
"Ayo, ikut aku!"
Erson dan yang lainnya memimpin jalan dengan sangat antusias. Meski tidak tahu apakah yang dikatakan Jansen benar atau tidak, mereka merasa pemuda itu bisa diandalkan karena melihat antusiasme Jansen untuk membantu menyelamatkan orang lain.
Area pabrik Grup Dream Internasional sangat besar dan dikelilingi oleh tembok yang menjulang tinggi. Mereka bisa mendengar suara deru mesin yang datang dari arah dalam.
Mereka berjalan menyusuri dinding dan tiba-tiba melihat sebuah mobil pick up di depan sana. Satu per satu orang membawa dus untuk dinaikkan ke atas mobil.
Sebuah papan reklame yang bertuliskan PT. Cantika Cosmetics terpasang di mobil itu.
Jansen merasa nama itu sedikit familiar. Setelah menggali ingatannya sejenak, dia menyadari bahwa bukankah itu nama perusahaan Anzel? Dia pun sontak bertanya, "Apa yang mereka lakukan?"
"Apa lagi? Tentu saja mencuri!"
Erson melengkungkan bibirnya dan berkata, "Mereka mencuri kosmetik dari pabrik dan diam-diam menjualnya ke PT. Cantika Cosmetics untuk mendapatkan keuntungan!"
Jansen mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu terang-terangan? Tidak ada yang peduli?"
"Peduli?"
Erson menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Mereka adalah satpam pabrik, siapa yang berani mengurusi mereka? Selain itu, mereka berasal dari desa terdekat dan dikenal sangat sombong!"
"Hei, Erson!"
Seseorang berjalan mendekat saat melihat Erson dan yang lainnya menonton, lalu menyerahkan sebatang rokok, "Kenapa kamu punya waktu luang untuk berkeliaran di sini?"
"Hahaha.... Anak muda ini mengatakan bahwa dia ingin melihat-lihat di sekitar sini. Aku hanya membawanya berjalan-jalan!"
Erson ternyata mengenal lawan bicaranya. Dia mengambil rokok itu dan menghisapnya.
Pria itu adalah satpam pabrik dan dia memperlakukan orang dengan baik. Tentu saja, sisi lainnya adalah dia sangat keras kepala dan sulit untuk ditangani.
"Oh, begitu!"
Pria itu menatap Jansen dari atas ke bawah. Dia tidak ambil pusing saat melihat perawakan Jansen yang mengenakan pakaian yang sederhana dan tampak seperti seorang mahasiswa.
"Apa kamu merokok?"
Dia juga menyerahkan sebatang rokok kepada Jansen.
Jansen mengibaskan tangannya untuk menolak dan bertanya, "Apa kalian tidak takut melanggar hukum dengan mencuri barang-barang dari pabrik secara terang-terangan?"
"Hahaha.... Apanya yang perlu ditakuti? Grup Dream Internasional adalah perusahaan besar, mana mungkin mereka tahu hal-hal semacam ini? Selain itu, aku juga tidak peduli!" Pria itu menggeleng dan tertawa.
"Kamu dapat menghasilkan banyak uang dengan menjualnya ke perusahaan lain!" sahut Jansen santai.
"Benar, tapi pendapatan paling besar itu milik PT. Cantika Cosmetics. Mereka mengubah kemasannya dan menjualnya secara online. Penjualan mereka sedang meroket sekarang!"
Pria itu menyipitkan matanya, "Kenapa kamu bertanya begitu banyak?"
"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir kalian sedang melanggar hukum!" jawab Jansen dingin.
Pria itu tertawa keras, "Kami adalah satpam pabrik dan di pabrik sebesar ini, 80% orang akan menuruti kami. Kalau tidak, kamu pikir penghasilan 5 ribu sampai 6 ribu per bulan cukup untuk menghidupi keluarga? Biar kuingatkan, kamu jangan ikut campur dengan urusan kami atau kamu akan menanggung akibatnya!"
Pria itu menatap Erson lagi dan berkata, "Erson, adikmu ini tidak terlalu pandai menjadi manusia!"
Erson terlihat salah tingkah dan tidak mengerti mengapa Jansen ikut campur.
"Aku benar-benar ingin tahu akibat seperti apa yang harus kutanggung!"
Jansen menyahut dengan dingin. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, "Panah, utuslah orang yang agak banyak untuk datang ke Grup Dream Internasional!"
__ADS_1
Melihat Jansen menelepon seseorang, pria itu tiba-tiba melemparkan rokoknya dan berkata dengan dingin, "Sepertinya kamu terlalu ikut campur urusan orang lain. Kamu iri pada orang lain yang menghasilkan uang, kan?"
"Erson, kurasa kamu dari lingkungan sekitar sini. Aku sudah menghargaimu, tapi orangmu ini tidak tahu diri! Jangan salahkan aku karena berbalik melawan mu!"
"Hei, kalian semua! Kemarilah!"
Begitu pria itu berteriak, sejumlah satpam pun datang sambil membawa pentung!
"Ada pencuri di sini! Tangkap dan hajar dia!"
"Oh ya, kurung dia selama dua atau tiga hari!"
Ternyata, mereka sejak awal sudah terpikirkan cara untuk menangani masalah ini!
Satpam di seluruh pabrik adalah orang-orang mereka sendiri, jadi siapa yang berani menjadi saksi? Siapa yang berani tidak mematuhi perintah?
Tidak ada yang bisa melihat kalau ada orang yang dikurung dan dipukuli selama dua atau tiga hari! Sudah tidak ada lagi yang namanya keadilan!
