Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1007. Jebakan!


__ADS_3

Ia adalah seorang wanita dengan sosok yang anggun, rambutnya yang perak panjang memberi kesan iblis pada orang lain.


"Menarik, kematian tanpa bukti?"


Dia tersenyum dan menebak tujuan si misterius bersweter itu datang ke sini.


"Adik iparku juga sudah cukup lelah. Ia baru saja pulang dari luar kota dan harus direpotkan oleh masalah Keluarga Miller, sudahlah, sebagai kakak perempuan tertua, aku juga sudah seharusnya membantu!"


Dia memanyunkan bibirnya dan sosoknya menghilang di kompleks vila.


Di sisi lain, Jansen menggunakan koneksinya untuk mencari Jessica. Sayangnya, Panah tidak ada di tempat dan sistem intelijen masih terganggu, tidak ada cara lain untuk sementara waktu.


"Adik ipar, apakah kamu mencari ku?"


Tepat ketika melewati sebuah kedai kopi, suara yang tidak asing tiba-tiba terdengar.


Mata Jansen melotot, melihat melalui jendela kaca, terlihat sosok seorang wanita bertopi sedang duduk di sana sambil menikmati kopi. Dia mengenakan gaun cokelat panjang dan sepatu hak tinggi berwarna cream di kakinya. Kaki panjangnya yang terbalut stoking sutra saling bertautan, elegan dan berkelas!


"Jessica!"


Jansen berjalan masuk dengan terkejut.


"Sepertinya kamu sangat senang melihatku!"


Gaya Jessica sedikit berbeda dari yang dulu. Dulunya dia lebih seperti wanita galak dan berlagak layaknya bos besar wanita, tetapi sekarang rasanya ketambahan aura iblis, seperti seorang ratu.


"Omong kosong!"


Mau tidak mau Jansen memarahinya. Dia pergi ke kompleks vila untuk mencarinya dengan tergesa-gesa, tetapi ternyata Jessica malah sedang santai menikmati kopi di sini dan pakaiannya rapi, tidak terlihat seperti orang yang diculik.


"Adik ipar, maaf telah merepotkan mu. Ke depannya, aku akan membantumu mengurus keluarga ini!"


kata Jessica sembari tersenyum. Setelah mengatakan itu, lidahnya menjilat bibir merahnya.


Jansen tidak tahan. Meskipun dia pernah berdebat dengan Jessica, tapi dia tetap belum memahami apa yang dipikirkan Jessica. Pokoknya, dia misterius, seperti orang gila.


"Aku membantumu karena kamu adalah kakaknya Elena!" ucap Jansen.


"Aku membantumu, selain karena kamu adik iparku, ada alasan lain. Apa kamu ingin tahu?"


Jessica kembali menggerakkan kaki jenjangnya yang terbalut stoking sutra dan mengubah posisinya.


"Tidak mau!"


Jansen tidak berani melihatnya dan langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tetap akan mengatakannya walau kamu tidak mau, karena aku memiliki darah yang sama denganmu!"


Jessica mengucapkan kata demi kata.


Jansen merasakan kulit kepalanya mati rasa dan berkata, "Baguslah kamu baik-baik saja, cepatlah pulang, agar semua orang tidak khawatir. Apalagi ini bukan saat yang tepat dan di luar sangat berbahaya!"


"Aku suka gayamu mengkhawatirkan ku. Meskipun itu karena tanggung jawabmu dan bukan karena hal lain, aku tetap menyukainya!"

__ADS_1


Jessica merenggangkan badannya dan pergi bersama Jansen. Di tengah jalan, tiba-tiba dia berbisik ke telinga Jansen, "Ku Beritahu satu hal, seseorang ingin menjebak mu!"


Telinga Jansen tergelitik olehnya, menjauh selangkah dan bertanya, "Menjebak bagaimana?"


"Harry sudah mati!"


ucap Jessica sambil berjalan ke depan.


Pupil mata Jansen membeku. Dia tidak membunuh Harry, yang berarti bahwa setelah dia pergi, seseorang telah menyerang Harry dan tujuannya sangat jelas, untuk menyalahkan kepada Jansen.


"Adik ipar, tidak ada yang bisa membantumu sekarang. Aku sebagai kakakmu bisa menjadi seorang pembantu yang lumayan untukmu!"


Jessica masih berjalan ke depan. Dilihat dari belakang, dia sangat menawan.


Walau sebenarnya, jika membandingkan penampilan dan sosoknya, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Elena, tetapi dia punya gaya yang tidak dimiliki Elena.


Gaya mendominasi dan mempesona nya itu.


Hanya saja Jansen tidak terlalu tertarik dengan gaya seperti ini.


Pada saat bersamaan, Charlie belum sampai ke rumah, teleponnya berdering.


Itu telepon dari Perkumpulan Tuan Muda.


Charlie merenung sesaat lalu lanjut berjalan.


Masih di lantai tertinggi Hotel Permata, para tuan muda dari dalam dan luar negeri semuanya duduk di sana, sampai-sampai ada Tuan Muda yang membawa macan kumbang peliharaannya.


Namun, dibandingkan dengan pertemuan terakhir, kali ini jumlah orangnya lebih sedikit.


