Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 363. Sandiwara


__ADS_3

" Siapa orang ini , ini adalah bank , apa dia sudah gila ! "


Banyak orang di lobi bank terheran - heran melihat kelakuan orang aneh yang tak hentinya menjerit ini.


"Di badanku sudah terpasang bom, jika kalian berani bergerak, aku akan bunuh kalian semua !"


Satu tangan pria itu memegang korek api dan tangan yang satunya lagi memegang sehelai sumbu pemantik api yang terhubung ke ransel di punggungnya . Akibatnya , semua orang panik , bahkan satpam bank pun ketakutan tak berani bergerak.


" Jangan panggil polisi, atau aku akan menyalakan bom. Kalian cepat berkumpul ! " Pria itu gelisah dan sudah menyalakan korek api.


"Jangan , jangan , bukankah kamu menginginkan uang , kami akan memberikannya padamu , kamu tenang dulu ! "


Semua orang menuruti perkataan pria itu , berkumpul di pojokan , dan beberapa orang tampak sedang membujuknya.


" Tenang ? Adikku sedang sekarat , aku tidak bisa tenang ! "


Pria itu meraung dan tiba - tiba menatap kerumunan itu , " Siapa di antara kalian yang bernama Billy , cepat keluar!"


Pria itu ternyata datang untuk mencari Billy .


Billy mengerutkan kening , meskipun dia orang yang mahir bela diri , tetapi pria itu datang membawa bom . Tak peduli seberapa hebat pun ilmu bela diri yang dimilikinya , tentu tidak akan bisa melawan kekuatan bom . Selain itu , dia sama sekali tidak mengenal pria itu.


"Billy, keluar atau aku akan nyalakan bomnya !"


Sangat jelas bahwa pria itu tidak mengenal Billy , tetapi mengetahui ada orang bernama Billy.


" Jangan gegabah , mungkin Billy yang kamu cari tidak ada di sini , lagi pula , jika kamu memang sedang ada kesulitan , kami juga bisa membantumu ! "


Manajer yang bertugas di area lobi bank terus - menerus menenangkan suasana hati pria itu .


" Billy bukanlah manusia , dia adalah binatang , binatang ini hanya menggunakan uang beberapa ribu yuan membeli kolam ikan keluargaku , dia menindas nenekku yang matanya rabun dan memaksanya menandatangani perjanjian . Sekarang , kolam ikan keluargaku sudah dia kuasai , penyakit adikku sekarang sedang kambuh , aku mau uang , aku mau 100 ribu yuan . "


Pria itu berteriak dengan keras , " Siapakah Billy ? Aku tahu dia ada di sini . Suruh dia keluar . "


Jansen melihat bahwa pria itu datang kemari untuk mengincar Billy , dan langsung menunjuk ke arah Billy sambil berkata , " Itu dia Billy ! "


Billy sangat marah sambil menatap bingung wajah Jansen.


" Billy , ini akibat perbuatannmu , apakah kamu berniat menyuruh semua orang di sini menanggung akibat perbuatanmu ? " ujar Jansen dengan datar.


" Jansen , kamu sungguh berani ! "


Billy tahu Jansen memang sengaja berbuat demikian.


" Jadi kamu adalah Billy , kamu ini pengusaha busuk , hari ini aku akan mati bersamamu ! "


Pria itu dengan wajah yang penuh histeris , mendekatkan korek api ke sumbu pemantik .


Billy juga langsung ketakutan , tidak lagi sombong seperti biasanya .

__ADS_1


" Tenang dulu , pikirkan baik - baik , jika kamu menyalakan bom , kamu juga akan mati , nanti bagaimana dengan adik mu ! "


Pada saat ini, Jansen tiba - tiba berbicara , kata - katanya langsung pada inti permasalahan , menyebabkan pria itu tampak seakan ragu-ragu.


Billy memandang Jansen dengan aneh , karena ternyata dia sedang membantu dirinya sendiri .


" Begini saja , jika kamu ingin melampiaskan kemarahanmu , biarlah aku yang membantumu . Membiarkan Billy mati dengan mudah , bukankah sama saja dengan memaafkannya . Kenapa kamu tidak beri dia satu tamparan . keras dulu ! " ucap Jansen tiba - tiba .


" Betul , betul , betul . Bantu aku tampar bajingan ini ! " Pria itu mengangguk .


" Plak ! "


Jansen mencengkeram leher Billy , dan tamparan keras jatuh di wajah Billy hingga giginya goyang !


" Jansen , beraninya kau memukulku ? "


Billy dengan marah menatap Jansen .


" Apa gunanya membiarkan dia tetap bernapas ? Ternyata kamu ingin mati ? "


Jansen menamparnya lagi dan merontokkan gigi Billy .


Akibatnya , Billy marah besar tapi tidak bisa melampiaskan kemarahannya , selain itu dia juga tahu Jansen sengaja mengancamnya dengan bom.


Namun , dia benar - benar tidak berani melawan , karena dia takut pria itu tiba - tiba gila dan menyalakan bom !


