
"Tentu saja adalah teman, keterampilan medis Dokter Jansen begitu luar biasa, siapa berani menyinggung perasaannya!" balas Charlie dengan tersenyum.
Luciano agak terkejut dan dia bertanya lagi, "Bagaimana dengan ku, Dokter Jansen menganggap ku sebagai musuh atau teman?"
Jansen seketika menyipitkan matanya tidak menyangkal, ketiga orang yang hadir ini semuanya adalah tokoh ternama di generasi muda pria di Ibu Kota!
Charlie, orangnya banyak akal, cara bertindaknya kian tajam, latar belakangnya juga kuat!
Luciano, berpenampilan baik tapi dalam hatinya licik bukan main, seni bela diri dan keterampilan medisnya semuanya lumayan, dan asal usulnya lebih misterius lagi!
Tentu saja, Jansen juga tidak kalah. Keterampilan medis dan seni bela dirinya bahkan lebih tinggi dari mereka. Di depan orang dia adalah seorang dokter, tapi di lain sisi dia adalah sosok yang membahayakan.
Jansen bertanya balik, "Kalau begitu tidak tahu apakah Dokter Luciano ingin menjadi musuh atau teman?"
"Kalau ini, itu tergantung pada perbedaan antara teman dan musuh lagi!"
Mendengar ini, Jansen meminum sedikit arak dan tertawa sendiri, "Kalau kamu seorang teman, aku tentu akan memperlakukan mu dengan arak yang enak. Kalau kamu adalah musuh!"
Berbicara sampai sini, nadanya tiba-tiba menjadi dingin dan hawa dingin ini memenuhi sekelilingnya!
"Dia akan menyesal mengganggu ku!"
Sepatah kata yang lembut, membuat Charlie dan Luciano merasa dingin di seluruh badan.
Seolah-olah yang duduk di sebelahnya bukanlah seorang dokter, melainkan seorang Dewa Kematian yang mengontrol hidup dan mati!
Tentu saja, ilusi ini cepat berlalu.
Luciano tertawa dan berkata, "Jangan khawatir, aku bersama Dokter Jansen belajar keterampilan medis, kita adalah teman!"
Hatinya dingin, Jansen ini sedang mengancamnya?
Meski memiliki sedikit kemampuan, tapi sebagus-bagusnya dia juga hanya level menengah di peringkat Surgawi saja, siapa yang memberikannya kepercayaan diri!
Ketiganya terus mengobrol, seolah-olah mereka adalah teman kuliah atau teman yang telah kenal selama bertahun-tahun.
Setelah sekian lama, pesta berakhir, Jansen dan Gracia meninggalkan pesta itu bersama.
"Apa yang kamu katakan dengan mereka?"
Di pertengahan jalan, Gracia bertanya dengan pelan.
"Tidak ada apa-apa, hanya mengobrol tentang situasi di Ibu Kota saja!" kata Jansen dengan santai.
"Ketika kalian bertiga duduk di sana, banyak orang kaya di aula yang melihat kalian, seolah-olah kalianlah yang mewakili masa depan Ibu Kota!" Gracia tiba-tiba berbalik dan berkata, "Aku rasa masa depan Ibu Kota mungkin akan ada di antara kalian bertiga sekarang!"
Jansen tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kamu bisa memiliki ilusi ini, aku hanya ingin menjadi dokter, mana mungkin aku menginginkan dunia!"
"Itu sih belum tentu, orang-orang di dunia Jianghu, belum tentu bisa menahan diri!"
Kata-kata Gracia memiliki arti yang dalam.
Jansen terdiam.
Hector tiba-tiba berlawanan dengannya hingga dia juga mencium sedikit rasa bahaya, kalau ditebak sepertinya sudah ada orang yang mulai menyerangnya!
__ADS_1
Adapun alasannya, dia menduga itu dimulai karena masalah Keluarga Miller.
Untuk ini, Jansen tidak berdaya, masalah Elena semuanya hal yang merepotkan. Akan tetapi, meski sudah bercerai, sebagai mantan suaminya dia juga memiliki tanggung jawab untuk menanggung semua masalah tersebut.
"Omong-omong, Angelica yang berhasil kamu lelang itu, harus disimpan dalam batu giok selama beberapa bulan untuk mengurangi Qi buminya!" Jansen tiba-tiba memikirkan sesuatu.
"Batu giok?"
Gracia mengerutkan kening.
"Begini saja, bukankah kita akan berburu harta karun besok? Ayo kita sekalian pergi dan beli giok juga!"
Jansen menjanjikan Gracia dua hal, hal pertama ini dia ingin melakukannya dengan baik.
Keduanya pergi pada waktu yang disepakati. Ketika sampai di rumah, Jansen menemukan Natasha dan Kakek yang masih menonton TV.
"Jansen sudah pulang!"
Natasha buru-buru membantu Jansen melepas mantelnya, kelihatannya dia sangat bahagia.
"Jansen, sore hari tadi, Elena membawa Keluarga Lawrence datang untuk mengucapkan salam Tahun Baru!"
Kakek Herman berlari menghampiri dan juga terlihat sangat senang.
Ternyata mereka senang karena hal ini!
Jansen sedang dalam suasana hati yang rumit dan tertawa, "Sudah cerai juga, kasih salam atau tidak sama saja!"
"Apa yang sama, mereka ini nostalgia. Kamu ini apa maksudmu, kamu tidak suka dengan mereka!" Kakek Herman langsung memarahi.
