
Namun, kesadaran illahi telah merasakan sesuatu yang aneh di sini.
Bahkan terasa sangat aneh daripada biasanya!
Tiba-tiba, Jansen mendongakkan kepalanya ke atas. Dia melihat banyak orang yang menggunakan kain berwarna putih sedang menggantung di antara balok-balok kayu. Hanging Ghost!
Mereka semua nampak tak bergerak, seolah-olah sedang memperhatikan Jansen dan yang lainnya. Anehnya, meski mereka terlihat tak bergerak, tapi rambut gelap mereka memanjang dan terlihat menggeliat seperti cacing.
"Oh! ****!"
Saat Jansen masih fokus menatap hanging ghost tergantung di balok-balok kayu, terdengar sebuah suara tajam yang memekakkan telinganya. Suara tersebut berasal dari teriakan pelayan Alice. Terlihat jelas jika dia juga melihat sosok hanging ghost.
"Nona... Alice, coba nona lihat ke atas!" ucapnya gemetar sembari menarik Alice mendekat.
"Paman Allen, stop! Tidak perlu panik!"
sahut Alice mencoba untuk menenangkan Mr. Allen. Di satu sisi dia juga merasa kesal pada pelayannya itu. Di tempat aneh seperti ini, pelayannya itu malah berteriak dengan kencang. Bagaimana jika makhluk-makhluk aneh mendengarnya dan berjalan menuju aula utama!
Kemudian, Alice pun mengarahkan senternya ke langit-langit aula utama. Dan tiba-tiba, kedua matanya pun terbelalak!
"Aaaa!"
Segera saja, dia pun menjerit ketakutan dan langsung memeluk Jansen.
"Jansen, ada hantu, ada hantu di atas sana!"
Karena mendengar teriakan Alice, Preston pun penasaran dan segera mengarahkan senternya ke atas. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok hanging ghost dalam jumlah besar tergantung di sana.
Meski termasuk murid sekte tersembunyi dan telah melihat sesuatu lebih banyak dari orang biasa, tapi tetap saja Preston baru masuk ke dalam sekte. Mana pernah dia melihat pemandangan semengerikan ini.
Balok-balok kayu di langit-langit dipenuhi dengan sosok wanita berkain putih. Hal ini tentu saja membuat siapa pun yang melihatnya merinding ketakutan.
"Alice, di Huaxia, makhluk seperti itu tidak disebut dengan hantu!"
sahut Jansen mencoba menjelaskan. Pelukan Alice terasa lembut, membuatnya salah tingkah dan menggelengkan kepala tak berdaya.
__ADS_1
"Terus, mereka disebut apa! Ah persetan dengan namanya, terserah aku tidak peduli! Jansen! Lihat itu mereka bergerak!"
Alice memeluk Jansen erat-erat layaknya seekor gurita. Untungnya, dia tidak pingsan saat melihatnya.
"Kak Jansen, sebenarnya makhluk apa mereka semua!?"
tanya Preston dengan mulut yang bergetar. Dia menggunakan energi sejati membungkus seluruh tubuhnya. Dengan tujuan untuk mencegah makhluk-makhluk jahat itu menyerangnya.
"Mereka tidak seperti yang kalian pikirkan saat ini!"
ucap Jansen sembari melepas Alice dari tubuhnya. Wanita itu justru terlihat seperti gurita.
"Mereka sebenarnya adalah semacam jamur kebencian. Mereka memanfaatkan kebencian orang yang sudah meninggal dan lingkungan tertentu untuk bisa terus bertumbuh. Mereka sangat suka energi yin Qi!" ucap Jansen mencoba menjelaskan.
"Coba kalian lihat, mereka mirip seperti sosok manusia yang mengenakan kain putih. Sebenarnya, rambut yang terlihat itu adalah inti utama dari nyawa mereka. Rambut itu yang dinamakan jamur kebencian. Meski makhluk itu memiliki kebencian yang luar biasa. Tapi daya serangnya tidaklah begitu besar. Apalagi terhadap seseorang yang memiliki kemampuan seni bela diri."
Selesai mengatakannya, Kompas Fengsui Leluhur pun muncul di tangan Jansen. Diam-diam dia merapalkan sebuah sihir Daoist lalu menekannya dengan lembut.
