
"Pohon apa ini? Dalam ilmu metafisika seharusnya tidak boleh menanam pohon sembarangan di halaman rumah!" kata Patricia penasaran.
Jansen mengagumi Patricia, ternyata anak ini punya banyak pengetahuan juga, sambil menganggukkan kepala dan berkata, "Di depan rumah tidak boleh menanam Pohon Murbei, di belakang tidak boleh menanam Pohon Dedalu, di halaman tengah tidak boleh ada Pohon Poplar, bahkan jika itu adalah pohon keberuntungan, seperti Pohon Delima, Pohon Jujube juga tidak boleh ditanam sembarangan, apalagi pohon keberuntungan yang memiliki karakteristik bentuknya aneh, bengkok tak beraturan, berbau, dan yang banyak sarang penyakit, itu harus dihindari!"
Patricia terkejut mendengarnya, ilmu Metafisika memang sangat mendalam!
"Lalu pohon apa ini?" tanya Cindy.
"Salah satu jenis Cypress jenis langka, yang dikenal sebagai Cypress Naga, ini bisa mendatangkan kebaikan di dalam rumah!"
Saat dia berbicara, Jansen mengambil cangkul kecil untuk menggali rumput liar dan berkata, "Harus ekstra hati-hati saat menggali, jangan sampai mematahkan akar pohon, nanti kamu bisa jatuh sakit!"
Patricia dan Cindy segera membantu dengan hati-hati.
Setengah jam berlalu, Cindy menemukan sesuatu yang keras, dan dia berseru, "Jansen, lihat ini!"
"Ternyata benar, ini Guci Abu!"
Jansen tidak heran dan terus menggali ke bawah.
Patricia dan Cindy keduanya begitu serius, siapa yang mau mengubur Guci Abu di rumah? Pantas saja Rumah Istana ini membuat orang merasa tidak nyaman.
Satu jam berlalu, mereka mendapati lima Guci Abu.
Melihat guci itu, harusnya umurnya sudah tua sekali, anehnya ada banyak kertas kuning ditempel di permukaan guci. Meskipun banyak yang sudah robek, tapi masih terlihat gambaran simbol-simbol aneh di kertas kuning itu.
"Guci ini awalnya bukan berasal dari sini. Seseorang diam-diam menguburnya di sini, menyebabkannya dia menjadi roh jahat!"
Jansen memasukkan kelima guci itu ke dalam tas.
"Kalau kita bawa guci ini ke kuburan, seharusnya tidak apa-apa kan?" kata Cindy.
"Tidak semudah itu, kita harus menemukan kuburan mereka yang sebenarnya baru bisa!"
Jansen menggelengkan kepalanya, "Apalagi ini permainan perbuatan manusia, kalau kamu ingin memecahkan misteri ini, kamu harus menemukan Penangkal Roh, kalau tidak salah, seharusnya ada di dalam kuburan, barulah kita bisa mengendalikan roh jahat ini!"
"Siapa yang begitu nganggur sampai melakukan itu!"
Patricia mengerutkan dahinya.
"Di mata orang biasa memang Rumah Istana seperti rumah hantu, tapi bagi sebagian orang beranggapan ini adalah keberuntungan yang langka, wajar kalau ada sedikit masalah!"
Jansen menjemur guci di bawah terik matahari dan berkata, "Kalau sudah siang, ayo kita pergi mencari kuburannya makin cepat makin baik, karena masih banyak masalah lainnya yang harus dibereskan selain ini!"
Patricia merinding, masih ada lagi!
Jansen tidak banyak bicara, saat tengah hari, dia membawa mereka berdua ke pasar lama, membeli beberapa cinnabar dan kertas kuning, lalu kemudian menggunakan Kompas Fengsui Leluhur sebagai penunjuk jalan.
__ADS_1
"Guci Abu ini dikubur di bawah pohon Cypress Naga untuk memperkuat unsur Yin, dan pohon Cypress Naga ditanam di wilayah tenggara Rumah Istana, jadi kemungkinan kuburannya juga ada di sekitar sini!"
Mereka duduk di dalam mobil dan mencarinya selama dua jam, jarum penunjuk kompas akhirnya berhenti ke arah sebuah gunung.
Tempatnya sudah termasuk pinggiran kota, penduduknya tidak terlalu banyak, karena daerah ini dekat dengan stasiun kereta, maka kurang cocok dijadikan tempat tinggal.
Jansen membawa kompas di tangannya dan berjalan menuju gunung itu, setelah berjalan selama empat puluh lima menit, sekitarnya mulai jarang ada jalan setapak dan ditumbuhi rumput liar yang sangat lebat, dah terlihat beberapa kuburan tua yang tidak pernah dibersihkan.
"Begitu banyak kuburan, bagaimana kita bisa menemukannya?"
Cindy melihat sekeliling.