"Kakek, kami sudah cerai, mana ada kata suka atau tidak suka lagi!"
Natasha buru-buru menasihati, "Bagaimana kalau kita pergi berkunjung ke rumah Keluarga Miller untuk menyampaikan salam tahun baru juga, meski sudah bercerai bagaimanapun juga masih berteman!"
"Aku sudah pergi pada hari pertama tahun baru, kalau mau pergi kalian yang pergi saja!"
Jansen cemberut, lalu dia pun masuk ke kamar.
Kalau membiarkan dia ketemu dengan Elena lagi, tidak tahu dia akan menunjukkan ekspresi yang seperti apa lagi!
Ketika melakukan penghormatan terhadap Kakek di saat itu, dia menampar Elena tiga kali, tetap masih ada duri di dalam hatinya!
Ini bukan berarti bahwa dia mempermasalahkannya, sebenarnya dia juga pernah memikirkan untuk balikan dengan dia!
Tapi dia selalu merasa ini sangat tidak bisa diandalkan dan tidak punya kesempatan!
Pagi-pagi di keesokan harinya, di bawah rumah Jansen, sebuah mobil mewah berhenti di sana dari awal dan kemudian baru pergi setelah Jansen naik.
Di kejauhan, Elena berdiri di tepi hamparan bunga yang jauh sambil membawa tas-tas yang berisi barang. Kemarin dia tidak ketemu Jansen, hari ini dia pikir ingin mencoba lagi siapa tahu ketemu, tapi dia tidak tahu harus mencari alasan apa lagi!
Akibatnya, dia melihat Jansen mengikuti Gracia pergi!
"Bajingan ini, baru saja bercerai sekarang sudah mencari si Gracia. Masih bilang mereka berdua adalah teman, tidak ada hubungan satu sama lain!"
"Sayangnya, sudah cerai, aku sepertinya tidak punya hak untuk membicarakannya!"
__ADS_1
"Akan tetapi, bagaimana aku bisa ketemu dengannya?
Bagaimana kalau dia berbangga di depanku?"
Elena berdiri di sana sambil berpikir yang tidak-tidak.
Saat ini, Natasha kebetulan juga turun untuk membuang sampah. Setelah melihat Elena melamun, dia sangat kaget.
"Elena apa yang kamu lakukan di sini!"
Dia berlari menghampirinya dengan gembira.
"Selamat Tahun Baru, Kakak Natasha!"
Elena menyapanya dengan malu dan memaksakan diri untuk senyum, "Kebetulan aku harus pergi kerja, jadi aku lewat sini!"
"Kamu tidak pergi bekerja di Jalan Deborge? Lagi pula ini sedang tahun baru juga, kamu masih harus pergi bekerja?"
Elena tidak pandai berbohong, dia berkata dengan canggung, "Omong-omong, aku salah ingat, aku sebenarnya mau datang ke mall untuk membeli barang!"
"Bodoh, lingkungan ini adalah daerah pemukiman, bagaimana bisa ada pusat perbelanjaan besar!"
Natasha menunjuk dahi Elena dan tersenyum, "Kamu ingin mencari Jansen kali, jangan khawatir, hal ini aku pasti akan membantumu!"
"Kakak Natasha!"
Mendengar ini, hati Elena terasa masam, dia memeluk Natasha seperti gadis yang terluka, "Kakak Natasha, aku tahu aku salah, aku seharusnya tidak salah paham dengan dia berkali-kali, aku benar-benar sudah tahu aku salah!"
Dia menangis.
Natasha merasa sedikit sakit hati, Elena dari luar tampak kuat tetapi di dalamnya sangat lembut, orangnya juga tidak sabar, dan tidak bisa berkomunikasi, hal inilah yang menyebabkan banyak kesalahpahaman!
Dia melihat Elena sudah mengakui kesalahannya dan berpikir Jansen masih merindukan Elena juga, dia pun segera ingin membantu keduanya kembali bersama.
Saat ini, sebuah mobil mewah sedang menuju ke pasar giok terbesar di Ibu Kota.
"Jansen coba kamu tebak siapa yang barusan aku ketemu tadi?"
Di dalam mobil, Gracia melihat-lihat formulir laporan perusahaan dan berkata sendiri, "Aku ketemu Elena, padahal aku mau menyapanya, tapi aku takut dia salah paham, jadi aku tidak jalan keluar!"
"Elena!"
Hati Jansen seketika berdebar kencang, tak diduga dia sedikit semangat.
Kemudian dia diam-diam kecewa karena dia benar-benar orang yang murahan. Baru saja waktu itu dia menampar Elena tiga kali. Betapa sombongnya dia saat menandatangani surat cerai, mengapa sekarang hatinya merasa kasihan.
"Kalian berencana untuk menikah lagi?" tambah Gracia.
"Orang yang punya tekad tidak akan menyesal!"
Jansen menjawab dengan dingin.
Gracia menyimpan map itu, dia memandang Jansen dan tertawa, "Tahukah apa kekurangan terbesarmu? Kamu itu orangnya berperasaan dan tidak egois. Tidak peduli kamu sudah merasa rugi seberapa besar, kamu tidak ingin wanitamu yang merasakannya!"
"Mana ada, betapa nyamannya aku sekarang sendirian. Tiap bertemu dengan wanita cantik. Kalau menikah tidak ada kebebasan seperti ini!" Jansen pura-pura tenang.
__ADS_1
"Kamu berkata dengan begitu entengnya, tapi matamu telah mengkhianatimu!"
Gracia menggelengkan kepalanya.