
Semua wartawan, entah tulus atau tidak, mereka mulai mengucapkan selamat satu demi satu saat ini.
Jansen mengangguk pada Fiscal yang berada di belakangnya, menyerahkan situasi selanjutnya kepadanya untuk diselesaikan.
Setelah menerobos kerumunan, Jansen menuju ke rumah. Dia tidak mengendarai mobil untuk bisa sampai di sana.
Setelah berjalan kaki selama setengah jam, langkah Jansen tiba-tiba berhenti. Dia mengambil koran di pinggir jalan dan duduk di kursi pinggir jalan untuk beristirahat.
"Apa kamu sangat peduli dengan urusan negara?"
Senyuman terdengar di sampingnya. Seorang pria paruh baya juga sedang memegang koran dan duduk dengan menundukkan kepalanya di samping Jansen.
Pria paruh baya ini adalah orang yang sudah mendukung Jansen sebelumnya.
"Tidak peduli!"
Jansen tersenyum dan berkata, "Aku hanya peduli pada mata pencaharian masyarakat!"
"Aku juga!"
Pria paruh baya itu mengangguk pelan, "Sejak zaman dahulu, terlepas dari dinasti kekaisaran mana pun, mereka memiliki kekayaan mereka sendiri. Mereka para rakyat tidak diperbolehkan ikut campur. Aku percaya jika pejabat kita tidak akan mengecewakan kita. Oleh karena itu, orang biasa tidak perlu khawatir tentang urusan nasional. Mereka hanya perlu peduli dengan mata pencaharian orang-orang."
"Kamu benar, tetapi jika negara ini dalam masalah, selama mereka membutuhkanku, aku akan membantu!" Jansen menyatakan sikap setujunya, kemudian berbalik menatap pria paruh baya di sampingnya, "Untuk yang barusan, terima kasih!"
"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, aku muncul hanya karena aku adalah orang Huaxia!"
Pria paruh baya itu berkata dengan tenang.
Dia mengenakan pakaian yang sangat biasa, pakaian kain dan sepatu, persis seperti orang yang sedang berlatih di taman. Dia berpenampilan polos dan hampir tidak memiliki ciri-ciri khusus. Jika dia turun ke jalan, diperkirakan tidak ada yang akan memperhatikannya sama sekali.
Namun, tatapan matanya sangat berkilau, kombinasi kesederhanaan dan ketajaman membuatnya terlihat sangat aneh.
"Aku tahu jika kamu adalah orang Huaxia yang berprinsip!"
Jansen mengangguk pelan, mengatakan, "Ketika orang-orang tidak bertanggung jawab memfitnah Huaxia, aku tahu jika kamu lebih terpancing daripada orang lain!"
"Di mana misi berada, di situlah garis keturunan menyertai!"
Pria paruh baya itu menimpali singkat.
"Apa pun yang terjadi, aku tetap harus berterima kasih. Bagaimanapun, kita adalah kawan yang berdiri di pihak yang sama dan sekutu di medan yang sama!" Jansen melanjutkan, "Tapi, kamu mengundang wartawan ini ke sini bukan untuk melihatku membodohi diriku sendiri, bukan?"
"Kamu menyadarinya?"
Wajah pria paruh baya itu terlihat masih tenang.
Jansen tidak menyembunyikan apa pun darinya, mengatakan, "Orang-orangku sudah mengetahuinya. Beberapa jam yang lalu, seseorang mengundang wartawan dari berbagai negara ke Huaxia dan sistem radio melacaknya dan menemukanmu!"
"Itu memang khas Dokter Jansen, apa kamu pikir aku ingin melihatmu membodohi dirimu sendiri?" Pria paruh baya itu bertanya.
__ADS_1
"Bisa dikatakan iya, bisa dikatakan tidak juga!"
Jansen berkata dengan samar, "Karena kamu memang benar-benar ingin melihatku membodohi diriku sendiri, tetapi ketika melihat Huaxia dipermalukan, kamu meninggalkan segalanya dan hanya ingin mendapatkan kembali martabat untuk Huaxia!"
"Dari sudut pandang pribadi, kamu adalah musuhku!"
"Hanya saja kamu masih memiliki jiwa Huaxia, kamu memiliki martabat Huaxia, yang membuatmu bisa meninggalkan kebencian pribadi. Dari sudut pandang ini, kamu adalah temanku!"
"Apa aku benar? Satu-satunya penerus Buku Lu Ban!"
Ketika kalimat terakhir diucapkan, mata pria paruh baya itu berbinar. Dia yang menunjukkan sikap tenang sejak awal, saat ini terlihat sedikit goyah, terpancing, tetapi masih terlihat menikmati.
Menikmatinya sendirian!
Ini adalah dia.
Namun, sekarang dia menemukan jika ada juga satu orang yang menonjol dari kerumunan!
Ditambah lagi orang seperti itu sulit ditemui dalam seratus tahun, yang membuatnya ingin berjuang dan pada saat yang sama memberinya lebih banyak rasa untuk menghargai satu sama lain.
"Namaku Jidan!"
Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya.
"Kamu seharusnya sudah tahu namaku, jadi aku tidak perlu mengenalkan diri!" Jansen tersenyum saat mengatakannya.
