Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 928. Kamu Mau Menghidupiku?


__ADS_3

Madison menatap Jansen dan perlahan pergi.


"Kalau tanpa kartu ini, apakah kita bisa bertarung?"


Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar ucapan dari Jansen.


Mata Madison terbelalak, dia mengira bahwa dia salah dengar. Orang gila ini ingin melawan tingkat Transcedent? Dia menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa memercayai ucapan Jansen?


"Aidan, kamu kalah. Kuperingatkan ya, lain kali jangan memprovokasiku!"


Jansen berhenti di depan Aidan, menatapnya dengan tajam.


Aidan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


"Jika adikmu diganggu lagi di Keluarga


Woodley, maka kamulah yang akan menanggung akibatnya!"


Jansen kembali berkata, "Mungkin kamu tidak percaya, tapi Desa Baiyun akan menjadi akhirmu!"


Begitu Jansen menginjak tanah, seluruh tebing sedikit berguncang, tembok dan rumah Desa Baiyun di depannya runtuh.


Aidan pun tertegun, semuanya runtuh dalam satu pijakan, siapa sebenarnya Jansen?


Saat terbangun, Jansen sudah pergi bersama Veronica. Saat melihat punggung Jansen, Aidan merasa seperti melihat seorang raja.


Jansen adalah raja yang tidak mampu dia provokasi, begitu pula Keluarga Woodley!


Tapi kebetulan raja ini adalah menantu Keluarga Miller.


Bruk!


Ia terjatuh dari kursi roda dengan wajah putus asa.


Sekarang dia akhirnya mengerti keberadaan macam apa yang dia lawan.


"Baiklah, masalah keluargamu sudah selesai!"


Sambil jalan kembali, Jansen tersenyum pada Veronica.


"Kurasa kakakku benar-benar tidak berani memprovokasimu lagi!"


Veronica mengangguk, tapi dia masih merasa seperti mimpi saat memikirkan kekuatan Jansen.


Namun sekarang, dia makin penasaran dengan pria ini. Seolah-olah ada lapisan kain kasa yang menutupi Jansen yang sebenarnya!


"Terima kasih!"


Veronica berteriak lagi.


"Kenapa harus berterima kasih padaku!"


"Terima kasih karena tidak membunuh kakakku. Meskipun kakakku sangat jahat, dia tetaplah kakakku!"

__ADS_1


Veronica tahu temperamen Jansen, kalau bukan karena dirinya, kakaknya pasti sudah dibunuh.


"Ingat ketika kamu menyelamatkanku ketika pergi ke Sekte Wudang? Aku berhutang budi padamu!" Jansen tertawa.


"Apakah itu saja?"


Veronica merasa sedikit kecewa. Dia menatapi Jansen, ingin sekali pria itu memberitahunya bahwa alasan mengapa dia tidak membunuh kakaknya adalah karena Jansen menyukainya.


Jantung Jansen berdebar kencang dan dia menghindari tatapan wanita itu dan berkata, "Jangan bicarakan ini lagi. Kamu sudah menderita selama ini. Biarkan aku traktir makan makanan enak!"


"Kamu cukup tegas dalam aspek lain, tapi kamu plin-plan dalam hubungan romantis!"


Veronica cemberut karena tidak puas. Dia merasa bahwa Jansen sebenarnya menyukainya, namun menghindarinya karena sudah menikah.


Keduanya sampai di kaki gunung, lalu memanggil taksi dan menuju ke kota.


Kota Yanba adalah kota tingkat pertama di selatan. Ada banyak orang asing berkumpul di sini. Perekonomiannya berkembang dan sangat makmur. Apalagi gaya arsitekturnya sangat berbeda dengan ibu kota. Bangunan bertingkat tinggi memiliki cita rasa yang lebih modern.


"Kamu akan mentraktirku apa?"


Walau hanya jalan bersama Jansen, dia sudah merasa cukup senang.


Meski Jansen tidak memberinya balasan positif, dia menghargai setiap saat bersama Jansen.


"Kamu kelihatan lesu, pasti selama ini tidak makan dengan baik, bagaimana kalau aku mengajakmu makan makanan obat herbal?"


"Oke, aku belum pernah makan makanan itu!"


Jansen memeriksa di ponselnya dan melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian, dia tiba di depan sebuah bangunan kayu yang antik.


"Restoran Herbal DoJans?"


Veronica sedikit penasaran.


