Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 875. Dokter Jansen Yang Terkenal Di Ibu Kota


__ADS_3

"Anak Muda, masalah ini kamu lebih baik tidak ikut campur, kamu pergi saja terlebih dahulu!"


Paman Randy juga sudah tidak sanggup melihatnya lagi karena dia khawatir Jansen akan terlibat dalam masalah ini.


"Tidak apa-apa, aku sudah bilang aku akan memberi pelajaran kepada Bos Mikel, aku pasti melakukannya!" Jansen menggelengkan kepala dan merasa tidak keberatan sama sekali.


Paman Randy tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia juga merasa bahwa Jansen sudah gila.


"Dia keren sekali!"


Monica yang berada di samping berteriak dengan penuh rasa kagum terhadap Jansen.


"Kamu benar-benar tidak paham, tidak ada gunanya dia keren seperti itu! Bos Mikel sangat kejam. Kalaupun Bos Mikel membunuh orang, polisi juga tidak bisa menangkapnya tanpa bukti yang jelas!" Paman Randy menegur Monica. Masalah yang terjadi karena ulah Monica ini sepertinya sulit untuk diselesaikan.


Pada saat ini, lebih dari belasan mobil tiba di luar pintu utama Griya Refleksi Kaki Golden.


Kemudian, seorang pria yang mengenakan mantel wol sambil mengisap cerutu berjalan masuk dengan menggunakan tongkat. Ada banyak orang yang mengikuti di belakangnya. Mereka semua terlihat sangar.


Pria itu memiliki bekas luka goresan pisau di wajahnya. Dia terlihat sangat beringas.


Semua orang yang melihat wajahnya sontak gemetar ketakutan.


"Bos Mikel!"


Yoksa langsung berteriak kencang sambil menunjuk Jansen dan berkata, "Bos Mikel, kamu harus membelaku. Bocah ini juga bilang bahwa dia ingin memberimu pelajaran!"


Bos Mikel awalnya ingin mengingatkan Yoksa untuk bersikap rendah diri selama beberapa waktu ini. Akan tetapi, saat melihat Jansen dan Elena, Bos Mikel sontak terkejut bahkan sampai menjatuhkan cerutu yang sedang dihisapnya.


"Dasar keparat!"


Bos Mikel berteriak marah.


Yoksa mengira bahwa Jansen pasti akan dihajar habis-habisan karena Bos Mikel sedang marah besar.


Plak!


Namun, setelah itu, Bos Mikel malah ditampar hingga tubuhnya berputar-putar di tempat.


"Keparat! Kamu bahkan berani memukul bos besar ku! Kamu benar-benar cari mati!"


Plak!


Kemarahan Bos Mikel pun sudah memuncak. Dia langsung memberi satu tamparan keras. "Mulai hari ini juga, kamu bukan pegawai Grup Sion Logistik lagi. Kalau kamu masih berani menginjakkan kaki di Kota Sion, aku akan patahkan kakimu!"


Setelah dia berucap demikian, semua orang sontak terkejut.


"Kenapa Bos Mikel malah memukul Yoksa?"


Bos Mikel sebenarnya juga merasa serba salah. Dia awalnya ingin mengingatkan anak buahnya itu bahwa seorang pria yang hebat sudah datang ke Kota Sion dan jangan sampai mencari masalah dengan pria itu.


Namun, anak buahnya itu malah berani memancing kemarahan pria tersebut.


Kalau bukan karena ada banyak orang lain yang menyaksikan di sana, Bos Mikel pasti langsung menembak mati Yoksa.


"Bos Mikel, ini...


Yoksa benar-benar tercengang.


"Enyahlah!"

__ADS_1


Bos Mikel pun malas menjelaskan kepada Yoksa. Dia hanya menegurnya dengan keras.


Wajah Yoksa yang ketakutan berubah pucat. Yoksa juga telah diusir dari Grup Sion Logistik. Selain itu, Yoksa juga tidak diperbolehkan menginjakkan kaki lagi di Kota Sion. Yoksa tidak tahu harus ke mana lagi untuk menyambung hidup.


