Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 350. Elena Yang Bersedih!


__ADS_3

" Jansen , terima kasih banyak untuk tadi ! " Olivia buru - buru berterima kasih kepada Jansen .


"Untuk apa berterima kasih kepadaku, tapi untuk kedepannya kurang - kurangilah datang ke tempat seperti ini. Bukankah Kak Natasha telah mengatur pekerjaan untukmu ? Kenapa kamu tidak bekerja saja dengan baik ? " tanya Jansen.


" Aku hanya ingin mencari lebih banyak uang saja, baiklah aku akan mendengarkanmu , kedepannya aku tidak akan datang ke tempat seperti ini lagi ! "


" Pulanglah , jangan khawatir Tuan Billy itu tidak akan berani mencarimu untuk balas dendam , benar kan Penatua Jack ? " Ketika Jansen mengatakan ini , sorot matanya menatap Penatua Jack lagi .


Ternyata bocah ini bisa menggunakan kekuatannya untuk menarik perempuan , lalu dia mengangguk pada Olivia , " Jangan khawatir , bocah itu tidak akan berani mengganggumu lagi kalau dia datang sembarangan , aku yang akan mengulitinya ! "


" Terima kasih, Penatua Jack ! "


Olivia buru - buru pergi , meskipun dia ingin berbicara dengan Jansen tapi karena kehadiran Penatua Jack jadi Olivia juga sadar kalau waktunya tidak pas .


" Penatua Jack , sepertinya bawahan Billy ini juga lumayan , apakah mereka juga belajar dari kakeknya? " Tanya Jansen dengan santai sambil kembali duduk bersama Penatua Jack .


" Iya , pada masa itu keluarga Moore adalah bajak laut . Mereka mengerahkan banyak kekuatan saat melawan saingan nya, selain itu seni bela diri mereka telah diwariskan dari generasi ke generasi , makanya seni bela diri mereka sangat bagus . Apalagi Kakek Moore sekarang , meskipun dia sudah tua tetapi seni bela dirinya adalah yang pertama di Kota Asmenia ! " ujar Penatua Jack menjelaskan .


" Tidak heran kenapa Penatua Jack memberikan dia muka ! " Jansen mengangguk.


" Haha , seni bela diri Kakek Moore memang sangat hebat , dia juga seorang pengusaha besar , selain itu dia memiliki persahabatan yang baik denganku ! " seru Penatua Jack sambil melirik Jansen , " Tapi seni bela dirimu juga sangat bagus , kalau ada kesempatan aku akan memperkenalkannya kepada kalian ! "


Seketika Jansen tidak bisa mengatakan apa - apa . Faktanya , dia dan Kakek Moore sudah pernah bertemu, tapi dia merasa seni bela diri Kakek Moore bukan apa - apa , yang membuat Jansen takut mungkin hanya koneksinya saja !


" Jansen coba katakan kepadaku , bagaimana kamu bisa menaksir Elena ? "


" Penatua Jack , kalau aku mengatakannya , pasti anda akan menganggap ini sebagai lelucon . Sebenarnya karena aku suka bermimpi , dan di mimpiku ini aku adalah seorang jenderal kuno dan Elena - lah putrinya , sang jenderal akan selalu melindungi sang putri ! "


"Sial , Jansen apakah kamu terlalu banyak minum , bahkan masalah mimpi saja kamu percaya ? "


Setelah sekian lama mengobrol dengan Penatua Jack , beberapa lama kemudian , Jansen teringat dengan kencan terakhirnya yang terlambat , kemudian bergegas untuk pulang .


Sesampainya di rumah , Jansen membuka pintu ruang tamu pada pukul sebelas . Hanya melihat orang tua Elena sedang menonton TV . Mereka pun tersentak kaget saat melihat Jansen yang masuk , lalu perlahan wajah mereka menjadi sangat senang !

__ADS_1


" Ayah , Ibu ! "


Jansen buru - buru menyapa mereka .


"Jansen ada apa denganmu dan Elena ? Beberapa hari yang lalu dia pulang dengan sangat sedih, selain itu beberapa hari ini dia tidak mau makan, dipanggil juga tidak menyahut. Apakah kalian bertengkar lagi ? " tanya Ibu Elena dengan raut wajah yang khawatir .


Jansen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut kemudian menjelaskan, " Semua ini salahku, terakhir kali aku membuat kencan ke bioskop dengan Elena , tetapi aku telat jadi wajar saja kalau Elena sangat marah! "


"Benar-benar Elena ini, padahal hanya menonton film. Kalau hari ini tidak dapat menonton, kan masih bisa besok, untuk apa dia sedih ! " ujar Ibu Elena dengan nada yang tidak puas.


Sebenarnya Jansen tahu kalau film itu sangat penting dan bukan sekedar film , entah untuk Elena atau Jansen hal itu sama pentingnya dengan pernikahan !


" Tidak apa - apa , aku akan membujuknya ! " Jansen buru - buru menenangkannya .


