Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bsb. 526. Sepertinya Aku Tahu!


__ADS_3

Saat ini, Jansen masih mengobrol dengan Master Harvey. Sebuah panggilan telepon tiba-tiba muncul. Itu adalah telepon dari Tytus!


"Jansen, kamu masih belum kemari juga!"


Kata Tytus marah.


Jansen bingung, "Siapa kamu, apa kamu gila?"


"Kamu, bukankah aku sudah memberitahumu, jika kamu menginginkan nyawa Naura, temui aku segera. Tempatnya ada di atas Gedung Daun Emas, jangan berpura-pura bodoh!"


"Gedung Daun Emas?"


Jansen mengerutkan keningnya, terlihat tatapan penuh kemarahan di matanya!


Dia baru saja tahu mengenai hal ini, tapi Tytus mengira dia sudah tahu.


Setelah menutup telepon, Jansen segera memberi tahu Panah dan yang lainnya.


Saat ini di Gedung Daun Emas. Gedung ini adalah sebuah mall, tapi hari ini ditutup karena alat pemadaman kebakarannya sedang dalam perbaikan.


Tidak ada yang tahu kalau di lantai paling atas, ada banyak orang yang sedang berdiri dan memegang pistol, dengan dingin menatap dua orang wanita.


"Naura, maafkan aku telah menyakitimu!"


Wajah Sheila terlihat membiru karena baru saja dipukuli dan sedang berlutut di sana sambil berteriak.


"Bukan urusanmu, kamu adalah saudara ku, aku tidak bisa tidak menolongmu dan melihatmu mati begitu saja!" kata Naura yang diculik, sambil menggelengkan kepalanya.


Belum lama ini, seseorang memberitahunya untuk datang ke Gedung Daun Emas dan mengatakan untuk tidak menelpon polisi, jika tidak dia nyawa Sheila akan melayang, makanya dia datang!


Selain itu, tadi dia juga mendengar pembicaraan telepon orang-orang ini, dia tahu kalau mereka menginginkan Jansen datang kemari!


Dia teringat akan PT. Senlena yang akan dibuka kembali siang ini, dia langsung tahu kalau itu membuat orang-orang ini marah sampai ingin membunuhnya!


"Jika kamu mau, bunuh saja kami, Jansen tidak akan datang!"


Teriak Naura sambil memandang Tytus.


"Tampar dia!"


Tytus dengan dingin melambaikan tangannya dan segera sebuah tangan menampar wajah Naura. Dia berkata dengan marah, "Jansen, jangan datang jika kamu memiliki kemampuan. Ketika saatnya tiba, aku akan membunuh beberapa temannya. Lihat saja apakah dia masih bisa menahan amarahnya!"


"Kamu gila!"


Naura ditampar beberapa kali dan Tytus berkata dengan kesal.


"Kau tahu, aku suka melempar orang ke bawah dari sini. Ada 20 lantai di sini, saat orang itu jatuh dia akan terlihat seperti burung yang sedang terbang. Sangat indah!"


Tytus tiba-tiba berkata, "Aku berikan kamu lima menit lagi, jika Jansen tidak datang, saudaramu akan kulempar dari sini!"


Naura terdiam membeku.


Sheila merasa takut seluruh tubuhnya gemetar, dia menyesal memprovokasi orang-orang itu.


"Kamu sudah melanggar hukum!"


Saat ini, pintu atap itu ditendang sampai terbuka, kemudian seseorang dengan marah berjalan mendekat.


"Jansen, jangan kemari!"


Naura berteriak, tapi kemudian dia terdiam. Orang itu bukanlah Jansen, tapi seorang pria paruh baya yang tinggi besar!

__ADS_1


Tytus menjadi sangat bersemangat, tetapi ketika dia melihat pria paruh baya itu, dia menjadi marah, "Siapa kamu, yang aku cari adalah Jansen!"


"Aku temannya Jansen. Jika kamu melepaskan mereka, aku akan membiarkanmu hidup!"


Orang yang datang itu adalah Arthur Carson. Dia adalah bos besar tentara. Dia tidak takut dengan orang dengan posisi kecil ini!


"Kamu ingin aku melepaskannya? Lalu kamu akan membiarkanku hidup?"


Tytus tercengang, dia datang ke sini sendirian, lalu dia mengatakan omong kosong seperti ini?


"Ya, tapi tentu saja setelah kamu melepaskannya, kamu harus berlutut dan meminta maaf kepadaku!" kata Arthur.


Walaupun, dia memang berhak mengucapkan kata-kata itu!


Tapi di telinga Tytus, kata-kata ini terdengar kasar. Kurang ajar, orang ini sangat gila!


"Tampar dia!"


Kata Tytus berteriak.


Arthur menjadi marah dan ingin melawannya, tetapi Tytus segera menodongkan pistol ke arah Naura dan Sheila. Kalau Arthur berani melawan, dia akan segera menembak mereka.


Walaupun dia memiliki seni bela diri yang bagus, dia tetap tidak bisa menghentikan sebuah peluru. Semua orang yang di sana bersenjata, dia pun tidak bisa melawan.