Yoksa tiba-tiba teringat perkataan Jansen sebelumnya bahwa meskipun Bos Mikel datang membantunya, siapa yang mati juga belum pasti.


Pada akhirnya, yang menderita adalah Yoksa sendiri.


"Bos Mikel, orang penting seperti kamu ini memang pelupa!"


Saat ini, Jansen menatap Bos Mikel sambil berkata dengan dingin.


Bos Mikel pun gemetar ketakutan dan langsung menampar dirinya sendiri sebanyak tiga kali.


"Sialan, ini semua karena aku gagal mendidik anak buahku!"


"Aku sendiri yang gagal mendidik anak buahku!"


"Aku sendiri yang menyusahkan rakyat!"


Bos Mikel menampar dirinya sendiri sebanyak tiga kali dengan sekuat tenaga. Hidungnya berdarah, giginya pun copot. Tamparan ini dilakukan langsung tanpa direkayasa.


Semua orang yang menyaksikan ikut merasa tercengang. Sebelumnya, Jansen mengatakan bahwa dia akan memberi pelajaran kepada Bos Mikel dan sekarang, Jansen benar-benar melakukannya.


Paman Randy dan Monica pun merasa terkejut seperti melihat hantu. Bos besar Kota Sion malah dipaksa menampar dirinya sendiri di depan orang-orang.


"Pergi sana!"


Jansen memarahinya.


"Cepat pergi sekarang juga!"


Suasana di ruang utama masih hening. Semua orang menatap Jansen dengan rasa kagum.


"Ayah, apakah kamu baik-baik saja?"


Monica baru teringat dengan Paman Randy dan buru-buru memapah Paman Randy sambil mengamati kondisi tubuhnya.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka luar!"


Paman Randy pun menegurnya dengan berkata, "Ini semua karena ulahmu. Kamu bukannya bersekolah dengan baik malah datang ke tempat seperti ini. Kalau kamu terus seperti ini, apa kamu tidak merasa bersalah terhadap ibumu?"


"Ayah, penyakit ibu makin parah. Pabrik gula kita juga tidak punya pesanan lagi. Kamu harus mencari nafkah untuk kami sekeluarga dengan menjadi sopir Taksi. Aku datang kemari karena ingin membantu ekonomi keluarga kita!" Monica berkata dengan kesal.


Meskipun Paman Randy sangat sayang kepada Monica, Paman Randy masih terus memarahinya dengan berkata, "Mencari nafkah adalah tugas pria. Kamu hanya perlu belajar dengan baik. Apalagi, rambutmu yang dicat warna merah itu sama sekali tidak mencerminkan seorang pelajar!"


"Aku tahu aku salah, aku akan mewarnai rambut aku kembali seperti semula!"


Mata Monica tampak basah berlinang air mata.


Seandainya ibu Monica tidak jatuh sakit, Monica tetap akan terus memberontak seperti biasanya. Namun, semenjak ibu Monica jatuh sakit, Monica terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan sebelumnya.


"Paman Randy, penyakit apa yang diidap oleh istrimu? Aku bisa membantu!"


Saat ini, Jansen menarik Elena dan menghampiri mereka berdua.


"Astaga, aku hampir lupa dengan kalian berdua!"


Paman Randy buru-buru mengucapkan terima kasih dan berkata, "Terima kasih sebelumnya. Kalian adalah penumpangku, tetapi kalian malah ikut direpotkan dengan masalahku ini!"

__ADS_1


"Ini hanya masalah kecil!"


Jansen menggelengkan kepalanya dan merasa tidak keberatan sama sekali.


Monica menatap Jansen dengan penuh rasa kagum. "Ibuku tiba-tiba mengalami sakit parah dan sekarang masih menjalani perawatan di UGD!"


"Begini saja, aku akan membantumu memeriksa kondisi penyakit ibumu." Jansen berkata.


Paman Randy dan Monica saling menatap karena mereka berdua masih belum begitu percaya dengan kemampuan Jansen. Paman Randy pun tersenyum sambil berkata, "Terima kasih, dokter di rumah sakit bilang bahwa kondisi istriku sudah membaik. Dia seharusnya akan baik-baik saja!"


