
"Tidak usah pura-pura bersimpati, kamu tidak pantas!" bentak Renata. "Asal kamu tahu ya, selama aku masih hidup, jangan harap masuk ke kediaman Keluarga Miller!"
Jansen tidak bisa menahan tawanya, "Di mana keberanian ini saat Hector datang? Kenapa tadi tidak segalak ini?"
"Keluargamu begitu takut dengan sampah itu sampai tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun. Anak-anak ketakutan dan menangis, sedangkan orang tua gemetaran.
Kalau kamu mau bertanggung jawab atas keluarga, kenapa tadi kamu tidak maju?"
"Kamu takut pada orang yang tidak kamu kenal, tapi kamu begitu sombong padaku?"
Balasan Jansen membuat Renata terdiam.
"Aku benar-benar salut dengan kalian. Apa Hector tidak bisa di provokasi, tapi aku, Jansen, bisa?"
Sambil berbicara, Jansen berjalan menuju aula berkabung.
Tidak ada seorang pun di Keluarga Miller yang berani berbicara. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Jansen benar juga.
Paman Bonnie ingin Keluarga Miller segera membunuh Jansen, dia pun memarahinya lagi, "Jansen, apa kamu tidak tahu malu?"
"Kamu saja berwajah tebal, kenapa aku harus malu? Aku berani datang untuk memberi salam tahun baru kepada Kakek Miller dengan penuh ketulusan, karena pelaku yang membunuh
Kakek Miller semuanya telah ditaklukkan hari ini, termasuk kamu, Paman Bonnie. Minggir!"
Jansen mendengus dan menatap pria tua itu dengan tajam. Dia membenturkan bahunya ke Paman Bonnie dan memasuki aula berkabung
"Semuanya, lihat apa yang dia perbuat!"
Paman Bonnie terhempas ke tanah, bahunya terasa kesemutan. Dia berteriak pada semua orang, "Jansen akan membunuh semua orang di Keluarga Miller!"
Dia diam-diam terkejut dengan perkataan Jansen. Apakah Jansen ingin membunuhnya di depan Keluarga Miller? Setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak mungkin. Jansen tidak memiliki nyali!
Lagi pula, jika Jansen benar-benar berani membunuhnya di sini, maka dia akan dihukum. Elena dan Keluarga Miller akan membenci Jansen seumur hidup mereka!
"Hei Jansen, siapa yang mengizinkanmu masuk?"
Semuanya langsung bergegas memasuki aula berkabung dan melihat Jansen sudah mendoakan Kakek Miller dan menyalakan dupa.
Awalnya, mereka semua ingin mengusir Jansen, tapi mereka tidak ingin mengganggu tempat peristirahatan Kakek Miller, jadi mereka semua hanya bisa menahan diri.
"Dasar bermuka dua!"
Tampak semuanya masih sangat kesal.
Jansen mengabaikan mereka dan menatap potret Kakek Miller yang dipajangkan di meja kabung. Dia merasa sedikit bersalah.
Andai saja dia menerima tawaran Kakek Miller malam itu dan pergi bersamanya, maka sang kakek tidak akan meninggal!
Meskipun Jansen tidak banyak bertemu dengan beliau, tapi Kakek Miller sangat menghormati dan begitu memercayainya sampai ingin menyerahkan Keluarga Miller kepadanya tanpa
syarat. Hal tersebut sudah cukup untuk Jansen
memperlakukan Kakek Miller layaknya seorang kerabat.
Sayangnya, saat itu dia masih kesal dengan Keluarga Miller dan tidak segera menyetujui permintaan beliau, yang ternyata merupakan sebuah kesalahan besar.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga memiliki sedikit tanggung jawab atas kematian Kakek Miller.
"Kakek Miller, semoga kamu tenang di sana. Kamu mati dengan tidak adil. Aku, Jansen, tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu. Hal yang bisa kuberikan padamu hanyalah keadilan!"
"Tidak peduli apakah Danial masih hidup atau mati, aku akan menemukannya untukmu!"
Jansen bergumam dan apa yang dikatakannya mengejutkan seluruh Keluarga Miller.
Kemudian, Elena dan yang lainnya melihat Jansen mengeluarkan selembar kertas dengan sejumlah nama tertulis di atasnya dan membakarnya di atas pembakar dupa!
Jansen kembali berucap, "Simpan daftar ini. Orang-orang yang membunuhmu semuanya akan datang untuk melapor padamu!"
Elena dan yang lainnya langsung tertegun!
Orang yang membunuh Kakek Miller?
Elena yang matanya jeli, menyadari bahwa ada nama Kimberly di daftar itu, bahkan ada nama Darwin dan yang lainnya.
Apakah orang-orang ini dibunuh oleh Jansen?
Kecurigaan di hati Elena semakin kuat. Jansen benar-benar telah membunuh Kimberly, tapi apa motifnya?
Mungkinkah itu benar-benar untuk Kakek Miller?
Paman Bonnie gemetar ketakutan. Akhirnya, dia melihat daftarnya!
Apalagi sejak tadi malam, diam-diam dia sudah mencoba untuk menghubungi organisasi. Dia pun mendapat informasi bahwa keberadaan orang-orang dalam daftar itu memang tidak diketahui.
Artinya, mereka benar-benar dibunuh oleh Jansen!
Apa kamu pikir kami semua sebodoh itu?"
