
"Wajar jika kamu ingin bertemu dengannya, tetapi mengapa kamu tidak kasih tahu dia dulu. Dia sungguh tidak sopan karena membuatmu menunggunya!"
Naomi juga berkata dengan kesal, "Nanti kita masih harus pergi melihat mobil. Suami Agnes kebetulan menjadi kepala cabang dealer mobil itu. Aku dengar juga ada diskon untuk mobil Mercedes Benz!"
"Jalanan di Ibu kota sangat macet, ada mobil pun merepotkan. Aku rasa lebih baik naik kereta bawah tanah saja!" Elena menggelengkan kepalanya.
"Naik kereta bawah tanah malah lebih banyak orang. Apalagi, Kak Elena begitu cantik, tentu akan menarik perhatian banyak orang. Selain itu, kamu selalu pulang ke rumah komunitas, perjalanan butuh waktu tiga puluh menit, naik mobil sendiri lebih cepat sampai!"
Elena langsung mengangguk, "Beli mobil merek lokal saja sudah bagus, beli Mercedes Benz terlalu mencolok!"
"Kamu ini orang Keluarga Miller, tidak boleh pakai ai mobil murahan. Apalagi, suaminya Kak Agnes juga manajer regional, beli mobil dengan dia bisa dapat diskon!"
Naomi berulang kali menasihati. Dia sebenarnya tahu karakter Elena yang keras. Sampai saat ini, Elena belum pernah meminta uang sepeser pun dengan Keluarga Miller. Karena itu, Elena hanya sanggup membeli mobil Mercedes Benz dengan harga terendah mengandalkan gajinya sekarang.
Kebetulan pula, Jansen juga sudah datang.
"Kamu lihat suamimu ini, mobil pun tak sanggup beli. Kamu pasti menderita hidup bersamanya!"
Agnes menyindir Jansen yang datang naik mobil.
Elena mengabaikan perkataan Agnes dan berjalan menyambut Jansen.
"Elena!"
Jansen merasa sangat senang setelah beberapa hari tidak bertemu dengan istrinya. Dia juga masih merasa bersalah karena emosi kepada Elena terakhir kali itu.
"Hah, kenapa mereka juga ada di sini?"
Setelah menyapa Elena, Jansen berubah jengkel karena melihat Naomi dan Agnes juga ada di sana.
"Kalau mereka berdua juga ikut, apa boleh buat!"
Elena meminta maaf kepada Jansen karena tahu Jansen tidak suka dengan orang Keluarga Miller.
"Kamu akhirnya datang juga. Kami sudah tunggu kamu setengah jam di sini!"
Agnes juga datang menghampiri dan berkata, "Dasar tidak berguna! Apakah Kamu sudah dapat pekerjaan? Saat Kak Elena pergi beberapa hari ini, kemana kamu mencari makan? Jangan-jangan, kamu minta uang dari gaji Kak Elena. Dasar
kamu pengangguran! Setengah tahun lagi, Kamu pasti bercerai dengan Kak Elena!"
Sambil menghela napas, Agnes melanjutkan, "Jansen, sebenarnya tidak apa-apa kalau kamu tidak punya uang. Kami Keluarga Miller bisa memberimu sedikit uang, tapi kamu jangan terlalu serakah. Kamu boleh ambil beberapa puluhan juta saja setelah itu silakan bercerai dengan Kak Elena. Itu juga lebih baik untuk semua pihak!"
Jansen kesal dengan omongan Agnes yang tidak ada habisnya.
"Kak Agnes, kamu jangan ikut campur urusan aku dengan Jansen. Kamu pulang saja kalau masih mau ikut campur!"
Elena menegur Agnes. Kalau bukan karena Agnes bersikap ramah kepada dirinya, Elena sedari awal sudah akan mengusir Agnes.
"Oke, oke, aku diam!"
Agnes tidak berani membuat Elena tersinggung, dia hanya tersenyum dan berkata, "Lagi pula, waktunya masih sisa setengah tahun saja. Eh bukan, sisa tiga bulan lagi!"
"Kamu diam!"
Elena akhirnya hilang kesabaran.
__ADS_1
Agnes sontak tak berani bersuara lagi dan hanya berkata, "Ayo, ayo pergi beli baju!"
Meskipun tidak ikut menyindir Jansen, Naomi terus menatap Jansen dengan wajah arogan.
Mereka masuk ke dalam mall dan berbelanja ke setiap toko.
Jansen tidak mengeluh sama sekali karena ingin menebus kesalahannya yang telah emosi kepada Elena ketika itu.
Lagi pula, Jansen selalu membantu memberikan pendapat saat Elena hendak mencoba baju baru.
Di antara begitu banyak wanita cantik yang dikenali Jansen, Elena memang yang berparas paling cantik.
Tubuh Elena tetap terlihat ideal meskipun bertambah gemuk. Dia adalah wanita impian semua pria
"Dasar kamu ini!"
Naomi kesal melihat Jansen terus memandang Elena dan mengabaikan dirinya.
Dia sengaja memilih beberapa Pakaian seksi untuk diperlihatkan di depan Jansen.
