Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1324. Stop! Jangan Masuk


__ADS_3

"Brengsek!"


Para tetua pun mengumpat. Tahun ini susah payah mereka membuat cabang Gunung Salju Peri menjadi yang terbawah. Tapi hasilnya, tiba-tiba muncul suami dari Elena.


Asal tahu saja, Elena baru saja memasuki sekte tersembunyi. Tapi, kecepatan tumbuh kembangnya begitu siginifikan sehingga membuat sekte pusat menaruh perhatian padanya. Seorang yang berbakat seperti itu benar-benar mengerikan keberadaannya!


Namun, suaminya justru lebih mengerikan lagi!


"Hahaha, kalian terlalu mengkhawatirkannya!"


Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang keras memotong keheningan mereka. Terlihat Penatua Yohan sedang memainkan janggutnya sembari berkata, "Meski Jansen memiliki kekuatan yang lumayan, tapi kalian semua jangan lupa, perbedaan jumlah mayat hidup yang kita dapatkan dengan mereka sangatlah jauh. Sekalipun muncul Jansen di tengah-tengah mereka, cabang Gunung Salju peri tidak akan mampu mengejar kita. Kecuali jika mereka membunuh semua mayat hidup di gelombang keempat ini!"


Suasana yang awalnya hening pun mendadak ramai dengan tawa dari para tetua.


"Ya, aku setuju, kita hanya terlalu khawatir!"


"Kedatangan Jansen sedikit terlambat, kalau seandainya dia datang tepat waktu, bisa jadi dia mampu mengubah keadaan!"


"Kali ini, cabang Gunung Salju Peri sudah dipastikan kalah! Aku sudah tak tahan lagi melihat Penatua Rain. Dia sering membangga-banggakan murid sektenya di hadapanku. Sekarang, coba lihat apa yang bisa dilakukannya kali ini!"


Para tetua pun tersenyum dan merasa sedikit lega.


Mereka tidak melihat sebuah sosok manusia tengah berlari menuju kedalaman pegunungan di bawah tanah.


Ini adalah bagian terluar dari area istana Awan. Tempat ini masih sangat misterius yang menyimpan banyak rahasia di masa lampau.


Bahkan, tetua sekte sekalipun tidak berani meringsek masuk ke tempat ini.


Karena berdasarkan legenda yang ada, Raja istana masuk ke tempat ini melalui gerbang perunggu.


Jansen nampak lebih berhati-hati. Keadaan sekitar sangatlah sepi, begitu sepi hingga membuat jantung berdebar-debar.


Setelah berjalan beberapa saat, tekanan udara di arah depan tiba-tiba melonjak, seolah membuat siapa pun yang mendekat merasa sesak.


Jansen memperlambat gerak langkahnya. Dengan memanfaatkan batu yang ada di sekitar untuk menutupi dirinya, Jansen mengaktifkan Kesadaran illahinya dan membuat wajahnya langsung memucat.


Dari arah depan, terlihat sebuah retakan yang sangat besar. Dan di dalam retakan itu, terdapat sebuah pintu gerbang kuno. Gerbang tersebut masih tertutup rapat, seolah sedang mengarah ke Sembilan Lapisan Neraka.


Gerbang Perunggu!?


Ini adalah salah satu rahasia yang ada di Gunung di Kunlun. Tidak ada satupun yang tahu ada apa dalamnya!


Tidak cocok untuk menyebutnya sebagai pintu gerbang, karena gerbang tersebut terlihat seperti daerah terlarang yang mematikan.


"Ada begitu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan di Huaxia ini!".


ucap Jansen sembari menghela napas panjang.

__ADS_1


Dulu, mana mungkin dia bisa menyentuh hal-hal seperti ini. Paling banter, dia hanya akan menjadi seorang dokter biasa di kota Asmenia.


Tapi sekarang, dia tak hentinya berhubungan langsung dengan rahasia-rahasia kuno masa lampau, yang membuat hatinya muncul sebuah kekaguman terhadap benda-benda seperti itu.


Raja Mayat Berdarah di makam dasar laut.


Mayat pria tua yang ada di makam kuno punggung naga kuno!


Istana Awan yang ada di Gunung Kunlun!


Dan masih banyak yang lainnya.


Jansen hanya bisa diam-diam memperhatikan keadaan sekitar menggunakan Kesadaran illahi miliknya. Tapi anehnya, gerbang perunggu seolah memiliki kekuatan misterius yang menghalangi kekuatan Kesadaran illahinya.


Entah sudah berapa lama waktu berjalan, tiba-tiba terdengar suara terompet keluar diiringi dengan suara langkah raksasa yang bergerak di tanah. Suaranya terdengar aneh, seolah-olah datang dari berbagai arah.


