
Jansen menghempaskan semua master yang menyerangnya.
Sangat mengerikan!
Kecepatan Jansen seperti mobil berkecepatan tinggi.
Sulit dibayangkan. Jansen memiliki tubuh yang kurus. Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?
Pupil Tuan Dean menyusut, dia sangat terkejut, "Ahli seni bela diri?"
Begitu kata-kata itu terucap, Jansen menunjuk Tuan Dean dengan menggunakan tongkat.
Plak!
Tongkat itu menghantam kaki Tuan Dean. Dalam seketika, kaki kirinya pun patah.
"Aku sudah bilang, aku akan mematahkan kakimu.”
Semua orang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Jansen.
Semua orang tercengang.
"Ah!"
Tuan Dean baru sadar dan berteriak kesakitan, "Kamu berani memukulku? Kamu tidak tahu siapa aku?"
"Aku sudah bilang, aku akan membereskanmu!"
Jansen kembali melayangkan tongkatnya dan mematahkan kaki Tuan Dean yang satu lagi.
Kemudian, sebuah telapak tangan menghantam perut Tuan Dean hingga mengeluarkan suara teredam.
Wajah Tuan Dean berubah drastis, "Kamu menghancurkan seni beladiri ku?"
Meskipun Tuan Dean sudah tua, dia adalah seorang master. Kemampuannya telah mencapai level tingkat bumi. Tuan Dean menaklukkan berbagai wilayah dengan mengandalkan kemampuan dan arogansinya.
Namun, sekarang Tuan Dean sudah cacat. Dia seperti orang tua pada umumnya.
"Kamu mempunyai kemampuan, tapi kemampuanmu tidak digunakan untuk membantu orang. Kamu malah menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. Kalau bukan aku, siapa yang akan menghancurkanmu?" kata Jansen dengan dingin.
Tuan Dean merasa seperti disambar petir, dia pun berteriak, "Kamu berasal dari sekte mana? Sungguh arogan. Tunggu saja!"
Pria berjas di samping langsung paham dan segera menelepon, "Senior, Tuan Dean dalam bahaya. Beliau berada di Aula Xinglin."
"Anak muda, aku mengagumi keberanianmu dan aku juga mengagumi kebaikanmu yang memikirkan rakyat jelata. Tapi, dunia Jianghu sangat kejam. Ketua sekte akan datang. Tunggu saja, kamu akan berlutut dan meminta ampun!"
Setelah pria berjas selesai menelepon, Tuan Dean berkata sambil menggertakkan gigi, "Aku bukanlah orang sembarang yang bisa kamu remehkan."
Lima menit kemudian, sebuah Nissan tiba.
Sebuah mobil yang sangat biasa.
Namun, begitu Tuan Dean melihat plat mobil itu, dia langsung menyapa dengan hormat, "ketua."
Melihat Tuan Dean yang begitu hormat, semua orang langsung mengetahui siapa orang penting ini.
Bahkan, seorang Tuan Dean pun membungkuk dan memberikan hormat kepadanya.
Saat pintu mobil terbuka, seorang supir turun lebih dulu. Supir membuka pintu belakang dengan hormat. Kemudian, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian master berjalan keluar. Pria paruh baya melirik Tuan Dean, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jansen. Pria paruh baya gemetar dan mempercepat langkahnya.
"Mampus!"
Wanita licik yang berada di samping Tuan Dean mencibir dingin.
Kakek berjalan begitu cepat. Sepertinya dia sangat marah.
__ADS_1
Apakah Kakek mau mematahkan kaki pemuda ini?
Atau menyuruhnya berlutut dan memohon belas kasihan?
Suasana langsung hening. Semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Senior!"
Seketika, pria paruh baya berhenti di hadapan Jansen. Dia langsung berlutut dan memberi hormat dengan satu tangan.
Tuan Dean masih mencibir dengan dingin, "Masih tidak berlutut. Berlutut, berlutut?”
Tuan Dean kesulitan mengucapkan kata berlutut.
Apa yang terjadi?
Tuan Dean menggosok matanya dengan keras begitu melihat ketua sekte yang berlutut di hadapan pemuda ini.
"Senior, kenapa kamu di sini?"
Pria paruh baya itu berteriak dengan bersemangat.
Pria paruh baya ini adalah Matthew, Ketua Sekte Gunung Hitam. Belum lama ini, Matthew baru mengetahui kehebatan Jansen pada saat berada di Lembah Cacing Kota Bona.
Dalam sekali tebasan pedang, Jansen telah membunuh monster dari akademi tiga belas. Matthew saja tidak pernah bermimpi melihat hal semacam itu.
Kemudian, Jansen menghilang dan terjadi ledakan besar di lembah. Namun, Matthew yakin, orang sehebat Jansen tidak mungkin mati.
Benar saja, sekarang Jansen sedang memegang tongkat dengan marah.
"Aku tahu, pasti kamu!"
Jansen berkata dengan dingin, "Tuan Dean adalah orangmu?"
"Iya, apakah dia telah membuatmu marah?" tanya Matthew dengan gelisah.
Jansen melayangkan tongkat yang dipegangnya.
"Ah!"
Matthew berteriak kesakitan karena kepalanya dipukuli.
