
"Bukankah kami sudah mengucapkan terima kasih?"
Wanita itu membalas dengan nada keras kepala.
"Apa kamu tulus dalam meminta maaf? Aku pikir kamu takut kalau harus kasih uang terima kasih. Perempuan seperti kamu ini, tidak melihat siapa yang mencuri uangnya, dan kamu menuduh orang lain, sifat kamu buruk sekali!"
"Sama seperti apa yang dikatakan lelaki ini, keluarga mana yang tidak memiliki kesulitan. kalau keluargamu tidak baik-baik saja, memangnya keluarga orang lain akan baik-baik saja. Dia sudah dituduh olehmu, masuk penjara dan bayar denda. Pada siapa mereka akan ceritakan tentang penderitaan mereka?"
"Kamu tidak bisa melemparkan kesialanmu pada orang lain juga!"
Orang tua itu mengerti dengan situasinya, dia terus menerus memberikan teguran.
"Benar, bagaimana bisa ada orang seperti itu!"
Orang-orang di sekitar mereka juga sedikit demi sedikit mengerti.
Pasangan itu merasa malu, terutama pria paruh baya itu. Dia menatap Jansen dan tidak tahu harus berkata apa.
Gadis cantik itu juga merasa sedikit bersalah karena sudah menganggap Jansen sebagai pencuri sebelumnya.
"Widya, orang ini sangat aneh!"
Teman sekelas yang ada di sebelahnya bergumam dengan suara berbisik, "Orang biasa telah dituduh seperti itu pasti mereka sudah marah besar. Lihat dia yang terlihat begitu tenang, apakah semua pria berumur memiliki sikap yang seperti itu?"
"Mungkin orang lain memiliki Sifat yang baik!" kata Widya tanpa sadar.
"Tidak peduli seberapa baik sifatnya pasti akan marah. Lihat saja dia, dia terlihat seperti pembohong dan pencuri. Aku pikir lebih baik tidak terlalu dekat dengannya!"
Gadis muda itu berkata dengan suara rendah. Melihat bahwa dia akan tiba di stasiun, dia menarik Widya dan pergi.
"Apa yang diributkan? dia saja tidak berbicara. Kalian yang terlalu banyak bicara!"
Pada saat tersebut, wanita itu tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru, kemudian menatap Jansen dan berkata, "Dik, Aku yang sudah salah paham padamu. Aku minta maaf padamu. Tetapi, tradisi di Huaxia adalah tanpa pamrih ketika melakukan perbuatan baik. Kalau kamu mengandalkan rasa kasihan untuk mendapatkan simpati semua orang, maka jangan bermimpi. Aku tidak akan memberimu sepeser uang pun!"
Jansen sedikit mengerutkan keningnya, dia ingin uang?
Pasangan itu hanya memiliki lima puluh ribu yuan, berapa banyak yang bisa mereka berikan padanya?
Selain itu, melakukan hal-hal baik tanpa pamrih, memangnya perasaan orang lain juga berutang padanya?
Tanpa mau repot-repot berhubungan dengannya, Jansen mengemasi barang bawaannya dan pergi. Lagi pula sudah hampir tiba di stasiun
Tidak lama setelah Jansen pergi, para petugas kereta juga datang dan melihat sekeliling mereka. petugas keamanan kereta bertanya, "Eum, di mana Tuan Jansen?"
"Apa Tuan Jansen? Pemuda itu? Dia sudah pergi."
Wanita itu tanpa sadar memegang tasnya seakan takut dirampok. "Kamu di sini untuk memberinya penghargaan, 'kan? Aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak masalah memberikan penghargaan, tetapi jangan berharap kalau mau memberikannya uang."
"Uang apanya? Omong kosong apa yang kamu bicarakan!"
Polisi juga terlihat tidak senang dengan wanita itu. Dia yang kehilangan uang, tapi jadi saksi saja dia menolak. Karena. terlalu banyak orang seperti itu di masyarakat sehingga menyebabkan kasus pencurian sering terjadi.
__ADS_1
Jika semua orang bersama menjadi pencuri, para pencuri itu akan dijatuhi hukuman berat dan tidak akan berani melakukan kejahatan lagi!
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu mau meminta uang denganku dan memberikannya pada pemuda itu sebagai penghargaan." Wanita memasang ekspresi tidak takut. "Jangan pernah bermimpi tentang hal itu!"
"Hera, jangan banyak bicara!"
Suaminya akhirnya tidak bisa menahan kesabarannya, dia menarik wanita itu.
Polisi dan yang lainnya terlihat marah. perempuan ini benar-benar tidak masuk akal!
"Aku beri tahu, kalau memang mau memberikan hadiah padanya, kami dari pihak kereta api yang akan membayarnya sendiri dan tidak akan membiarkan korban yang membayar!"
Polisi itu berkata dengan dingin, "Selain itu, kami hanya memintanya untuk menjadi saksi, dia juga sudah menjelaskan identitasnya. Apakah dia orang yang kekurangan uang puluhan ribu?"
"Dia bos di sebuah perusahaan, dengan nilai pasar miliaran. Pernahkah kamu mendengar tentang Grup Dream Internasional? Pernahkah kamu mendengar tentang Restoran Herbal DoJans? Dia itu bosnya!"
"Kamu hanya punya lima puluh ribu saja? Kamu juga harus lihat apakah dia sudi dengan uangmu!"