Namun pada saat ini Diana berlari turun dari lantai dua. Dia langsung melingkari lengan Jansen sambil berkata, " Kak, cepat bujuk kakak, dari kecil sampai besar, ini adalah yang pertama kalinya aku melihat dia begitu sedih, saking sedihnya dia tampak seperti kehilangan jiwanya ! "


Setelah jeda sesaat , Diana berbisik lagi , " Bahkan ketika kalian bertengkar karena Ervan terakhir kali , dia tidak pernah sesedih ini ! "


"Aku mengerti "


Detik ini , Elena sedang mengenakan piyama , dalam keadaan linglung tidak bisa tidur di ranjang . Beberapa hari ini dia tidak bisa tidur nyenyak dan hari ini dia tidak dapat menahannya lagi . Dia berbaring di tempat tidur dan mengistirahatkan matanya , tetapi dalam keadaan yang linglung tanpa sadar dia bergumam , " Jan , Jansen ! "


Dengan teriakan ini tanpa sadar dia langsung terbangun dan melihat hanya ada bantal dan guling di sampingnya . Hatinya pun seketika masam kembali .


Meratapi kamar yang kosong , Elena menatap ke tempat tidurnya yang dia sudah kenali , tiba - tiba dia sadar tanpa Jansen kamar ini hanyalah ruangan biasa !


Tetapi Elena juga merasa sangat bersalah pada Jansen , dia rasa dia telah berkali - kali menganiaya Jansen serta menghancurkan hatinya !


Apalagi Penatua Jack pernah berkata kepadanya bahwa faktanya Ervan telah berulang kali menjebak Jansen , dan selama ini Jansen - lah yang selalu berdiri di belakangnya , tetapi Elena tidak pernah mengerti Jansen dan bahkan mengeluh tentangnya . Hal - hal inilah yang membuat Elena merasa seolah - olah dirinya seolah memiliki duri di hatinya.


Ditambah lagi dengan masalah Pulau Hongkong dan terlalu banyak hal yang lain !


Sebenarnya Elena tidak menyalahkan Jansen , karena Jansen menggagalkan kencan mereka . Dia hanya merasa sangat sedih karena berpikir dialah yang telah menyeret Jansen .

__ADS_1


" Elena ! "


Pada saat ini , terdengar suara Jansen dari balik pintu yang membuat Elena merinding . Secara tidak sadar , dia ingin membuka pintu , tetapi ketika dia datang ke pintu dia seperti tertahan oleh dirinya sendiri dan air matanya pun mulai menetes !


Jansen menikahinya tanpa alasan dan bahkan dia telah melakukan banyak hal untuknya , tetapi sebagai seorang istri dia benar - benar tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan Jansen .


Selain itu Elena juga takut kalau dirinya malah akan membawa lebih banyak masalah untuk Jansen.


" Elena , tolong buka pintunya dan dengarkan penjelasanku ! "


Dengan nada yang khawatir , Jansen berkata dari luar pintu , " Sebenarnya malam itu ada kecelakaan , Ervan - lah yang menghalangiku makanya aku datang terlambat . Aku akui keterlambatanku memang salah , tapi tolong berikan aku satu kesempatan lagi ! "


" Kenapa ? "


Elena tidak menjawab pertanyaan Jansen malah sebaliknya , dia bertanya kenapa Jansen begitu baik padanya !


Selain itu, mengingat Ervan yang terus memberikan masalah kepada Jansen, dalam hati Elena sangat khawatir serta semakin membenci dirinya sendiri karena merasa tidak berguna. Dia bahkan tidak bisa membantu Jansen sedikitpun, dan hanya bisa menyalahkannya terus. Hal yang bisa dia lakukan hanyalah membawa masalah untuk Jansen !


"Elena, bagaimana kalau begini, ayo kita pergi menonton film lain, aku sudah memesan tiketnya, aku sudah memesan tiket untuk seminggu penuh!" Suara Jansen terdengar lagi.


Air mata telah bercucuran di wajah Elena , kemudian dia menggertakkan gigi dan memaksa tersenyum , " Jansen maafkan aku , tapi aku sedang tidak enak badan akhir - akhir ini . Aku hanya ingin menenangkan diri sendirian ! "


" Elena , ini salahku ! "


Jansen buru - buru meminta maaf .


" Tidak , itu bukan salahmu , tapi salahku ! "


Elena menghentikan Jansen dari meminta maaf , " Aku benar - benar tidak menyalahkanmu . Selain itu aku juga tidak memiliki alasan apapun untuk menyalahkanmu . Aku , hanya sedang menyalahkan diriku saja , bisakah kamu membiarkan aku sendiri dulu ? Aku mohon kepadamu , Jansen ! "


Hati Jansen seperti ditusuk pisau , tetapi dia menghormati keputusan Elena dan hanya bisa mengangguk , " Baiklah , jangan kelelahan ya , aku akan kembali dulu ! "


Setelah ucapan itu dilontarkan , Jansen langsung pergi dengan sedih . Ketika dia berjalan ke lantai pertama , Diana menghela napas , " Kak , benarkan apa yang kubilang , dia tidak menyalahkanmu tapi hanya sedang sedih saja . Aku juga tidak tahu kenapa dia sedih , kakakku ini meskipun ceroboh , tapi sebenarnya dia sangat perhatian . Dia begitu sedih sepertinya karena dia merasa telah merepotkanmu , bagaimanapun dia sangat peduli dengan orang lain , dan yang paling dia takutkan adalah menyakiti satu sama lain ! "

__ADS_1


Hati Jansen pun terasa semakin tidak nyaman saat mendengarnya .


__ADS_2