
"Hahaha, kalian pikir semuanya tidak akan mati? Kami sudah menanam bom di pesawat ini, ayo kita mati bersama!"
Saat ketika semua orang senang, pria berjanggut itu tiba-tiba berteriak. Dia di lumpuhkan oleh jarum perak Jansen, jadi dia kehilangan kemampuannya untuk bergerak!
"Benar juga, masih ada bom, cepat, temukan bomnya!"
Raut wajah Arthur seketika berubah, dia melupakan hal penting ini. Dia kira perampok itu hanya sengaja membuat mereka takut!
"Bom, di mana bomnya? Dari tadi aku tidak pernah melihat mereka mengeluarkan bom!"
Keisha si pramugari ini juga menjadi gugup, dia berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
"Tidak perlu dicari, aku sudah menemukannya!"
Jansen melirik salah satu kompartemen bagasi yang terkunci. Setelah dibuka, dia mengeluarkan tiga bom waktu!
Ketika dia membantu Elena menyelesaikan sebuah kasus, dia bertemu dengan seorang maniak bom. Jadi dia sangat sensitif terhadap bau bahan peledak dan berhasil menemukan bom itu setelah mencari sumber baunya!
"Ternyata sungguh ada bomnya!"
Melihat Jansen memegang bom di tangannya, semua penumpang kembali panik. Beberapa orang bahkan menonaktifkan mode penerbangan ponsel mereka dan ingin menelepon ke rumah untuk meninggalkan pesan terakhir mereka!
"Biar aku lihat!"
Seorang pria gemuk muncul dari belakang Arthur, mengambil bom itu dan melihatnya. Dia mengerutkan kening, "Ini adalah bom TNT yang kuat, masih ada waktu lima menit lagi. Begitu meledak, walaupun pesawatnya tidak hancur, tapi pesawat akan kehilangan fungsinya untuk terbang, dan akhirnya, pesawat akan jatuh!"
"Bisakah kamu membongkarnya?"
Arthur mengerutkan kening.
"Waktunya terlalu sedikit, sudah terlambat. Sepertinya para perampok ini sudah mempersiapkan semuanya. Jika aksinya berhasil, mereka akan segera melucuti bom dan kalau mereka gagal mereka akan mati bersama-sama!" kata pria gemuk itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Sial, bajingan cepat beritahu aku cara membongkarnya!"
Pria kurus itu berlari ke arah pria berjanggut itu, lalu meninjunya serta menendangnya.
"Haha, ayo pukul, ayo pukul, setelah bertarung mari kita semua mati bersama!"
Pria berjanggut itu tahu jelas jika dia jatuh ke tangan tentara dan masih hidup, dia tetap harus menanggung hukuman, jadi dia tidak akan mengatakannya!
Waktu di bom waktu perlahan berkurang, seluruh kabin menjadi lebih tegang dan suasananya penuh tekanan.
"Begini saja, biarkan aku yang melakukannya!"
__ADS_1
Pada saat ini, Jansen mengusulkan, "Aku akan membuang bomnya dari pesawat dan membiarkan bom itu meledak di udara!"
"Itu tidak mungkin bisa, begitu pintu kabin dibuka, tekanan udaranya akan membuat semua orang tertiup keluar, dan aliran udara di luar begitu cepat, mencapai 800 kilometer per jam, bagaimana mungkin tubuh manusia bisa menahannya!" Arthur langsung menentangnya.
"Tidak ada waktu lagi untuk mempertimbangkannya!"
Jansen berkata dengan samar, "Biarkan pilot mencoba yang terbaik untuk mencapai kecepatan pendaratan pesawat. Sedangkan untuk para penumpang, mereka semua harus duduk mengencangkan sabuk pengaman. Lalu gunakan benda lain untuk menstabilkan tubuh mereka, dan juga siapkan tali yang banyak untuk mengikatku. Buka dan tutup pintu kabin dalam waktu 30 detik!"
"Hanya saja, itu terlalu berbahaya bagimu!" kata Arthur sambil mengerutkan kening.
"Mereka di sini karena aku, dan aku merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya. Selain itu, yang mengambil risiko aku sendiri, dan yang akan mati juga aku sendiri, tetapi kalau aku tidak melakukan apa-apa, semua orang akan mati!" kata Jansen.
Arthur mengertakkan gigi dan segera menyuruh orang menyiapkannya, sementara pramugari menenangkan penumpang dan membantu mereka mengenakan sabuk pengaman!
Tiga menit kemudian, semuanya sudah siap!
