Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 664. Mobil Mana Yang Ingin Kamu Kendarai!


__ADS_3

"Berapa lama kamu bisa bertahan dengan hidup menumpang? Pria sejati itu adalah mereka yang bisa menghasilkan uang dengan kemampuannya sendiri!"


"Sudahlah, tidak usah memedulikannya, Diana! Ayo, pergilah denganku!"


Irish dan yang lainnya juga mencibir. Kejadian sebelumnya masih terasa mengganjal hati mereka.


Diana tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, tapi aku ingin pergi dengan Kakak Ipar!"


Irish tidak bisa menahan tawa dan berkata, "Memangnya dia punya mobil? Jangan bilang kamu mau ikut naik sepeda bersamanya saat cuaca di luar sana begitu dingin!"


Anzel juga menatap Jansen dengan sorot penuh penghinaan, "Bagiku, kendaraan apa pun yang bernilai di bawah satu juta bukanlah mobil. Sudahlah, percuma saja bicara dengan orang miskin sepertimu!"


Setelah itu, Anzel berjalan menghampiri sebuah mobil Lamborghini berwarna biru. Meskipun mobil itu bukan miliknya, dia tetap berpura-pura. Anzel melambaikan tangannya dan berkata, "Ayo kita pergi naik mobilku,! Akan kubawa kalian semua berkeliling Ibu kota!"


"Wah, Lamborghini! Warnanya juga sangat bagus! Anzel, kamu hebat sekali!"


"Kalau kelak aku mencari suami, aku juga akan mencari pria sepertimu yang memiliki perusahaannya sendiri!"


Alea dan Lila sama-sama terlihat iri.


"Hahaha... Ini hanya mobil sport yang harganya tidak begitu mahal!"


Anzel berkata dengan nada yang terdengar begitu bangga dan menatap Jansen dengan sorot yang lebih menghina. Sementara itu, benak Anzel hendak mengatakan bahwa mobil Lamborghini ini membutuhkan perawatan hari ini dan tidak dapat dipakai keluar!


Nit! Nit!


Namun tepat pada saat itu, Jansen mengeluarkan remote control mobil dan menekannya dengan santai!


Lampu Lamborghini pun berkedip!


Irish dan yang lainnya langsung mematung. Mereka melihat ke arah Jansen yang sedang memegang kunci mobil, lalu ke arah Anzel. Mobil siapa ini?


Ekspresi Anzel sontak berubah drastis. Mobil ini milik Jansen?!


Rasanya dia seperti habis ditampar!


Anzel memaksakan seulas senyum dan berkata, "Hahaha... Terlalu banyak hal yang dimiliki oleh orang kaya sampai-sampai jadi lupa. Maserati merah di sana adalah milikku!"


Anzel pun berjalan mendekati sebuah mobil Maserati berwarna merah.


Irish dan yang lainnya langsung merasa senang lagi. Mereka kira Anzel memang salah mengingat letak mobilnya.


Jansen menggelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan kunci mobil lain dari saku celananya dan menekannya!


Nit! Nit!


Lampu mobil sport merah itu berkedip!


Irish dan yang lainnya sontak membeku lagi!


Anzel merasa seolah habis ditampar lagi dan dia buru-buru menelepon, "Sekretaris, di mana mobil Bugatti milikku? Di mananya Mall Prisma? Cepat kirimkan kuncinya kepadaku agar tidak terlalu merepotkan!"

__ADS_1


Jansen tersenyum dan berjalan mendekat, "Kalau kendaraan apa pun yang nilainya di bawah satu juta tidak bisa dianggap sebagai mobil mewah, kurasa Direktur Anzel tidak akan mungkin bisa menemukan mobil mewah di sini!"


"Apa maksudmu?"


Anzel mengerutkan keningnya.


Jansen mengeluarkan serangkaian kunci, "Maaf, semua mobil mewah seharga jutaan di sini adalah milikku!"


Jari Jansen menekan satu per satu kunci mobil itu!


Nit! Nit!


Suara itu terus berbunyi dan lampu depan dari belasan mobil mewah seharga jutaan Yuan yang terparkir di tempat parkir bawah tanah itu berkedip-kedip hingga rasanya hampir membutakan mata Irish serta yang lain.


"Aku tidak tahu kamu mau menyetir mobil yang mana. Biar kubantu membukakan pintunya untukmu!"


Suasana langsung terasa canggung.


Anzel, Irish, dan yang lainnya berdiri kaku seperti patung batu. Mereka menatap Jansen cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Melihat tidak ada yang berbicara, Jansen menghela napas dan berjalan ke arah Lamborghini yang diperuntukkan empat orang. Setelah duduk di dalam mobil, Jansen pun tersenyum dan berkata, "Diana, masuklah ke dalam mobil. Laras?"


"Aku?"


Laras menunjuk dirinya sendiri dengan gugup. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia naik mobil mewah.


"Ayo pergi, kakak iparku memanggilmu!"


Suasana di tempat parkir bawah tanah itu menjadi hening selama lima menit sebelum Anzel akhirnya berkata dengan ekspresi masam, "Apa yang kamu banggakan? Tetap saja mobil-mobil ini milik Keluarga Miller!"


"Memang. Hidupku jadi enak karena aku mendapatkan istri yang kaya!"


Irish dan yang lainnya juga menjadi iri karena merasa rumput tetangga lebih hijau. Irish pun ikut mengomel, "Grup Dream Internasional bukanlah bagian dari bisnis Keluarga Miller! Diana, mimpi saja sana kalau kamu pikir bisa lolos perekrutan kerja!"


