
Saat mereka sedang berbicara, sebuah pengumuman tiba-tiba datang. Ternyata Bos Besar ada di sini. Semua orang di Grup Dream Internasional harus turun untuk menyambutnya!
Hal ini membuat seluruh Karyawan Grup Dream Internasional terkejut.
"Bos Besar?!"
Ekspresi Irish, Lila, serta para gadis lainnya langsung berubah drastis, "Bos Besar itu berarti Presdir Natasha, 'kan?"
"Berhenti bicara basa-basi! Ayo cepat turun atau nanti terlambat!"
Maxime membawa semua orang itu pergi.
Lift pun menjadi penuh dengan Karyawan. Untungnya, ada lima lift yang tersedia sehingga tidak perlu mengantri panjang.
Diana dan yang lainnya baru saja memasuki lift dan mereka juga ketakutan dengan pemandangan gila ini. Selain itu, radio lift terus mengumumkan tentang hal ini. Bisa dibilang, siapa pun yang tidak pergi utuk menyambut akan dihitung absen kerja selama satu bulan ini!
"Bos Besar apanya! Ini berlebihan sekali! Masa sampai harus ribuan Karyawan Grup Dream Internasional menyambutnya?"
"Maxime, mereka sombong sekali! Coba kita lihat apakah mereka masih bisa bersikap sombong di hadapan Bos Besar!"
Diana dan Laras sama-sama terlihat kesal.
Saat lift tiba di lobi lantai satu, semua orang sudah memadati area itu. Mereka semua adalah pekerja kerah putih dengan setelan jas dan rok. Untungnya, gerbang masuk kantor pusat Grup Dream Internasional cukup besar sehingga bisa menampung begitu banyak orang untuk berdiri di sana!
Semua orang itu berbaris rapi di kedua sisi jalan.
"Kelihatannya hebat sekali!"
Irish dan yang lainnya juga ada di kerumunan, mereka tampak bersemangat.
"Katanya, orang yang disebut Bos Besar itu adalah kekasih Presdir Natasha!"
"Pantas saja Presdir Natasha sama sekali tidak tertarik dengan sekian banyaknya pria tampan di perusahaan ini! Tapi tetap saja Bos Besar ini benar-benar beruntung karena bisa mendapatkan hati wanita secantik Presdir Natasha!"
"Jangan salah paham, kudengar formula Grup Dream Internasional justru diproduksi oleh Bos Besar dan dia jauh lebih cakap daripada Presdir Natasha. Bos Besar berkontribusi banyak dalam menjadikan Grup Dream Internasional sebagai perusahaan kosmetik nomor satu di Huaxia hanya dalam waktu setengah tahun!"
"Hebat sekali! Entah seperti apa orang yang dipanggil Bos Besar ini!"
Semua orang saling sibuk berbicara.
"Aku juga pernah mendengar rumor tentang Bos Besar ini! Katanya kalau bisa mengenal Bos Besar, maka bisa melakukan apa pun yang diinginkan di Grup Dream Internasional!"
Maxime yang berada di tengah-tengah kerumunan juga menimpali.
"Bagaimana kalau Bos Besar masih sangat muda dan jatuh hati padaku?" Lila bahkan sampai membuka kancing teratas kemejanya.
Irish mengerutkan keningnya dan diam-diam membuka kancing kemejanya pula.
Dia memang sudah punya kekasih, tapi mana mungkin Maxime sebanding dengan Bos Besar?
Tiba-tiba, Irish melihat Diana dan Laras yang terhimpit di antara kerumunan. Dia pun langsung tertawa, "Kalian masih belum pergi juga? Tapi aku paham, kalian pasti ingin melihat
orang sehebat apa yang bisa menjadi Bos Besar. Sayangnya, Bos Besar adalah orang yang tidak mungkin kalian gapai! Dia pasti tidak akan melirik dua bebek jelek seperti kalian!"
Diana sontak membalas dengan tidak senang, "Untuk apa kamu berpura-pura?! jadi apa? Kamu itu hanya Karyawan biasa! Memangnya kamu pikir Bos Besar akan melirikmu di antara sekian banyak wanita cantik di Grup Dream Internasional!"
Amarah Irish pun tersulut dia ingin menyahut, tapi sebuah kendaraan tiba-tiba berhenti di depan mereka!
Sebuah sepeda yang dipakai bersama!
__ADS_1
Selain itu, pesepeda itu mengenakan kaus dan berlari menuju pintu masuk gedung Grup Dream Internasional.
Saat ini, para Karyawan berdiri memenuhi kedua sisi kedua jalan demi menyambut kehadiran Bos Besar. Oleh sebab itu, si pria yang datang menggunakan sepeda sudah pasti terlihat sangat mencolok!
"Ya ampun, orang itu gila!"
Mereka semua menatap dengan mata terbelalak "Eh?! Jansen?!"
Maxime dan teman-temannya berseru kaget.
Bahkan Diana dan Laras menggosok mata mereka, mereka takut salah mengenali orang lain. Kemudian, Diana pun berkata dengan cemas, "Kakak Ipar, jangan naik sepeda di tengah jalan!"
Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata. Apa kakak iparnya tidak bisa melihat ribuan orang yang sudah menunggu di sini? Apa yang dia lakukan!
"Diana, Laras, kalian sudah datang!"
Jansen mengerem dan memarkirkan sepedanya di luar gerbang, lalu berjalan menghampiri Diana dan yang lainnya.