"Kamu mematahkan teknikku di Pulau Hongkong, membunuh beberapa muridku dan mengalahkan ku dalam keterampilan medis. Selain itu, kamu adalah musuhku. Aku, penerus Buku Lu Ban, telah menderita makian selama ribuan tahun. Kamu juga orang pertama yang paling ingin aku kalahkan. Ini membuktikan jika Buku Lu Ban bukanlah buku terlarang!" Jidan berkata perlahan.
Setelah begitu banyak dinasti yang berkuasa, Buku Lu Ban tampaknya telah diukir sebagai buku jahat!
Misi Jidan adalah untuk menghapus rasa malu ribuan tahun dan mengembalikan ketidakbersalahan leluhurnya!
"Dulu aku berpikir jika Buku Lu Ban adalah buku jahat, buku terlarang, karena jurus pengendalian, sihir jahat dan teknik misterius yang tertulis di dalamnya terlalu ganas, merebut keberuntungan langit dan bumi. Tapi, sekarang aku tiba-tiba merasa jika buku terlarang itu tidak bersalah, karena semuanya tergantung siapa orang yang memegangnya." Jansen kembali mengatakan, "Dalam hal keadilan nasional, kamu dapat meninggalkan kutukan yang kamu tanggung dan bersatu dengan dunia luar. Buku Lu Ban bukanlah sesuatu yang buruk seperti yang tersebar selama ini."
Jidan mendengar ini dan menghela napas dalam, "Benar. Tidak peduli bagaimana dunia salah paham terhadap kita, kita akan selalu tahu jika kita adalah penduduk asli Huaxia, mati sebagai orang Huaxia, tidak akan membiarkan Huaxia dipermalukan!"
Jansen sangat kagum dengan pemikirannya ini!
Ini adalah pria yang sangat aneh, baik namun jahat. Hanya saja ketika Huaxia berada dalam kesulitan, orang seperti ini pasti akan menjadi orang pertama yang berdiri dan tidak takut mati, melayani negara dengan nyawanya sendiri!
"Aku sudah mengubah pendapatku tentangmu!"
Baru kali ini Jansen melihat ada penerus dari Buku Lu Ban. Di masa lalu, dia penuh rasa ingin tahu dan merasa jika penerus mereka adalah jalan iblis!
Namun, sekarang Jansen tidak berpikir seperti itu!
"Aku juga!"
Jidan menatap Jansen saat mengatakan ini.
__ADS_1
Dia menemukan jika Jansen dan dia memiliki pemikiran yang sama dan bekerja keras untuk mempromosikan intisari budaya Huaxia.
Sebagai contoh, Jansen baru saja mengatakan kepada reporter jika dia bukan wakil dari pengobatan tradisional, tetapi dia hanyalah orang pertama yang berdiri dan berbicara mengenai pengobatan tradisional. Ada banyak praktisi pengobatan tradisional sepertinya di luar sana yang tidak diketahui
Sikapnya ini tidak hanya ingin mendapatkan pengakuan untuk diri sendiri, melainkan membagikannya kepada mereka yang juga menjunjung tinggi budaya Huaxia.
Apalagi Jansen adalah orang pertama yang mempromosikan pengobatan tradisional. Jalan ini juga yang paling sulit!
"Aku berutang budi padamu!"
Jidan berkata dengan ringan. Niat awalnya adalah mengundang wartawan dari seluruh dunia untuk mempermalukan Jansen. Alhasil, Jansen tidak memedulikan dirinya sendiri hanya untuk mempromosikan pengobatan tradisional. Ini membuatnya tahu jika tindakannya ini salah.
"Kita sama-sama dokter pengobatan tradisional. Tidak ada yang mengatakan jika siapa pun berutang pada siapa pun. Bahkan tanpamu, aku akan melakukan hal yang sama!" ucap Jansen.
Jidan tidak berbicara, berdiri dan melangkahkan kakinya pergi.
"Utang satu dibayar satu."
Suara Jidan melayang di kejauhan.
"Orang yang aneh!"
Jansen tersenyum dan melanjutkan membaca koran di tangannya.
Bukan penikmat ikan, bagaimana bisa tahu nikmatnya ikan!
Jidan tenggelam dalam misi leluhurnya. Tampaknya membosankan, terisolasi dan aneh, tetapi bagaimana orang luar bisa mengetahui kegembiraan menjadi dirinya?
"Saatnya makan kerang!"
Menyingkirkan koran di tangannya, Jansen merasa sedikit lapar dan berjalan menuju kedai seafood.
Dia menyadari jika dia mulai terbiasa dengan kehidupan di sini dan lebih nyaman daripada tinggal di ibu kota.
Karena kebebasan!
Ini bukan tempat yang penuh dengan huru-hara, tidak perlu terlalu takut dalam melakukan apa pun.
"Jansen, kamu sudah datang. Mana istri mu?"
Ketika datang ke kedai seafood, terlihat Loki juga ada di sana sedang menggambar kartun.
"Di rumah, bawakan kerang yang biasa!" Jansen duduk dan tersenyum saat mengatakan itu.
"Ayah, Kak Jansen datang, dia pesan yang seperti biasa!"
Loki berteriak ke dapur kemudian pergi ke meja Jansen untuk mengobrol dengan Jansen.
"Kak Jansen, apa kamu pernah pergi ke Magical City? Aku dengar jika di sana akan ada pameran komik yang diselenggarakan bulan depan. Aku benar-benar ingin pergi ke sana dan melihatnya!"
__ADS_1
"Kalau begitu pergilah. Ini adalah hobimu. Lihatlah karya-karya asing yang bisa mencerahkan dirimu dan pikiranmu."