
"Penatua Jack, aku ke sini hanya untuk mendapatkan pengalaman dengan para master. Aku tidak ingin menjadi Raja prajurit."
"Pergilah, hanya dua hari menjadi instruktur, itu saja. Kelompok tentara itu juga keras kepala, begitu juga kamu, pas untuk membuatmu melihat betapa sulitnya mengajarkan orang keras kepala!"
Jansen tidak memiliki pilihan selain menyetujuinya dan lanjut mengobrol sebentar. Penatua Jack mengatur agar Jansen pergi ke kemiliteran.
Dalam perjalanan Jansen menerima SMS, 10 miliar yuan telah masuk ke rekeningnya!
Tampaknya Mario cukup bisa dipercaya!
"Panah, sisakan sebagian dari 10 miliar untuk meningkatkan peralatan dan kekuatan, sumbangkan sisanya untuk amal!" ujar Jansen di telepon.
Ia tidak begitu mementingkan uang, jumlahnya mencukupi saja sudah bagus.
Sedangkan mengenai Cyril, sebenarnya Jansen ingin membunuhnya, tapi membunuhnya hanyalah untuk balas dendam. Lebih baik dirinya membantu lebih banyak orang dengan uang.
Setelah sekian lama, Jansen tiba di Wilayah Militer Huaxia Utara.
"Berhenti!"
Saat ia hendak masuk, dua orang tentara di gerbang menghentikan Jansen.
Jansen menggelengkan kepalanya. Dia sudah lama tidak ke sini, tentu saja tidak ada orang yang mengenalnya.
Dia mengeluarkan kartu identitasnya dan tidak lama kemudian ia dibebaskan.
"Orang itu ternyata adalah anggota Tim Operasi Khusus!"
"Kabarnya Kompetisi Raja prajurit akan dimulai, para elite dari pasukan khusus semuanya akan kembali. Aku tidak tahu di mana itu akan diadakan kali ini!"
"Jangan mengobrol, cepat berjaga!"
Mereka bertukar pandang dan kembali berjaga.
Setelah memasuki Wilayah militer, di setiap lapangan latihan ada tentara yang sedang berlatih. Semangat mereka seperti harimau. Bahkan Jansen pun terpengaruh!
Dia tiba-tiba menyadari, meskipun dirinya ingin menjadi dokter, tapi setelah dia memasuki dunia militer ini suasana hatinya pun akan terpengaruh.
"Halo, permisi, di mana Tim Anjing Laut?"
tanya Jansen dengan sopan pada seseorang yang ia hentikan di jalan.
Tim Anjing Laut ini adalah rekrutan baru yang akan dilatih oleh Jansen, tapi tidak mencapai tingkat Tim Operasi Khusus.
Sebenarnya, pasukan semacam ini tidaklah sedikit. Dahulu di Kota Asmenia, Jansen pada awalnya juga bergabung dengan pasukan semacam ini.
"Oh, di sana!"
Orang itu menunjuk ke suatu arah lalu bertanya, "Apakah kamu dari Wilayah Militer Huaxia Utara?"
Jansen mengangguk.
Orang itu tersenyum sopan, "Aku dari Wilayah Militer Huaxia Timur. Aku berharap ada kesempatan untuk bersaing satu poin!"
"Kesempatan itu akan datang!"
Dengan sopan Jansen mengucapkan terima kasih dan pergi.
__ADS_1
Pantas saja banyak orang yang tidak mengenalinya, ternyata penyebabnya adalah kacaunya Enam Komando Daerah Militer.
"Kulit orang itu cerah dan bersih, dia pasti seorang pegawai sipil!"
"Seharusnya begitu. Kompetisi Raja prajurit kali ini, banyak orang yang telah kembali baik dari dalam maupun luar negeri. Masing-masing memiliki semangat yang kuat. Dia seharusnya bukan calon Raja prajurit!"
Beberapa orang tadi mengobrol setelah berjalan jauh.
Jansen memiliki telinga yang baik dan mendengarnya dengan jelas. Ia menggelengkan kepalanya dan tidak peduli.
Sesuai dengan apa yang ditunjukkan orang tadi, Jansen mendatangi sebuah lapangan latihan indoor dan melihat banyaknya orang yang sedang berlatih bahkan bertarung.
Buk Bak Buk!
Kekuatan kedua orang dalam pertarungan tersebut tidaklah lemah. Kemampuan respons, daya ledak dan keterampilan bertarung mereka luar biasa.
Juga, metode ini digunakan terutama untuk membunuh lawan yang membedakannya dari seni bela diri adalah metode ini kurang mencolok.
"Tinju militer?"
Jansen pun tidak menyela, dia memperhatikan dengan penuh minat.
"Hah, siapa kamu? Kamu tidak bisa datang ke sini!"
Tiba-tiba, seorang wanita yang mengenakan pakaian militer, dengan kulit seputih gandum, muncul.
Wanita itu memiliki rambut pendek, tubuhnya cukup tinggi, terlihat tegas dan berani serta matanya dingin.
"Oh, aku instruktur barumu. Kamu bisa memanggilku Instruktur Jansen!"
"Berhenti berhenti berhenti, Semuanya, lihat! Instruktur baru sudah datang!"
Begitu seseorang berteriak, semua orang berhenti berlatih dan satu per satu datang menghampiri.
"Apakah ada kesalahan? Orang ini adalah instruktur?" ucap seorang pria botak kekar setinggi dua meter dengan aneh.