"Pemilik Guci Abu ini kelihatannya dari keluarga besar yang kaya raya, karena mereka pasti sangat memperhatikan fengsui yang baik untuk kuburan mereka!" ucap Jansen.
Di saat dia sedang bicara, hujan badai tiba-tiba turun dari langit.
Tanpa membuang waktu, mereka tetap mencari, dengan mengikuti pohon besar yang rindang untuk mengurangi guyuran air hujan.
Udara di gunung terasa gerah, ditambah banyak nyamuk di saat hujan, terasa seperti terkepung dalam kesunyian.
"Kapan hujan ini berhenti!"
Patricia basah kuyup, bajunya melekat membentuk tubuhnya yang seksi.
Jansen meliriknya dan bergumam diam-diam, Patricia memiliki wajah klasik, dia juga pernah berlatih seni bela diri, pantas saja badannya bugar.
"Wah, kamu menjadi seorang peramal cuaca!"
Cindy tertawa terbahak-bahak.
Mereka terus mencarinya, dua puluh menit kemudian, hujan deras berhenti dan matahari bersinar terang.
Cindy dan Patricia heran, apa yang dikatakan Jansen ternyata benar sekali.
"Sudah ketemu!"
Saat itu, Jansen menunjuk ke arah depan.
Dia melihat sungai di depan dan di samping sungai ada pohon Dedalu, tapi dia tidak melihat kuburannya.
Cindy memandang ke sana, saat dia hendak mengatakan bahwa dia belum melihat kuburan itu, Jansen berkata dengan samar, "Sebenarnya fengsui kuburan itu sangat bagus, tapi dihancurkan oleh seseorang, bahkan batu nisan itu dicabut, dan sudah ditata ulang."
"Apa salahnya menanam pohon Dedalu?"
Patricia bertanya.
"Pohon Dedalu memiliki kemampuan untuk mengikat roh, dan roh itu bisa dikendalikan oleh orang di belakang!"
__ADS_1
Jansen berjalan ke depan, mengambil segenggam tanah dan mencium baunya, dia menganggukkan kepala, "Aku yakin ada di sini, lihat tanah ini kering dan berbau amis!"
Patricia mengambil tanah kering itu dan mencium baunya, "Ini ada bau, apa ada yang salah?"
"Ini dekat sungai, seharusnya tanahnya lembap, tapi di sini kering, dilihat dari Lingkaran Energi fengsui, air adalah sesuatu yang tidak bisa diubahkan dan aura Roh jahat menjadi sangat kuat, sampai tanah itu berbau darah!" Jawab Jansen.
Patricia segera melempar tanah itu dan mencuci tangannya dengan air mineral.
"Jangan buang terlalu banyak air,
Sepertinya kita harus tinggal di sini sampai malam!" ucap Jansen.
"Sampai Malam, di sini?"
Cindy berseru, jika tidak diingatkan oleh Jansen, dia tidak merasakan apa pun, bagaikan hanya gunung tandus.
Tapi setelah Jansen menjelaskan, mereka tidak ingin datang kemari di siang bolong, apalagi di malam hari.
"Kalau kamu takut, pergilah ke hotel dan tunggu aku di sana!"
Sambil bicara, sambil menyusun formasi dan mengubur Jimat Kuning untuk dikubur ke dalam kuburan.
"Tidak, kita tunggu di sini saja!"
Meskipun Patricia dan Cindy agak takut, mereka masih tidak bisa menahan rasa penasaran mereka.
Tanpa disadari, malam pun tiba.
Jansen berkata dengan suara pelan, "Apa pun yang kamu lihat nanti, jangan bersuara, kalau tidak kamu akan membangunkan mereka, ingat, Jimat Kuning yang kuberikan padamu tidak boleh hilang, satu di kiri dan satu lagi di sebelah kanan menempel di dadamu, untuk menyembunyikan amarahmu!"
Saat dia berbicara, bulan sabit terlihat di langit tinggi! Semuanya berhati-hati untuk tidak bersuara.
Tiba-tiba, cahaya putih melintas keluar dari sungai, berkeliaran seperti Api Hantu, tampaknya menyerap cahaya bulan, yang merupakan unsur negatif Roh jahat.
Ini adalah bayangan seorang gadis kecil.
"Hah!"
Melihat gadis kecil itu, Cindy tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak, seperti mimpi buruk semalam memenuhi pikirannya.
Jansen agak marah, tadi sudah kuperingati untuk tidak teriak, kamu mau menentang aku ya.
Seperti mendengar suara, bayangan itu mendekati Jansen. Karena jaraknya lebih dari sepuluh meter, ditambah dengan sinar rembulan, mereka bisa melihat dengan jelas wajahnya.
Wajah pucat, tujuh lubang berdarah, dan senyuman yang mengerikan.
Melihat penampakan ini di pegunungan dan hutan yang dalam sudah cukup untuk menakut-nakuti orang!
__ADS_1