"Jansen, apa kamu tahu tempat apa ini? Bisa-bisanya kamu datang ke sini?!"
Maxime mendengus dingin dan berteriak ke sekitarnya, "Satpam! Cepat seret dia pergi!"
Irish menghentakkan kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi dan berkata dengan marah, "Jansen, cepat pergi dari sini! Jangan mengotori gerbang Grup Dream Internasional!"
Irish merasa sangat kesal saat melihat wajah Jansen saat ini karena pria itu benar-benar habis mempermalukannya kemarin.
"Pergi sana!"
Teman Irish lainnya juga ikut mengusir Jansen.
"Kakak Ipar, ayo kita cepat pergi!"
"Pergi? Ke mana?"
Jansen balas bertanya.
"Ke mana saja boleh! Pokoknya, kamu tidak boleh tetap berada di sini! Cepatlah pergi! Jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri!" Diana menghentakkan kakinya dengan marah.
"Kalau aku pergi, lalu siapa yang akan mereka sambut? Kak Natasha juga sama saja! Aku hanya bilang mau datang ke perusahaan untuk melihat-lihat, tapi dia malah mengatur acara besar seperti ini!"
Jansen merasa sangat tidak berdaya. Dia paling tidak suka kalau harus menghadapi acara-acara yang megah dan besar seperti ini. Seandainya dia sudah tahu sedari awal, lebih baik dia di Aula Xinglin saja untuk mengobati pasien!
"Hahaha! Jangan bilang maksudmu kamu adalah Bos Besar?"
Maxime tertegun sejenak mendengar ucapan Jansen sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit!
Seorang menantu yang menumpang hidup di keluarga istrinya berani menyebut dirinya sendiri sebagai Bos Besar?
Irish juga tertawa terbahak-bahak. Bahkan Keluarga Miller saja harus menghormati Grup Dream Internasional yang bagaikan raksasa ini!
Jansen pikir statusnya sebagai menantu Keluarga Miller berguna?
"Satpam! Cepat usir pecundang ini! Jangan sampai dia merusak kecantikanku!"
Setelah Irish selesai tertawa, dia pun berteriak ke kejauhan. Bos Besar sebentar lagi akan datang dan bisa saja dia malah pergi dengan marah kalau melihat keributan di sini.
Kalau sudah begitu, mana mungkin Irish bisa merayu Bos Besar!
"Kakak Ipar, ayo pergi!"
__ADS_1
Melihat semua orang tertawa, Diana pun menarik Jansen agar menjauh.
Jansen melengkungkan bibirnya, "Sudahlah, lain kali saja aku datang ke sini lagi!"
Para pegawai yang lain menjadi tidak tahan lagi karena menganggap Jansen masih berpura-pura. Berani-beraninya orang yang mengendarai sepeda bersama dan memakai kaus mengaku sebagai Bos Besar!
Bahkan pakaian bibi-bibi pegawai kebersihan di sini saja terlihat lebih bagus daripada Jansen!
Tepat pada saat itu, datanglah sejumlah besar mobil mewah. Ada Maserati, Lamborghini, Mercedes-Benz SUV, dan lain sebagainya!
Mobil-mobil mewah itu berhenti di pinggir jalan, lalu seorang wanita yang cantik dengan rambut kuncir kuda melangkah turun dari dalam mobil sport berwarna merah yang berada di paling depan. Dia mengenakan sepatu hak tinggi dan stoking sutra. Dia terlihat seperti seseorang yang sangat handal!
Para petinggi Grup Dream Internasional lainnya mengikuti di belakang wanita cantik itu.
"Presdir Natasha!"
Banyak pria menatap wanita yang sangat cantik itu dengan sorot mendambakan.
"Bos Besar sudah datang!"
Maxime dan yang lainnya merasa sangat senang.
"Sial, Jansen ini masih belum pergi juga! Bos besar pasti akan marah!" Alih-alih merasa senang, Irish justru terlihat kesal.
"Jansen, kamu sudah datang!"
Natasha tiba-tiba berlari ke arah Jansen dan melingkarkan tangannya di lengan Jansen.
Para petinggi perusahaan yang berada di belakang Natasha pun langsung bereaksi. Mereka berteriak dengan serempak, "Bos Besar!"
Suara mereka terdengar sangat kompak seperti bunyi ledakan di jalan raya!
Semua orang yang berdiri di gerbang masuk Grup Dream Internasional sontak membeku kaget!
Orang yang mengendarai sepeda dan memakai kaus ini benar-benar adalah Bos Besar?!
Lelucon macam apa ini?!
Bahkan salah satu pejalan kaki yang dipilih secara asal nampak lebih mirip dengan Bos Besar daripada Jansen!
"Ah, ini pasti bohongan, 'kan!"
Maxime bak tersambar petir.
Anzel merasa langit sedang memainkan lelucon terbesar kepadanya.
Irish dan yang lainnya bahkan tidak memikirkan postur tubuh mereka. Rasanya pikiran mereka buntu.
"Jansen, kamu mau ke mana?"
Natasha masih memandang Jansen.
"Tidak ke mana-mana. Mereka mengusirku, jadi mau tidak mau aku harus pergi!" jawab Jansen tanpa daya.
Mata indah Natasha memelototi ribuan Karyawannya dengan marah, "apakah kalian buta Pria ini adalah Bos Besar Grup Dream Internasional dan pemegang saham terbesar di
perusahaan!"
Tidak ada yang berbicara, mereka semua terdiam!
__ADS_1