Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 471. Empati!


__ADS_3

"Aku, Joshua, dulu keluarga kami yang menyuplai bahan obat-obatan ke Aula Xinglin yang dibuka Kakek Herman!" kata Joshua sambil menunjuk diri sendiri.


Kakek Herman akhirnya ingat dan merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan kenalan dekat di Ibu Kota.


"Dasar kamu, datang ke Ibu Kota juga tidak mengabari aku. Kalau aku tahu, aku pasti menjemput kamu!"


Joshua meninju dada Jansen. Persahabatan antara mereka berdua sangatlah akrab.


"Aku memang lupa!"


Jansen juga ikut bersemangat menceritakan kembali kisah masa kuliah mereka dulu.


"Aduh, kalau aku tidak berjumpa denganmu, aku pun sudah lupa. Sejak aku pergi dari Kota Asmenia, sudah jarang bertemu teman kuliah dulu. Di Ibu Kota ini hanya ada satu teman kita dulu. Oh ya, kebetulan anak itu sudah akan menikah!" ucap Joshua dengan kesal.


"Aku pernah gabung grup WhatsApp alumni, tetapi karena membosankan, aku pun keluar dari grup!"


Jansen teringat dengan acara reuni di Kota Asmenia.


"Joshua, orang ini adalah Jansen, kan?"


Wanita di sebelah Joshua menyela percakapan mereka berdua.


"Benar, dulu kami teman sekelas dan dia adalah sahabatku yang baik!"


Setelah Joshua menjelaskan, dia melihat Jansen lagi dan berkata, "Jansen, ini Cathy yang kelas sebelah itu!"


Jansen menatap wanita itu dan sedikit ingat dengan wajahnya yang terasa tidak asing. Namun, Cathy saat itu masih sangat polos dan belum berubah seperti sekarang.


Tubuhnya dipenuhi berbagai produk mewah meskipun bukan barang kelas satu, tetapi tetap berkelas.


Saat kuliah dulu, Joshua memang sudah jatuh hati kepada Cathy. Akan tetapi, Joshua berulang kali ditolak Cathy. Ternyata sekarang mereka berdua sudah jadi pasangan kekasih!


"Ternyata Jansen!"


Cathy akhirnya ingat. Setelah itu, Cathy juga menyapa kakeknya Jansen dan keluarga dengan sopan.


Pelayan menyerahkan makanan sisa yang sudah dibungkus untuk dibawa pulang lalu berjalan pergi.


Cathy memandang hina Jansen sekeluarga karena membungkus makanan sisa untuk dibawa pulang.


Cathy melihat bungkusan makanan sisa itu dan wajahnya yang terlihat sopan berubah menjadi sombong.


Awalnya, Cathy mengira Jansen punya kehidupan yang bagus di Ibu Kota sehingga dirinya bersikap sopan. Namun, karena melihat makanan sisa itu dibungkus pulang, Cathy


beranggapan hidup Jansen di Ibu Kota cukup susah.


Melihat pakaian Kakek Herman yang terkesan kuno dan kampungan, Cathy semakin yakin dengan pandangannya terhadap Jansen sekeluarga.


"Joshua, kamu ngobrol dulu, aku pergi ke sana mau makan dulu!"


Karena malas meladeni pembicaraan, Cathy pergi duduk ke meja lain


Kakek Herman sekeluarga sontak kaget melihat perubahan sikap Cathy yang begitu cepat.


"Jansen, tak usah hiraukan dia. Dia memang seperti itu sifatnya!"

__ADS_1


Joshua sadar dengan suasana yang menjadi canggung dan mencoba mengembalikan suasana.


Cathy tiba-tiba berhenti sejenak dan berkata dengan sinis, "Joshua, kamu bilang sifatku seperti apa? Dasar kamu ini, harta keluargamu ludes di tangan kamu. Bukannya pergi berkenalan dengan orang kaya lain, kamu malah sok akrab dengan temanmu yang tidak berguna ini. Pasti dia sedang ingin pinjam uang, kan? Aku kasih tahu kamu, kalau kamu masih seperti ini, maka cepat atau lambat aku pasti berpisah denganmu!"


Joshua menundukkan kepala tak bersuara dengan badan gemetaran.


Kakek Herman sekeluarga merasa marah dengan perkataan Cathy. Mereka tidak merasa hendak meminjam uang kepada Joshua atau kawan palsu seperti yang dituduhkan Cathy.


Setelah Cathy pergi, Joshua langsung minta maaf kepada Jansen, "Jansen, mohon maaf atas kejadian memalukan tadi!"


"Tidak apa-apa!"


Jansen tidak peduli dan menggelengkan kepalanya, "Tadi dia bilang harta keluargamu sudah ludes, tapi aku ingat kondisi keuangan keluargamu sangat baik!"


"Ini, setelah ayahku meninggal, bisnis keluarga kami juga merosot ditambah lagi kami membuka perusahaan baru yang butuh banyak pengeluaran. Pengelolaan perusahaan juga sangat jelek sehingga rugi setiap bulannya. Tekanan pun sangat besar!"


"Buka perusahaan baru?"


"Ya, itu perusahaan Cathy yang kelola, tapi aku yang memodalinya!"


Mendengar ini, Jansen mengerutkan kening dan merasa bahwa Cathy telah menipu uang Joshua. Apalagi, harta Keluarga Joshua juga sudah terkuras habis sehingga sikap Cathy terhadap Joshua kian buruk.