Gerbang Perunggu terbuka secara perlahan, kepulan asap menyembur keluar kemudian. Pemandangan seperti ini, membuat siapa pun yang melihatnya merasakan ngeri di hati mereka. Entah makhluk mengerikan apa yang akan muncul dari tempat itu.


Tubuh Jansen pun menegang, dia nampak fokus menatap ke arah depan. Tapi entah kenapa, ada sebuah dorongan di hatinya untuk melihat isi di dalam Gerbang Perunggu.


Dan pemikiran seperti itu terus menghantui pikirannya!


Tubuh Jansen bergetar seolah dia sedang berusaha mengendalikan pikirannya. Tapi tetap saja dia tidak bisa mengendalikan sepenuhnya.


Dia keluar dari balik batu dan mencoba untuk melihat apa yang ada di dalamnya sebelum gerbang benar-benar terbuka.


Makin lama makin dekat!


Lima puluh meter!


Dua puluh meter!


Sepuluh meter!


Dia bahkan bisa melihat asap mengepul dari celah gerbang, namun semuanya tampak berwarna putih. Jika ingin melihatnya dengan jelas, hanya satu cara, yaitu masuk ke dalam gerbang perunggu!


Setelah berada tepat di depan gerbang, pintu gerbang tersebut sudah sedikit terbuka dan mampu dimasuki oleh satu orang.


"Jansen, jangan masuk!"


Pada saat ini, sebuah suara halus melayang dari kejauhan yang menyebabkan gelombang gema di bawah tanah.


Entah kenapa, perasaan aneh melayang di permukaan, membuat bulu kuduk seakan merinding.


Seperti ada orang yang sedang meneriakkan namanya saat sedang berjalan di alam liar seorang diri di malam hari yang gelap.


"Jansen, jangan masuk!"

__ADS_1


Suara itu kembali melayang dan berbentuk seperti suara seorang wanita.


Tapi Jansen yakin jika suara ini bukan berasal dari dalam gerbang perunggu.


Siapa ini!?


Tidak, suara ini sangat familier di telinganya!


Itu suara Jessica!?


Wanita itu mengikutinya dari belakang lagi?


"Jansen, jangan masuk!"


Suara itu kembali melayang dari kejauhan. Meski terdengar seperti suara Jessica, tapi Jansen merasa seolah ada mayat kuno yang sedang memanggilnya.


Mungkin karena diakibatkan lingkungan geografis yang sedikit khusus, sehingga menimbulkan suara gema seperti itu.


Hal ini pun membuat Jansen kembali tidak yakin apa benar Jessica sedang memanggilnya saat ini.


Jansen pun menarik napas dalam-dalam dan perlahan mulai menjadi tenang. Meski masih ingin mencari tahu, tapi dia mampu sedikit menahan keinginan itu.


Tiba-tiba, dia melihat sebuah lukisan besar di dinding gerbang perunggu. Lukisan yang menggambarkan Raja istana yang sedang bereinkarnasi.


Lukisan ini sama persis dengan yang dia lihat sebelum memasuki istana Awan, di mana Raja Istana pada akhirnya memasuki gerbang perunggu.


"Hei... ada juga tulisan di sini, dan terlihat seperti tulisan modern di zaman ini!"


Jansen kembali menemukan barisan tulisan yang seukuran dengan telapak tangan di dinding gerbang.


"Aku sudah datang ke tempat ini, tidak ada benda yang kamu inginkan di sini, jangan masuk!"


Tulisan itu seolah memperingatkannya untuk tidak masuk ke dalam guna mengungkap sebuah misteri.


Jansen menatap tulisan itu dan seketika wajahnya berubah tak ragu lagi. Dia pun langsung bergerak mundur menjauh.


Setelah kembali bersembunyi di balik batu, gerbang perunggu itu telah terbuka selebar 5 meter.


Suara terompet kembali terdengar, dari jauh kemudian mendekat, mencurahkan semua rahasia yang ada di bumi Huaxia!


Terlihat sederet prajurit mengenakan baju zirah lengkap dengan tombak dan pedang di tangannya. Mereka berjalan rapi keluar dari gerbang perunggu.


Kuda meraung dengan diiringi suara gesekan benda perak dan emas.


Dan tampak sebuah istana kuno berdiri di belakang mereka.


Setelah selesai diamati, di dalam baju zirah para prajurit hanya terlihat berwarna hitam pekat, seolah-olah baju zirah itu berjalan. Sama halnya dengan yang terjadi pada kuda perang, tidak terlihat wujud asli kuda itu dan hanya terlihat berwarna hitam pekat saja!

__ADS_1


Benar-benar aneh!


__ADS_2