
Ekspresi Preston menjadi dingin, "Bagian selatan Gunung Kunlun adalah perbatasan dan kudengar ada banyak orang yang memanfaatkannya untuk menyelundup masuk. Setelah penjagaan tentara menjadi sangat ketat, mereka tidak mengambil jalan perbatasan dan justru datang menggunakan pesawat secara terbuka dengan dalih sebagai turis."
Dia lalu mendengus dingin, "Apa mereka lupa sudah berapa banyak orang luar yang menjadi korban di Gunung Kunlun selama bertahun-tahun?"
"Ayo kita bergegas ke pintu masuk!"
Jansen berkata tanpa basa-basi.
Preston segera memimpin jalan sambil membaca kompas. Seekor burung kayu terukir di atas kompas itu dan dia terus berputar-putar sebelum paruhnya akhirnya menunjuk ke sebuah arah.
Jurus pengendalian semacam ini tidak akan bisa muncul di tempat lain kecuali Sekte Tersembunyi.
Setelah berjalan selama beberapa saat, Preston akhirnya berhenti melangkah dan menunjuk ke sebuah celah di gunung di depan, "Ini pintu masuknya!"
Suaranya terdengar sedikit bergetar.
Dia tidak akan merasa takut seandainya datang dengan kakak seperguruannya di Sekte Yuhua, tapi sekarang hanya ada mereka berdua. Meski Jansen sangat kuat, Preston masih sangat takut dengan misteri istana langit itu.
Jansen melihat sekitarnya dan bertanya, "Apa kamu yakin ini tempatnya?"
Dengan Sihir Daoist miliknya, dia bisa melihat tempat ini adalah tempat yang biasa-biasa saja.
"Setahuku, celah ini adalah retakan yang terbentuk akibat gempa yang pernah terjadi. Mungkin saja Puncak Zamrud jadi berada di sisi yang berlawanan dan Istana Langit Awan berada di bawahnya, "jawab Preston.
Jansen tertegun. Dia memang merasa aneh barusan karena dia tahu Tianggang tidak akan membangun istana langit di tempat seperti ini dengan kemampuannya. Ternyata ini hanya sebuah lorong.
Jansen kemudian berjalan lebih dulu ke dalam celah itu.
Celah itu sangat kecil sehingga orang harus memasukinya dengan berjalan menyamping. Setelah berjalan selama sekitar 15 menit, ruang itu pun perlahan membesar dan suhunya juga menghangat.
Tampaknya mereka sangat dekat dengan kawah lava.
"Kak Jansen, lihat, ada puntung rokok lagi di sini lagi!"
Preston tiba-tiba berbisik.
Jansen mengangguk. Tidak hanya ada lebih banyak puntung rokok di tanah, tapi juga ada beberapa jaket bulu. Sepertinya orang-orang yang memakainya membuangnya karena suhu di sini panas.
__ADS_1
Selain itu, ada pula senter yang ditinggalkan di sudut. Senter itu berwarna hitam gelap, tapi tulisan "Negara Matahari" tertera saat Jansen membuka sampul belakangnya.
Orang-orang dari Negara Matahari!
Amarah Preston menjadi tersulut setelah dia tahu tentang hal ini, "Satu-satunya hal yang baik dari para orang Negara Matahari ini adalah mereka sering mengingini rahasia nenek moyang kita! Pada awal-awal pembebasan, katanya ada orang yang mencuri banyak sekali mural berharga!"
Ekspresi Jansen berubah menjadi dingin. Rahasia Huaxia seharusnya tetap berada di Huaxia dan tidak diketahui oleh orang luar.
"Ayo!"
Jansen terus bergerak maju. Suhu di sekitar mereka makin menghangat, rasanya seperti sedang musim semi.
Begitu melalui dinding batu, sejumlah besar mural kuno pun terlihat.
Isi mural itu sangat sederhana. Seorang pria yang mengenakan mahkota giok berlutut di tanah dan mempersembahkan segel giok dengan kedua tangannya. Di depannya, ada seorang wanita yang menunggangi 100 binatang buas dan mengambil segel giok itu. Perawakannya terlihat misterius seperti seorang makhluk berumur panjang.
Gambar berikutnya menunjukkan pria itu pergi dengan si wanita seolah sedang bereinkarnasi.