"Ya, itu tempat gourmet selebriti Internet. Akhir-akhir ini sangat populer. Makanan obat herbal yang disajikan semuanya menggunakan bahan asli, dan mereka masih menggunakan metode masak tradisional Huaxia!"


Jansen memperkenalkan sembari mengajak Veronica masuk ke dalam restoran.


Dia juga berinvestasi di restoran ini, hari ini adalah pertama kalinya dia datang mencoba rasa masakannya.


Setelah masuk, restorannya sangat ramai sekali.


"Berapa orang?"


Seorang pelayan cantik datang menghampiri mereka.


"Dua!"


"Kalau berdua harus menunggu, sekitar 15 menit, tidak apa-apa?"


"Boleh!"


Pelayan langsung mengatur agar mereka berdua duduk di samping. Ada banyak kursi tunggu dan bisa menonton televisi.

__ADS_1


"Lumayan ya, suasananya sangat bagus!"


Veronica sangat tertarik. Dia menyapu pandangannya ke seluruh restoran dan mendapati bagian dapur yang terbuat dari kaca transparan. Puluhan koki sedang menangani bahan dan menumis masakan. Pemandangan itu sangat spektakuler.


"Nona, kami selalu menggunakan bahan-bahan yang paling segar. Entah itu sayuran, jamur, atau daging, semuanya higienis. Koki kami semua terkenal di Huaxia, bahkan kelas terendah juga dari hotel bintang lima!"


Pelayan memperkenalkan, "Kami memiliki 360 jenis hidangan, yang paling terkenal adalah makanan obat herbal. Tentu saja, ada juga makanan Huaxia lainnya. Banyak turis asing yang datang ke sini untuk mencoba makanan Restoran Herbal DoJans. Tujuan kami adalah membiarkan makanan obat herbal tradisional Huaxia dapat dikenal semua orang!"


"Filosofi bisnis kamu sangat istimewa. Jika kamu bisa mempertahankannya, restoran ini pasti akan menjadi legendaris!"


Veronica yang lahir dalam keluarga bisnis terlihat sangat tertarik.


"Iya, benar sekali Nona!"


Pelayan dari awal merasa bahwa Veronica bukan orang biasa, oleh karena itu dia memperkenalkannya dengan sopan.


"Baiklah, meja Anda sudah siap. Silakan ikuti aku!"


Pelayan membawa mereka berdua ke meja mereka dan bertanya, "Apa yang ingin Anda pesan?"


Jansen Merenung, "Aku hanya akan nasi goreng telur!"


Jansen sangat yakin dengan resep makanan obat herbal buatannya, namun semuanya tergantung dari koki yang memasak. Nasi goreng telur terlihat sederhana, tetapi untuk membuatnya dengan baik akan sangat menguji kemampuan koki.


"Nasi goreng telur?"


Pelayan itu tertegun sejenak.


"Tidak ada?" tanya Jansen.


"Ada, hanya saja jarang ada yang ke sini cuma untuk makan nasi goreng telur!"


Pelayan itu tersenyum sopan dan menatap Veronica. "Kalau Nona mau pesan apa?"


Jansen berkata, "Aku saja yang memesan untuknya. Bubur ketan hitam, tremella dan sup kacang merah!"


Pelayan segera berkata, "Tuan, ini pertama kalinya Tuan ke sini kan? Kok bisa tahu tentang menu kami?"


"Hehe, kalau aku bilang akulah yang mengeluarkan resep makanan obat herbal ini, kamu percaya atau tidak?" Jansen tertawa.


"Haha, Tuan bisa saja!"


Tentu saja, pelayan itu tidak percaya dan pergi setelah memastikan pesanan mereka.


"Jansen, sepertinya kamu sangat familier dengan tempat ini!"


Veronica penasaran.


"Aku pernah ke sini beberapa kali, jadi aku tahu!" Jansen berkata dengan santai, kemudian menatap Veronica dan mengerutkan keningnya. "Kamu terlihat sangat lesu. Pasti sangat tidak nyaman tinggal di kediaman Keluarga Woodley, kan? Bagaimana kalau aku membantumu meninggalkan keluarga itu?"


"Pergi? Memangnya kamu mau menghidupi aku?" ujar Veronica sambil mengendus.


Harus diakui, Veronica terlihat cantik sekali, bahkan saat mengendus saja terlihat lucu dan imut.

__ADS_1


Jansen tersenyum canggung, "Tentu saja aku tidak masalah membiayai hidupmu, tapi kurasa kamu juga tidak suka menganggur!"


__ADS_2