
Pria itu menyeruput teh, lalu memasukkan cerutu ke dalam mulutnya dan menarik napas dalam-dalam serta memperlihatkan gigi berantakan yang rusak. Saat ini, telepon berdering. Pria itu mengabaikan polisi bersenjata di bawah dan perlahan menjawab telepon.
"Adikku sudah meninggal!"
Tiba-tiba, suara pria itu berubah menjadi suram seperti ular berbisa.
"Barrack, kamu telah melanggar sejumlah hukum internasional. Segera menyerah! Kalau tidak, kami akan mengambil tindakan tegas!"
Di bawah, pria berkacamata itu memegang pengeras suara dan berteriak.
Dor!
Begitu selesai berbicara, lengan tangannya yang memegang pengeras suara putus dan dia berteriak kesakitan.
Tuk, tuk, tuk.
Hampir pada saat yang bersamaan, tiba-tiba, segerombolan penduduk muncul di desa yang awalnya kosong. Mereka memegang senjata dan mengarahkannya kepada para polisi.
"Jangan tembak, kami di sini untuk membebaskan kalian."
Polisi berteriak cemas. Namun, mereka tetap dipukuli hingga berlumuran darah.
Dalam waktu kurang dari lima menit, lebih dari belasan polisi bersenjata terbunuh dan semakin banyak orang berkumpul mengepung mereka. Dilihat dengan cermat, mereka semua adalah penduduk desa, tetapi mereka mempunyai armada bersenjata.
Pria itu beranjak keluar dari rumah kayunya dan berjalan mendekat. Satu tangan memegang cerutu dan tangan yang satunya memegang senjata AK. Pria itu berjalan samping polisi yang berkacamata. Hingga saat ini, dia adalah satu-satunya orang yang tidak mati.
Polisi menatap pria itu dengan ketakutan dan gemetaran. Mulutnya terus mengeluarkan darah.
"Jangankan polisi, bahkan meskipun tentara yang datang, mereka juga akan mati di sini."
Dengan senjata AK di tangannya, pria itu memukuli polisi berkacamata sampai seluruh tubuhnya berkedut dan kesakitan. Setelah itu, pria itu mengarahkan senjata AK miliknya sambil berbicara kepada bawahannya, "Adikku, Barrow, sudah mati. Selidiki penyebabnya!"
"Barrow melakukan bisnis di Huaxia yang di mana merupakan daerah terlarang bagi tentara bayaran," jawab seorang pria berkepala botak yang mengenakan kalung emas.
Tiba-tiba, pria ini mengeluarkan sebuah pistol dan menunjuk ke arah sih botak, "Panther, semua barang yang kamu ambil akan aku berikan secara gratis. Aku hanya menginginkan nama orang yang membunuh adikku. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, mati saja!"
"Bos Barrack, jangan gegabah. Aku akan mencari tahu masalah ini untukmu."
Sih botak segera menjawab. Dia tahu, Barrack adalah raksasa yang menguasai narkoba, belasan desa berada di datang tangannya. Ditambah, dia memiliki armada bersenjata. Dia tidak boleh diremehkan.
__ADS_1
....
Di sisi lain, Elena membawa Jansen pulang. Dalam tugas ini, tidak ada sandera yang meninggal. Misi berhasil diselesaikan dan atasan juga memberikan mereka penghargaan.
Tentu saja, ini adalah alasan kenapa Elena menyembunyikan tindakan Jansen yang tanpa perintah. Kalau tidak, sejak awal, Jansen sudah diberhentikan dan diinvestigasi.
"Yang Penatua Jack katakan benar adanya. Orang ini adalah keturunan monyet!"
Meski memberikan kontribusi yang besar, diam-diam, Elena juga menghela napas.
Sesampainya di rumah, Elena mandi, lalu keluar dengan handuk dan menyeka rambutnya yang basah.
Tatapan Jansen tertuju padanya. Dia melihat handuk hanya menutupi bagian paha Elena. Kakinya yang putih dan ramping terlihat. Dia memakai sandal dan jari kakinya dicat dengan kutek berwarna biru. Dia sangat indah seperti sebuah karya seni. Sulit dibayangkan betapa menariknya sesuatu yang berada di belakang handuk ini.
Elena sedang menyeka rambutnya. Melihat ruangan yang tiba-tiba sunyi, dia mengangkat kepalanya dan melihat tatapan berhasrat Jansen.
Hatinya langsung tersentak.
"Elena!"
Jansen berteriak pelan, tetapi suaranya yang ajaib membuat hati Elena terasa gatal.
Di awal pernikahan mereka, Elena merasa jijik, benci dan menghina Jansen. Namun, lambat laun, dia melihat kelebihan Jansen yang mengubah rasa jijik menjadi kagum, kemudian cinta dan pengakuan. Namun, saat itu, dia masih tidak bisa menerima kenyataan mengenai hubungan suami istri ini. Ditambah, keduanya mengalami banyak pasang surut. Perasaan di antara mereka bukan lagi sebagai suami istri tertulis, tetapi suami dan istri yang sebenarnya. Jansen telah mendapatkan hati Elena sepenuhnya.
