satu membelanya, wajah Jansen sedikit berubah.
Pikirannya sama dengan Aidan. Keluarga Miller adalah orang yang mementingkan kekuatan. Sekarang dia akan bangkrut, mana mungkin Keluarga Miller mendukungnya?
Perasaan yang aneh tiba-tiba muncul di hatinya, tapi itu terasa hangat!
__ADS_1
Aidan tidak percaya dan berkata dengan marah, "Kalian gila Jansen akan bangkrut sekarang. Semua yang dia lakukan di masa depan akan diblokir. Keluarga Miller akan membelanya
dan mati bersama?"