"Hah, di daftarnya ada nama Paman Bonnie!"
Di saat bersamaan, Renata melihat nama seseorang yang dia kenal di daftar tersebut dan ikut memarahi Jansen, "Jangan-jangan kamu mau bilang bahwa Paman Bonnie juga salah satu pembunuhnya. Sembarangan!"
"Jiwa Kakek Miller selalu memberkati kami. Andaikan dia ingin mencelakai seseorang, pastinya itu kamu, bukan orang yang tidak bersalah!"
Dia masih belum memahami situasinya, tapi dia merasa Jansen sedang mempermainkan Keluarga Miller.
"Ah!"
Tepat pada saat ini, Paman Bonnie yang sebelumnya masih marah dan membentak, tampak memegang ulu hatinya. sambil kesakitan.
"Jantung!"
Dia berusaha mengeluarkan suara sambil menunjuk Jansen, tapi ekspresinya penuh ketakutan dan penyesalan!
Jansen perlahan menoleh dan berkata sambil mencibir,"Sudah kukatakan bahwa para pembunuh telah ditaklukkan semua. Sekarang kamu percaya, bukan?"
Mata Paman Bonnie membelalak. Sekarang, dia benar-benar percaya!
Namun, Jansen berada beberapa meter darinya, bagaimana caranya pria itu membunuhnya?
Tiba-tiba dia teringat pada malam sebelumnya di Kuil kuning, Jansen menggunakan jarum perak padanya!
__ADS_1
Mungkinkah jarum perak itu?
"Hah, Paman Bonnie, ada apa denganmu!"
Renata langsung menghampiri Paman Bonnie dan berteriak panik.
Di saat yang bersamaan, dia merasa seperti ditampar. Dia baru saja selesai berkata tentang Kakek Miller yang akan mencelakai Jansen, bukan orang yang tidak bersalah. Sekarang malah Paman Bonnie yang kesakitan, seakan kata-katanya malah berdampak ke Paman Bonnie yang setia dengan keluarganya.
Namun, tampaknya memang Paman Bonnie sedang dalam masalah besar!
"Ambulans, cepat panggil ambulans!"
Lucky berteriak kepada semua orang, lalu menyentuh leher Paman Bonnie dan menggelengkan kepalanya, "Sudah terlambat, Paman Bonnie sudah meninggal!"
Kalimat tersebut menggegerkan seluruh Keluarga Miller!
Mereka semua hanya terdiam.
Paman Bonnie yang tadinya masih menemani mereka merayakan tahun baru, sekarang tiba-tiba saja meninggal. Sungguh aneh sekali!
Semua orang langsung menatap Jansen dan menyadari bahwa dialah yang melakukannya!
Dia benar-benar menakutkan sekali. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Jansen membunuh Paman Bonnie.
Hal yang paling mengerikan adalah mereka selalu memprovokasi dan melampiaskan amarah mereka terhadap Jansen. Bagaimana jika dia ingin membunuh mereka?
Jawabannya sederhana, tidak ada dari mereka yang bisa menghentikannya!
Pada saat ini, mereka akhirnya menyadari orang seperti apa yang mereka hadapi.
Setelah membakar daftarnya, Jansen pun mengangguk puas. Semoga saja daftar ini diterima oleh Kakek Miller, itu akan cukup untuk menghiburnya!
Dia perlahan berdiri. Saat ini, dia merasa sangat rileks. Seolah-olah dia telah kembali ke dunia dari neraka. Dia bukan lagi Dewa Pembunuh, tapi seorang dokter yang baik hati!
Melihat hal ini, Elena akhirnya bertanya, "Jansen, jelaskan padaku kenapa kamu membunuh orang-orang itu. Mana buktinya?"
Sebenarnya semua orang di sana juga ingin bertanya pada Jansen hal yang sama.
Jansen melirik Elena dengan ringan, "Penjelasan? Bukti? Buat apa?"
Elena tertegun sejenak dan berkata dengan agak kesal, "Kamu terlalu misterius. Kalau kamu tidak menjelaskannya, bagaimana kami bisa memercayai kamu!"
"Kalimat itu harusnya diucapkan untuk kamu!"
Jansen menggelengkan kepalanya, "Dulu kamu dan aku adalah suami istri. Kapan kamu berkomunikasi denganku saat kamu melakukan sesuatu? Sekarang, aku hanya menggunakan cara kamu untuk melakukan segala hal. Apa
sekarang kamu sudah mengerti apa yang kurasakan dulu?"
Seluruh tubuh Elena gemetaran. Dia menyadari bahwa tidak mendapatkan penjelasan dan kepastian, berada dalam kegelapan rasanya sangat buruk!
Apakah dulu dia seperti Jansen yang sekarang yang hidup di dunianya sendiri? Apakah dia tidak berkomunikasi dengan Jansen tentang apa yang dia pikirkan dan lakukan?
"Itu dulu, sekarang kalian sudah bercerai. Jansen, sebaiknya kamu menjelaskannya padaku sekarang!" Renata menyela dengan ketus.
Jansen terlalu malas untuk meladeni mereka dan melangkah pergi meninggalkan aula berkabung.
__ADS_1
Elena buru-buru menghadang di depan Jansen dan dengan keras kepala dia berkata, "Jansen, kalau kamu tidak berikan penjelasan, kamu tidak boleh pergi!"