
"Dia benar-benar berani memukul!"
Orang-orang di sekitarnya gemetar ketakutan apalagi melihat mata Jansen yang semakin menambah ketakutan.
Siapa itu Tytus?
Tytus adalah pemimpin dari keluarga kaya dan berpengaruh. Dia memiliki banyak anak perusahaan dan kekayaannya mencapai puluhan miliar Yuan, seorang tokoh terkenal yang punya bisnis legal dan ilegal di Ibu kota. Semua orang pasti hormat kepadanya.
Tak hanya di Ibu kota, dia juga sangat disegani di berbagai provinsi di Huaxia.
Pada masa itu, Tytus pernah mengundang seorang artis terkenal dari Pulau Hongkong untuk mempromosikan perusahaannya. Karena artis itu menyanyikan terlalu sedikit lagu, Tytus bersikeras menahan bayaran artis itu dan memaksanya untuk bernyanyi lagi.
Artis itu adalah mega bintang dari Pulau Hongkong dan memiliki puluhan juta penggemar di Huaxia, tetapi Tytus masih berani menahan bayarannya.
Setelah tokoh terpandang dari Pulau Hongkong datang bertemu, Tytus baru bersedia melepas artis itu.
Bagi Tytus, selain delapan keluarga elit, dia tidak takut dengan siapa pun di seluruh Huaxia.
Oleh karena itu, banyak orang beranggapan Jansen akan sulit keluar dengan selamat dari vila tersebut.
"Mampus kamu. Aku mau lihat siapa yang bisa menolong kamu kalau kamu terus memukul!"
Cathy menertawakan Joshua yang semakin terluka mendengar perkataannya, "Hei, Si Konyol. Kamu juga pasti mati. Kamu pasti menyesal kenal dengan Jansen teman sekelasmu itu. Kalau kamu hebat, suruh dia pukul lagi!"
Bang!
Baru selesai berkata, sebotol minuman kembali dihantamkan ke kepala Jerry, membuatnya tidak sadarkan diri.
Dalam sekejap, wajah Tytus penuh dengan amarah dan kebencian..
"Tuan Tytus, apakah kami perlu?"
Seseorang berteriak kepada Tytus dan menunggu perintah Tytus untuk mengeluarkan tembakan.
Tytus melambaikan tangannya, dengan tenang memandang Jansen dan berkata, "Nak, kamu berasal dari mana? Kamu berani memancing kemarahan Keluarga Harper. Kamu sudah keterlaluan!"
"Kamu sudah melakukan pembunuhan yang disengaja. Ini adalah pembunuhan berencana. Kalau aku lapor polisi, kamu bisa ditembak mati!"
"Namun, aku lihat kamu masih muda. Aku ampuni kamu, cepat tinggalkan Ibu kota. Aku akan melupakan semua masalah dan memaafkanmu!"
Nada bicara Tytus sangat tenang, seperti sedang menasehati anak muda.
Jansen tertawa sinis. Dia membalas perkataan Tytus dengan menghantam sebotol minuman lagi ke kepala Jerry. Tubuh Jerry gemetar sejenak.
"Tuan Tytus, aku tidak perlu kamu ajari. Lagi pula, kalau kamu melapor polisi, aku ingin melihat aku atau kamu yang diuntungkan jika masalah menjadi besar!"
"Kalian, Keluarga Harper tentu lebih tahu anak kalian ini telah berbuat kejahatan apa!"
"Kamu mau ampuni aku? Kamu anggap aku orang biasa? Sebelum aku keluar dari vila ini, sudah ada belasan senjata siap menembak ke arahku!"
Setiap Jansen mengucapkan satu kalimat, dia memecahkan satu botol minuman. Minuman yang harganya mahal itu terbuang sia-sia.
Semua orang pun kaget.
Tidak ada orang yang menduga bahwa Jansen ternyata adalah veteran di dunia beladiri.
Jansen sangat perfeksionis dalam cara kerja dan gaya penyelesaian masalah.
Tytus juga kesal karena awalnya dia mengira Jansen yang masih muda hanya seorang pria bodoh. Namun, dia sekarang baru tahu ternyata Jansen adalah pemberani yang mirip orang dunia jianghu dan bahkan lebih mirip dengan tentara.
Jansen juga punya keberanian yang hebat.
__ADS_1
"Baiklah, kamu bebas pecahkan botol minuman. Kalau sudah selesai dan kamu masih bisa pergi dari tempat ini, maka aku bukan orang Keluarga Harper lagi!"
Tytus memilih menggunakan cara keras karena cara lunak kelihatannya tidak mempan.
Bang!
Jansen benar-benar menghancurkan lagi botol minuman hingga habis.
Mereka berdua saling adu keras.
Tytus menggertakkan giginya karena marah. Setiap kali Jansen menghancurkan botol minuman, jantungnya berdebar kencang karena takut putranya akan terbunuh.
Setelah lebih dari belasan botol minuman dihancurkan, Jansen akhirnya mengangkat bahu dan berkata, "Aku rasa mulai hari ini kamu bukan orang Keluarga Harper lagi!"
Setelah berkata demikian, Jansen menghampiri Panah dan yang lainnya, seolah tidak takut dengan tembakan Tytus.
"Kamu pikir aku tidak berani menembak? Aku berani melakukan apa pun di Ibu kota ini!"
Melihat Jansen hendak pergi, Tytus menarik pelatuk senjata dan segera mengeluarkan tembakan.
"Bunuh dia, bunuh dia!"