"Tuan Muda Charlie, pertemuan ini kami selenggarakan bertujuan membahas bagaimana cara untuk membantu Tuan Muda Harry!"


Tuan muda bermain dengan macan kumbang peliharaannya berkata dengan santai, "Tuan Muda Harry sudah bersuara, maka kita yang tergabung dalam Perkumpulan Tuan Muda, sudah seharusnya membantunya, apa pun caranya. Kamu sangat akrab dengan Jansen, kamu yang paling cocok untuk menjebak Jansen!"


Charlie Lankester segera menggelengkan kepalanya mengambil anggur di atas meja dan menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri.


"Tuan Muda Charlie, apa kamu mendengarku?"


Melihat Charlie tidak merespon, Tuan Muda itu menjadi marah. Ketika Tuan Muda Harry ada di sini, apa Tuan Muda Charlie berani tidak merespon?


"Kurasa kamu lebih tahu dariku siapa Tuan Muda Harry. Kalau kamu memprovokasinya, Keluarga Lankester akan menderita juga!"


Yang lainnya juga tak tahan untuk mengancam dengan suara dingin.


"Seseorang yang cacat juga bisa membuat kalian takut seperti ini?"


Saat ini, Charlie akhirnya bersuara. Sejak serangan Jansen yang menggelegar, dia sama sekali tidak takut dengan Harry.


"Apa yang kamu katakan!"


Banyak orang bangkit dari duduknya, "Kata-katamu barusan, siapa yang kamu bicarakan? Apakah kamu berani mengatakannya lagi?"


"Tuan Muda Charlie, kita bermain bersama di luar negeri tahun lalu, jadi aku menganggapmu sahabat. Jangan katakan bahwa aku tidak mengingatkanmu, kalau kamu memprovokasi Tuan Muda Harry, kamu tidak bisa berada di Perkumpulan Tuan Muda ini lagi!"

__ADS_1


"Kunasehati, lebih baik patuh saja!"


Yang lainnya melanjutkan berbicara.


Charlie menyesap anggurnya dan berkata dengan santai, "Orang cacat yang kubicarakan adalah Harry, ada yang salah?"


"Biar kuberitahu, aku, Charlie, tidak peduli dengan orang cacat!"


"Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, bagaimana kalian ingin berurusan dengan Jansen adalah urusan kalian sendiri. Jangan seret aku, aku tidak punya waktu!"


Setelah mengatakan itu, dia meletakkan gelasnya dan berniat pergi.


Meja bundar hening tak bersuara dan sebagian besar tuan muda menatapnya. Apakah Charlie sudah gila?


"Berhenti! Sebelum menjelaskan kata-katamu, kamu tidak boleh pergi!"


Tuan Muda dengan macan kumbang peliharaannya itu dengan marah menghentikan Charlie Lankester.


"Tuan Muda Edo, lupakan saja. Jika dia ingin mati, biarkan saja!"


"Ya, kami akan memberi tahu kabar itu kepada Tuan Muda Harry. Aku ingin melihat bagaimana dia bisa menghadapi kemarahan Tuan Muda Harry!"


"Hehe, jika Tuan Muda Harry menindak Keluarga Lankester, orang terkaya di Huaxia akan digantikan. Pada saat itu, aku akan menyerap industri milik Keluarga Lankester!"


Yang lain berteriak ke arah Tuan Muda dengan macan kumbang peliharaannya, wajahnya tampak gembira.


Keluarga Yiwon adalah salah satu dari empat Keluarga Terelit di Huaxia, sangat berkuasa, hitam dan putih semua menghormati mereka. Selain itu, di Dunia Jianghu, mereka bahkan memegang kekuatan yang sangat besar di tangannya.


Memang benar Keluarga Lankester adalah yang terkaya, tapi itu hanya jabatan yang diberikan orang lain. Dengan kata lain, jika keluarga elite mau, mereka dapat membuat seorang pengemis menjadi orang terkaya dalam waktu tiga hari.


Keluarga elite memiliki kekuatan seperti ini.


"Kamu punya nyali!"


Tuan Muda dengan macan kumbang peliharaannya itu juga melepaskan Charlie, juga bersukacita.


Bam!


Saat ini, pintu ruangan didorong terbuka dan kemudian seorang pengikut bergegas masuk.


"Kabar buruk, vila Tuan Muda Harry baru saja diratakan. Semua orang yang mengikutinya telah mati!"


"Dan Tuan Muda Harry, kepalanya dipotong dan tubuhnya terbakar menjadi abu!"


Ia berteriak cepat karena merasa ngeri.


"Hah, apa?"


Tuan Muda dengan macan kumbang peliharaannya menjatuhkan rokok yang ada di mulutnya dan melubangi setelannya, dia bahkan tidak menyadarinya.


Meja bundar hening!


Tidak ada yang bersuara!

__ADS_1


Wajah semua orang dipenuhi dengan ketidakpercayaan dan kemudian berubah menjadi ketakutan!


Mereka baru saja mabuk-mabukan dan mengobrol dengan Tuan Muda Harry kemarin. Bagaimana bisa dia dimusnahkan hari ini? Bahkan kepalanya dipenggal orang.


__ADS_2