Seluruh tubuh Jansen langsung terasa panas. Tanpa bicara, dia menggendong istrinya yang cantik ke tempat tidur.
Tidak perlu ditanyakan, malam ini tidak akan tidur.
Tentu saja, malam ini juga merupakan malam di mana Jansen dan Elena menjadi suami dan istri sepenuhnya.
Keesokan paginya, Jansen menatap Elena yang tersenyum di atas tempat tidur. Mereka tidak tidur semalaman dan rasa puas terpancar di wajah Elena.
"Jansen, jangan lagi, kamu sudah menyiksaku semalaman. Sana, turun sarapan, aku mau menambah tidurku."
Elena tersipu dan berkata dengan tidak berdaya. Melihat gelagat Jansen, dia tahu, Jansen pasti masih mau.
"Baiklah, istirahat yang baik."
Jansen memukul bagian belakang kepalanya, lalu mandi dan turun.
__ADS_1
"Wah, Kakak Ipar, kamu sangat ganas. Kamu bekerja sangat keras sepanjang malam. Aku sampai mendengar teriakan kakakku sepanjang malam."
Baru saja berjalan keluar dari pintu, Diana berlari seperti penyihir kecil. Dia mengamati Jansen dari atas hingga ke bawah, wajahnya terlihat sangat puas.
"Dasar anak nakal, kamu menguping lagi?"
Wajah Jansen memerah. Bagaimanapun, pasti canggung dan malu kalau hubungan suami istri seperti ini diketahui oleh orang luar.
"Apa yang kamu takutkan? Kita semua adalah keluarga. Aku bahkan masih menunggu kakakku melahirkan seorang anak laki-laki yang gendut."
Diana bukanlah orang yang konservatif. Dia berkata dengan acuh, "Oh iya, kalau kamu belum kenyang, aku juga bisa, loh!"
"Enyah!"
Melihat Diana yang tidak sopan, Jansen memarahinya, lalu berjalan ke lantai satu.
Hanya terlihat Ibu dan Ayah Elena yang sedang sarapan. Begitu melihat Jansen, mereka tersenyum dan menyapa. Namun, sepertinya mereka tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Setidaknya, Jansen sudah tidak secanggung tadi.
"Ayah, apakah ada masalah?"
Setelah sarapan semangkuk bubur, Jansen melihat Ayah Elena tidak banyak bicara, dia merasa ada yang tidak beres. Dia pun bertanya, "Apakah ada masalah dengan gedung perkantoran pabrik?"
"Tidak apa-apa, gedung perkantoran pabrik pindah ke Western Union, tempatnya sangat bagus. Kamu jangan terlalu banyak berpikir!" senyuman Ayah Elena terlihat agak dipaksakan.
"Ayah, kita semua adalah keluarga. Untuk apa menyembunyikannya? Ditambah, sekarang Jansen sudah mampu. Siapa tahu Jansen bisa membereskan masalah ini?" kata Ibu Elena secara tiba-tiba.
"Hah, semua orang mengenal Jansen. Mereka tidak menghargainya. Yang ada, mereka memarahi Jansen pecundang, bukan pria sejati!" Ayah Elena menghela napas.
Mendengar suaminya membahas hal yang tidak pantas, Ibu Elena melototi suaminya, lalu berbicara kepada Jansen, "Begini, perusahaan yang bekerja sama dengan ayahmu masih berhutang 50 juta kepada pabrik, tagihan baja belum dibayarkan. Setiap kali meminta mereka membayarnya, mereka selalu bilang nanti. Mereka sudah menundanya lama. Sekarang, pabrik ayahmu membutuhkan dana untuk diputarkan, hanya kurang uang ini saja."
"Apakah mereka tidak dituntut ke pengadilan?" Jansen mengerutkan kening.
"Mereka tidak bisa dituntut. Mereka ada grup perusahaan yang besar. Ditambah, mereka juga tidak bilang tidak mau bayar, tapi terus menundanya. Kalau aku lihat, mereka memang mengelak, mereka tidak mau bayar," kata Ibu Elena.
"Begini saja, kebetulan hari ini aku libur. Aku dan Jansen akan pergi menanyakannya."
Saat ini, Elena berjalan menuruni tangga. Namun, dia terlihat agak kesulitan berjalan sehingga membuat Ibu Elena merasa aneh dan mengira putrinya terluka. Tentu saja Elena tahu alasannya bisa seperti ini. Dia melototi Jansen dengan galak.
Jansen tertawa, "Ayah, apakah kamu tahu alamat perusahaan itu?"
__ADS_1
Ayah Elena segera memberikan alamatnya kepada Jansen. Setelah Elena selesai makan, keduanya pergi bersama-sama.
Sebenarnya, 50 juta bukanlah masalah besar di mata Jansen. Namun, Jansen takut gegabah mengeluarkan nya. Sedangkan Ayah Elena tidak berani menagih karena masalah gengsi.