Hanya Cathy seorang yang terus berbicara, "Kasih dia tahu siapa yang dia provokasi!"
Cathy sangat senang seolah dendamnya akan terbalaskan.
Bum!
Namun, seseorang tiba-tiba menerobos masuk dan berkata dengan tergesa-gesa, "Tuan Tytus, gawat. Di luar vila sudah ada banyak orang berkumpul!"
"Keluar dari sini, seberapa banyak orang pun tidak akan bisa menghentikanku!"
"Ada puluhan ribu orang, mereka semua anak buah Tuan Hilton!" ucap orang itu dengan cemas.
Raut wajah Tytus sedikit berubah, dia lalu tertawa, "Pergi beritahukan Tuan Hilton, urusan kami Keluarga Harper, bisa kami selesaikan sendiri. Aku hargai niat baiknya. Kapan-kapan, aku akan mengajaknya minum bersama!"
"Bukan begitu, Tuan Hilton datang untuk membantu Tuan Jansen. Beliau bilang siapa saja yang berani menyentuh sehelai rambut Tuan Jansen, pasti akan mati!"
Setelah selesai berbicara, pria itu duduk di lantai.
Semua orang yang berada di sana terdiam.
Wilayah Taman Gurita adalah wilayah kekuasaan Tuan Hilton. Meskipun wilayah ini sangat kacau, tapi tetap merupakan tempat yang bagus untuk berbisnis, apalagi kalau itu adalah bisnis ilegal. Tuan Hilton bisa melindungi privasi dan keamanan para tamunya.
Namun, orang yang datang ke Taman Gurita adalah Jansen.
Apakah Tuan Hilton ternyata juga melindungi Jansen?
Tak hanya itu, ribuan orang juga ikut mengawal.
"Ayo tembak!"
Jansen berhenti dan menatap Tytus dengan sinis.
Tytus gemetar ketakutan. Dia hendak menembak Jansen, tapi merasa berat menarik pelatuk karena lengannya yang memegang senjata terus gemetar.
Jika Tytus mengeluarkan tembakan, semua orang yang ada di tempat pasti mati.
Tuan Hilton tidak main-main dengan ucapannya sendiri.
"Ayo tembak!"
__ADS_1
Jansen mendesak Tytus.
Meskipun Tytus sangat marah, dia terpaksa menyimpan kembali senjatanya.
"Aku sudah bilang, mulai hari ini nama keluargamu bukan Harper lagi!"
Jansen tertawa, tiba-tiba berbalik dan berjalan menghampiri Cathy.
Cathy juga gemetar ketakutan. Tytus saja tidak berani menyentuh Jansen, lantas siapakah Jansen?
Apakah dia benar-benar seorang pengusaha?
"Kamu tadi bilang mau kasih tahu, aku sudah memprovokasi siapa!"
Jansen berkata dengan acuh tak acuh, "Kalau begitu,sekarang aku kasih tahu, kamu sudah memprovokasi siapa!"
Setelah berkata demikian, Jansen menikam perut Cathy. Tubuh Cathy jatuh menimpa bahu Jansen.
"Ini adalah pelajaran buat kamu. Kalau aku tahu kamu masih berani kurang ajar kepada Joshua, lain kali lebih mengerikan lagi daripada tikaman pisau ini!"
Jansen mendorong pelan wajah Cathy yang kemudian jatuh telentang di atas tanah.
Jansen bersama Panah dan yang lainnya meninggalkan aula utama.
Tidak ada orang yang berani bergerak di seluruh aula utama. Setelah Jansen pergi, Tytus baru memberi perintah, "Cepat tolong Tuan Muda!"
Saat Jansen keluar dari vila, dia sudah ditunggu oleh banyak pria berbaju hitam. Mereka semua adalah anak buah Tuan Hilton. Kenzo dan Tuan Hilton juga menunggu di sana dan tersenyum saat melihat Jansen.
"Saudara Jansen!"
Mereka berdua berteriak menyapa Jansen, diikuti oleh anak buah mereka.
Semua pengunjung Taman Gurita yang berada di depan vila itu, sontak terkejut melihat mereka semua yang seperti orang-orang menakutkan.
Dia sangat berwibawa karena ada begitu banyak orang
yang meneriakkan kata saudara secara bersamaan. "Masalah sudah dibereskan, tidak akan ada orang luar yang tahu!"
Tuan Hilton berkata dengan penuh hormat. Maksud Tuan Hilton adalah Jansen tidak perlu risau dengan masalah keributan di Taman Gurita karena Tuan Hilton sendiri bisa menyelesaikannya.
Sebagai seorang Vajra Agung di Ibu kota, Tuan Hilton tentu sering mengurus masalah semacam ini.
"Aku sudah merepotkan Tuan Hilton!"
Jansen mengangguk pelan.
"Tidak masalah, aku merasa sangat terhormat bisa membantu saudara Jansen!" Tuan Hilton berkata sambil tersenyum. Bagi Tuan Hilton, punya kesempatan untuk membantu Jansen adalah sebuah kehormatan.
"Baiklah, aku mau pergi dulu mengurus sesuatu. Lain kali kita pergi minum!"
Jansen menyuruh Panah untuk menyalakan mesin mobil lalu naik ke dalam mobil dan pergi.
"Selamat jalan, saudara Jansen!"
Tuan Hilton berteriak lalu diikuti puluhan ribu anak buahnya itu.
Gayanya sungguh elegan.
Wibawanya sungguh besar..
Wibawa ini hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang terkenal dan punya kekuasaan.
__ADS_1