" Berdirilah dengan badan tegak ! "


" Bangsat ! "


Sejak kecil belum ada seorang pun yang berani memukul wajah Billy seperti ini , kecuali kakeknya sendiri . Tidak cukup dipukul , dia juga harus bekerja sama berpura - pura dipukul seperti ini .


" Cepat lakukan apa yang dia katakan ! "


Billy menjadi semakin marah karena orang - orang di sekitarnya juga ikut mencercanya.


" Plak ! "


Setelah dia dapat berdiri tegak , Jansen kembali menamparnya dengan keras hingga sebuah gigi Billy lagi - lagi copot.


" Tuan Billy , maafkan aku . Untuk menenangkan emosi orang ini , aku hanya bisa berakting sesuai kondisi . Jangan khawatir , aku akan tampar dengan pelan ! "


Jansen juga meminta maaf kepada Billy , tetapi permintaan maaf ini jelaslah palsu.


" Plak , plak , plak ! "


Selanjutnya , Jansen menampar wajah Billy dengan gerakan tangan ke kiri dan ke kanan , diiringi suara tamparan yang keras.


Saat ini juga , pria itu tercengang , merasa Jansen tampaknya lebih membenci Billy daripada dirinya.

__ADS_1


" Kamu tenang dulu , jika kamu belum bisa melampiaskan kemarahan kepada orang ini , biar aku saja yang membantumu menamparnya dengan lebih keras lagi ! "


Jansen berkata kepada pria itu lagi , dan tak lama berselang , Jansen menendang perut Billy dengan satu kaki hingga dia terpental beberapa meter dan memuntahkan makanan tadi malam dari mulutnya . Setelah itu , Jansen lanjut menghampirinya dan menghajarnya babak belur sampai Billy pun meringis kesakitan .


" Kamu tertangkap juga ! "


Pada saat ini , seseorang memanfaatkan kelengahan pria itu , dia tiba - tiba merebut korek api , dan kemudian beberapa orang menjatuhkan pria itu ke lantai tanpa memberinya kesempatan untuk melawan.


" Aku tak akan membiarkan kalian lari , lepaskan aku ! "


Sudah terlambat bagi pria itu untuk bereaksi , dan pada saat ini , sejumlah besar polisi akhirnya bergegas masuk ke dalam bank dan menundukkan pria itu .


Melihat bahwa masalah ini akhirnya selesai , semua orang menghela napas lega , dan mereka memandang Billy dengan berpikiran bahwa jika bukan karena strategi Billy ini , mereka semua belum tentu dapat lolos dari bahaya .


" Jansen ! "


Billy bangkit dari lantai dengan dada yang terluka , sambil menatap Jansen dengan penuh rasa dendam.


" Tadi aku melakukannya karena terpaksa . Bukankah kamu sekarang baik - baik saja . Pria itu sudah berhasil ditundukkan , kamu malah harus berterima kasih kepadaku ! " ucap Jansen dengan santai.


" Kamu melakukannya dengan sengaja ! "


Mana mungkin Billy tidak tahu pikiran Jansen . Sebelumnya , Jansen sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan kepada dirinya . Bahkan , beberapa tulang rusuknya sampai ditendang patah oleh Jansen.


" Billy , yang terjadi sebelumnya adalah kesalahpahaman , jangan masukkan ke hati , apalagi kami sebagai polisi ingin mengucapkan terima kasih , karena siasatmu tadi , semua orang bisa menundukkan pria itu!"


Polisi juga datang menghampiri , semua orang bahkan mengira Jansen sedang berakting , tetapi hanya Billy yang tahu bahwa Jansen jelas tidak sedang berakting !


" Aku ingin menuntutnya ! "


Billy merasa tidak rela.


Polisi menghela napas dan menggelengkan kepala , " Hal semacam ini , takutnya tidak dapat dituntut , tadi semua orang bisa menjadi saksi , apalagi pria itu datang mengincarmu , jadi kamulah yang membuat semua orang hampir menjadi korban ! "


" Kalian ! "


Billy tak bisa berkata apa - apa , tak peduli berapa pun derita yang dia alami.


" Jansen , berani - beraninya kamu mengambil kesempatan ini untuk menghajarku , jangan sampai kamu jatuh ke tanganku , atau aku akan membuatmu menyesal ! "


Billy tahu bahwa dia tidak bisa menuntut Jansen , jadi dia hanya bisa memakinya , " Kamu pecundang , kamu memang pantas dicampakkan oleh istrimu ! "


Jansen tampak kesal , dia sudah lama membenci Billy . Dia masih belum mau menghajar Billy karena ingin melihat permasalahannya dengan jelas terlebih dahulu.


Jansen melangkah maju ke depan , tamparan dihempaskan , tamparan ini menggunakan tenaga dalam , langsung melempar Billy lebih dari sepuluh meter jauhnya , membuatnya terpelanting keras ke lantai , hingga dagunya pun terkilir .


" Apa perlu cari kesempatan untuk bisa memukulmu ? "


Setelah itu , Jansen berbalik pergi.

__ADS_1


Billy menunjuk ke arah Jansen , dia hendak mengatakan sesuatu , tetapi akhirnya dia memuntahkan darah segar dari mulutnya yang besar menganga lalu jatuh pingsan.


__ADS_2