Instruktur dalam kesan mereka semuanya kekar dan besar, berkulit gelap dan bermartabat. Namun, pemuda di depan mereka berkulit cerah dan bersih, serta bertubuh kurus dan lemah. Daripada menyebutnya instruktur, ia lebih baik
disebut guru sekolah.
Mungkinkah dia adalah instruktur administrasi mereka?
"Kau benar-benar seorang instruktur?"
Wanita tadi juga menatap Jansen dari atas ke bawah. Ia sama tingginya dengan Jansen. Ia menatapnya dengan remeh.
Jansen tersenyum dan mengangguk. "Ya, Penatua Jack yang memintaku datang!"
"Penatua Jack?"
Ekspresi wanita itu sedikit berubah. Mereka juga tahu tentang Penatua Jack yang mengatur instruktur untuk mereka, tetapi mereka tidak menyangka orang tersebut akan begitu muda!
"Kamu masih tidak memberi hormat saat melihat instruktur?" lanjut Jansen.
"Halo instruktur!"
Wanita itu ragu-ragu, tapi akhirnya ia memberi hormat. Setelah dia memberi hormat, semua orang juga ikut memberi hormat, tetapi ekspresi mereka kurang lebih sedikit aneh.
__ADS_1
"Siapa ketua tim kalian? Majulah!" ucap Jansen lagi.
"Instruktur, aku Ketua Erika Rotter, dengan nama kode Mutiara!"
Wanita itu segera berteriak, membuat Jansen sedikit terkejut. Wanita ini ternyata adalah ketua tim? Begitu banyak pria ternyata mengikuti dia?
"Untung ketua tim ada di sini. Waktuku terbatas, jadi aku hanya bisa mengajarimu sehari saja. Apa yang bisa kalian pelajari tergantung pada keahlian kalian!" ujar Jansen dengan tak acuh.
Mendengar ini, semua anggota Tim Anjing Laut sedikit tercengang
Sebenarnya, hingga sekarang mereka masih meragukan identitas Instruktur Jansen. Bagaimanapun, instruktur baru ini terlihat sangat biasa. Siapa yang menyangka si instruktur baru akan berlaku seperti ini? Begitu dia datang dia sudah berlagak.
Erika Rotter juga sangat kesal. Pemuda di depannya ini memiliki kulit yang halus dan tubuh yang rapuh. Dia terlihat seperti seorang anak pejabat yang datang melalui koneksi!
Dari katanya tadi, betapa mudahnya ia memerintahkan. Dia benar-benar berpikir dirinya adalah seorang instruktur?
"Instruktur Jansen, kami mengerti!"
Erika Rotter menjawab mewakili semua orang, sesuai dengan standar resmi. Bahkan jika dia menolaknya, dia tidak berani melawan secara terbuka.
"Semua orang sudah hadir, bersiap untuk berlatih!" ucap Jansen sekali lagi.
"Instruktur, kami baru saja selesai berlatih. Bukankah lebih baik berlatih lagi besok?"
Erika Rotter segera menjawab. Ia sama sekali tidak mengira Jansen bisa melatih mereka. Mungkin, bisa saja mereka yang melatih Jansen!
Namun, alasan utama latihan ditunda sampai besok adalah karena instruktur baru ini hanya akan bekerja selama satu hari. Mereka hanya perlu bertahan sampai besok dan berakhir sudah!
Dengan cara ini, semua orang tidak perlu membuang waktu dan instruktur baru tidak perlu bekerja terlalu keras!
"Besok?"
Jansen mengerutkan alisnya, "Kalian, sikap apa ini? Jika petinggi memberi kalian tugas, kalian juga bisa menundanya hingga besok?"
Semua orang diam-diam mengerucutkan bibir mereka. Dasar kebiasaan berlagak, mengapa dia menyusahkan diri sendiri!
Di dalam hati, Erika Rotter juga sangat kesal. Ia menjelaskan, "Kami baru saja menyelesaikan latihan, jika langsung latihan lagi maka dapat menambah beban tubuh kami, lagi pula jika diberikan tugas, kita tidak bisa menyelesaikannya dengan tubuh yang lelah!"
"Sebagai seorang tentara, lelah bukanlah alasan!"ucap Jansen tak acuh.
Tiba-tiba dia mengerti sesuatu, mereka sedang menyerangnya kan!
"Instruktur, kami mempertimbangkannya untukmu!" sahut Erika Rotter ragu.
"Katakan saja!"
"Kalau begitu aku akan terus terang. Tidak masalah jika kami lelah, tapi aku khawatir instruktur lelah. Jika ada tugas baru diberikan sedangkan instruktur lelah, bukankah jadi tidak bisa menyelesaikan tugas!" ucap Erika Rotter..
Jansen hampir tertawa. Pada waktu dia terluka parah dan dirinya sendirian melawan Barrack, apakah dia pernah bilang dia lelah?
Dipandang rendah oleh sekelompok rekrutan baru seperti ini, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata.
"Jika aku lelah, kurasa kalian semua sudah tidak dapat berdiri!" Jansen menggelengkan kepalanya.
Semua orang menjadi tambah kesal.
Kemiliteran berbicara menurut kekuatan mereka. Saat melihat kulit halus dan tubuh rapuh Jansen, mereka menduga dia masuk menggunakan koneksi. Mereka memberinya jalan keluar, tetapi ternyata dia tidak bijaksana dan berani bersikap sombong
__ADS_1