Sedikit rasa percaya diri akhirnya muncul dalam para gadis itu saat berbicara tentang Grup Dream Internasional. Bagaimanapun juga, Maxime adalah manajer divisi di sana.


Brum!


Mesin Lamborghini menderu dan melaju melewati jalanan seperti binatang buas. Semua orang menatap mobil mewah yang lewat itu dengan iri.


"Kakak ipar, apakah semua mobil itu milikmu?"


Di dalam mobil, Diana bertanya dengan penuh semangat.


"Milik kakakmu, Natasha. Dia membutuhkannya untuk bisnis!"


Jansen menjawab dengan santai. Dia tidak peduli dengan uang, apalagi mobil mewah. Sekarang setelah dia berhubungan dengan dunia luar, dia akhirnya mengerti bahwa uang hanyalah benda fana!


"Kalau begitu, aku pinjam satu untuk bersenang-senang, oke!"


Diana menggosok tangannya dengan penuh semangat. Dia tidak tahu seperti apa rasanya mengendarai mobil sport karena belum pernah melakukannya.

__ADS_1


"Apa kamu punya SIM? Aku tidak berani membiarkan kamu mengemudi kalau kamu tidak punya!" omel Jansen sambil tersenyum.


Nyali Diana langsung ciut. Dia baru saja lulus mata pelajaran pertama sedangkan dia belum mengambil ujian untuk mata pelajaran kedua. Diana menolehkan kepalanya untuk menatap Laras dan berkata, "Laras, tidakkah menurutmu kakak iparku ini sangat berlebihan?"


Laras merasa sangat gugup dan bersemangat, terutama karena dia baru pertama kalinya mendengar deru mesin mobil mewah.


"Tidak, menurutku Tuan Jansen sangat baik." Laras balas berbisik, "Tuan Jansen memiliki begitu banyak mobil mewah, tapi dia sangat rendah hati. Dia juga membantu orang yang sudah tua saat melihatnya. Dia jauh lebih baik dari Maxime dan yang teman-temannya!"


"Kamu benar. Kakak iparku bukanlah orang yang sombong dan dia bukan tipe orang yang menggantungkan hidupnya pada istrinya!" sahut Diana dengan gembira.


Laras mengangguk menyetujui.


Jansen yang sedang mengemudikan mobil pun dengan santai bertanya, "Laras, di mana kamu bekerja?"


"Aku baru saja lulus, jadi aku belum punya pekerjaan. Aku datang ke Ibu kota bersama Irish dan yang lainnya untuk bersenang-senang!"


Laras berkata dengan gugup, "Tapi ayahku mencarikanku pekerjaan di Kota Asmenia. Ayahku seorang pegawai negeri!"


"Oh, begitu. Apa kamu ingin datang bekerja di Ibu kota?"


Jansen tersenyum dan berkata, "Kalau kamu mau, aku akan memberikanmu rekomendasi agar kamu bisa bekerja bersama Diana di Grup Dream Internasional!"


"Tentu saja aku mau!"


Mata Laras nampak berbinar-binar, tapi segera meredup. Meskipun Kota Asmenia adalah kota kelas dua, tetap saja tidak sebanding dengan Ibu kota. Selain itu, Grup Dream Internasional adalah grup perusahaan kosmetik nomor satu di Huaxia Katanya, sangat sulit untuk bisa bekerja di sana!


"Kakak ipar, jangan membual!"


Diana segera menarik Jansen karena takut pria itu jadi kehilangan muka saat mengatakan ternyata tidak bisa!


"Silakan kamu melamar pekerjaan di Grup Dream Internasional besok!"


Jansen tidak menjelaskan apa pun karena semuanya akan menjadi jelas besok. Dia pun mengajak Diana dan Laras berkeliling Ibu kota dan baru mengantar mereka pulang ketika hari sudah sore.


Jansen sedang mengemudi pulang sendirian ketika dia mendadak melihat keributan di depan. Sekelompok besar orang sedang berkumpul di sana.


Area ini adalah area pabrik tua yang terletak di pinggiran Ibu kota dan termasuk ke dalam lingkup pembongkaran. Ada banyak pabrik dan perusahaan di sekitar sini. Lingkungan di daerah ini kotor, kumuh, dan berantakan. Sebagian besar orang yang tinggal di sini adalah Karyawan dari perusahaan yang sudah bangkrut dan biasanya hidup dalam kemiskinan.


Jansen menghentikan mobilnya dan berjalan mendekat.


Dia melihat banyak bangunan bobrok dan berbahaya di depan sana. Tulisan "Sedang dalam Pembongkaran" bahkan tertera besar-besar di tembok. Salah satu bangunan yang rawan berbahaya itu runtuh dan orang-orang sedang membantu menyelamatkan mereka yang tertimpa reruntuhan.


Tanpa basa-basi, Jansen segera mengulurkan tangan untuk membantu.


Untungnya, ada banyak orang yang membantu sehingga nyawa dari mereka yang terjebak pun tidak dalam bahaya.


Setelah membantu menyelamatkan para korban, beberapa pria kekar berkata dengan sopan kepada Jansen, "Terima kasih banyak atas bantuanmu, Dik!"


Meskipun cuaca di luar sangat dingin, orang-orang ini hanya mengenakan pakaian yang tipis. Tubuh mereka terlihat kekar dan sepertinya pandai berkelahi pula. Hal yang terpenting adalah mereka semua orang-orang yang baik dan sepertinya tinggal di dekat sini!


Selain itu, mereka juga merasa kagum dengan Jansen. Mereka melihat pria itu datang ke daerah sini dengan mengendarai sebuah mobil sport, tapi Jansen tidak ragu untuk membantu meski harus kotor-kotoran.

__ADS_1


__ADS_2