Pada gambar terakhir, mereka berdua memasuki gerbang perunggu.
Sepertinya tidak. Kalau jawabannya ya, lalu kenapa Sekte Tersembunyi harus melatih diri? Mereka kan tinggal masuk saja.
Bagaimanapun juga, prinsip dasar kultivasi Sekte Tersembunyi adalah untuk mencapai keabadian agar tidak pernah mati.
Akan tetapi, lain cerita jika sisi lain dari gerbang perunggu itu bukanlah surga melainkan dunia misterius lainnya.
Sesuatu tiba-tiba terpikirkan di benak Jansen. Apa mungkin ayahnya ada di dunia itu?
Tidak lama kemudian, Jansen dan Preston tiba di akhir perjalanan. Ternyata tempat ini berada di atas tebing. Pemandangan di depan terpampang dengan luas dan dengan pencahayaan yang terang.
Setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata tempat ini adalah sebuah gua bawah tanah yang sangat besar. Ada beberapa gunung di dalam gua yang ditutupi dengan jenis serangga yang tidak diketahui. Semua serangga itu berpencar sehingga menerangi tempat ini.
"Pantas saja di sini ada begitu banyak hewan dan tumbuhan! Tempat ini dekat dengan kawah lava dan suhunya sangat hangat!"
"Selain itu, geografi khusus Gunung Kunlun menciptakan banyak makhluk yang tidak diketahui."
Jansen berjalanan menuruni gunung bersama Preston. Dia menggunakan jarum peraknya untuk mengambil seekor serangga yang belum pernah dia lihat. Serangga itu memiliki tubuh kelabang, tapi juga bersayap transparan. Sepertinya serangga itu sedang hibernasi saat ini karena hewan itu tidak bergerak gelisah. Di bawah sayapnya, terlihatlah tubuhnya yang sedang berpendar.
__ADS_1
"Kelabang bersayap enam?"
Jansen ingat bahwa beberapa kitab kuno memang menulis tentang serangga ini.
Dari kejauhan, sebuah istana megah terletak di antara pegunungan. Penampilannya terlihat tenang seolah-olah itu adalah istana makhluk berumur panjang yang tersembunyi di gunung keramat.
Namun, pencahayaan yang redup membuat istana itu terasa aneh dan kejam bagi Jansen.
"Tianggang ini benar-benar orang yang aneh. Bisa-bisanya dia membangun istana sebesar ini di lingkungan seperti ini!"
"Kalau ini di zaman modern, kurasa pasti tidak akan ada yang bisa."
Satu jam kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di alun-alun besar depan istana. Pilar-pilar batu berbentuk persegi tersebar di sekitar alun-alun, begitu tinggi hingga puncaknya tidak terlihat. Sepertinya itu adalah bagian atas gua untuk mencegah runtuhnya gua.
Namun, ada banyak hal yang menumpuk di depan mereka, seperti kamera modern, radar, dan lain sebagainya. Ada beberapa pria yang mengenakan headphone sambil merekam data pula.
Di samping mereka, ada beberapa pria yang sedang merokok. Mereka tampak seperti tentara bayaran.
Awalnya, mereka merasa ketakutan saat melihat Jansen dan Preston berjalan mendekat, tapi mereka jadi berdiskusi setelah melihat bahwa yang datang bukanlah hantu.
Itu juga bahasa negara matahari, tentu saja, ada bahasa negara elang.
Preston menjadi marah. Dia tahu orang-orang ini sedang menghitung lokasi Istana Langit Awan dan akan menjarah harta karun dari sana saat datang lagi di lain kesempatan.
Jansen menatap mereka dengan penuh minat. Dia tahu sedikit bahasa Negara Elang dan bisa memahami apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Mereka sepakat untuk tidak membunuhnya, karena siapa tahu ada rahasia apa pun yang bisa dikorek dari mereka berdua.
Jansen sontak tertawa.
Berani-beraninya orang-orang luar ini bersikap sombong di Huaxia?
Mereka bahkan berencana untuk menjaga dirinya dan Preston agar tetap hidup?
Mereka memang lebih baik mati!
"Hancurkan semua peralatan itu dan bunuh mereka!"
Jansen memerintahkan Preston.
__ADS_1