Arthur menunjukkan identitasnya, "Aku adalah Arthur Carson, kamu berani menangkapku?"


"Apa? Kamu, kamu Arthur Carson?"


Tytus tampak ketakutan.


"Benar, cepat lepaskan aku!" kata Arthur sambil mengangguk.


Setelah itu, Tytus berteriak keras.


Mana dia tahu Arthur Carson itu siapa? Arthur dan kakaknya lebih banyak waktu di habiskan di ketentaraan daripada di masyarakat. Lagi pula, Arthur berani datang sendiri, dia pikir dia hanyalah seorang yang bodoh!


"Siapa namamu? Guntur Carson?"


Pemuda itu mengangkat tangannya dan menamparnya!


Plakk!


Mata Arthur memerah karena tamparan ini!


Sial, beraninya kamu memukulku?


Di militer, biasanya aku yang memukul wajah orang lain!


Jika bukan pistol itu mengancam keselamatan Naura dan temannya, mereka semua sudah babak belur.


"Kamu memelotiku? Lihat apa kamu, aku tampar kamu!"


Pemuda itu tertawa dan menamparnya lagi!


"Kalian berani memukulku Arthur Carson, kalian semua akan mati. Coba saja kamu tanyakan siapa itu Arthur Carson di ibukota ini!" Arthur sangat marah, bisa-bisanya semua orang ini tidak mengetahui orang berkuasa seperti dia!


"Arthur Carson, kan? Dengar, yang aku pukul itu adalah Arthur Carson!"


Tytus memindahkan sebuah kursi dan duduk, lalu berkata bercanda, "Pukul dia, pukul dia sampai dia memanggilku ayah!"


Plak plak plak!

__ADS_1


Sekumpulan pemuda itu mengangkat tangannya dan menamparnya, menamparnya sampai wajah Arthur terlihat merah. Dia ingin melawannya, tapi ada pistol di belakangnya membuat seluruh tubuhnya gemetar!


"Siapa namamu? Coba katakan lagi?"


Tytus masih bercanda, "Coba katakan lagi, siapa nama ayahmu, apa namanya Tytus?"


"Aku belum selesai denganmu!"


Kata Arthur dengan marah.


"Aku paling suka orang yang keras kepala, pukul dia lagi!" Tytus melambaikan tangannya pelan.


Plak plak plak!


Suara tamparan itu terdengar jelas dan nyaring, Arthur yang mulai pusing dan meringis kesakitan, "Kamu memukul orang yang salah!"


"Memukul orang yang salah? Yang sedang kupukul itu kamu!"


Setelah menampar wajahnya, anak buahnya meninju dan menendang Arthur.


Dan pada saat itu, pintu atap ditendang sampai terbuka. Jansen akhirnya datang, lalu dia melihat Arthur dan berseru, "Kak Arthur, kenapa kamu di sini!"


"Aku!"


Arthur dipukul hingga babak belur dan Jansen melihatnya seperti ini. Dia pun merasa malu untuk menemuinya. Dia dengan marah berkata kepada Tytus, "Lepaskan aku!"


"Sudah kubilang, kamu kan temannya. Jadi aku tidak salah memukul orang!"


Tytus melihat Jansen datang, akhirnya merasa lega dan melepaskan Arthur.


"Kak Arthur, kamu tidak apa-apa kan!"


Jansen dengan cepat memapah Arthur.


Arthur tampak malu dan memberi isyarat dengan tangannya, "Tidak apa-apa, omong-omong, apakah kamu membawa ponselmu? Ponselku sudah dirusak mereka!"


"Huh, kamu ingin menelepon seseorang? Telepon saja, aku beri kamu waktu untuk menelepon. Jika kamu tidak bisa memanggilnya kemari, aku akan menerjunkanmu dari atas sini!"


Tytus tidak takut sama sekali. Sebagai Keluarga Harper yang kaya dan berkuasa, dia sudah biasa melakukan hal kotor seperti ini. Urusan hari ini sudah selesai!


"Silakan saja hubungi polisi, hubungi orang pemerintahan atau hubungi pasar gelap, kita lihat apa ada yang berani membantumu. Kalau aku memukulmu kenapa, kamu bukanlah siapa-siapa!"


Wajahnya terlihat bangga!


Arthur merasa sangat malu, dia pun menelpon seseorang, "Pasukan, panggil semua saudara kalian ke Gedung Daun Emas, ada orang yang berani menampar wajahku di sini!"


Selesai bicara, dengan marah dia menutup telepon itu!


Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya, dia menderita seperti itu!


"Kak Arthur, ini kan ponselku!"


Jansen menghela napasnya sedih, awalnya dia juga ingin menelpon seseorang, tapi melihat situasinya seperti ini dia membatalkannya!


"Jansen, Jansen, sampah ini temanmu? Sampah memang berkumpul dengan sampah!"


Tytus bangkit dari kursinya, menyalakan sebatang rokok dan mulai merokok. Lalu berkata, "Kamu tahu untuk apa aku mencarimu?"


"Sepertinya aku tahu!"


Kata Jansen sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2