Ekspresi Erson dan yang lainnya berubah drastis, mereka segera mengambil satu langkah mundur.
Akan tetapi, Jansen bersikap acuh tak acuh. Dia menyalakan rokok dan menghisapnya.
"Sialan, anak muda ini tidak takut mati?"
Sudut mata Erson tiba-tiba berkedut.
Tepat pada saat itu, seorang satpam bergegas maju dan mengayunkan pentungnya untuk memukul kepala Jansen.
"Awas!"
Erson berseru dan bergegas ke hadapan Jansen, satu tangannya menghalangi pentung itu!
Setelah itu, Erson menarik napas dalam merasa kesakitan.
"Erson, kuakui kamu punya nyali!"
Para satpam lainnya menimpali dengan dingin.
Mereka sudah lama menawarkan pekerjaan kepada Erson dan yang lainnya untuk menjadi satpam, tetapi orang-orang itu menolak karena tidak ingin melanggar hukum!
Saat itu, mereka diam-diam tertawa. Apa gunanya menghormati hukum? Mereka bahkan tidak mampu makan!
Siapa sangka Erson yang tidak mau melakukannya juga berniat memaksa mereka untuk tidak melakukannya!
"Kamu pasti akan mengerti kalau dipukul dengan pentung!"
Seorang satpam yang ada di depan Erson mengangkat pentungnya lagi.
"Sial!"
Erson tahu dia dalam masalah.
Para satpam ini tidak takut dalam melakukan sesuatu dan serangan mereka tidak main-main.
Buk!
Namun, pentung itu tidak mengenai Erson karena Jansen menendang satpam itu lebih dulu!
Argh!
Satpam itu tertendang mundur sejauh 10 meter lebih. Dia setengah berlutut di tanah sambil mencengkeram perutnya dan menjerit kesakitan.
__ADS_1
Para satpam lainnya saling menatap. Apa benar itu hasil perbuatan kaki manusia?
Sialan! Apa bedanya tendangan itu dengan ditabrak mobil?
"Pukuli dia sampai mati!"
Pria yang berada di paling depan melemparkan rokoknya dan menunjuk hidung Jansen.
Jansen maju selangkah dan meraih jari pria itu dengan tangannya. Dia tiba-tiba mengerahkan tenaga dan jari pria itu pun langsung patah.
"Argh!"
Pria itu tersentak kesakitan. Rasa sakit yang menyerang akibat jari yang patah itu tidak bisa digambarkan.
"Aku punya kebiasaan buruk. Aku tidak suka kalau ada orang yang menudingku, jadi aku akan mematahkan jari mereka. Ingat, lain kali jangan seenaknya menudingku!" kata Jansen santai. Kemudian, Jansen melambaikan tangannya dan pria itu terpental beberapa meter jauhnya seperti sampah yang dilempar keluar.
Erson dan yang lainnya tercengang. Mereka tidak menyangka Jansen yang terlihat lembut itu ternyata sangat kejam dan pandai berkelahi!
"Pukuli dia sampai mati!"
Pria yang jarinya patah itu meraung dengan wajah yang pucat karena rasa sakit sambil memegangi jarinya.
Tepat pada saat itu, ada beberapa mobil yang tiba di depan mereka. Setelah mobil-mobil itu berhenti belasan meter jauhnya dari mereka, sejumlah besar orang-orang pun bergegas menghampiri!
Bang bang bang!
Sebelum para satpam Grup Dream Internasional bisa bergerak, orang-orang itu sudah menghabisi dan memukuli mereka dalam sekejap.
"Tuan Jansen!"
Panah mengangguk pada Jansen. Orang-orang yang dia bawa benar-benar ahli.
Si satpam yang menjadi pemimpin memandang orang-orang yang dibawa oleh Panah dengan kaget, tapi dia juga berseru dengan tidak takut, "Nyalimu besar sekali! Berani-beraninya kamu memukuli satpam Grup Dream Internasional dan melapor polisi!"
"Dasar cari mati!"
Ekspresi Panah menjadi dingin dan dia hendak bergerak.
Jansen melambaikan tangannya dan menghentikan wanita itu. Dia tersenyum datar dan berkata, "Aku yang meminta untuk melapor polisi. Aku membutuhkan mereka sebagai saksi pribadiku!"
"Mereka adalah satpam Grup Dream Internasional. Kalau kalian sampai salah dituduh mencuri barang, tamatlah riwayat kalian!" kata Erson sontak mengingatkan.
"Bukan masalah!"
Jansen menggeleng tidak peduli.
Tidak lama kemudian, mobil polisi pun datang. Beberapa pria berseragam datang menghampiri.
"Siapa yang melapor polisi?"
Seorang pria paruh baya yang bertubuh kurus mengerutkan keningnya dan bertanya.
"Aku!"
Si satpam yang memimpin segera berteriak, "Mereka mencuri dari Grup Dream Internasional dan memukuli orang! Cepat tangkap mereka!"
Dia diam-diam tertawa dingin setelah berkata seperti itu. Mereka adalah satpamnya dan mereka-lah yang berhak menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang benar.
"Kalian mencuri?"
Semua polisi itu memandang Jansen dan tentu saja mereka jadi percaya pada perkataan si satpam.
__ADS_1
Erson pun buru-buru menjelaskan, "Bukan seperti itu, Pak Polisi! Justru mereka-lah yang mencuri! Kami hanya menghentikan mereka!"