"Apa kamu yang mengurus keuangan perusahaan?" tanya Jansen.


"Tentu saja bukan, Cathy yang buka dan kelola, aku hanya mengurus masalah modal!" ucap Joshua sambil menggelengkan kepalanya.


"Berapa banyak modal yang kamu keluarkan?"


"Delapan puluh juta yuan!"


Jansen sontak terkejut karena jumlah kekayaan Keluarga Joshua diperkirakan hanya sejumlah itu dan tampaknya harta keluarganya itu benar-benar ludes semua.


"Joshua, cepat datang kemari!"


Saat ini, terdengar suara Cathy, "Apa gunanya kamu kenal dengan orang-orang miskin, kalau kamu hebat coba pergi berkenalan dengan orang kaya sana!"


Joshua dan Jansen saling bertukar kontak telepon. Setelah itu, Joshua bergegas pergi menghampiri Cathy.


Jansen tiba-tiba merasa empati terhadap Joshua. Saat pertama kali menikah dengan orang Keluarga Lawrence, Jansen juga mendapat perlakuan yang sama seperti Joshua.


Tentu saja, Elena dan Cathy sudah lumayan baik karena mereka berdua selalu setia kepada pasangan.


"Aduh, Joshua!"


Kakek Herman menghela napas dan sepertinya dia sudah paham sesuatu.


"Keluarga wanita itu harusnya biasa-biasa saja, tetapi karena dia tahu Joshua terus mengejarnya sehingga dia pun memanfaatkan Joshua dan menipu uangnya. Joshua terlalu bodoh!"


Sofia bahkan menggelengkan kepala kemudian ikut menimpali Jansen, "Jansen, kamu kan teman kuliah dengan Joshua dulu. Kenapa kamu tidak mengingatkan Joshua?"


"Bagaimanapun juga, aku ini orang luar. Selain itu, kami sudah lama tidak berjumpa sehingga aku tak berani menasihatinya!"


Jansen menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya tahu Joshua belum tentu akan mendengar nasihatnya.


Apalagi, Cathy adalah cinta pertama Joshua dan bidadari di hatinya.

__ADS_1


"Kamu memang tidak berguna! Gara-gara kamu aku melewatkan kesempatan penandatanganan kontrak. Kamu sekarang malah berkenalan lagi dengan orang-orang miskin itu. Kamu memang sulit menjadi orang sukses!"


"Kamu sudah janji akhir tahun ini kita menikah. Apa kamu punya uang untuk menikahiku? Kalau tidak ada, lebih baik. jual saja rumah warisan ayahmu itu!"


Meskipun duduk berjauhan, suara teriakan Cathy yang memarahi Joshua masih terdengar jelas.


Saat ini, beberapa orang masuk ke dalam restoran. Seorang pria yang berpakaian jas oranye berjalan di depan dengan memakai jam tangan mahal. Tampangnya tampak sangat genit.


Penampilan pria itu mirip orang kaya dari keluarga terpandang


"Lho, bukankah ini Tuan Joshua?"


Pria itu menoleh sebentar ke arah Joshua dan menertawakannya lalu berjalan pergi.


Joshua pun sangat marah melihat pria itu.


"Aku sudah lama tidak berjumpa denganmu. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku dengar ayahmu baru meninggal enam bulan lalu. Bisnis keluargamu juga sudah bangkrut, kan?"


"Apakah kamu kekurangan uang? Kalau memang kekurangan uang, kamu boleh ikut denganku, bagaimana?"


Ucapan pria itu semakin keterlaluan seperti sedang mengolok-olok Joshua.


"Tuan Muda Jerry!"


Joshua buru-buru menyapa.


"Aku tadi tanya kamu! Kenapa kamu tidak jawab? Apa kamu meremehkanku?"


Tuan Muda Jerry ini berkata demikian sambil menyipitkan mata.


"Aku mana berani!"


Joshua buru-buru berdiri dan menjawab sambil tersenyum.


Jansen yang berada di kejauhan langsung mengerutkan kening. Saat masih kuliah di Kota Asmenia dulu, Joshua memiliki karakter yang keras. Jangankan teman seangkatan, kakak senior pun tidak ada yang berani mengganggunya. Tak disangka, dia begitu kasihan sekarang


"Kalau kamu tidak berani, coba kasih senyuman kepadaku!"


Tuan Muda Jerry mengangkat dagu Joshua.


Joshua pun langsung tersenyum.


Tuan Muda Jerry mengerutkan kening dan menepuk wajah gemuk Joshua, "Apakah ayahmu mengajarimu tersenyum seperti ini? Tampakkan gigimu saat senyum. Kalau begini, kamu hanya tersenyum di luar, tapi tidak di dalam. Sepertinya, kamu tidak senang denganku!"


"Aku mana berani cari masalah dengan Tuan Muda Jerry, ini aku tersenyum!"


Joshua buru-buru menampakkan giginya dan menuruti perkataan Tuan Muda Jerry.


Keluarga Tuan Muda Jerry sempat berbisnis dengan ayah Joshua dulu, tetapi karena konflik sepeninggal ayah Joshua, dia. selalu menghina Joshua.


"Haha, kamu benar-benar seperti seekor anjing!"


"Siapa suruh dia tidak punya uang. Di Ibu Kota, orang yang tidak punya uang tidak akan punya kedudukan!"


Orang-orang di belakang Tuan Muda Jerry tertawa berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2