
Salah satu dari mereka berbadan kurus dan wajahnya penuh bopeng. Ia menatap Jansen dengan jijik dan meraung, "Siapa yang bermarga Brown? Memangnya kita bukan manusia? Coba katakan, kita manusia atau bukan!"
Suaranya seperti guntur yang memekakkan telinga!
Jansen sedikit mengernyit dan dikejutkan oleh pria ini. Orang normal mana yang berbicara sekeras itu.
Anak-anak muda di sekeliling juga menghampiri, berjalan dengan angkuh, tubuh penuh tato, sangat bebas dan santai.
"Kak Erlang bertanya padamu!"
Mereka semua menatap Jansen sambil tersenyum tipis.
"Aku bertanya padamu, apa kamu mendengarku? Kita manusia atau bukan?"
Pria itu berdiri dan berteriak. Suaranya sekeras sebelumnya.
"Apa kamu gila?"
ucap Jansen santai. Ia hanya mengucapkan salam dan orang ini langsung berteriak histeris. Apa lagi jika bukan gila.
Namun, dia juga bisa memahami bahwa orang-orang ini sebenarnya adalah gangster yang suka menggertak dan mengintimidasi orang dengan suara keras.
Efeknya lumayan bagus juga. Jika orang lain yang ada di sini dan melihat orang ini berteriak, mungkin keberaniannya akan berkurang setengah.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa orang ini menjijikkan.
"Kamu mencari seseorang yang bermarga Brown. Ada banyak yang bermarga Brown di sini. Tidak tahu siapa yang kamu cari!"
kata seorang pria dengan bekas luka di sudut mulutnya dan fisik yang kuat sambil tertawa di sampingnya.
Dia berbicara layaknya orang normal, tetapi tatapan matanya tajam. Lihat saja sudah tahu jika dia orang yang galak, telapak tangannya juga kapalan, kelihatannya sering berkelahi.
"Siapa orang bermarga Brown yang kamu cari? Katakan!"
Pria yang bersuara keras tadi kembali berteriak, sikapnya arogan.
Jansen mengabaikannya dan berkata pada pria dengan fisik yang kuat, "Aku juga tidak tahu namanya. Seseorang memintaku untuk menemuinya di sini!"
"Kamu bahkan tidak tahu siapa nama orang ini. Untuk apa kamu datang ke sini? Untuk makan kotoran?" teriak pria bersuara keras itu lagi, ludahnya beterbangan sejauh satu meter.
Jansen memiringkan tubuhnya untuk menghindarinya dan terus memandangi pria kuat itu.
"Karena sudah ada janji, bukannya kamu tidak boleh masuk, tapi lebih baik kalau kamu melaporkan namamu dulu!" kata orang kuat itu sambil tertawa.
"Kamu dengar itu? Siapa namamu?"
si Suara Keras itu sangat menyebalkan.
"Jansen Scott!"
Jansen tetap tidak menghiraukannya.
Mendengar ini, mata pria kuat itu berkedip. Dia jelas pernah mendengar nama ini.
Yang mengejutkannya adalah seorang bos besar dari Dunia Jianghu terlihat masih sangat muda dan penampilannya biasa-biasa saja.
"Kamu Dokter Jansen?"
tanya orang kuat itu.
"Benar!"
__ADS_1
Jansen mengangguk.
Pria kuat itu tampak tenggelam dalam pikirannya dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Kalau orang lain yang masuk, itu tidak akan menjadi masalah besar, tapi kalau Dokter Jansen, maka perlu diuji dulu. Bagaimanapun kita juga takut kalau ada yang palsu. Kalau nanti ketahuan bahwa kamu palsu, habislah kamu!"
"Kamu dengar itu? Kalau nanti ketahuan palsu, habislah kamu!"
Si Suara Keras itu benar-benar menjijikkan.
Orang-orang di sekeliling memperlihatkan senyum penuh canda. Orang yang kuat itu dipanggil Kak Yosha. Dia adalah bos besar mereka, gayanya arogan dan tindakannya kejam, tidak ada yang tidak berani dia lakukan. Namanya sangat terkenal di luar sana.
Sekarang, Kak Yosha mengincar pemuda ini dan dia akan menderita.
"Apa kamu dengar itu!"
Si Suara Keras itu berteriak lagi, "Cepat buktikan dirimu!"
Jansen langsung menyipitkan matanya dan menyapukan sebuah tamparan.
Plak!
Pria kuat itu melotot. Tak diduga, pemuda yang tadinya masih berbicara baik-baik itu tiba-tiba bergerak. Dia menahannya dengan satu tangan!
Krek!
Tulang-tulangnya seakan patah, dia terbang puluhan meter jauhnya seperti ditabrak mobil.
Sekeliling terdiam sejenak, kemudian suara marah terdengar.
Tidak ada yang menduga jika Jansen akan tiba-tiba melakukan pergerakan dan pergerakannya itu tanpa belas kasihan.
Melihat Kak Yosha lagi, dia telah bangkit berdiri dan lengannya kesakitan parah seperti sudah patah, tetapi masih bisa mencibir dan berkata, "Sepertinya kamu bisa bertarung dengan sangat baik. Aku paling suka bertarung dengan seorang master!"
Setelah mengatakan ini, sejumlah besar orang berjas hitam berlari keluar dari gang dan jalanan di samping. Mereka berkerumun mengelilingi Jansen.