Begitu kalimat tersebut diucapkan, wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bentuk seperti dia juga merupakan bos?"
"Kami baru saja memverifikasi identitasnya, kamu pikir kami akan membohongimu!"
Polisi itu tertawa dan berkata, "Selain itu, dia memiliki identitas lain. Dia adalah Dokter Jansen dari Aula Xinglin, seorang dokter terkenal di Ibu Kota!"
Deg!
Wanita itu jatuh dari tempat duduk dan keningnya berkeringat dingin. "Kamu bilang dia adalah Dokter Jansen?"
"Kamu terlalu pelit. Apakah seorang dokter terkenal seperti Dokter Jansen akan mencuri uang puluhan ribu yuan darimu?"
"Pencurinya sudah tertangkap. Kalau tidak, melihat kalian saja akan sangat sulit, kemungkinan dia dapat membantu kamu dengan mengeluarkan puluhan ribu yuan dari sakunya sendiri!"
"Justru kalian yang tidak tahu diri, dia sudah berbaik hati membantu. Kamu malah menyalahkan dia!"
Polisi itu mengatakan kekesalannya, setelah selesai mengatakannya, wajah wanita itu memucat. Dia tidak dapat
menjelaskan betapa bahagianya dia.
"Pemuda itu ternyata dokter genius di Huaxia? Tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya!"
"Wanita ini baru saja mengatakan bahwa orang lain adalah penipu. Dia menggunakan dua rumput liar untuk menipu uang. Padahal dia benar-benar ingin membantu!"
"Hahaha, orang kasihan pasti ada sisi yang dibenci!"
Orang-orang di sekitar sana terlihat senang. Tidak ada yang perlu merasa bersimpati pada orang seperti wanita itu.
"Astaga, dia adalah dokter genius Aula Xinglin. Aku telah menyinggung perasaannya, bagaimana aku bisa memintanya untuk mengobatiku?!"
"Cortez, di mana dua rumput liar yang diberikan dokter genius kepada kita?"
Wanita itu terlihat gusar, dia menatap suaminya dengan mata merah.
__ADS_1
"Kamu sudah membuangnya, kamu masih bisa bertanya?!"
Wajah pria paruh baya itu berubah dingin, seakan dia tidak bisa menahannya lagi. "Aku sudah mengatakannya kemari, tidak peduli apakah itu berguna atau tidak, dia ada niat baik. Justru kamu yang bilang dia mau menipu uang kita, mimpi! Kamu diam-diam membuang obat ramuan itu. Sekarang kamu sudah menyesalinya, 'kan!"
"Bukankah uang ini mau kamu gunakan untuk berobat? Dokter genius ada di depanmu. Kamu tidak mau ke dokter demi uang!"
"Kamu ini!"
Pria paruh baya itu hampir menampar wanita itu, tetapi akhirnya dia menahannya!
"Semua salahku, salahku!"
Wanita yang sebelumnya sombong. Sekarang tengah memukul pahanya dan berteriak, air mata mengalir dengan deras.
Dokter genius sudah memeriksa penyakit mereka, tetapi obatnya dibuang olehnya seolah-olah dia orang paling pintar!
Dia memfitnah dokter genius, bisakah mereka tetap pergi ke Aula Xinglin?
Plak! Plak! Plak!
Memikirkan hal tersebut, dia melayangkan tiga tamparan untuk dirinya dengan pukulan keras.
"Syukurin!"
Orang-orang di sekitarnya tidak merasa simpati sama sekali, mereka merasa sangat puas. "Pak Polisi, aku akan bersujud padamu. Dapatkah kamu membantu aku untuk menemukan dokter genius? Aku ingin minta maaf padanya. Semua uang lima puluh ribu ini akan diberikan pada dia semua!"
Wanita itu berlutut dan kembali bersujud pada polisi, air matanya terus mengalir tanpa henti.
Polisi itu menghela napas. "Dia datang ke sini bukan untuk uangmu. Ketika kami mendengar pengakuannya dia ada bilang agar kamu dapat langsung pergi ke Aula Xinglin untuk berobat. Dia sudah mendaftar dengan nama Hera di kereta!"
"Apa?"
Wanita itu berteriak dan tubuhnya bergetar hebat!
"Dia tidak menyalahkan kami atas apa yang kami lakukan padanya?"
Pria paruh baya itu awalnya tidak menyimpan harapan apa pun, saat ini matanya berbinar seketika.
"Dia adalah seorang dokter terkenal yang baik hati dan pintar. Bagaimana mungkin dia bisa mempermasalahkannya dengan kalian? Setelah kamu pergi ke Ibu Kota, Kalian langsung pergi ke Aula Xinglin!"
Polisi berkata dengan nada kesal.
Pasangan itu tiba-tiba merasa terharu dan tidak bisa berkata apa-apa, hanya meneteskan air mata.
Saat ini, ponsel di tas pria paruh baya itu berdering. Dia mengeluarkannya dan mendapati nomor telepon asing.
"Halo, aku Dokter Monica dari Aula Xinglin, murid dari Dokter Jansen. Dokter Jansen berpesan padaku, bahwa aku harus menyembuhkan kemandulan kamu. Kapan kamu bisa datang ke Aula Xinglin?"
Bruk!
Ponsel pria paruh baya itu jatuh ke tanah dan diam untuk waktu yang lama.
__ADS_1