Naomi termasuk salah satu dari empat wanita tercantik di Ibu kota. Dia selalu percaya diri dengan penampilannya. Setiap kali dia berjalan di luar, ada banyak pria yang menatapnya.
"Jansen, bagaimana dengan baju ini?"
"Panggil aku kakak ipar!"
"Dasar kamu! Oke, Kakak Ipar, bagaimana dengan baju ini?"
"Tidak ada yang spesial!"
Pria bodoh seperti Jansen tidak bisa menghargai kecantikan Naomi.
Naomi kembali memilih rok selutut dan bertanya dengan manja, "Kakak Ipar, bagaimana rok ini?"
Naomi sengaja menarik-narik ujung roknya.
"Lumayan!"
Jansen hanya melihat Naomi sekilas dan lanjut menatap Elena.
Naomi tak bisa menahan lagi kekesalannya. Dia menatap Jansen dengan pandangan sinis karena Jansen sama sekali tidak menyukai Naomi.
Mereka masing-masing mencoba Pakaian dan setelah itu, membayar di kasir.
Jansen berniat membayarkan Pakaian Elena sekaligus menyenangkan hatinya.
"Jansen, aku sudah gajian, tidak perlu kamu yang bayar!"
Elena menggelengkan kepalanya dan menolak dengan suara pelan, "Lagi pula, kamu baru memulai bisnismu sekarang. Kamu perlu keluar banyak biaya. Kamu tidak boleh terlalu boros!"
"Tidak apa-apa, itu tidak seberapa. Aku tidak masalah!"
Jansen merasakan kehangatan Elena yang masih perhatian. kepada dirinya. Awalnya, Jansen pikir Elena bersikeras ingin membayar sendiri Pakaiannya karena masih marah dengan dirinya.
Istri yang penuh perhatian seperti Elena tentu adalah istri yang patut disayang.
__ADS_1
"Memang tidak seberapa, tapi kamu tetap bisa menabung. sedikit demi sedikit. Lagi pula, aku menunggu kamu bisa membawaku pergi dari Keluarga Miller tiga bulan kemudian!" Elena membayar sendiri di kasir
Jansen tahu karakter Elena dan tidak menghentikannya.
Perkataan Elena ini mengingatkan Jansen tentang perjanjian dengan Keluarga Miller yang tersisa tiga bulan lagi.
Jansen sangat beruntung telah berhasil memantapkan diri di Ibu kota apalagi dia juga baru memulai bisnisnya.
Setelah membantu Tuan Hilton mengatasi berbagai masalah, Jansen semakin paham dengan rumitnya kehidupan di Ibu kota.
Delapan keluarga elit khususnya empat keluarga elit teratas memiliki sejarah yang panjang. Selain itu, mereka juga punya banyak sekali master bela diri yang memegang kekuasaan penting. Karena itu, Jansen harus membangun hubungan baik dengan keluarga elit ini selangkah demi selangkah.
"Orang macam apa dia ini? Dia malah menyuruh istrinya bayar sendiri, sungguh memalukan!"
Agnes kembali dai luar toko. Dia baru saja membeli Pakaian yang mahal, sedangkan Pakaian yang dipilih Elena berharga standar, mereka berdua pun tidak berbelanja di toko yang sama.
"Jansen, kamu seharusnya juga mencari pekerjaan yang bagus. Kak Elena bisa membeli Pakaiannya sendiri, tapi jangan sampai kamu juga memintanya membelikan Pakaian untukmu!
Naomi datang mengingatkan Jansen lagi seolah masih tidak puas dengan kejadian sebelumnya.
Jansen malas menghiraukan mereka. Dia pergi dulu meninggalkan mereka.
"Di mana Jansen?"
Setelah Elena membayar di kasir, dia datang menghampiri mereka.
Agnes mengeluh, "Elena, kenapa dia menyuruhmu bayar sendiri? Dia sampai segitu miskinnya!"
"Dia tidak miskin, dia sebenarnya punya banyak uang, aku hanya tidak ingin dia membuang-buang uang!" Elena menggelengkan kepalanya.
"Kamu bohong!"
Agnes tidak mungkin percaya dengan perkataan Elena karena dia merasa Elena sedang membela Jansen.
Naomi malah bertanya, "Kak Elena, siapa yang membeli Pakaian kakak ipar?"
"Aku!"
"Dia memang pria lemah!"
Penghinaan yang dilakukan Agnes dan Naomi terhadap Jansen semakin menjadi-jadi.
Jansen malas menghiraukan mereka karena suasana hatinya sedang baik apalagi Elena juga tidak marah dan selalu memberi perhatian kepada dirinya.
Saat berjalan santai di dalam mall, dia tiba-tiba melihat sebuah piano yang ditaruh di lobi mall.
Dia teringat dengan piano yang pernah dia jumpai di rumah Joshua. Karena sudah lama tak bermain piano, dia pun menghampiri piano itu.
"Bolehkah aku main piano ini?"
Jansen bertanya pada petugas mall.
"Boleh, silakan!"
Jansen langsung duduk dan mencoba mengingat kembali lagu kanon yang akan dimainkan.
__ADS_1
Daya ingat Jansen memang luar biasa. Dia pernah membaca buku musik piano di rumah Joshua sehingga dia sudah hapal nada lagu yang akan dimainkan.