Di daerah ini, perkelahian jalanan adalah kejadian biasa. Untungnya, Kak Yosha dan yang lainnya bisa menjaga sikap, mereka tidak akan mengganggu penduduk setempat, jika tidak, penduduk setempat pasti sudah habis karena kabur.
"Habisi dia!"
perintah Kak Yosha yang memilih untuk tidak bertarung satu lawan satu.
Semua orang bergegas menyerbu, menggenggam batangan besi dan pipa baja, mereka siap mati.
Bam!
Ekspresi Jansen datar, menendang dengan satu tendangan. Seseorang ditendang di bagian dada dan terbang pergi seperti sebuah karungan pasir, menabrak jatuh belasan orang.
Bam!
Jansen menyapukan pukulannya. Tulang dada seseorang patah dan dia terbanting ke dinding.
Bam! Bam! Bam!
Gerakan Jansen terkesan sederhana, namun kekuatannya tidak kecil. Orang yang terkena serangannya, tidak mampu bangkit lagi. Jansen menggelengkan kepalanya sembari bergerak, ekspresi wajahnya penuh dengan penghinaan.
Banyak orang yang melihat ke bawah dari lantai dua toko-toko di sekeliling. Mereka terkejut melihat kelakuan Jansen.
Pendatang ini cukup sombong juga.
Harus dikatakan, gayanya menggelengkan kepala saat memukuli orang membuat orang-orang sangat marah.
Bam! Bam! Bam!
__ADS_1
Jansen terus memukul hingga dia sampai di posisi Kak Yosha berada. Tiba-tiba kecepatannya meningkat dan dia memukul bahunya.
Bam!
Kak Yosha seperti ditabrak kereta api dan dibanting ke dinding oleh Jansen. Dinding itu hampir ambruk.
Argh!
Kak Yosha menyemburkan darah, tetapi orang ini benar-benar mengerikan. Meski telah terluka, gayanya tetap angkuh.
Orang-orang seperti dia tadinya adalah warga negara yang baik. Akan tetapi, karena mereka pernah diintimidasi, mereka bergabung dengan perkumpulan seperti itu di tengah jalan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang jujur yang bergabung, mereka adalah orang-orang kejam, kejam terhadap musuh dan juga terhadap diri mereka sendiri!
Derajat mereka bisa diangkat dan kebetulan yang diperlukan hanyalah jiwa liar yang tidak takut mati.
Sayangnya, jiwa liar mereka ini bertemu dengan Jansen.
Jansen memeluk Kak Yosha di bagian perutnya dan membantingnya ke belakang. Terdengar suara bantingan dan tanah pun serasa bergejolak.
Setelah itu, tanpa menunggu Kak Yosha bangkit, Jansen mendudukinya dan langsung memberinya tinjuan menghujam seperti hujan.
Dia benar-benar mengabaikan orang-orang di sekelilingnya dan secara agresif menghancurkan moral mereka.
Bam! Bam! Bam!
Tinjuan demi tinjuan mendarat keras di wajah Kak Yosha.
Kak Yosha masih merasakan pusing pasca dibanting ke belakang. Lalu wajahnya menjadi tak berbentuk, masam, pedas dan pahit bercampur. Wajahnya kelihatan seperti tong cat.
Jansen mengacungkan jari tengahnya kepada orang-orang di sekelilingnya saat memukulinya. Di depan mereka, dia memukuli bos besar mereka dengan kejam. Dia sangat gila.
Tapi bisa dikatakan, perkelahian gangster jalanan seperti ini, menggunakan tangan kosong dan tidak menggunakan seni bela diri, cukup keren.
Tak heran jika banyak orang suka bertarung secara berkelompok.
Para gangster di sekeliling tampak membunyikan batangan besi dengan diketuk-ketuk, tetapi mereka sebenarnya takut.
Dari mana asal pria galak itu? Bahkan Kak Yosha bisa dipukuli sampai seperti ini. Asal tahu saja, Kak Yosha adalah orang gila yang pernah melawan 100 orang sendirian!
Para penonton di lantai dua itu juga terkejut. Untuk pertama kalinya, mereka melihat Kak Yosha dipukuli seperti ini.
Jansen meninju lebih dari belasan kali berturut-turut, dan segala kesombongan pun padam. Ia bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu hotel.
Tidak ada yang berani maju, semua hanya berpura-pura mengetuk batangan besi. Meskipun wajah mereka terlihat galak, tetapi mereka sebenarnya hanya berpura-pura.
Jansen berjalan ke depan si Suara Keras itu.
Pria dengan wajah penuh bopeng itu berdiri di sana, tidak berani bergerak.
"Apa kamu masih ingin aku membuktikan diriku!"
Jansen memandang rendah dirinya.
Si Suara Keras itu tak berani bersuara. Orang seperti dia ini, makin keras suaranya berarti makin bersalah, hanya berani menggertak yang lemah tapi takut dengan yang lebih kuat, tipikal penindas.
Lagi pula, jika dengan bersuara keras saja bisa menyelesaikan masalah, apa gunanya masih punya kepalan tangan!
"Aku bertanya apakah kamu perlu bukti!"
Jansen tiba-tiba berteriak, lebih keras dari si Suara Keras itu sebelumnya, hampir memecahkan gendang telinga si Suara Keras.
Mau beradu suara keras?
__ADS_1
Lihat suara siapa yang lebih keras!