Elena pun tahu bahwa Paman Randy dan Monica tidak memercayai kemampuan medis yang dimiliki Jansen. Elena sendiri bahkan juga tidak percaya dengan kemampuan medis Jansen seandainya dia tidak mengenal Jansen dengan dekat.


"Paman Randy, Jansen adalah seorang dokter terkenal di Ibu Kota. Biasanya, ada banyak orang yang mengantre untuk diperiksa olehnya. Keterampilan medisnya sudah terjamin. Biarkan saja dia memeriksa kondisi penyakit istrimu!" Elena berkata sambil tersenyum.


Paman Randy lalu menatap Elena yang lebih sering diam. Dia tiba-tiba merasa bahwa wajah Elena tidaklah asing.


Elena juga diam-diam merasa gugup saat ditatap oleh Paman Randy.


"Apakah kamu memang benar seorang dokter terkenal?"


Monica malah menatap Jansen dan berkata, "Jika kamu mampu menyembuhkan penyakit ibuku, aku bersedia menikah denganmu!"


"Monica, jangan sembarangan omong!"


Raut wajah Paman Randy berubah.


"Aku serius!"


Monica berkata dengan wajah cemberut, "Ada banyak pria lain yang ingin menikahiku. Meskipun mereka semua mengincar tanah milik keluargaku, memang ada banyak pria yang sedang mengejarku!"


Jansen langsung tersenyum dan berkata, "Kamu tidak perlu menikah denganku. Sudah menjadi tugas seorang dokter untuk menolong orang. Mari kita pergi ke rumah sakit sekarang!"


Meskipun Paman Randy meragukan kemampuan medis Jansen, bagaimanapun juga, Jansen sebelumnya telah membantu dirinya dan Monica, sehingga Paman Randy terpaksa membawa Jansen dan Elena pergi ke rumah sakit.


Di dalam mobil, Monica yang sangat penasaran dengan segala sesuatu tentang Jansen lalu bertanya, "Kamu bilang kamu adalah dokter terkenal di Ibu Kota. Siapa namamu? Apakah kamu menguasai pengobatan tradisional atau pengobatan barat? Kamu bekerja di rumah sakit mana?"


Jansen merasa bahwa Monica cukup menarik. Dia pun menjelaskan, "Aku tidak bekerja di rumah sakit. Aku sendiri membuka klinik yang bernama Aula Xinglin. Namaku adalah Jansen!"


"Ah, kamu Dokter Jansen yang sangat terkenal di Ibu Kota!"


Monica sontak berteriak dan membuat Paman Randy tiba-tiba menginjak rem.


"Ayah, ibu akan terselamatkan. Dia adalah Dokter Jansen dari Aula Xinglin. Pemimpin pengobatan tradisional se-huaxia!"


Belum juga Paman Randy menegurnya, Monica langsung menarik lengan Paman Randy sambil berkata demikian.


Jansen dan Elena pun sangat terkejut. Kota Sion hanyalah sebuah kota kecil yang letaknya sangat terpencil. Kenapa mereka bisa tahu tentang Aula Xinglin?


"Aku awalnya memang belajar kedokteran. Aku pernah melihat informasi tentang Aula Xinglin di berbagai berita dan seminar!"


Monica lanjut berkata, "Keterampilan medis yang dimiliki dokter di Aula Xinglin termasuk dalam jajaran lima besar klinik pengobatan tradisional di Huaxia. Ada banyak bos perusahaan besar dan orang asing yang sembuh dari berbagai penyakit yang sulit disembuhkan!"


Paman Randy tidak tahu terlalu jelas tentang hal ini, tapi Paman Randy percaya dengan perkataan Monica. Dia tiba-tiba turun dari mobil lalu berlutut kepada Jansen di depan pintu mobil.


"Mohon Dokter Jansen bersedia untuk menyelamatkan nyawa istriku!"


Selesai berkata demikian, Paman Randy pun terus bersujud tanpa henti.


Raut wajah Jansen dan Elena berubah drastis. Mereka berdua segera turun dari mobil dan memapah Paman Randy untuk berdiri.

__ADS_1


__ADS_2