Matthew langsung merasa pusing. Dia hampir terjatuh, tapi dia tetap berusaha untuk berlutut tegar.
"Apakah kamu tahu? Orangmu datang ke klinikku dan membuat pasien-pasien di sini ketakutan."
Jansen menginjak bahu Matthew. Sementara Matthew, dia tidak berani mengatakan apa-apa dan tetap membungkuk dengan hormat.
"Ketua!"
Tuan Dean pusing melihat semua ini. Matthew adalah seorang ketua sekte yang akan memukul muridnya bila tidak senang. Namun, kenapa sekarang dia seperti seekor anjing?
"Orangmu juga mengancamku untuk mendapatkan Anggur Baimo. Apakah kamu tahu itu?"
Jansen kembali mengangkat tongkatnya.
Kepala Matthew kesakitan. Rasanya dia mau menangis.
"Dia memintaku berlutut."
Jansen memberikan pukulan terakhir.
Matthew menangis dan berteriak, "Senior, semua ini salahku. Sebenarnya, dia meminta anggur itu untukku. Tanganku dipatahkan oleh Monster Tua Lembah Darah. Aku dengar, anggur Aula Xinglin sangat bagus, makanya aku mau mencoba anggur itu. Aku tidak tahu bahwa Senior yang membuat anggur itu."
"Kalau aku adalah orang biasa, mungkin hari ini aku sudah ditindas olehmu."
__ADS_1
Jansen menendang Matthew, lalu melangkah maju dan menginjak dada Matthew.
"Aku tidak berani lagi. Senior, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi."
Matthew memaksakan dirinya, "Dean, masih tidak mau berlutut?"
Tuan Dean adalah orang yang cerdas. Semua sudah seperti, dia harus berlutut.
Dang!
Meskipun kedua kakinya sudah patah, Tuan Dean tetap berusaha untuk berlutut dan memohon ampun, "Senior, aku sudah menyadari kesalahanku."
“Aku meminta maaf dan mengakui kesalahanku kepada semuanya."
Jansen menatap Tuan Dean yang sedang berbicara.
"Maaf, aku telah mengganggu kalian berobat. Aku berjanji, ini adalah terakhir kalinya. Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi."
Tuan Dean bersujud kepada semua orang.
"Maafkan aku."
Wanita yang bersikap angkuh sebelumnya, juga berlutut sambil berlinang air mata.
Akhirnya, wanita ini melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Orang-orang di sekitar terkejut sekaligus merasa terharu.
Yang mengejutkan, Jansen bahkan tidak takut kepada Tuan Dean.
Yang membuat terharu, orang sebaik ini malah bersembunyi di kota dan membuka klinik untuk membantu rakyat biasa.
Jansen adalah dokter yang sesungguhnya.
"Senior, bagaimana menurutmu?"
Melihat kemarahan Jansen yang mereda, Matthew bertanya dengan suara kecil.
"Bereskan kekacauan di jalan ini. Kalau kurang satu bata atau satu batu saja, aku akan mencarimu."
Jansen membuang tongkatnya, lalu berjalan masuk ke dalam Aula Xinglin.
Dokter Ernest Alfie dan yang lainnya tidak bisa berkata-kata. Sedangkan Kakek Herman mengejar Jansen dari belakang dan berbisik, "Jansen, jangan berlebihan. Jangan terlalu memaksa para penatua itu."
Kakek Herman tidak tahu bagaimana cara Jansen membuat para penatua itu berlutut. Namun, Kakek Herman takut Jansen akan membuat mereka berpikiran pendek hingga nekat bunuh diri.
Bagaimanapun, mereka adalah orang berdarah dingin. Jansen akan berada di dalam bahaya bila mereka menyerang.
"Kakek, tenang saja. Mereka tidak akan berani."
Jansen tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Apalagi, mereka yang memohon kepadaku. Mulai saat ini, mereka akan menjaga tempat ini. Masalah kita akan berkurang."
"Tapi...
Kakek Herman tetap merasa khawatir.
"Senior, maafkan kami. Kami benar-benar sudah tidak berani."
Matthew berlari menghampiri sambil tersenyum, "Senior, tenang saja. Meskipun akan memakan waktu satu bulan, aku akan memaksa mereka untuk memperbaiki semua yang rusak."
Matthew berhenti sejenak, lalu memandang Tuan Dean dan berkata, "Dean, apa kamu mendengarnya? Perbaiki tanaman dan bunga-bunga ini. Kamu sendiri yang harus memperbaikinya. Kurang satu helai saja, aku akan mematahkan kakimu!"
"Ketua, kakiku memang sudah patah."
Tuan Dean mengangguk dengan menyedihkan, "Tenang, tidak akan kekurangan satu helai daun pun."
__ADS_1
Melihat Tuan Dean yang telah mengakui kesalahannya, Matthew kembali menatap Jansen, "Senior, tanganku sakit. Aku sudah mencoba berbagai obat. Senior, kamu adalah seorang dokter. Tolong, bantulah aku."
Saat berada di Lembah Cacing, Jansen pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang dokter dan ahli fengsui. Sebelumnya Matthew tidak percaya, tapi akhirnya sekarang dia percaya.