Jansen diikat dengan sejumlah besar tali yang kuat untuk mencegahnya tertiup angin. Tentu saja, walaupun kecepatan pesawat melambat, itu masih antara 400-500 per jam. Aliran udara yang besar masih bisa membuat Jansen mati. Bahkan dengan kecepatan ini dan ada seekor burung menabrak badan pesawat, bisa membuat badan pesawat penyok!
"Jansen, apa kamu yakin?"
Arthur menatap Jansen dengan serius. Meskipun dia baru mengenal Jansen, dia sangat mengagumi Jansen.
Jansen tersenyum dan tiba-tiba teringat pada Elena. Jika Elena ada di sini, dia pasti akan melakukan hal yang sama. Gadis itu memang keras kepala. Dia mengangguk, "Aku yakin!"
Arthur tiba-tiba berteriak, anak buahnya dan semua orang memberi hormat kepada Jansen. Lalu dia melihat para penumpang, walaupun mereka tidak berdiri. Tetapi mereka duduk dalam posisi memberi hormat kagum!
Jansen sangat terharu. Dulu dia yang memberi hormat pada tentara. Kali ini pertama kalinya dia merasakan di hormati.
"Jansen, kamu adalah pahlawan dan kebanggaan Huaxia. Ingat, jangan mati. Aku menunggumu di Ibu Kota!" Kata Arthur dengan serius setelah memberi hormat.
"Tenang saja, istriku masih menungguku di Ibu Kota, aku tidak akan mati!"
Jansen mengangguk, lalu memberi isyarat kepada pria gemuk itu untuk membuka pintu kabin. Pria gemuk dan mereka semua sudah berpengalaman, buka setengah saja pintunya, cukup untuk mengeluarkan Jansen!
Namun saat pintu baru saja terbuka dan suara getaran yang memekakan telinga datang dan aliran udara bergolak!
Jansen tiba-tiba mengertakkan giginya, mengatur Profound Qi nya dan bergegas keluar dengan membawa bom!
"Tutup pintunya!"
Melihat sosok Jansen menghilang, mata Arthur menjadi lembab dan berteriak.
Setelah Jansen bergegas keluar dari kabin, angin kencang dan arus udara seperti sedang mencabik-cabiknya dan tubuhnya bergetar kencang.
__ADS_1
"Sial, dengan getaran yang begitu dahsyat, aku takut bomnya akan segera meledak!"
Jansen berpikir dengan cepat, satu tangannya memegang erat tali dan yang satunya melempar bom!
Boom!
Hanya dalam waktu sedetik, gelombang panas datang. Jika bukan karena kecepatan pesawat, bom bisa terlempar jauh dalam waktu sedetik, kemungkinan Jansen akan tewas!
Namun walau begitu, gelombang panas masih mempengaruhi Jansen. Kepalanya terbentur dan membuat penyok badan pesawat, hampir membuatnya pingsan!
Untungnya, saat ini Profound Qi dengan cepat menyebar dan memulihkan luka-luka di tubuhnya!
"Kalian lihat itu!"
Saat ini, semua orang di pesawat melihat ke luar jendela, dan melihat kembang api yang indah bermekaran di belakang. Semua orang tahu bahwa mereka selamat!
"Bagus!"
"Akhirnya kita selamat!"
"Ini adalah masalah yang di bawa Jansen, dan dia menebusnya sekarang. Tapi dia sudah membuang banyak waktuku sampai bisnis besarku ikut terlibat!"
Orang-orang saling berpelukan dengan penuh semangat, tetapi ada beberapa orang mengeluh tentang sesuatu.
Jansen adalah pahlawan dan juga penyelamat kita, semua orang kembali memberi hormat padanya!
Mata Arthur menjadi lembab, dia telah menjadi tentara sepanjang hidupnya. Setiap kali bertemu dengan perpisahan hidup dan mati seperti ini, dia masih saja tidak bisa mengendalikan perasaannya!
Wuuss!
Beberapa orang di belakangnya memberi hormat satu per satu dan berduka untuk Jansen.
Setelah semua penumpang merasa senang, tak lupa mereka juga memberi hormat dan berterima kasih kepada Jansen karena telah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan mereka, inilah tentara Huaxia!
"Tunggu, kalian lihat! Itu"
Tiba-tiba, Keisha berkata dengan suara bersemangat, sambil menunjuk ke luar jendela dan berteriak. Lalu melihat bahwa tidak jauh dari pintu kabin, Jansen masih diikat dengan tali, bergerak mengikuti angin kencang!
"Dia tidak mati!"
Seseorang berteriak gembira.
"Tidak mati?"
__ADS_1
Seluruh tubuh Arthur gemetar dan segera memerintahkan pilot untuk mendarat di bandara terdekat.