Tak lama, Kompas Fengsui Leluhur pun terbelah dan berubah menjadi Cakra Baju Zirah yang melayang ke udara.
Layaknya sebuah kayu kering bertemu dengan api, sosok putih yang ada di atap pun terbakar saat bersentuhan dengan Cakra Baju Zirah. Suara yang mirip dengan jeritan wanita pun terdengar diiringi dengan bau yang sangat busuk.
Untuk menghindari abu sisa pembakaran di atap jatuh mengenai tubuh mereka, Jansen lantas membawa Alice dan yang lainnya pergi dari lokasi.
"Pastikan hal pertama yang kalian lakukan sepulang dari tempat ini adalah pergi ke apotek untuk membeli bahan-bahan obat seperti: Siler, Angelica, apsintis dan rebusan kayu persik. Rebus semua bahan, sehari sekali. Selain itu, beli juga beberapa kayu cendana atau gaharu dan bakar di kamar. Cukup bakar selama 3 hari!"
ucap Jansen sembari berjalan menasihati Alice.
"Bahan-bahan tadi untuk apa, Jansen?"
"Untuk perawatan medis! Apa kamu lupa aku juga seorang dokter!?"
"Oke, aku akan melakukannya sesuai dengan yang kamu katakan!"
Faktanya, Alice tidak tahu nasib buruk yang diderita oleh para penjelajah sepulang dari istana ini. Mereka pasti akan menderita penyakit kronis, terutama penyakit yang disebabkan oleh Jamur kebencian.
__ADS_1
Dan ramuan obat herbal yang Jansen sebutkan tadi bertujuan untuk meningkatkan imun tubuh dan mengusir roh jahat.
"Di tempat ini ditumbuhi oleh jamur kebencian, itu artinya kebencian mereka-mereka yang telah mati sangatlah kuat. Mereka yang mati seharusnya berasal dari keluarga kerajaan!" imbuh Jansen.
Dan saat memikirkannya, tiba-tiba dia tersadar jika Preston menghilang. Tatapan matanya pun terus mencari ke sekeliling.
"Jansen, apa yang kamu cari? Oh ya, aku baru sadar, kita kehilangan satu orang, bukan!?"
Alice pun menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi. Dia lantas mencari ke sekitar menggunakan senter dengan ditemani Mr. Allen.
"Sebelah sana!"
Tak membutuhkan waktu yang lama, Alice pun melihat sosok Preston di kejauhan.
Preston terlihat sedang berjongkok di sudut, entah apa yang sedang dilakukannya.
"Hei... apa yang kamu lakukan di sana!?"
Alice pun mencoba untuk memanggilnya dan berjalan menghampiri. Namun, Jansen dengan memasang wajah serius langsung menariknya menjauh.
Kesadaran illahi pun memberi tahu Jansen. Preston saat ini sedang berjongkok di dekat sebuah lubang sembari memotong pergelangan tangannya. Awalnya, tak nampak sesuatu yang aneh pada lubang itu. Tapi setelah darah Preston menetes dan jatuh ke lubang itu, aura mayat nan kuat pun berkumpul memenuhi lubang itu.
Preston merupakan seorang kultivator, di tubuhnya pasti mengalir energi sejati. Itu sebabnya di dalam darahnya mengandung banyak energi vitalitas.
"Ini Lubang mayat!"
Jansen pun menyadari sesuatu. Dengan cepat dia menghampiri Preston dan kemudian menariknya mundur menjauh.
Pada saat yang bersamaan, dia menatap ke arah lubang besar itu. Diameter lubang mencapai lima meter dan di dalamnya dipenuhi dengan batu-batu kering. Anehnya terlihat ada darah yang terus bergerak. Tidak salah lagi, itu adalah darah milik Preston.
"Kak Jansen!"
Wajah Preston memucat menatap Jansen. Terlihat jelas jika sebenarnya dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Hanya saja, dia tak mampu mengendalikan tubuhnya.
Ini persis seperti makam kuno yang ditemui Jansen belum lama ini, banyak mengandung energi jahat.
__ADS_1
Yang lebih mencengangkan lagi adalah saat tubuh Preston yang dilindungi oleh energi sejati masih tetap bisa terinfeksi oleh energi jahat. Itu artinya, aura kebencian yang ada di dalam lubang sangatlah kuat.